Aku bertahan karena aku cinta. Aku kuat karna aku sayang. Sayang padamu yang telah menyakitiku berulang kali.
–Livy Swalt.
Livy POV..
Cukup sudah! Aku tak tahan lagi. Oh MoonGoddes, Eryn benar-benar ingin membunuhku secara perlahan-lahan. Bagaimana bisa ia sanggup menyiksa kakinya dengan higheels setinggi 5 inci itu? Oh aku lebih pilih tak usah datang ke pesta dari pada harus menyiksa kakiku ini.
"Oh ayolah Livy, ini tidak terlalu menyiksa" bujuknya. Kata tidak terlalu itu memberiku kode keras untuk memantapkan tekadku menggeleng kuat-kuat walau kemungkinan kepalaku akan terlepas dari tempatnya –dan aku sungguh tak mengharapkan itu.
"Eryn aku mohon sepatumu itu akan membunuhku, yang lain saja ya?" Pintaku berusaha menampilkan mata Puppy eyes punya Alice, biasanya itu ampuh untuk ayah yang melarangku saat aku ingin bekerja sambilan.
Dia menghela nafas panjang dan mengangguk, aku terkekeh karna rencanaku berhasil.
"Tapi!" Jedanya, "Kau harus memakai ini!" Titahnya menunjukkan higheels enam sentimeter kearahku dan dengan terpaksa aku mengangguk, tak apalah aku bersedia asal terbebas dari sepatu pembunuh itu.
"Dan kau harus memakai ini" Eryn menunjukkan sebuah dress biru toskah dengan lengan pendek (tak sampai bahu), dan pas selutut. Aku menatap lama dress itu dan mengangguk, Hey aku juga ingin mencoba baju cantik ini walau sekali seumur hidup.
Selama seharian ini kami terus menyiapkan apa saja yang akan dipakai ke acara pesta Ernand, Walau kutahu hanya 0,01% kesempatan yang MoonGoddes berikan padaku. Aku berharap dengan tampilanku Ernand akan berpikir dua kali untuk menjauhiku, kuharap itu terjadi.
Semoga.
°
°
°
20:16 P.M
Jam pinjaman Eryn menunjukkan acara pengangkatan Ernand akan dimulai sebentar lagi. Jantungku tak berhenti berdetak kencang menyadari kami –Eryn dan Aku– belum berangkat.
"Eryn apakah sudah selesai?" Tanyaku. Dia sudah dengan tampilan anggun dari tadi, dan aku? Oh dia masih memereteli wajahku dari sejam yang lalu.
"Sudah!!!" Pekiknya kegirangan. Sumpah suaranya bagaikan gajah terjepit, kencang sekali.
"Sekarang kau boleh melihat pantulanmu dicermin" suruhnya dan aku menatap seseorang dibalik cermin. Saat aku mengangkat tangan kanan dia juga—pantulan itu—, saat aku menggaruk kepala dia juga.
"Bodoh! Itu pantulan dirimu Livy!" Seruan Alice terdengar frustrasi melihatku yang bersikap dungu(?). Aku yakin itu bukan aku. Aku bisa memastikannya.
"Tidak Alice, kau rabun ya? Apa perubahan matamu sudah membuat kinerja matamu melemah?" Tanyaku penuh sarkasme.
"Livy yang kepala batu dan rabun... itu dirimu sayang... Apa kau tak bisa membedakannya hah?!!!" Okay Alice sungguh mengerikan sekaligus menjengkelkan.
Aku menoleh ke arah Eryn yang sedang mendandani kembali riasannya, dia yang merasa dilihat menaikkan alisnya menatapku seolah bertanya 'Ada apa?'.
"Nghh... Eryn siapa yang ada dicermin itu?" Tanyaku.
"Astaga MoonGoddes bagaimana aku bisa mendapatkan gadis bodoh sepertinya?" Fix, Alice benar-benar frustrasi melihat pertanyaan konyolku dan jujur saja itu menyakiti hatiku.
Adakah yang salah dengan pertanyaanku? Oh c'mon coba saja kalian pikirkan kalau kalian yang selama ini seperti aku—jarang berhias bahkan tak pernah— dan tiba-tiba kalian dirias menjadi seperti orang lain, pasti kalian pangling kan? Nah aku juga begitu tapi kurasa aku lebih parah.
Dan lihatlah Alice hampir gila dan Eryn tertawa terbahak-bahak melihat tingkah dan pertanyaan absurdku.
