Sejak beberapa menit yang lalu, Hyunso asyik memperhatikan Soomin yang sedang berkutat di dapur. Hyunso menyandarkan punggungnya pada dinding yang membatasi dapur dengan ruang duduk, kedua tangannya menyilang di depan d**a.
Manik hitam Hyunso bergerak mengikuti pergerakan Soomin. Hyunso sadar, selama lima bulan ini, Yoon Soomin telah mengalami banyak perubahan. Dari hasil pengamatan Hyunso selama ini, Soomin kembali terlihat ceria. Wajah cantik sepupunya itu selalu diwarnai rona kebahagiaan. Semua terjadi setelah Soomin bertemu kembali Park Yeonchan, dan mengizinkan pria itu masuk kembali ke dalam kehidupan Soomin, sesuatu yang sampai detik ini tidak pernah Hyunso restui.
Hyunso menghela napas panjang. Pria itu tak ingin mencampuri urusan pribadi Soomin sebenarnya. Tapi, ada beberapa hal yang ingin pria itu ketahui dari Soomin. Melihat Soomin yang juga tak menyadari kehadirannya, Hyunso memberitahu keberadaannya pada Soomin dengan berdeham pelan.
“Astaga, oppa! Kapan oppa datang?” tanya Soomin sambil mengusap dadanya, karena terkejut dengan suara dehaman Hyunso.
Hyunso mengangkat bahu. Pria itu melangkah menuju kulkas, membukanya dan mengambil sebotol air mineral. “Sejak sepuluh menit yang lalu, saat kau sibuk dengan sesuatu yang sepertinya kaldu sapi atau entah apa pun itu,” jelasnya sambil mulai meneguk air mineralnya.
“Kau sepertinya masak besar. Apa ada acara hari ini?” lanjut Hyunso memperhatikan bahan makanan yang tersebar di atas counter pantry.
“Malam ini aku akan makan malam bersama orangtua Yeonchan, oppa. Yeonchan-i bilang kami akan memasak disana untuk menyambut kepulangan mereka. Yeonchan-i ingin mengenalkanku pada mereka,” jelas Soomin sambil menolehkan sedikit wajahnya dari sayuran yang tengah ia potong.
Hyunso terdiam mendengar penjelasan Soomin. Hyunso menangkap binar bahagia di mata Soomin. Hal itu membuat Hyunso sebenarnya senang tapi di satu sisi juga merasa takut. Hyunso takut Soomin terluka lagi dengan memulai hubungan ini.
“Soomin-a, boleh kutanya sesuatu padamu?”
Kepala Soomin mengangguk bersemangat. Soomin bahkan meletakkan pisaunya dan menumpukan perhatiannya pada Hyunso. “Ne,oppa.”
“Seberapa jauh hubunganmu dengan Yeonchan-i saat ini? Aku tidak bertanya apa yang sudah kalian lakukan sampai detik ini. Karena aku tahu betul seberapa jauh hubungan kalian saat remaja. Yang ingin kutekankan disini adalah seberapa yakin kau dengan hubungan ini ?” Hyunso menatap Soomin tepat di mata.
Tanpa perlu bertanya, Hyunso yakin Soomin dan Yeonchan pasti kembali melakukan hubungan intim. Hyunso sadar keduanya pernah memiliki keterikatan fisik di masa lalu, yang mustahil jika saat ini mereka tak memilikinya.
Jika pun keduanya mengelak, Hyunso bisa mendeteksi kebohongan mereka dengan mudah. Dua minggu yang lalu, Hyunso tak sengaja memergoki mereka melakukan kegiatan intim di kamar Soomin. Hyunso tebak, ini pasti bukan pertama kalinya mereka melakukannya lagi. Di tambah perilaku Soomin yang kembali bersikap manja pada Yeonchan.
Oh ayolah, Hyunso hafal betul karakter sepupunya itu, Soomin tidak akan bersikap manja jika ia tidak merasa begitu dekat. Dan Hyunso yakin, Soomin pasti sudah begitu dekat dengan Park Yeonchan.
