Yeonchan sedikit kesulitan memapah Soomin turun dari mobil. Untuk menghindari Soomin terjatuh saat turun dari mobilnya, Yeonchan akhirnya berinisiatif menggendong perempuan itu. Yeonchan menggelengkan kepala melihat Soomin yang mabuk berat. Ini adalah kali pertama Yeonchan melihat Soomin mabuk seperti sekarang.
“Yeon-a~ kita ada di mana sekarang?” tanya Soomin dengan nada manja.
Perempuan itu mengangkat kepalanya dan memperhatikan sekelilingnya, walaupun sebenarnya Soomin tak bisa melihat dengan benar. Dalam pandangannya, apapun yang ada di sekelilingnya terasa aneh membuat Soomin terkikik geli.
“Kita ada di rumahku, sayang. Aku tak yakin kau bisa memasukkan kode keamanan apartemenmu dengan baik. Jadi aku terpaksa membawamu kemari,” jelas Yeonchan lembut.
Soomin hanya mengangguk patuh mendengar balasan Yeonchan. Hal tersebut membuat Yeonchan tak bisa menahan senyumannya melihat tingkah Soomin seperti anak kecil. Dalam kondisi normal, Yoon Soomin jelas tak memperbolehkan Yeonchan melakukan skinship apapun padanya. Sekarang, perempuan itu begitu menikmati berada dalam pelukan Yeonchan bahkan tak sekali Soomin menyembunyikan wajahnya pada d**a bidang Yeonchan.
Bagi Yeonchan menghadapi Soomin dalam kondisi mabuk jauh lebih sulit dibandingkan Soomin dalam keadaan normal. Pria itu lebih memilih menghadapi Soomin dalam kondisi normal. Karena jujur saja, Soomin dalam kondisi mabuk hampir membuat Yeonchan kehilangan kendali atas dirinya sendiri.
Dear Lord, perempuan dalam pelukannya senang sekali menggoda dirinya. Yeonchan tak munafik jika dirinya sangat tergoda untuk menyentuh Soomin, merasakan dan memiliki perempuan itu seperti dulu. karena sejatinya, Yeonchan pun seorang pria biasa. Meski pun begitu, Yeonchan berusaha sedaya upaya menahan gejolak dalam dirinya.
Yeonchan melangkah masuk ke dalam rumahnya. Seorang pelayan terkejut melihat Yeonchan pulang ke rumah sambil menggendong seorang perempuan. Yeonchan memberi tanda agar membantunya, dengan cepat pelayan itu membantu Yeonchan dengan mengambil alih tas tangan milik Soomin.
Tanpa banyak bicara, Yeonchan membawa Soomin ke lantai dua rumahnya. Meskipun terdapat tiga kamar tamu di rumah pribadinya, Yeonchan lebih memilih membawa Soomin menuju kamarnya. Demi apapun, Yeonchan merasa semakin terbakar di setiap langkah yang ia ambil menuju kamarnya. Aroma citrus yang menguar dari tubuh Soomin membuatnya gelisah dan membutuhkan sebuah pelepasan.
Soomin terkikik geli saat Yeonchan mendudukkannya di tepi ranjang. Tapi, ketika Yeonchan hendak menegakkan tubuhnya, Soomin malah mengalungkan kedua lengannya di sekeliling leher Yeonchan, membuat pergerakan pria itu terhenti. Yeonchan mengangkat wajah dan menemukan Soomin tengah tersenyum sambil menatapnya dengan tatapan sayu.
“Soomin-a, apa yang kau lakukan?” desis Yeonchan dengan suara serak menyadari Soomin memajukan wajahnya, membuat Yeonchan semakin mengetatkan tangan kokohnya yang masih berada di sekeliling pinggang Soomin.
Soomin tak menjawab pertanyaan yang diajukan Yeonchan, sebaliknya perempuan itu tertawa kecil, embusan napasnya tertiup ke arah Yeonchan. Hal ini membuat otak Yeonchan merasa lumpuh seketika. Perlahan, Yeonchan merasakan sesuatu yang lembab menyentuh bibirnya. Detik itu juga pertahanan yang dibuat Park Yeonchan sejak ia menginjakkan kaki di rumah runtuh.
Yeonchan memiringkan kepala, mencari posisi yang nyaman saat pria itu memilih melepaskan kendali dirinya. Aroma alkohol yang begitu kuat dapat Yeonchan rasakan saat ia memperdalam tautannya. Dalam sekejap, ciuman mereka berubah menjadi lebih menuntut dan lebih panas. Yeonchan mendorong Soomin ke ranjangnya tanpa melepaskan ciuman mereka.
