“Ayolah Eonnie sudah berjanji padaku. Kenapa Eonnie tidak mau pergi bersamaku?”
Hwang Yejung merengek sambil menggelayut manja pada salah satu lengan Soomin. Saat ini mereka berada di apartemen Soomin. Soomin baru saja selesai mandi dan baru akan makan malam, ketika ia mendapatkan kunjungan Yejung secara tak terduga.
Hari ini adalah hari ulang tahun Hwang Yejung. Perempuan manis yang merupakan junior Soomin di kantor itu telah menginjak angka dua puluh tujuh tahun. Beberapa bulan yang lalu Soomin pernah berjanji akan menemani Yejung pergi ke klub jika juniornya berulang tahun. Dan sekarang, Yejung tengah sibuk menagih janji Soomin tersebut.
Meskipun status Soomin adalah salah satu atasan Yejung di kantor, hal tersebut tidak membuat keduanya bersikap kaku layaknya atasan dan bawahan. Sejak pertama kali Soomin bertemu dengan Yejung, Soomin langsung menyukainya begitu pula Yejung. Yejung merasa Soomin adalah sosok kakak perempuan yang selalu ia idamkan karena ia terlahir sebagai anak tunggal.
Soomin menatap Yejung dengan pandangan lelah. Jujur saja, Soomin bukan tipe orang yang senang menghabiskan waktunya pergi ke klub malam. Jika ia stress, Soomin hanya akan menghilangkan stressnya dengan duduk sendirian di apartemen sambil membaca buku. Soomin tipe perempuan yang hidupnya begitu lurus dan tak banyak bertingkah, kehidupan yang sama persis sebelum ia berpacaran dengan Park Yeonchan.
“Aku benar-benar lelah hari ini. Besok saja, okay?”
Soomin memberikan senyuman paling manis yang ia miliki untuk membujuk Yejung. Soomin tidak berbohong, ia sangat lelah karena hampir seminggu ini ia sendirian mengawasi proyek kerjasama.
Yejung mengerucutkan bibirnya. Sudah hampir satu jam Yejung menghabiskan waktu untuk mempersiapkan malam ini. Yejung bahkan sudah menyiapkan gaun terbaik untuk ia pakai malam ini ke klub.
“Eonnie, kau sangat jahat padaku, tahu? Aku sudah mempersiapkan malam ini sebaik mungkin. Apa kau tak tersentuh melihatku yang sudah berdandan sebegini cantiknya?”
Yejung berdiri dari duduknya agar Soomin bisa memperhatikan dengan baik gaun yang sudah ia pakai.
Soomin mendesah dalam hati. Mata hazelnya dapat melihat dengan baik jika Yejung mempersiapkan diri dengan baik. Karena tak tega dengan Yejung yang sudah penuh persiapan dan Soomin sudah berjanji, akhirnya wanita itu beranjak dari duduknya.
“Baiklah. Tunggulah di sini, aku akan bersiap-siap dulu.”
Yejung melompat kegirangan setelah akhirnya berhasil membujuk Yoon Soomin yang terkenal tak suka dengan kegiatan seperti itu. Yejung kemudian memeluk erat Soomin.
“Eonnie memang yang terbaik!”
Soomin menggelengkan kepalanya mendengar ucapan Yejung. Sambil menghela napas Soomin mengangguk dan melangkah menuju kamarnya untuk bersiap.
~FORGIVENESS~
Yeonchan baru saja tiba di Seoul pukul enam sore tadi. Meskipun perjalanan bisnis di Osaka menyita pikirannya, tapi semua itu tak mampu membuat Yeonchan melupakan Yoon Soomin.
Yeonchan tersenyum mengingat Soomin. Di dalam hati pria itu bertanya-tanya apa yang sedang dilakukan Soomin saat ini. Ingin rasanya Yeonchan segera pergi menemui Soomin ketika kakinya menginjak tanah Seoul kembali. Tapi, Yeonchan merasa ragu dan cemas. Yeonchan cemas ia tak bisa mengendalkan dirinya jika berhadapan dengan Yoon Soomin. Dua minggu berada di Osaka tidak membuat Yeonchan kebal terhadap segala sesuatu menyangkut Soomin. Sebaliknya, Yeonchan merasa semakin menginginkan Soomin.
Helaan napas terdengar dari Yeonchan. Matanya kembali terfokus pada jalanan yang ada di depannya. Langit malam Seoul selalu indah bagi Yeonchan. Meskipun Park Yeonchan menyukai langit malam, ia bukan orang yang menghabiskan setiap malam melakukan pesta. Park Yeonchan sudah kenyang merasakan dunia malam saat ia masih remaja.
Jika bukan karena pesan yang ia terima dari Juho tiga jam yang lalu, Yeonchan tentu tak mau bersusah payah menyeret tubuhnya yang perlu istirahat untuk pergi. Yeonchan lebih memilih beristirahat di rumah daripada berpesta di malam hari.
