“Jadi bagaimana keadaannya, Songdae-ya?”
Yeonchan segera menanyakan kondisi Soomin begitu temannya, Kim Songdae, selesai memeriksa Soomin. Saat ini mereka berada di rumah sakit tempat Kim Songdae, teman sekaligus psikiater pribadi Yeonchan melakukan praktek.
Beberapa menit yang lalu, Songdae baru saja selesai melakukan observasi terhadap Soomin. Di ruang praktek hanya tinggal Yeonchan dan Songdae. Yeonchan meminta Soomin menunggu di luar ruangan di temani Taejoon. Pria itu ingin tahu seberapa parah trauma yang di alami Soomin kali ini.
“Soomin mengalami hyperarousal yaitu pengulangan trauma. Bisa di katakan ia kembali ke tahap awal saat trauma terjadi,” ucap Songdae sambil menulis sesuatu di buku data Soomin.
Alis Yeonchan terangkat. “Pengulangan? Maksudmu?”
“Post Traumatic Stress Disorder. Berdasarkan hasil rekam medis seniorku yang pernah menanganinya, Soomin-i dipastikan terkena PTSD. Bisa kukatakan penangan PTSD sebelumnya pada Soomin-i berhasil hingga traumanya menjadi trauma biasa. Tapi, karena tekanan dan pengulangan hal-hal yang berhubungan dengan kejadian dilakukan secara terus menerus, mengakibatkan trauma biasa itu kembali menimbulkan ketakutan dan kesedihan yang luar biasa. Hingga akhirnya, Soomin-i seperti baru mengalaminya lagi.”
Yeonchan tak bisa menahan tangannya agar tak mengepal setelah mendengar penjelasan Songdae. Kemarahan menggelegak menguasai d**a pria itu saat mengetahui Soominnya kembali terpuruk. Dalam hati, Yeonchan mengeluarkan beragam sumpah serapah yang ia miliki pada orang yang telah mengakibatkan Soomin seperti sekarang.
“Apa Soomin-i bisa disembuhkan, Songdae-ya? Atau setidaknya kita bisa kembali memperkecil traumanya?”
Songdae mengangkat perhatiannya dari data rekam medis Soomin dan mengangguk. “PTSD tidak bisa disembuhkan sepenuhnya karena itu berhubungan dengan memori. Tapi, kita bisa kembali membuat kejadian mengerikan itu menjadi sebuah trauma biasa.”
“Berapa lama bisa membuat kejadian itu menjadi trauma biasa seperti sebelumnya?”
“Aku tak bisa memastikan tepatnya berapa lama, Yeonchan-a. Semua bergantung pada Soomin-i dan juga dukungan dari orang di sekitarnya. Sekarang, yang terpenting adalah tidak membiarkan Soomin-i sendirian. Ketika terjadi perubahan emosi yang signifikan, maka harus ada orang yang mau mendengarkan ketakutan dan kesedihannya. Aku akan memberikan beberapa obat untuk membantu Soomin-i, juga aku akan memberikan jadwal pertemuan untuk terapi.”
Yeonchan menganggukkan kepalanya. “Terima kasih, Songdae-ya. Aku mohon bantuanmu untuk memulihkan Soomin-i seperti sebelumnya.”
Songdae tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Perhatian pria itu tak lepas dari resep yang sedang ia tulis. “Aku berusaha semampuku, Yeonchan-a. Ah ya, aku baru ingat. Akhir-akhir ini, kau tak lagi meminta obat penenang padaku. Apa kau sudah merasa lebih baik?”
Yeonchan tak bisa menyembunyikan senyumannya. Kim Songdae, jelas tahu kondisi Yeonchan saat ia berada di Inggris dulu. Saat Yeonchan jatuh dalam lubang penyesalan yang di sertai depresi dan halusinasi—Songdae, yang merupakan tetangga apartemennya, membantu Yeonchan memulihkan diri. Setelah lulus, Yeonchan meminta Songdae menjadi psikiater pribadinya hingga hari ini. itu sebabnya, Songdae heran karena Yeonchan tak lagi membutuhkan obat penenang darinya.
“Aku sudah memiliki obat yang lebih ampuh, Songdae-ya. Kau tahu? Saat ini, aku sedang berusaha memperbaiki kesalahanku di masa lalu.”
