Choi Su Young menyiramkan red wine yang sejak tadi di sesapnya, pada pria di depannya. Raut cantiknya terlihat murka setelah mendengar informasi yang disampaikan pria itu. Sungguh, Su Young tak menyangka rencananya akan berantakan. Seumur hidupnya, Choi Su Young tak pernah suka jika rencana yang telah ia buat berantakan.
“Kupikir dengan mempercayaimu, aku bisa menghilangkan perempuan itu dari sisi Yeonchan-i. Tapi, sekarang aku dengar jika jalang itu pindah ke rumah Yeonchan? Apa kau tak tahu jika jalang itu berada di rumah Yeonchan, kemungkinan besar kita menyentuhnya lagi adalah nol persen! Rumah pribadi Park Yeonchan tidak akan pernah menerima kehadiranku!” Geram Su Young dengan mata berkilat penuh kemarahan.
“Mohon maafkan saya, Nona Choi. Saya tak menyangka akan seperti ini. Kami tak menyangka body guard Tuan Park menerobos masuk ke dalam apartemen, tapi kami berhasil membuat Nona Yoon mengalami trauma hebat. Saya....”
Ucapan pria itu terpotong karena Su Young kembali menyiram red wine tepat ke mukanya, membuat pria itu tak berani melanjutkan ucapannya. Pria itu hanya bisa menunduk di depan Su Young yang begitu marah.
“Meski pun ia kembali mengingat traumanya, bukan berarti aku menginginkan jalang itu pindah ke rumah Yeonchan-ku!” geram Su Young. Perempuan itu berdiri dari duduknya dan melangkah mengitari pria suruhannya yang masih terus menundukkan kepalanya.
“Apa yang akan kau tawarkan sekarang, hah? Di saat aku yang bersusah payah menemani dan mengobati Yeonchan selama di Inggris, sekarang perempuan itu mengambil semua kebahagiaan yang seharusnya menjadi milikku? Apa yang bisa kau janjikan padaku?!”
Pria suruhan itu hanya bisa menundukkan kepala. Pria itu tak bisa menjawab pertanyaan yang di ajukan Su Young. Membangkang perintah Nona Choi, sama saja menyerahkan nyawa secara sukarela. Perempuan di depannya memiliki kekayaan dan kekuasaan yang membalut dirinya sejak lahir. Tak pelak ucapan darinya merupakan sebuah perintah mutlak. Choi Su Young tak pernah menerima penolakan.
Choi Su Young melangkah menjauhi pria suruhan yang masih diam mematung di tempat. Kaki jenjangnya melangkah mendekati jendela apartemennya. Mata cokelat Su Young bergerak memperhatikan mobil yang berlalu lalang di jalanan depan apartemennya. Pikirannya melayang merencanakan sesuatu yang membuat Yeonchan melepaskan perhatian dari jalang bernama Soomin itu. Kuku-kukunya yang di cat merah darah, mengetuk kaca jendela, tanda jika Su Young sedang berpikir keras.
Hingga beberapa menit berlalu, Su Young tak menemukan rencana yang tepat. Menyentuh Soomin yang kini tinggal di rumah pribadi Yeonchan, sama saja membuat Su Young memberikan kesempatan bagi Yeonchan untuk semakin membenci dirinya. Su Young tak mau Yeonchan semakin membencinya.
Menyadari tidak ada yang bisa ia lakukan, Su Young akhirnya hanya bisa menghela napas dan menunggu saat yang tepat merencanakan sesuatu. Hingga otaknya memunculkan wajah kakaknya, Choi Siwon, dan seorang pria lain. Su Young yakin, kakaknya dan pria tersebut bisa membantunya kali ini.
“Untuk sekarang, kau bisa menebus anak buahmu yang di tahan di Gangnam. Aku akan mengirim sejumlah uang pada rekeningmu. Sekarang, pergilah dari hadapanku.”
~FORGIVENESS~
Yeonchan melangkah memasuki rumah sambil berusaha melepaskan ikatan dasinya. Bibi Jang, pengurus rumahnya menyambut kedatangannya dan mengambil alih tas kerja Yeonchan.