Soomin tercekat mendengar pertanyaan Hyunso. Di dalam hati, timbul rasa takut jika Hyunso mengetahui apa yang ia dan Yeonchan lakukan selama ini. Soomin kehilangan kata-katanya.
“O-oppa...”
“Aku mengerti jika kau tak bisa menjelaskannya sekarang. Hanya saja, aku berharap keputusan apa pun yang kau ambil bisa membuatmu bahagia. Jangan salah paham, aku bukan tidak merestui kalian, aku hanya tak ingin melihatmu jatuh. Terlalu menyakitkan melihat adikku jatuh seperti dulu,” balas Hyunso yang kini sudah berdiri tepat di depan Soomin.
Soomin terdiam. Soomin tahu seberapa besar kepedulian Hyunso padanya. Di dalam hati Soomin sangat bersyukur mendapatkan perhatian Hyunso, sepupunya yang sudah seperti kakak laki-laki baginya. Sebelum Soomin hendak mengatakan sesuatu, bel apartemen berbunyi. Membuat Hyunso dan Soomin menoleh.
“Segeralah bersiap. Biar aku yang mengumpulkan bahan yang akan kau bawa ini. Itu pasti Yeonchan. Bersiaplah dengan baik, kau akan menemui calon mertuamu,” ucap Hyunso lembut sambil mendorong pelan tubuh Soomin untuk menjauh dari dapur.
~FORGIVENESS~
“Yeonchan-a, coba kau cicipi ini.”
Soomin menepuk bahu Yeonchan sambil menyodorkan sendok berisi kuah kaldu seolleongtang. Makan malam hari ini, Soomin memutuskan memasak seolleongtang karena Yeonchan bilang kedua orangtuanya menyukai seolleongtang.
Yeonchan mencicipi kuah kaldu yang disodorkan Soomin, butuh beberapa detik bagi Yeonchan sebelum memberikan penilaian, sampai ia mengacungkan jempolnya pada Soomin. Tak lupa senyuman lebar pun ikut menghiasi roman tampannya.
“Enak! Wah kau hebat, Soomin-a. Aku yakin, Eomma dan Appa akan menyukainya,” ucap Yeonchan sambil memberikan kecupan di salah satu pipi Soomin.
Soomin merona mendapat pujian dan kecupan singkat dari Yeonchan. Rasa malu dan gugup kembali menjalari hatinya. “Kau yakin bumbunya sudah pas? Aku sedikit ragu karena memutuskan membuat seolleongtang. Jujur saja, aku tak bisa membuatnya tanpa bantuan Eomma-ku.”
“Aku yakin orangtuaku akan menyukainya, Soomin-a. Kau memasak dengan baik seolleongtang-nya. Jangan cemas, kemampuan memasak Eomma-mu diturunkan padamu. Kau tak ingat kalau dulu sering membawakanku bekal makan siang?” ujar Yeonchan sambil membawa Soomin ke dalam pelukannya.
Soomin tersenyum mendengar Yeonchan yang berusaha menenangkannya. Soomin membiarkan hidungnya menghirup banyak parfum yang menguar dari tubuh Yeonchan, aroma tersebut membuatnya merasa tenang dan terlindungi. Membuat segala keresahan dan kegugupan Soomin hilang begitu saja.
“Lebih baik kau segera mandi dan ganti baju. Kau beraroma seperti seolleongtang,” jelas Yeonchan yang mengendus-ngendus baju Soomin di iringi tawa.
Soomin mendongak dan memukul pelan punggung Yeonchan. Bibirnya mencebik kesal. “Yeonchan! Aku beraroma seolleongtang, karena aku baru saja selesai memasaknya!”
“Itu sebabnya kau perlu mandi, chagiya. Aku tak mau mengenalkan perempuan beraroma seolleongtang pada orangtuaku. Biar aku yang membereskan sisanya, okay? Kau bisa menggunakan kamar tamu di sebelah kamarku,” ucap Yeonchan lembut.