Tangan Songdae berhenti bergerak. Atensinya beralih memandangi wajah Yeonchan. Mata Songdae menyipit berusaha menemukan maksud atas ucapan Yeonchan tersebut. “Jangan bilang bahwa Soomin-i adalah....”
“Ne, Songdae-ya. Soomin-i adalah penyesalanku yang terbesar. Itu sebabnya, aku tak lagi bermimpi buruk dan tak membutuhkan obat penenang.”
Songdae tak bisa menyembunyikan rasa leganya mendengar Yeonchan, pasien pertamanya telah pulih. Senyum langsung tersungging di wajah Songdae. “Kalau begitu, mungkin kalian bisa menyembuhkan satu sama lain, Yeonchan-a. Soomin-i menjadi obat paling ampuh untukmu, dan kau juga bisa melakukan hal yang sama pada Soomin-i,” ucap Songdae sambil menyerahkan catatan resep pada Yeonchan.
~FORGIVENESS~
Yeonchan keluar dari ruangan praktek Kim Songdae. Iris hitamnya langsung di suguhkan pemandangan Soomin yang duduk dengan pandangan kosong di temani Taejoon di sebelahnya. Yeonchan menghela napas panjang melihat Soominnya yang terlihat rapuh. Demi apa pun, Yeonchan tersiksa melihat Soomin seperti sekarang. Sambil kembali menghela napas panjang, Yeonchan melangkah mendekati Soomin dan Taejoon.
Melihat Yeonchan mendekati mereka, Taejoon segera berdiri dari duduknya. Yeonchan memfokuskan perhatiannya pada Taejoon setelah berada di dekat bodyguardnya. Yeonchan memberi tanda agar Taejoon mendekati dirinya.
“Apa ada yang ingin Anda sampaikan,Tuan?”
“Kau sudah menyelidiki pria yang kemarin membuat Soomin terguncang? Apa kau sudah memastikan polisi mengintrogasinya dengan benar?” tanya Yeonchan dengan nada suara yang begitu dingin dan sarat akan kemurkaan.
“Saya sedang menyelidiki identitas pria tersebut sekaligus motif penyerangan mental pada Nona Yoon kemarin. Saat ini, pria itu masih di interogasi oleh pihak kepolisian Gangnam.”
“Aku ingin kau menyelidikinya secara terpisah. Kumpulkan informasi mengenai pria itu dan juga temukan motifnya secara keseluruhan. Aku ingin memastikan siapa pun yang membuat Soomin seperti ini, tidak akan lepas dari hukumannya,” ucap Yeonchan dengan ekspresi yang begitu menyeramkan. Kedua iris hitam itu berkilat penuh kemarahan.
“Ya, Tuan. Saya akan melaksanakan perintah Anda. Saya juga sudah mengabari Tuan Baek mengenai kondisi Nona Yoon. Tuan Baek sudah setuju memberikan cuti untuk Nona Yoon.”
Yeonchan mengangguk mendengar informasi yang disampaikan Taejoon. Yeonchan kemudian memberikan tanda agar Taejoon meninggalkannya bersama Soomin. begitu Taejoon meninggalkannya berdua dengan Soomin, perhatian Yeonchan kembali tertuju pada Soomin yang masih diam tak bergeming. Park Yeonchan kembali menghela napas panjang melihat perempuannya yang hanya diam dan sibuk dengan pikirannya sendiri.
Perlahan, Yeonchan berlutut di depan kursi yang di duduki Soomin. Tangan Yeonchan meraih kedua tangan mungil Soomin yang berada di atas pahanya, hal itu membuat Soomin tersentak dari lamunannya. Manik hazel itu bergulir menatap pria yang tengah berlutut di depannya. Bibir plum Soomin tetap terkatup tak mengatakan sepatah kata pun.
“Soomin-a, untuk saat ini, aku tak bisa membiarkanmu sendirian di apartemen. Terlebih setelah penyerangan kemarin, aku rasa keamanan di apartemenmu sedikit longgar. Aku tak ingin terjadi lagi hal buruk padamu. Aku ingin kau tinggal sementara di rumahku. Apa kau mau?” tanya Yeonchan hati-hati. Kepala Yeonchan mendongak memperhatikan riak ekspresi di roman Soomin.
“Hyunso Oppa....”
“Sayang, Hyunso saat ini berada di Munich. Dia akan berada di Munich selama enam bulan. Kau ingat? Dan Hyunso sudah memintaku untuk menjagamu selama ia pergi. Aku tidak akan macam-macam. Semua ini murni untuk memastikan keselamatanmu agar kau bisa pulih,” ujar Yeonchan lembut.