“Ajumma, Soomin-i ada di mana?” tanya Yeonchan setelah memakai sandal rumah dan tak menemukan Soomin di lantai satu rumahnya.
“Nona Yoon ada di lantai dua, Tuan.”
Yeonchan mengangguk dan segera melangkah menuju lantai dua. Tak ketinggalan, Yeonchan juga melambaikan tangannya, memberi tanda agar Bibi Jang mengikuti dirinya. segera saja, Bibi Jang menyusul dengan mengekor di belakang Yeonchan.
Begitu tiba di lantai dua, manik Yeonchan bergulir mencari keberadaan Soomin. perhatiannya kemudian tertuju pada sosok di sofa ruang duduk lantai dua. Senyuman Yeonchan merekah di sudut bibirnya. Dengan cepat, Yeonchan melangkah mendekati Soomin. Iris hitam Yeonchan kemudian melihat Soomin ternyata tertidur di sofa.
Dengan lembut, Yeonchan merapikan anak-anak rambut yang menutupi wajah Soomin. Yeonchan melakukannya selembut mungkin agar tak mengganggu Soomin. Wajah Soomin terlihat begitu pucat dan kurus. Jika saja hari ini ia tak ada pertemuan penting, Yeonchan pasti memilih tinggal di rumah dan mengawasi Soomin seperti hari-hari sebelumnya.
“Ajumma, apa hari ini Soomin-i makan dengan baik? Apa saja yang ia lakukan seharian ini? Ajumma tak meninggalkannya sendirian, ‘kan?” tanya Yeonchan masih dengan perhatian yang tertuju pada wajah Soomin yang terlelap.
“Nona Yoon makan cukup baik, Tuan. Saya seharian ini bersama dengannya. Tidak banyak yang ia lakukan, kebanyakan Nona Yoon melamun. Sesekali ia juga menangis secara tiba-tiba. Ketika Nona Yoon menangis, saya hanya bisa memeluknya. Saya minta maaf jika tindakan saya terkesan lancang, Tuan.”
“Aniya. Tindakan ajumma sama sekali tak lancang. Aku berterima kasih karena Ajumma mau menemaninya seharian ini,” ucap Yeonchan tulus.
“Anda tak perlu berterimakasih seperti itu, Tuan. Saya hanya melakukan tugas yang Anda berikan. Saya berharap Nona Yoon bisa segera pulih. Saya seorang ibu, rasanya menyakitkan melihat perempuan semanis Nona Yoon harus sakit seperti ini, Tuan.”
Yeonchan tak bisa menahan senyuman mendengar harapan Bibi Jang yang tulus pada Soomin. Dan aku memiliki andil yang besar karena merusak perempuan seperti Yoon Soomin menjadi seperti ini,batin Yeonchan.
“Aku juga berharap seperti itu, Ajumma. Baiklah, ajumma bisa beristirahat sekarang. Sekali lagi terima kasih sudah menemani dan mengawasi Soomin-i seharian ini.”
Bibi Jang tersenyum sebelum akhirnya pergi meninggalkan Yeonchan dan Soomin. Setelah ditinggalkan Bibi Jang, Yeonchan masih asyik mengawasi Soomin yang tertidur lelap. Menyadari posisi tidur Soomin yang kurang nyaman, Yeonchan berinisiatif memindahkan Soomin ke kamarnya.
Sambil menggulung kemejanya hingga ke siku, Yeonchan kemudian menggendong Soomin perlahan. Yeonchan kembali tersenyum melihat wajah Soomin yang begitu damai. Sebuah kecupan hangat Yeonchan berikan tepat di dahi Soomin sebelum akhirnya membawa Soomin ke kamar dan membiarkannya beristirahat lebih nyaman.
~FORGIVENESS~
Seorang pria dengan jas putih tersentak saat pintu ruang kerjanya di buka secara tiba-tiba. Sesosok perempuan dengan pakaian menggoda melangkah masuk ke dalam ruangan dengan bibir mengerucut sebal. Tanpa perlu banyak bertanya si pria tahu jika perempuan kesayangannya itu tengah dalam suasana hati yang buruk.
