“AKU TIDAK PERNAH MENGATAKAN YA UNTUK APA PUN YANG BERKAITAN DENGAN CHOI SU YOUNG !"
Park Yeonchan berteriak marah pada pria paruh baya yang duduk di sofa ruang kerjanya. Pria paruh baya itu tak tersinggung mendengar putranya berkata dengan nada begitu tinggi padanya. Iris hitamnya bergulir menatap santai roman putranya.
"Aku tak peduli apa keputusanmu, Yeonchan. Kau akan menikah dengan adik Choi Siwon. Itu keputusanku dan kau tak boleh menolaknya."
"Aku tidak mau menikahi perempuan bermarga Choi itu!" geram Yeonchan.
"Yeonchan-a, itu keinginan terakhir yang di inginkan Choi Siyoung dalam wasiatnya. Menikahkan putri satu-satunya dengan salah satu putraku," jelas Park Yeon masih dengan nada yang begitu tenang. Pria paruh baya itu tak peduli dengan ekspresi marah yang tersirat di wajah putra tunggalnya.
Yeonchan menjambak surai hitamnya dengan frustasi. Satu minggu sudah ia menahan kemarahannya pada sang ayah karena kedatangan Choi Su Young, yang mengacaukan acara makan malam yang Yeonchan persiapkan. Satu minggu pula Yoon Soomin seperti menghilang dari hidupnya. Wanitanya itu tak lagi membalas pesan atau panggilan dari Yeonchan. Hal ini membuat Yeonchan merasa marah, sedih, dan juga putus asa.
"Aku. Tidak. Menginginkan. Choi. Su. Young. Menjadi. Istriku!" tegas Yeonchan dengan menekan satu persatu kata dalam ucapannya.
Park Yeon membuang muka mendengar penolakan yang kembali terucap dari bibir putra tunggalnya. Rasa kecewa kembali mengisi hati Park Yeon. Helaan napas lelah terdengar, mata tuanya menatap sendu pada Yeonchan.
"Kau memang berbeda dibandingkan kakakmu—Yongchan—Yeonchan. Jika saja kakakmu masih ada, aku yakin Yongchan tidak akan menolak apa pun yang kuucapkan. Kau—"
"AKU BUKAN HYUNG! Jika Ayah melihat perbedaan diantara kami, jawabannya memang benar. Aku bukan hyung! Selama ini aku selalu menjadi pembuat masalah di mata appa, bukan? Lalu, kenapa sekarang appa menginginkan aku menjadi putra yang penurut?"
Yeonchan mengeluarkan emosi yang tersimpan di hatinya. Mendengar ayahnya yang kembali membandingkannya dengan sang kakak, membuat d**a Yeonchan merasa sakit. Yeonchan muak dibandingkan dengan kakaknya—Park Yongchan—yang meskipun sosoknya tak lagi berada di dunia, tapi kakaknya selalu menjadi nomor satu di hati ayahnya.
Yeonchan seolah tak pernah bisa membuat Sang Ayah bangga, tak peduli berapa banyak penghargaan yang sudah berhasil di raihnya. Tak peduli berapa besar pengorbanan Yeonchan yang rela melepas impiannya bersekolah musik di Inggris dan belajar bisnis agar ayahnya bisa melihat dirinya sebagai anak yang bisa dibanggakan. Bahkan tak mempedulikan penyesalan besarnya menyangkut Soomin yang harus Yeonchan pendam selama lima belas tahun. Yeonchan lelah menghadapi segala tuntutan ayahnya.
Park Yeon bangkit dari duduknya. Pria itu tak mau lagi terlibat perdebatan dengan putranya. Iris hitam Park Yeon bergulir memperhatikan Yeonchan yang terlihat begitu emosi.
"Ini permintaan terakhir Ayah padamu, Chan. Sekeras apapun kau menolak, pertunanganmu dengan Su Young tidak akan pernah batal. Siwon sangat mempercayaimu untuk menjaga adiknya. Tidakkah kau merasa terhormat dipercaya oleh Siwon? Jika saja Yongchan masih ada, Siwon ingin Yongchanlah yang menjaga adiknya, tapi—"
"Kalau begitu tunangkan saja perempuan itu dengan hyung. Kenapa semua yang menyangkut hyung menjadi bebanku?" sanggah Yeonchan. Yeonchan tak peduli jika ucapannya menyulut emosi ayahnya.
