Didalam ruangan besar yang didominasi oleh air yang terlihat berwarna biru langit, Aland duduk disalah satu kursi yang tersedia di pinggiran kolam renang. Ia sedang menunggu Heyla yang membersihkan diri dari pecahan telor dan tepung yang menghiasi badannya hari ini.
Tling
Suara notifikasi pesan masuk terdengar dari ponselnya. Dari grup kelompok belajar Malia mengindikasikan untuk belajar bersama hari ini.
"Maaf gue lama, telor dikepala gue cepat banget kering jadi susah nge bersihin" ucap Heyla yang sudah keluar dari kamar mandi kolam renang. Bajunya sudah diganti dengan pakaian yang diberikan Bu guru, rambutnya digulung dengan handuk agar tidak membasahi seragamnya.
"Apa kau akan bergaya seperti itu ke kelas? Lihat lah handuk di kepala mu, kau seperti orang India" ucap Aland sambil tertawa melihat kepala Heyla
"Hanya sampai kering, tidak ada hairdryer disini jadi aku harus gimana?" Keluh Heyla dan segera duduk didekat Aland
"Di UKS ada kipas duduk, ayo kita kembali kesana ngeringin rambut Lo"
"Gak usah, gue aja yang kesana sendirian Lo udah ngelewatin jam mata pelajaran, lebih baik Lo ke kelas"
"Ck, ngapain dikelas nge bosanin. Lagian gue udah mempelajari semua kok"
"Semua? Jadi Lo udah tahu dan ahli gitu?"
"Ya dongs"
"Yakin? Berani gue tes gak?"
"Siapa takut... Lagian Lo mau tes gue sekarang? Lo aja gak tahu apa yang Lo gak tahu. Gimana mau men tes gue coba"
Heyla memicingkan matanya pada Aland ia segera berdiri dan melepas handuk dari kepalanya.
"Mau Lo pintar dan udah paham lebih baik Lo pergi ke kelas sekarang, gue mau tidur di UKS"
"Tapi...."
"K e k e l a s" eja Heyla kemudian pergi menuju pintu keluar
"Dan makasih udah nolong gue, kebetulan gue schock ringan tadi jadi gak langsung gerak dari sana" lanjut Heyla yang suara nya menggema karena berada diruangan besar yang hampa itu.
Zuke, Rudy, Rico dan Ika sudah kembali ke kelas masing-masing, Ika harus duduk sendirian karena Heyla belum kembali dan tak tahu sedang dimana. Bangku Aland juga sama kosongnya, entah kemana dua orabgt itu. Siswa kelas mereka hanya asik berbisik membicarakan dibelakang mengira Heyla dan Aland memiliki hubungan.
"Buk! Saya permisi"
Setelah mendapatkan izin Ika langsung beranjak keluar, ia sudah berniat tidak kembali lagi sampai jam istirahat. Ia akan mencari keberadaan Heyla.
Didalam UKS Heyla duduk bersila diatas ranjang UKS. Ia menutupkan bilik tempatnya berada dengan kain pembatas. Ia sama sekali tidak tahu hendak melakukan apa. Pikirannya masih berjalan jalan mengenai kejadian yang menimpanya lagi tadi.
"Apa ini yang dirasakan anak-anak lain? Yang ditindas tapi tak bisa melawan? Ketika yang menindas lebih kuat dan banyak koneksi. Bahkan beberapa orang banding 1" batin Heyla yang melamun seperti orang aneh.
"Oh iya, paman gak boleh tahu soal ini" batin Heyla lagi
Ceklek
Suara pintu yang dibuka terdegar, dengan perlahan tapi pasti Heyla menarik selimut dan membaringkan dirinya dengan posisi menyamping.
"Siapa yang datang?" Batin Heyla sambil memejamkan matanya.
"Heyla mengintip dengan membuka matanya perlahan tapi tidak ada pergerakan sama sekali. Hingga ia bisa merasakan ada yang bergerak dikakinya
"Huwaaaa!!"
"Aaaaakkkkk!"
Ika dan Heyla saling tatap setelah berteriak dengan keras
"Ngapain Lo disini?"
