Waiting for you was easy thing for me, BUT get your love is a though thing for me.
–Livy Swalt.
Author Pov.
Sejak kejadian Livy pingsan ia dibawa ke Red Moon Pack. Selama dua hari Livy tak sadarkan diri. Ernand tak menghiraukan keadaan Livy bahkan tak pernah menjenguk Livy.
Ernand merasa Livy terlalu bodoh atau naif memikirkan dirinya untuk mencoba menyukainya (Livy). Ernand sudah punya Kayle, ia tak perlu lagi mengindahkan nama Livy dihidupnya bahkan rasa empati melihat Livy tertidur lemah diRS pack-nya pun tak ada.
Bagi Ernand, Livy hanya benalu dalam hari-hari indah dihidupnya. Mengganggu jalinan cintanya dengan Kayle. Dan demi mendapatkan Kayle seutuhnya ia bertekad untuk mereject Livy saat pengangkatan dirinya seminggu lagi dan mengumumkan Kayle sebagai Luna untuk pack-nya. Dan nama Livy pun musnah sepenuhnya dari hidup Ernand.
Ia tak pernah peduli pada Eros yang mendiaminya di pikirannya terdalam, Ernand terlalu buta pada Kayle sehingga tak mampu memandang Livy. Ia terlalu sibuk menjangkau Kayle yang sebenarnya jauh padahal ada Livy di hadapannya. Ernand akan tau rasa sakit bila ia tersakiti oleh Kayle dan itu pasti terjadi entah kapan, karna kita tak mampu mengetahui apa yang akan terjadi dimasa mendatang.
Livy POV.
Gelap.
Kegelapan dimana-mana, mereka serasa mendukungku dalam balutan sunyi mencekam. Tolong aku... suaraku tak mampu keluar dari bibirku, tolong aku... siapa pun itu.
Tiba-tiba ada satu titik cahaya berpendar, memanggilku untuk mendatanginya dan dengan senang hati aku mengejar cahaya itu yang semakin lama membesar, aku terpaku dan menutup mataku agar tak rusak karena cahaya yang begitu terang, tapi aku berjalan pelan sangat pelan agar aku tak salah jalan menuju suatu tempat yang aku pun tak tahu tempat apa itu.
Setelah kurasa cukup aku membuka mataku. Demi MoonGoddes! Kenapa aku ada di taman? Di hamparan bunga-bunga indah berwarna-warni. Tak jauh dari sana ada seorang perempuan yang duduk di ayunan yang indah, karena penasaran aku mendatanginya.
"Kemarilah Livy Swalt" panggilnya. Aku tak tahu, padahal aku masih sepuluh meter lagi darinya dan dia menyadariku? Dan... suaranya sungguh indah bagai alunan lagu.
"Livy jangan buat aku menunggu sayang" karena panggilannya aku mempercepat langkah kakiku. Dengan waswas aku memegang bahunya dan ia menoleh.
Ya Tuhan!!!
Wajahnya sungguh menyeramkan dengan taring dan mata yang berpendar merah itu. Hamparan bunga yang tadinya indah kini... aku tidak tahu harus bilang apa. Langit menggelap bunga-bunga berubah menjadi semak berduri dan mawar merah.
Aku berlari terus berlari tak memedulikan kaki-ku yang terluka. Siapa saja tolong aku!!! Dengan susah payah aku kembali ke kegelapan, mencari sudut yang tak tampak.
Aku mendudukkan diriku dan menyusupkan wajahku diantara kaki yang kupeluk erat.
"Hiks... Hiks..." isakan kecil lolos dari mulutku. Sebegitu menyedihkannya aku sampai aku tak punya teman di saat seperti ini? Kenapa selalu seperti ini? Apa-
Tidak jangan lagi! Wanita menyeramkan itu datang dengan senyum nengerikan terpampang jelas diwajahnya.
"Livy... kenapa kau menjauh?" Suaranya tak seindah yang tadi. Sekarang sangat mengerikan, Ya Tuhan tolonglah aku. Air mataku semakin deras jatuh, dan ia semakin dekat dekat dan terus dekat, tangannya yang berkuku tajam berusaha menggapai wajahku.
Aku menutup mataku dan semuanya sunyi, aku kembali ke dunia nyata. Bau obat-obat menusuk hidungku membuatku mual. Oh ayolah kalian pasti juga tak suka bau obat-obatankan?
Suasana begitu senyap dan hanya suara hewan malam yang menemani. Dengan perlahan aku duduk, menatap seluruh ruangan yang kupakai. Tatapanku mengabur air mataku mencoba untuk keluar, hey bahkan aku baru sadar, tubuhku berkeringat dingin mungkin karna mimpi tadi.
Dengan susah payah aku turun dari brankar tak lupa mencopot infus dipunggung tanganku. Aku tak mau membayar biaya RS ini karna aku memang tak ingin kesini, aku tak punya uang cukup dikantongku. Dan aku sadar celanaku entah dimana, pakaian pasien melekat ditubuhku tapi bukan itu yang penting. Sekarang yang terpenting adalah kabur.