"Park Yeonchan! Jaga ucapanmu! Kau seharusnya bersyukur akan memiliki pendamping dari keluarga terpandang seperti Choi Su Young. Dibandingkan gadis yang selalu menjadi khayalanmu itu!"
Yeonchan tertawa sarkatis mendengar ayahnya mulai membandingkan Su Young dengan Soomin, gadis yang selalu dianggap ayahnya sebagai khayalan Yeonchan. Ya Tuhan, jika saja makan malam itu tak gagal, tentu ayahnya tak lagi mengatakan bahwa Soomin adalah gadis khayalan Yeonchan. Ingin sekali Yeonchan membungkam ayahnya dengan membawa Yoon Soomin kehadapannya dan membuktikan bahwa wanita yang ia cintai seratus kali lebih baik dibandingkan Choi Su Young!
"Appa selalu membanggakan perempuan itu di depanku. Padahal, aku tahu betul bagaimana perempuan itu yang sebenarnya di belakang appa dan kakaknya," sinis Yeonchan.
Park Yeonchan sangat mengenal Su Young, dan jangan lupakan betapa liarnya gadis itu selama tinggal jauh dari pengawasan kakak laki-lakinya, Choi Siwon. Yeonchan tahu segala tingkah buruk Su Young selama berkuliah di Inggris dalam pengawasannya, karena permintaan Choi Siwon padanya.
"Aku rasa pembicaraan kita cukup, Yeonchan. Aku tak mau mendengar alasana apa pun darimu."
Park Yeon segera melangkah keluar dari ruangan putranya, memutus begitu saja pembicaraannya dengan Yeonchan. Tepat setelah daun pintu cokelat itu tertutup, suara bantingan terdengar dari dalam ruangan. Park Yeonchan membanting benda terdekat dengannya, berharap rasa sakit yang menyengat di dadanya bisa berkurang.
~FORGIVENESS~
Jam menunjukkan pukul satu siang, saat Yoon Soomin menghentikan langkahnya memasuki gedung Park Group. Jika bukan karena ia harus bersikap profesional, Soomin tak akan pernah mau menginjakkan kakinya di Park Group untuk bertemu dengan pria pemilik gedung ini, Park Yeonchan.
Kejadian seminggu yang lalu masih melekat sempurna di kepalanya. Sudah seminggu pula Soomin mengabaikan semua pesan dan panggilan dari Park Yeonchan. Ayolah, perempuan manapun pasti akan merasa sakit sekaligus marah berada di posisi Soomin. Soomin merasa sangat dipermalukan oleh Yeonchan tepat di muka ibu pria itu!
Rasa marah dan sakit masih bercokol di hati Soomin hingga detik ini. Sekali lagi, helaan napas terdengar dari perempuan bertubuh mungil itu. Setelah yakin menghadapi Park Yeonchan secara profesional, Soomin melangkahkan tungkainya memasuki pelataran lobi gedung Park Group.
Setelah menyerahkan tanda pengenalnya di bagian resepsionis, Soomin segera menuju lift yang akan membawanya menuju lantai tiga puluh satu. Setiap detik yang berlalu, membuat Soomin ingin segera menyelesaikan pertemuan hari ini. Soomin tak mau berlama-lama berada satu ruangan dengan Park Yeonchan. Soomin berharap pria itu tak sedang berada di kantor sehingga ia bisa menyerahkan berkas tersebut pada asistennya, Kim Minseok.
Sayang, begitu Soomin menyebutkan siapa dirinya pada perempuan penerima tamu di lantai tiga puluh satu, Asisten Kim keluar dari ruangannya dan tersenyum sumringah menyambut kehadiran Soomin. Pria berwajah imut itu bahkan memberitahu bahwa Direktur Park sedang menanti kehadirannya. Detik itu juga, Soomin ingin kembali ke kantornya.