Soomin tak menjawab ucapan Yeonchan. Setetes airmata mengalir turun dari sudut matanya. Melihat airmata kembali jatuh di pipi Soomin, membuat hati Yeonchan retak. Demi apa pun, melihat Soomin menangis adalah hal yang paling menyakitkan untuknya. Ibu jari Yeonchan terangkat untuk menghapus airmata yang membasahi pipi Soomin. Yeonchan menyunggingkan senyuman agar Soomin bisa merasa tenang dengannya.
“Jangan menangis, sayang. Aku berjanji membantumu untuk pulih. Aku tak akan membiarkanmu sendirian lagi, okay?”
Soomin mengangguk pelan dan airmatanya kembali merebak menyelimuti kedua hazelnya. Yeonchan tak bisa mencegah dirinya untuk tak menarik tubuh Soomin ke dalam pelukannya. Lewat pelukannya,Yeonchan berusaha menyalurkan kekuatan pada Soomin. tangannya mengusap lembut puncak kepala Soomin.
“Aku mohon jangan menangis lagi, Soomin-a. Terlalu menyakitkan untukku melihatmu menangis,” gumam Yeonchan yang semakin erat memeluk perempuannya.
~FORGIVENESS~
Jam sudah menunjukkan lewat tengah malam saat Yeonchan memutuskan menutup laptopnya, menyudahi kegiatan mempelajari berkas kerjanya. Pria itu bangkit dari single sofa yang sejak tadi ia duduki setelah sebelumnya meletakkan laptopnya pada meja kecil yang berada di samping sofa.
Yeonchan berjalan sambil menguap lebar. Yeonchan sangat lelah setelah beberapa jam ini ia memeriksa laporan yang di kirimkan Asisten Kim dari kantor. Seharian ini, Yeonchan memutuskan bekerja di rumah karena harus mengawasi dan menemani Soomin.
Meskipun Yeonchan seolah mendapatkan tugas tambahan karena keadaan Soomin, pria itu tak mengeluh. Sebaliknya, Yeonchan merawat Soomin sepenuh hati. Bahkan, seharian ini, Yeonchan memasak sendiri makanan untuknya juga untuk Soomin. Yeonchan menolak bantuan Bibi Jang, asisten rumah tangga, yang selama ini bertugas membersihkan dan menjaga rumah.
Helaan napas panjang terdengar dari Yeonchan saat punggungnya menyentuh dengan nyaman tempat tidurnya. Baru saja saat kelopak matanya hendak memadamkan sorot iris hitam itu, suara jeritan terdengar dari kamar sebelah, membuat Yeonchan bangkit dari tidurnya. Pria itu bergegas menuju kamar Soomin yang berada tepat di samping kamarnya.
Yeonchan membuka pintu kamar dan menemukan Soomin menangis tersedu sambil menutupi kedua telinganya. Yeonchan langsung menarik Soomin ke dalam pelukannya, berusaha menenangkan.
“Soomin-a, tenang. Tenang aku ada disini. Sstt, Soomin-a, aku ada di sini.”
Seiring dengan Yeonchan yang memeluk Soomin semakin erat, perlahan tangisan Soomin berhenti. Setelah memastikan Soomin cukup tenang, Yeonchan memberikan obat pada Soomin. melihat Soomin kembali tenang, Yeonchan beranjak dari samping perempuan itu. Belum sempat, kaki Yeonchan menyentuh sendal rumahnya, lengannya sudah di tarik Soomin. Yeonchan menoleh dan menemukan Soomin menatapnya dengan pandangan memohon.
“Jangan pergi. Aku mohon jangan tinggalkan aku sendiri. Aku takut,” ujarnya lirih.
Melihat Soomin yang memohon membuat Yeonchan luluh. Yeonchan mengangguk dan kembali duduk di samping Soomin. Sebelah tangannya terangkat untuk membelai lembut rambut Soomin.
“Kembalilah tidur Soomin-a. Aku akan menjagamu.”
Seiring dengan napas Soomin yang kembali teratur, perlahan rasa lelah menghinggapi tubuh dan pikiran Yeonchan. Sebelah tangan Yeonchan bahkan masih berada di puncak kepala Soomin. Semudah itu, Yeonchan ikut terlelap di samping Soomin.
~FORGIVENESS~