Tapi, ini malam spesial. Juho mengundangnya dan dua sahabatnya untuk menikmati malam bersama. Semua itu di sebabkan karena sepupu dari Kim Jungin itu akan melepaskan masa lajangnya. Sebagai sahabat, Yeonchan tentu ingin merayakan momen penting tersebut.
Mengenakan jas putih yang membalut tubuh tingginya, Yeonchan turun dari mobil dan menyerahkan kunci pada petugas valet. Yeonchan tampak luar biasa tampan malam ini. Sama sekali tak terlihat bahwa pria itu cukup lelah. Yeonchan melangkah santai memasuki sebuah klub malam eksklusif di Seoul.
Yeonchan mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru klub mencari ketiga temannya yang sudah tiba lebih dulu. Senyum merekah di wajah Yeonchan saat menemukan Sehun melambaikan tangan padanya. tanpa membuang waktu, Yeonchan meneruskan langkahnya dan mengabaikan tatapan lapar dari para wanita yang menyadari kehadirannya.
Oh siapa yang tidak mengenal sosok tampan direktur muda dari keluarga Park tersebut?
“ Maaf aku terlambat,” ucap Yeonchan sambil duduk di sebelah Sejoon.
“Bukan masalah. Lagipula, kita baru datang sejak dua jam yang lalu,” jelas Jungin sambil menyesap alkohol rasa lemon di sloki miliknya.
Yeonchan tersenyum kecut mendengar jawaban Jungin yang setengah menyindirnya. “Aku tidak berniat datang setelat ini, Jungin. Kau tahu sendiri aku baru tiba dari Osaka beberapa jam yang lalu dan butuh beristirahat sejenak sebelum datang kemari.”
Jungin tertawa kecil mendengar pembelaan Yeonchan. Pria yang berprofesi sebagai aktor sekaligus model itu sebenarnya hanya bercanda. Sejak dulu Jungin senang menggoda Yeonchan dan membuat pria yang memiliki tubuh paling tinggi itu terlihat kesal.
“Karena alasanku datang kemari untuk menghormati Juho. Maka, selamat untuk keputusanmu, Juho-ya.”
Yeonchan mengangkat tangannya untuk memberikan high fivenya pada Juho yang duduk di depannya. Sejujurnya, di antara mereka berempat, Yeonchan sudah menduga jika Juho yang akan lebih dulu melepas masa lajangnya diantara mereka. Dan ternyata dugaannya terbukti dengan pesan yang di kirim Juho begitu Yeonchan tiba di Seoul.
“Terima kasih. Aku sangat senang akhirnya berhasil mendapatkan Mikyung. Apa lagi jika mengingat jatuh bangunnya aku saat berusaha mendapatkannya,” ucap Juho sambil menyesap red wine kesukaannya.
“Aku ingat, kau pernah menangis hanya karena Mikyung sempat memutuskanmu, Juho-ya. Itu salah satu bagian terbaik yang kuingat dalam perjalananmu bersama Mikyung.”
Sejoon yang sejak tadi belum mengatakan apapun akhirnya berbicara sambil tertawa. Ketika Mikyung sempat memutuskan hubungan dengan Juho, pria itu menangis dan menginap selama beberapa hari di apartemen Sejoon.
Juho mendelik kesal pada Sejoon yang malah mengingat kejadian memalukan tersebut. Ya, Juho sangat malu saat menyadari bahwa ia pernah menangis di depan Sejoon, sahabatnya yang lebih dipantas disebut sebagai titisan setan karena sikapnya yang begitu tengil.
“Ya! Apa perlu mengingat hal itu sekarang? Kau belum tahu rasanya, Sejoon-a. Ketika kau memiliki seseorang yang berharga dan ia lepas dari genggamanmu, maka kau akan merasa kau orang paling bodoh di dunia.”
“Apa yang di katakan Juho benar. Aku sangat paham rasanya seperti itu, Juho-ya. Dan biasanya seseorang yang sudah menjadi mantanmu itu biasanya akan menjadi lebih menggoda dibandingkan saat menjadi milikmu,” jelas Yeonchan sambil kembali menyesap alkoholnya yang baru saja tiba.
“Oh maksudmu seperti Yoon Soomin yang semakin menggoda?” sambar Jongin dengan senyuman jahilnya.
Yeonchan berhenti menyesap minumannya. Pria itu kini mengalihkan pandangannya pada Jungin. Mata hitam Yeonchan berkilat penuh ancaman pada Jungin.
“Apa maksudmu?”
“Santai,Chan. Aku dan Jungin sudah bertemu dengan Yoon Soomin. Kami bertemu saat pemotretan, ingat? Bicara soal Yoon Soomin, apa yang di katakan Jungin memang benar. Soomin....” Sejoon berhenti berbicara karena interupsi siulan nakal dari Jungin, “cantik sekali.” Lanjutnya.
“Benarkah? Ah tapi aku tidak akan kaget. Sejak awal Yeonchan memilih Soomin menjadi pacarnya, aku tahu ia itu seperti berlian mentah yang perlu di asah. Aku malah berpikir seberapa cantik Yoon Soomin dewasa?” Juho ikut merasa penasaran.