Demi bersikap profesional, Soomin meneguhkan diri dan mengekor di belakang Asisten Kim. Sebuah senyum tipis tersungging di bibir Soomin pada Asisten Kim yang membukakan pintu untuk Soomin. Dengan helaan napas panjang, Soomin melangkah memasuki ruang kerja Direktur Park.
~FORGIVENESS~
Park Yeonchan tak bisa menahan dirinya melihat kehadiran Soomin di ruang kerjanya. Yeonchan melangkah lebar menuju Soomin dan menarik perempuan itu dalam dekapannya, menghirup aroma citrus sebanyak yang bisa ia hirup. Yeonchan sangat merindukan perempuan yang ada dalam pelukannya.
"Apa yang Anda lakukan, Direktur Park?"
Nada Soomin yang begitu dingin menghancurkan hati Yeonchan dalam sekejap. Perlahan, Yeonchan mengurai dekapannya dan menatap lekat manik hazel yang menatapnya tajam. Yeonchan kembali menemukan benteng tinggi di hati Soomin untuknya, membuat senyuman pedih tersungging di wajah Yeonchan.
"Kenapa kau tak membalas pesan atau menjawab telepon dariku?"
Soomin mendorong tubuh Yeonchan menjauh darinya. Soomin menjauh dari jangkauan Yeonchan. Soomin tak ingin mendapatkan kontak fisik dari Yeonchan. Otaknya mengingatkan tujuan Soomin datang menemui Yeonchan.
"Kedatangan saya kemari untuk menyerahkan dokumen daftar pegawai Byun Media yang akan resmi bergabung dan bekerja menjadi tim dari MenXHealth secara permanen," tegas Soomin.
Yeonchan menghela napas melihat Soomin yang kembali seperti awal pertemuan. Yeonchan tahu, ia kembali membuat kacau rencananya karena melupakan fakta mengenai Choi Su Young, perempuan menyebalkan yang kembali ke Seoul secara tiba – tiba. Melihat Soomin menghindarinya, Yeonchan bergerak mendekati Soomin dan meraih dokumen yang ada di tangan Soomin, meletakkan di meja sebelum akhirnya kembali berhadapan dengan Soomin.
"Kita perlu bicara, Soomin-a. Ada yang perlu kujelaskan. Mengenai Su Young, aku—"
"Kedatangan saya kemari untuk menyerahkan daftar tim, Direktur Park. Saya tidak memiliki waktu membahas hal yang bersifat pribadi," potong Soomin. Soomin tak ingin mendengar penjelasan Yeonchan. Soomin tak siap menambah sakit di hatinya setelah kejadian malam itu.
Yeonchan menggelengkan kepala, tangannya meraih tangan mungil Soomin, menggenggamnya erat meskipun Soomin berusaha melepaskannya. Yeonchan menggeleng, menatap Soomin dengan tatapan memohon. Memohon agar perempuan itu mendengarkan penjelasannya.
"Please, Soomin-a. Setidaknya dengarkan penjelasanku."
Soomin menarik tangannya dari genggaman Yeonchan. "Saya kemari bukan untuk membahas hal itu, Park Yeonchan," desis Soomin. Kemarahan yang sejak tadi ditahannya kembali meluap di permukaan hatinya.
Soomin kembali melangkah menjauhi Yeonchan. Soomin tak akan sanggup menahan diri lebih lama dari ini jika terus bersama Yeonchan. Soomin tak mau Yeonchan melihat dirinya yang rapuh dan terluka karena kejadian malam itu.
"Saya mohon pamit, Direktur Park."
Sebelum Yeonchan menangkap dirinya, Soomin meraih tasnya dan berbalik pergi. Yeonchan terkesiap melihat Soomin hendak pergi begitu saja. Demi apapun, Yeonchan tak akan membiarkan Soomin pergi tanpa mendengar penjelasan darinya.
Tepat sebelum tangan Soomin meraih gagang pintu, Yeonchan melangkah cepat ke arah Soomin, meraih tubuh Soomin dan menariknya ke dalam dekapannya. Membuat punggung Soomin menabrak d**a bidang Yeonchan. Yeonchan merengkuh Soomin erat, pria itu sungguh tak ingin kehilangan lagi perempuan yang begitu berharga ini.