“Oppa....” panggil Su Young dengan nada manja tak lupa bibir mengerucut kesal.
“Ada apa? Kau terlihat dalam suasana hati yang buruk,” jawab si pria sambil melepas kacamatanya dan berfokus memperhatikan Choi Su Young yang kini sudah melangkah mendekatinya, yang kemudian duduk di pangkuannya.
“Oppa tak perlu banyak bertanya. Oppa tahu bukan, kalau aku dalam suasana hati yang buruk, aku pasti berubah kasar?” balas Su Young sambil mengalungkan kedua tangannya di leher si pria.
“Hh baiklah. Aku tak akan banyak bertanya. Jadi, apa yang bisa kulakukan untuk memperbaiki suasana hatimu yang buruk, Su Young-a?”
Su Young terdiam sejenak. Kepala cantiknya tengah memikirkan ulang rencana yang seharian ini ia susun di apartemennya. Sebuah rencana manis yang tentunya membutuhkan bantuan kecil dari sosok pria yang tengah memangkunya. Tangan Su Young membelai lembut kedua pipi pria tersebut.
“Oppa, kau kenal dengan sepupu dari perempuan yang kuminta rekam medisnya?”
“Sepupu?” Dahi pria itu mengernyit mendengar pertanyaan Su Young, “memang kenapa kalau aku mengenalnya, Su Young-a? Kau ada perlu dengannya?”
“Ani. Tidak apa-apa. Tapi, yang jelas kau mengenalnya,bukan?” tanya Su Young seraya memainkan jari-jarinya di sekitar leher pria yang memangkunya.
“Aku yakin kau pasti memikirkan sesuatu tentang Soomin-i. Tidakkah kau memiliki empati padanya setelah kau membuatnya kembali terguncang seperti itu? Jika saja aku tahu apa yang akan kau lakukan pada perempuan bernama Soomin itu, aku pasti akan....”
“Ah Oppa kau kembali bersikap menyebalkan!” Potong Su Young. Bibirnya yang dipoles lipstik merah kembali mengerucut. Matanya memancarkan sorot tak suka.
Pria di depannya menghela napas panjang melihat sikap Su Young. “Su Young-a, aku tak bermaksud membuatmu semakin kesal. Tapi, tidakkah kau pikir bahwa apa yang kau lakukan itu terlalu jahat? Ya, aku memang mengenal Dokter Do karena ia salah satu kolegaku. Apa pun yang akan kau lakukan pada Soomin, kali ini aku sendiri yang akan menghalangimu. Kau ini perempuan atau bukan, sih? Sama sekali tak punya empati.”
Emosi Su Young semakin tersulut mendengar ucapan pria di depannya. Selalu, pria ini akan berubah menjadi orang yang paling menyebalkan jika bertentangan dengan apa yang Su Young telah rencanakan.
Menyadari tak ada gunanya meminta bantuan pada pria di depannya, Su Young mendengus dan segera bangkit dari pangkuan pria itu. Mata Su Young kini berkilat penuh rasa kesal yang terarah pada pria yang masih duduk tenang di kursi kerjanya.
“Sepertinya aku salah datang kemari. Karena oppa membuatku semakin kesal.”
Setelah berkata seperti itu, Choi Su Young segera melenggang pergi meninggalkan ruangan pria berjas putih tersebut. Su Young bahkan tak lagi menoleh saat pria itu memanggil dirinya. Kemarahan Su Young terlalu besar karena kegagalan rencananya. Dengan suara sepatu hak yang mengentak lantai rumah sakit, Su Young memikirkan rencana yang bisa ia lakukan untuk mendapatkan Yeonchan kembali. Hingga, wajah kakaknya, Choi Siwon, melintas di kepalanya.
Aku akan melakukan apa pun demi menyingkirkan jalang itu dari sisi Yeonchan. karena tempatku memanglah di sisi Yeonchan.
~FORGIVENESS~