°
°
°
Hampir sejam aku menjelajah dan tak sampai-sampai keluar rumah sakit ini. Ini membuatku kesal, tapi kekesalanku hilang sudah begitu sampai di taman yang dilimpahi cahaya bulan yang masih setengah.
"Rasanya aku tak mau pulang Livy" ucap Alice. Dia menikmati limpahan cahaya bulan sampai mataku terasa berubah warna, sekarang penglihatan lebih jelas. Aku sudah mengatakan tentang kelebihan dan kekurangan mata Alice kan? Jadi jangan tanya lagi.
"Hai dari tadi kau ke mana saja hn?" Tanyaku sarkasme.
"Dari tadi aku tidur, mengapa?" Dasar wolf tidak peka! Aku baru mimpi buruk dan dia tanya mengapa?
"Hei! Itu bukan salahku bodoh!" Ugh! Dari pada aku gila lebih baik aku memutuskan mindlink sepihak. Alice mulai mode cerewet.
Aku mendaratkan pantatku ke bangku kayu yang dingin, perlahan otot wajahku menarik sebuah senyuman. Suasana yang amat aku inginkan, sepi dan tenteram sebagaimana yang kuinginkan dalam hidupku.
Cukup lama aku disana sampai embun pun mulai terlihat. Mataku memang terpejam tapi aku sangat sadar aku belum sepenuhnya ke alam bawah sadar.
"Livy?" Seseorang memanggilku. Membuatku mengerang kecil, terlihat seperti kesakitan karena kram tapi sebenarnya aku sedang jengkel ada yang mengganggu meditasi dadakanku.
"Hm?" Sahutku. Dengan berat hati aku menoleh, dan Eryn berdiri dengan tatapan bingung atau... antahlah aku malas menebak.
"Eryn? H-hai" sapaku. Terlalu lama berkutat dengan kesendirian membuatku tak bisa berteman dengan yahh kau tahulah.
Canggung.
"Matamu?" Jari telunjuknya menunjuk mataku membuatku menyengit, seharusnya mataku baik-baik saja saat ini.
"Bukan. Matamu berwarna ungu?" Ada keraguan di sana. Ya, Eryn mengucapkannya dengan ragu membuatku tersenyum.
"Dan pupilmu" jedanya "seperti..."
"Seperti apa?" Desakku.
Sungguh. Aku marah saat ini, semua menganggapku aneh. Bahkan untuk kaumku sendiri. Hanya karna mataku berbeda mereka menjauhiku.
"Nothing" dia terdiam dan ikut duduk dibangku yang aku tempati. Kami diam cukup lama sampai ia berkata.
"Kau... mate Ernand. Anjing bodoh itu?" Tanyanya dengan mata menerawang.
"Iya" ucapku pasti. Dia menoleh menatap manik mataku mencari sesuatu disana.
Cukup lama tapi ia menghela nafas. "Jauhilah kakakku" Cukup. Semua menganggapku tak pantas untuk Ernand, memangnya apa salahku?
"Kenapa?" Tanyaku. Nada suaraku bergetar sudah susah payah aku berjuang untuknya-Ernand- dan aku tak bisa berhenti.
"Jauhilah ia, atau kau akan menyesal" ada nada berat di sana, nada kekecewaan tapi pada siapa Eryn menujukan nada itu?
"Tidak. Aku akan tatap menantinya" kukuhku. Dia menghela nafas.
"Ini" Eryn menyodorkan kartu hitam yang mewah, "surat undangan pengangkatan Ernand menjadi Alfa di Red Moon Pack, lebih baik kau tak usah datang tapi bila kau tetap memaksa, kau bisa datang" ucapnya.
"Bolehkah?" Tanyaku. Dia tersenyum.
"Ya iyalah. Aku akan membantumu berdandan agar cantik" Aneh. Tadi dia melarangku sekarang dia membantuku buat datang ke pesta, apa dia punya kepribadian ganda?
Aku hanya tersenyum tak mau menunjukkan ekspresi berlebihan, "Tapi kau akan menanggung risikonya... kau masih mau?" Tanyanya aneh, Tapi aku tahu apa itu. Yang penting itu sesuatu yang buruk bagiku, namun sekali lagi aku tak mau menyerah memperjuangkan cintaku pada Ernand apa pun risikonya akan kutanggung.
"Tapi aku akan selalu bersamamu" sambungnya.
"Ya. Dia mateku aku akan terus menunggunya. Terima kasih mau bersamaku" ucapku. Dia terkekeh.
"Kau calon kakak ipar yang baik, mana mungkin aku tak mau bersamamu" ucapnya sambil terkekeh membuatku terkekeh juga.
"Terima kasih. Sekali lagi terima kasih" hanya itu yang kumampu. Mengucapkan rasa terima kasih karna tak ada kata yang mampu mengungkapkan perasaanku saat ini dan nantinya.
ARTICULATE.