"Demi apa pun, Yoon Soomin. Tolong dengarkan aku untuk sekali ini saja. Choi Su Young bukan tunanganku. Satu-satunya perempuan yang berada di hatiku hanya kau."
Tubuh Soomin menegang berada dalam dekapan Yeonchan. Bohong jika Soomin tak merasa tersentuh dengan ucapan Yeonchan, hanya saja akal sehatnya menyangkal semuanya. Otaknya dengan jelas memberikan perintah agar tak hanyut dalam buaian manis Yeonchan.
Bukankah sejak dulu Soomin tahu Yeonchan adalah pria paling manipulatif yang pernah ia kenal?
"Aku tak peduli apa pun tentangmu dan Choi Su Young. Termasuk hubunganmu dengan perempuan bermarga Choi itu," balas Soomin dingin.
"Jika kau tak percaya, aku akan membuktikannya padamu. Aku akan membuktikan bahwa perempuan yang kau inginkan adalah kau, bukan Su Young."
Soomin bergeming. Perempuan itu tetap menolak apa pun yang dikatakan Yeonchan. Soomin lelah berurusan dengan Yeonchan. Soomin tak sanggup jika harus terluka lebih dari ini bersama Yeonchan. Berada dalam dekapan Yeonchan membuat Soomin hampir terbuai dengan segala kata manis pria itu.
"Kau, perempuan yang paling kuinginkan di dalam hidupku, Soomin. Percayalah padaku," ujar Yeonchan seraya melonggarkan pelukannya dan membalik tubuh Soomin agar menghadapnya.
Iris hitamnya bertemu dengan hazel yang kini menyorotkan pandangan terluka. Hati Yeonchan seperti di remas menyadari Soomin memandangnya dengan tatapan yang sama seperti saat ia mencampakkannya di bandara.
"Yeonchan, kau mungkin menginginkanku, tapi kau tak bisa memilikiku. Karena aku bukan benda yang bisa kau dapatkan saat kau butuhkan dan membuangku setelahnya," ujar Soomin seraya melepaskan tangan Yeonchan dipinggangnya.
Yeonchan menatap Soomin dengan tatapan terluka. Rasa sakit menyergap hatinya membuatnya sesak. Seulas senyum perih tersungging di wajah Yeonchan mendengar penilaian Soomin terhadap dirinya. Yeonchan tahu, ia kembali membuat kesalahan.
"Memang benar aku tak bisa memilikimu, Soomin. Tapi, sejak dulu, kau sudah memiliki hatiku."
Soomin terdiam mendengar ucapan Yeonchan yang sarat kesedihan dan putus asa. Soomin menyadari pertahanannya hampir runtuh. Menyadari hal itu, Soomin berbalik memunggungi Yeonchan. Perempuan itu tak sanggup melihat kebenaran yang ada di mata Yeonchan.
"Sebaiknya aku pergi," ujarnya dan kembali meraih gagang pintu dan membukanya.
Yeonchan kembali meraih tangan Soomin, menahan kepergian Soomin dari sisinya. Sejak bertemu kembali dengan Soomin, Yeonchan sudah berjanji akan mengejar Soomin dan tak berniat melepaskannya lagi. Tak peduli sekalipun ia harus terluka. Yeonchan tak akan sanggup jika harus kehilangan lagi Soomin.
"Aku pernah berjanji padamu jika aku akan menebus kesalahanku dengan membuatmu bahagia, Yoon Soomin. Aku akan membuktikannya padamu, karena kau memiliki hatiku," ujar Yeonchan lirih.
Soomin menghela napas panjang mendengar ucapan Yeonchan. Hatinya sakit mendengar suara Yeonchan yang sarat keputusasaan. Soomin ingin berbalik dan meraih pria itu dalam pelukannya dan mengatakan ia akan menanti Yeonchan membuktikannya. Tapi, akal sehatnya menolak dan Soomin memilih melangkah pergi.
~FORGIVENESS~
i'm still here waiting for you
i love you, i love you
i shout it out after staying in this long silence
it may seem weak and childish but it's my true feelings
~FORGIVENESS~