Yeonchan melepaskan pelukannya dan memutar tubuh Soomin. Soomin mengangguk dan memutuskan mengikuti perintah Yeonchan, meski pun Soomin merasa asing jika harus berkeliaran di rumah orangtua Yeonchan tanpa di temani pria itu. Tapi, karena ia memang harus berganti pakaian dan bersiap, Soomin pun melangkah menuju lantai dua rumah orangtua Yeonchan.
Yeonchan tersenyum memandangi Soomin yang melangkah menaiki tangga. Yeonchan menghela napas panjang. Yeonchan memang sudah lama mempersiapkan makan malam ini. Yeonchan tak sabar memperkenalkan Soomin pada orangtuanya. Tak hanya itu, pria itu sudah menyiapkan kejutan lainnya. Sebuah kejutan yang membuat d**a pria itu semakin bahagia dan tak sabar.
Tangan Yeonchan merogoh kotak kecil yang sedari tadi berada di saku celananya, mengeluarkan dan membukanya. Senyum di romannya melebar tatkala menatap cincin platina bersulur dengan berlian berwarna biru bertahta dengan indah dalam kotak kecil tersebut. Ah, Yeonchan tak sabar melihat cincin itu tersemat di jari manis Soomin.
~FORGIVENESS~
Ibu Yeonchan—Lee Songmi—tiba dua jam setelah Yeonchan dan Soomin menyelesaikan persiapan makan malam. Begitu tiba, Nyonya Lee membawa putranya ke dalam pelukan. Wanita paruh baya itu sangat merindukan putranya setelah tak bertemu kurang lebih selama tiga bulan karena ia harus menemani suaminya, Tuan Park ke Kanada.
“Aigoo, ibu sangat merindukanmu, adeul.”
Yeonchan membalas pelukan ibunya tak kalah erat. “Aku juga merindukanmu, Eomma. Syukurlah kalian pulang dengan selamat. Ngomong-ngomong, kenapa eomma sendirian?” tanya Yeonchan dengan dahi mengerut karena tak melihat kehadiran ayahnya.
“Ayahmu menyuruh ibu pulang lebih dulu. Ia harus menemui seseorang, jangan khawatir ia akan segera datang,” jelas Nyonya Lee.
Iris Nyonya Lee beralih dan menangkap kehadiran Soomin di samping Yeonchan. Nyonya Lee terpana melihat perempuan cantik yang tersenyum dan membungkukkan tubuhnya padanya. Nyonya Lee terkejut melihat perubahan Soomin remaja menjadi perempuan dewasa.
“Annyeonghaseyo, Eomeonim. Senang bertemu lagi dengan Anda,” sapa Soomin.
“Soomin-a? Kau Yoon Soomin?”
Yeonchan tersenyum bangga, pria itu kini meraih tangan mungil Soomin dan menggenggamnya erat. “Ne, Eomeonim. Ini Yoon Soomin, perempuan yang selalu menjadi kesayanganku. Eomeonim ingat,bukan?”
“Tentu saja aku ingat! Satu-satunya gadis yang Yeonchan bawa ke depanku hanya Soomin. Astaga, kau tumbuh dengan sangat baik, Soomin-a,” puji Nyonya Lee sambil menepuk kedua pipi Soomin lembut.
Iris Nyonya Lee beralih pada wajah putranya, Park Yeonchan. Belum pernah Nyonya Lee melihat rona bahagia seperti sekarang di wajah Yeonchan selama lima belas tahun ini. Yoon Soomin adalah pusat kebahagiaan putranya. Sesederhana itu, hati Nyonya Lee sebagai seorang ibu ikut merasakan kebahagiaan yang dirasakan Yeonchan.
“Terima kasih sudah kembali bersama uri-Yeonchan, Soomin-a. Aku minta maaf atas apa yang terjadi padamu di masa lalu,” ucap Nyonya Lee dengan mata berkaca-kaca menatap Soomin.
Soomin tersenyum dan membalas ucapan Nyonya Lee dengan lembut. Soomin tak menyangka Nyonya Lee akan berterimakasih seperti ini padanya. Soomin menggenggam erat tangan ibu Yeonchan dan tersenyum, memperlihatkan bahwa ia baik-baik saja.