"Hey! Berhentilah menertawakanku! Sudah ayo kita berangkat!" Sentakku. Dengan rasa kesal yang di ubun-ubun aku menyeret Eryn ke mobilnya, dia masih tertawa, tapi sudah agak berkurang dan sekarang ia mengeluhkan sakit perut gara-gara menertawakanku.
Konyol!.
°
°
°
Selama di perjalanan aku dan Eryn terdiam, menikmati kegiatan masing-masing memikirkan apa yang terjadi nantinya. Aku sungguh-sungguh tak berani atau yeah berpikiran yang buruk-buruk yang memang pada akhirnya 99,9% akan buruk bahkan sangat. Setelah cukup lama hening Eryn membuka bibirnya untuk bersuara memulai percakapan di dalam mobil yang sepi.
"Kau tahu" Jedanya membuat aku menoleh, "Mengapa aku melarangmu pergi?" Sekarang dia menoleh padaku sebentar, dan kembali menyetir dengan benar.
"Kenapa?" Tanyaku. Aku jenis orang bukan tipe yang bertele-tele. Tak menyukai bahasa yang berbelit walau kutahu hidupku selalu berbelit bagai benang kusut.
"Karena... aku tak sanggup melihatmu bagai mayat mati karena anjing bodoh itu, yahh bukan Eros yang bodoh maksudku Ernandnya yang bodoh" jawabnya.
"Eros? Dia nama wolf Ernand?" Tanyaku. Dan Eryn mengangguk membenarkan, sudut bibirku tertarik ke atas membuat lengkung senyuman.
Eros... sepertinya serigala yang bijak dan Alice –termasuk aku didalam-Nya– ingin bertemu dengannya. Apa dia membenciku juga? Atau dia menyukaiku sebagai matenya? Antahlah, Oh Goddes aku lelah dengan semua ini, lelah sekali menunggunya' yang aku cinta.
Mengapa hanya untuk menunggu seseorang terasa lama?
Mengapa hanya untuk mendapatkan cinta'nya' harus tersiksa?
Mengapa hanya untuk memiliki 'dia' aku harus tersakiti?
Hidupku selalu penuh perjuangan membuatku tahan terhadap mereka yang mencemoohku, tapi saatku sadar orang yang kucintai. Mate-ku sendiri juga ada di iantaramereka hatiku remuk, lebih remuk dari yang kuduga, seharusnya aku jadi wanita yang kuat tapi bahkan aku tak mampu untuk menahan tangisku ketika dia bersama wanita yang dia cintai.
"Liv? Livy..." panggilan Eryn menyentakkanku ke alam dunia nyata yang kejam ini dari lamunanku yang sudah entah sampai mana.
"Livy apa yang kau lamunkan? Dari tadi aku mengoceh di sini kau malah menghiraukanku" sungut Eryn. Aku hanya terkekeh.
Setidaknya ada Eryn, temanku yang selalu menghiburku di saat-saat aku sedih, walau cuma sejenak aku merasa dia mau berbagi beban yang aku rasakan.
"Tidak. Aku hanya gugup bagaimana bersikap layaknya kalian yang kaya-kaya itu" tekanku pada kata kaya-kaya membuat dia mencebikkan bibirnya lucu, kurasa aku sudah menemukan kesenangan tersendiri.
Menggoda Eryn.
"Terserahlah. Kau pasti akan jadi pusat perhatian" Ucap Eryn dengan mata berbinar.
Pusat perhatian? Aku? Oh pasti Eryn sudah gila. Dan hari ini aku terlalu banyak bilang 'Oh' karna hari yang absurd ini. Belum sempat aku memproses kata-kata Eryn, mobil kami sudah berhenti.
"Okay mari keluar dan tolong ambilkan hadiah-hadiah itu" Eryn menunjuk dua kado di jok belakang.
Aku mengambilnya dan keluar dari mobil, hirup keluarkan, hirup... keluarkan, hirup keluarkan...
"Livy, tidak usah tegang" cemooh Eryn.
Aku hanya mendesis, "Kau tak tahu rasanya" ucapku memberengut.
Kami memasuki gedung ralat! Istana mewah yang sangat elegan. Halamannya saja luas dan penuh dengan mobil mahal dan mewah yang ber jejeran. Bagian depannya seperti ada kolam yang memperlihatkan tangga air pancur berwarna-warni. Dengan gugup kami memasuki rumah– ralat memasuki istana itu. Oke yang gugup aku bukan Eryn yang tampak menunjukkan sisi anggun dan bangsawannya.
Oke Livy dimalam inilah nasibmu akan ditentukan. []