Yeonchan menghela napas resah sekaligus kesal. Ia tak suka Soomin-nya dibicarakan seperti ini oleh teman-temannya. Pria itu kembali menyesap minumannya untuk meredakan emosi yang muncul ke permukaan hati. Membicarakan Soomin seperti ini hanya memancing dirinya mengingat pertemuan terakhir mereka. Dan semua itu jelas bukan sesuatu yang baik untuk Yeonchan.
“Jika bisa kugambarkan lewat perbandingan, Yoon Soomin dewasa terlihat seperti perempuan dengan gaun hitam yang tengah menari di dance floor arah jam sepuluh,” Jungin mengarahkan dagunya pada tempat yang ia sebut.
Dengan cepat, perhatian ketiga pria tampan itu kini tertuju pada sosok yang di maksud Jungin. Memang ada beberapa perempuan yang mengenakan gaun hitam di lantai dansa. Tapi, Jungin memberikan petunjuk dengan jelas sosok yang ia maksud.
“Oh My God! Kalau memang Soomin dewasa seperti itu berarti she’s really hot,” gumam Juho dengan tatapan takjub.
Di saat ketiga temannya menatap takjub sosok perempuan tersebut, Yeonchan malah terbelalak melihat sosok perempuan tersebut. Tanpa perlu melihat dengan jelas wajah perempuan tersebut karena lampu dance floor yang berwarna gelap, Yeonchan tahu perempuan itu memanglah Soomin!
Yeonchan meneguk salivanya sendiri saat mata hitamnya memperhatikan sosok Soomin yang asyik mengikuti musik. Ya Tuhan, ia sudah pergi jauh selama seminggu agar otaknya berhenti memikirkan sosok Soomin akibat pertemuan terakhir mereka. Tapi dengan tidak adilnya, Soomin malah muncul di depannya dengan penuh godaan. Hal ini jelas membuat Yeonchan seketika merasa pening karena darahnya seolah mengalir dengan deras membuat tubuhnya menegang.
Ketika Yeonchan melihat ada seseorang yang mendekati Soomin dan berusaha menggoda perempuannya, rasa marah menggelegak naik ke permukaan. Refleks, Yeonchan bangkit dari duduknya dan berjalan menuju lantai dansa.
“Chan! Kau mau ke mana?” teriak Sejoon.
Tanpa mempedulikan teriakan Sehun yang memanggilnya, Yeonchan melangkah menuju tempat Soomin menari. Mata hitamnya menatap tajam sosok yang sudah berani mendekati dan menggoda Soomin miliknya.
“Kau lihat? Yeonchan kembali mengklaim sesuatu yang sudah menjadi miliknya,” komentar Juho sambil terkekeh geli.
“Yeonchan tak berubah ya. Dia tetap tak suka melihat miliknya di sentuh siapapun. Persis seperti dulu,” tambah Jungin.
~FORGIVENESS~
Soomin merasa bebas. Terakhir kali ia merasa seperti ini adalah saat melakukan pesta di rumah Juho bertahun-tahun yang lalu. Pesta dimana ia pertama kali mencoba minuman alkohol, bersuka ria tanpa beban, bahkan tempat ia pertama kali memberikan sesuatu yang paling berharga. Perempuan itu menggerakkan tubuhnya mengikuti lantunan musik. Soomin merasa ia kembali menjadi seorang remaja.
Pergerakkan Soomin terhenti saat ia merasakan ada sosok yang mengganggunya. Sosok tersebut membuat Soomin merasa tak nyaman dan beberapa kali tangan lentik Soomin menepis tangan yang hendak menyentuh tubuhnya.
Di saat Soomin putus asa menepis sosok tak di kenal yang mendekati dirinya, Soomin merasakan sentuhan lembut di sekitar pinggangnya. Sentuhan yang terasa familiar yang dalam sekejap membuat Soomin merasa aman. Saat Soomin merasakan sentuhan tersebut, sosok yang mengganggunya dalam sekejap menghilang. Soomin mendongak dan menemukan sosok familiar dalam pikirannya yang tengah dikuasai alkohol.
Semudah itu Soomin tersenyum manis pada sosok yang menjaganya. Sosok yang persis seperti seseorang yang selalu menjaganya di pesta malam di masa lalu. Sosok yang beberapa hari ini selalu memenuhi kepala Soomin, Park Yeonchan.
“Kamu akhirnya datang! Aku sudah lama menunggumu, Yeon-a.”
Tepat setelah berkata seperti itu, Soomin mengalungkan kedua tangannya pada sosok tinggi di depannya. Dan tanpa ragu, Soomin berjinjit dan mencium Park Yeonchan dalam bayangannya tepat di bibir, seperti di masa lalu.
Tanpa pernah Soomin duga, sosok tersebut bukanlah bayangan. Park Yeonchan berdiri mematung saat merasakan bibir Soomin menyentuh bibirnya. Yeonchan menggeram tertahan saat fantasinya tentang merasakan kembali bibir Soomin di pertemuan terakhir kini menjadi kenyataan. Perempuan yang menciumnya ini memang selalu menjadi bad girl-nya.
~FORGIVENESS~