Puas saling bertukar kabar, Yeonchan dan Soomin membawa Nyonya Lee ke meja makan. Nyonya Lee terkejut saat Yeonchan mengatakan bahwa Soomin yang memasak semua hidangan. Lagi, wanita itu memberikan pujian pada Soomin.
Suara pintu terbuka membuat ketiganya menghentikan kegiatan mereka yang akan mulai makan. Nyonya Lee meletakkan sumpitnya dan berdiri dari kursinya.
“Sepertinya ayahmu sudah kembali, Yeonchan-a. Sebentar ibu lihat dulu.”
Yeonchan dan Soomin mengangguk kompak. Keduanya mengawasi Nyonya Lee yang hendak meninggalkan ruang makan. Belum sempat Nyonya Lee pergi dari ruang makan, seseorang yang tadi masuk ke dalam rumah mulai menampakkan diri di ruang makan.
Yeonchan dan Nyonya Lee terkejut melihat kehadiran sosok yang masuk ke dalam ruang makan. Sosok itu menghambur memeluk Nyonya Lee, sementara Soomin bingung melihat rasa terkejut yang berada di wajah Yeonchan dan ibunya.
“Eomma! Aku sangat merindukanmu. Aku langsung mengambil pesawat pertama saat Oppa memberi kabar Eomma dan Appa akan kembali ke Seoul hari ini.”
Yeonchan memaki dirinya yang melupakan sosok tersebut. Pria itu melihat kata ‘masalah’ di mana-mana. Park Yeonchan benci dengan sosok yang selalu ia hindari saat berada di Inggris.
“Apa yang kau lakukan di sini?” desis Yeonchan tak suka melihat sosok tersebut.
Pertanyaan Yeonchan membuat perhatian Soomin beralih. Soomin menatap lekat wajah Yeonchan. Soomin berusaha mencari informasi mengenai sosok di depannya lewat mata Yeonchan. Rasa takut perlahan menyelimuti hati Soomin saaat berusaha mengartikan tatapan Yeonchan pada sosok tersebut.
“Appa datang bertemu oppa dan mengajakku makan malam bersama. Karena pertemuan mereka belum selesai, aku di minta kemari lebih dulu,” balasnya.
Sosok itu tak menyadari kejanggalan yang terjadi di ruang makan, hingga ia menemukan sosok lain dalam ruangan. Perlahan, ia mendekati Soomin yang kini mulai bangkit dari duduknya. Matanya mengamati secara keseluruhan Soomin dari atas sampai bawah dengan tatapan sedikit merendahkan. Sebelum akhirnya kembali berbicara.
“Wah rupanya, ada tamu ya di sini. Maaf karena aku datang dan membuat keributan,” ucapnya pelan sambil tersenyum manis pada Soomin.
Soomin membungkukkan tubuhnya dan menyapa sosok tersebut lebih dulu. “Annyeonghaseyo, Yoon Soomin imnida,” ucap Soomin ramah.
Sosok di depannya tak langsung menjawab sapaan ramah dari Soomin. Matanya bergerak menelusuri Yoon Soomin dari ujung kaki hingga ujung kepala, membuat Soomin tersenyum kecut diperhatikan seperti itu. Iris sosok tersebut jatuh pada tangan Yeonchan yang kini melingkar erat di pinggang perempuan bernama Yoon Soomin tersebut.
Sudut bibir sosok tersebut terangkat membentuk senyum palsu, berusaha terlihat ramah. Sosok tersebut mengulurkan tangannya pada Soomin. “Choi Su Young.”
“Senang bertemu denganmu, Choi Su—”
“Aku tunangan Park Yeonchan,” potong Choi Su Young dengan penuh senyuman.
Senyuman di wajah Soomin menipis seiring terkuaknya informasi sosok di depannya. Suasana di ruangan terasa hening. Satu-satunya hal yang bisa Soomin dengar adalah suara hatinya yang hancur berkeping-keping.
~FORGIVENESS~