Soomin yang berada di bawah pengaruh alkohol sama sekali tak mempermasalahkan apa yang dilakukan Yeonchan atas dirinya. Kedua tangannya menyugar helaian rambut Yeonchan, membuat pria itu menggeram tertahan karena tindakan Soomin. Aroma dan rasa Soomin membuat Yeonchan merasa kecanduan. Otaknya secara tak sadar menyimpulkan bahwa tidak ada yang berubah sedikit pun dari Yoon Soomin.
Yeonchan mengangkat bibirnya dari bibir Soomin dengan enggan jika bukan karena kebutuhan oksigen. Mata hitam Yeonchan menemukan Soomin tengah memejamkan mata dengan mulut sedikit terbuka untuk membantu perempuan itu mengambil napas. Hanya dengan melihat wajah Soomin, semudah itu Soomin mampu mengacaukan pikiran seorang Park Yeonchan. Tatapan itu membuat pria itu menyadari kebutuhan biologisnya.
“Damn! You’re so gorgeous,” desis Yeonchan dengan suara rendahnya.
Soomin tertawa mendengar desisan Yeonchan. Perempuan itu membuka matanya dan menatap Yeonchan tepat di mata. Mata hazel itu menatap Yeonchan dengan tatapan sayu, penuh undangan, sejelas itu Yeonchan merasa Soomin menginginkan dirinya.
Tanpa membuang waktu dan seakan di izinkan, Yeonchan kembali menyerang bibir Soomin, merasakan aroma alkohol di lidahnya yang begitu memabukkan. Saat mendengar Soomin mendesah dalam ciuman mereka, Yeonchan menghentikan ciuman dan memilih mencumbu Soomin lebih dari ini.
Perlahan, Yeonchan menyusuri wajah cantik Soomin dengan bibirnya, menciumi segala lekuk yang terdapat pada wajah perempuannya, sebelum kembali berakhir pada bibir Soomin. Yeonchan bergerak turun mengeksplorasi leher jenjang Soomin, menyesapnya dengan lembut, sebelum akhirnya berakhir pada collar bonenya. Tindakan Yeonchan membuat Soomin melepaskan erangannya yang sejak tadi tertahan. Dan Yeonchan yakin, ia sudah menjadi gila saat telinganya mendengar suara Soomin yang begitu seduktif.
Udara dengan cepat berubah panas. Yeonchan menjadi lebih berani dengan cumbuannya. Saat pria itu bekerja dengan bibirnya, tangannya semakin berani menarik turun pakaian yang di kenakan Soomin, membuat Yeonchan memiliki akses lebih bebas pada d**a dan bahu Soomin.
“Yeon~” erang Soomin saat merasakan tangan Yeonchan menggoda perutnya yang terekspos.
“Yes, baby?” balas Yeonchan dengan suara teredam karena masih sibuk bermain di pundak dan leher Soomin.
Permainan Yeonchan terhenti saat ia tak kunjung mendapatkan jawaban dari Soomin. Lebih dari itu, Yeonchan merasakan napas Soomin tak lagi menderu tapi berubah menjadi stabil. Yeonchan mengangkat kepalanya untuk melihat apa yang terjadi pada Soomin, sebelum akhirnya mata hitamnya terbelalak saat menemukan Soomin yang tertidur pulas.
Seolah ada air dingin yang mengguyur kepalanya hingga seluruh gairahnya menyusut begitu saja. Yeonchan menundukkan kepalanya dan tertawa. Setelah menggodanya hingga Yeonchan kehilangan kendali, sekarang Soomin dengan begitu manisnya, tertidur pulas di saat tubuh Yeonchan sudah mendesaknya mendapatkan pelepasan.
Dengan lembut, Yeonchan pun beranjak dari atas tubuh Soomin, dan memilih berbaring di samping Soomin yang tengah tertidur. Yeonchan menolehkan wajahnya memperhatikan setiap lekuk wajah Soomin dan senyuman terbit di roman Yeonchan. Pria itu tak marah. Sebaliknya, Yeonchan bersyukur ia bisa berhenti karena Soomin yang tertidur di tengah cumbuannya. Setidaknya itu bisa menyelamatkan Yeonchan dari situasi yang tak menyenangkan kelak saat Soomin sadar dari pengaruh alkohol dan mungkin akan semakin membenci dirinya karena mengambil keuntungan dengan menikmati Soomin yang sedang tak sadar.
Yeonchan menghela napas panjang sebelum akhirnya bangkit dari ranjang, menarik selimut untuk Soomin, dan mengecup kening perempuannya cukup lama, hingga akhirnya pergi meninggalkan kamar.
“Well, sepertinya aku harus berendam lagi di air dingin,” gumam Yeonchan sendiri.
~FORGIVENESS~
Soomin membuka kelopak matanya saat merasakan ada cahaya yang menyengat. Mata hazelnya disuguhi sebuah ruangan tak dikenal yang membuat Soomin dalam sekejap segera bangkit dari tidurnya. Soomin menyadari ia sedang berada di sebuah kamar paling maskulin yang pernah ia lihat. Dengan cepat, Soomin membuka selimut yang membungkus tubuhnya dan perempuan itu memekik kecil menyadari pakaiannya telah berganti.
Rasa takut dan gugup mulai merayapi hatinya. Soomin mengerang frustasi berusaha mengingat tiap potongan kejadian yang terjadi tadi malam. Lebih dari itu, Soomin takut ia telah melakukan kesalahan lagi, hingga telinga menangkap suara bersin dari luar kamar. Suara pria!
Perlahan, Soomin beranjak dari ranjang dan segera keluar dari kamar. Matanya berusaha mengingat segala yang ia lihat pagi ini. langkah Soomin sedikit terhuyung karena ia masih merasa pusing akibat alkohol yang terlalu banyak ia minum tadi malam. Soomin mengarahkan langkahnya menuju sumber keributan yang ia dengar, hingga ia kini berdiri di dapur dan menemukan seorang pria tengah memunggunginya dan sibuk dengan sesuatu yang ada di atas kompor.
Tubuh Soomin menegang dengan mata terbelalak menyadari siapa sosok pria yang berdiri tak jauh darinya. Rasa marah kini mulai merayapi hati Soomin. Sungguh, pria itu benar-benar tak berubah, sekali pria b******k tetap saja pria b******k!
Hatchi! Hatchi!
Pria itu kembali bersin dan tepat saat itu pula pria itu membalikkan tubuhnya dan menemukan Soomin berdiri mematung dengan mengenakan salah satu kaos kebesarannya. Park Yeonchan tersenyum melihat Soomin ternyata sudah bangun tepat ketika haejangguk yang ia masak telah siap.
“Morning. Kau sudah bangun rupanya? Aku yakin kepalamu pasti terasa berat, kebetulan aku membuatkanmu haejangguk. Ayo duduk dan makanlah supaya kau merasa lebih baik. Hatchi! Hatchi! “ sapa Yeonchan sambil sibuk mempersiapkan sarapan dengan terus bersin.
Soomin tak membalas sapaan dari Yeonchan. kemarahan terlalu memenuhi dirinya. Soomin begitu geram karena Yeonchan terlihat begitu santai setelah mengambil keuntungan pada dirinya semalam! Ya ampun Park Yeonchan tak berubah, pria itu tetap b******k!
Dengan langkah lebar, Soomin mengarahkan kakinya menuju Yeonchan yang saat ini sedang bersin. Tanpa pemberitahuan, Soomin segera mengayunkan salah satu tangannya dan mendaratkan tepat di pipi pria jangkung tersebut. Refleks, Yeonchan berhenti bersin dan menyentuh pipinya yang terasa panas sekaligus perih. Mata hitam Yeonchan menatap tak mengerti pada Yoon Soomin.
“Kau! Dasar pria b******k! Kau mengambil keuntungan dariku di saat mabuk!”
“Apa maksudmu?”
Mata Soomin berkilat penuh kebencian. Tangannya sudah siap terayun kembali saat mendengar Yeonchan yang berpura-pura tak mengerti. Dengan sigap, Yeonchan menangkap tangan Soomin sebelum kembali mendarat di pipinya. Mata hitam Yeonchan memberikan tatapan tajam menusuk.
“Lepaskan pria b******k!” geram Soomin seraya membebaskan tangannya dari cengkraman kuat Yeonchan.
“Kau pikir aku sebrengsek itu? Jika kau pikir tadi malam aku menidurimu, maka jawabannya adalah tidak! Kita tidak melakukan seks jika itu yang ada di pikiranmu sekarang!” balas Yeonchan dengan nada sedikit tinggi.
Soomin tak mampu menyembunyikan keterkejutannya. Matanya terbelalak sementara bibirnya terbuka lebar. “B-benarkah?” cicitnya pelan.
Yeonchan melepaskan cengkramannya dan mengangguk. “Ya. kita tidur di kamar yang terpisah semalam.”
Bahkan aku harus berendam di air dingin selama hampir empat jam semalam gara- gara kau sampai akhirnya kena flu! Kau justru yang berbahaya! Lanjut Yeonchan dalam hati.
~FORGIVENESS~