"Yah ngeliat Lo lah"
"Ngapain tangan Lo raba kaki gue?"
"Anjir, gue mau lepas sepatu Lo doang Ih"
Brakkkk
Pintu UKS terbuka dengan kasar, disana ada Aland yang baru datang. Ia panik saat mendengar teriakan Heyla di UKS. Karena ia tidak pernah kembali ke kelas melainkan Nongkrong di bawah jendela UKS.
"Ehmm.... Lo bedua gak papa?"
Ika dan Heyla yang keheranan dnegan kemunculan Aland tiba-tiba hanya menggeleng kepala.
"Lo ngapain disini?"
"Bentar lagi istirahat jadi apa salahnya gue disini" santai Aland
Dan sesuai perkataan Aland tepat saat sepatu Heyla dilepas bel Istirahat berbunyi. Rico, Rudy dan Zuke sudah pasti akan menyusul jadi Heyla tidak ada harapan untuk rebahan.
Para siswa sudah berbondong bondong keluar dari kelas. Ada yang menuju kantin atau tempat tongkrongan biasa mereka.
Vivi yang memang biasa sendirian hari ini kesambet untuk keluar daripada asik menghabiskan waktu dengan mejanya. Ia berjalan sendirian diantara orang lain g**g memiliki teman berbicara. Langkahnya terlihat biasa namun perempuan itu semakin lama menuju tempat yang tak asing bagi beberapa orang.
"Wah... Pahlawan kita datang"
Ucap beberapa perempuan yang sedang berada di halaman belakang sekolah. Perempuan itu langsung merangkul Vivi dan membawanya mendekati temannya yang lain.
"Beliin kita Snack dan... Gue mau minuman bersoda..... Kalau Lo?" Tanya nya pada yang lain
"Gue mau yogurt"
"Gue soda"
"Gue yang Coca cola"
"Oke... Ehmmm uang nya?" Tanya Vivi gugup
"Loh? Lo gak ada uang? Gue dengar gambar Lo laku di jualan online. Jadi apa gunanya uang itu? Pake uang Lo sana. Gak pake lama"
Vivi mengangguk dan segera pergi untuk membeli yang ketiga gadis itu minta.
"Dasar lemah... Oh iya apa kata Sondia?"
"Lo gak lihat ekspresi senang mereka tadi? Bentar lagi kita bakalan bisa belanja puas.... Tunggu aja"
"Lagian pekerjaan kita ini mudah dan menyenangkan. Masalah jika ketahuan? Kita punya Zico, Sondia dan Lily. So what's the problem. Hahhaa"
Sepanjang perjalanan menuju kantin Vivi berjalan menunduk jika ada orang disekitarnya, sesampainya dikantin ia segera memesan semua barang yang diminta oleh tiga gadis yang berbeda kelas dengannya. Nama ketiga gadis itu adalah Bera, Asha, dan Reka.
"Makasih Bude" ucap Vivi setelah membayar belanjaannya
"Ehh Vivi" ucap Rudy yang bertemu dengan Vivi di kantin
"Lo... Bakalan habiskan semua minuman itu?" Heran Rudy ketika melihat belanjaan Vivi
"Oh... Iya, gue mau bawa pulang"
"Haha keburu hilang dinginnya, kenapa gak Lo beli nanti aja coba"
Vivi tersenyum kemudian pergi dari sana meninggalkan Rudy. Dia datang sendirian ke kantin untuk membeli makanan dan minuman untuk dirinya dan yang lain.
"Banyak banget pesanan kamu, ini untuk sendiri?" Heran ibu kantin yang memberikan kantong plastik besar pada Rudy
"Untuk Rudy and the geng bude"
Setelah membayar belanjaannya Rudy pergi dari sana dengan sebuah kantong plastik besar yang berisi roti, Snack, dan minuman yang banyak.
Didalam UKS yang seharusnya tenang dan sepi Heyla terdiam duduk di ranjang UKS dengan teman-teman yang mengelilingi dirinya. Mereka semua berdebat mencari solusi menangkap si pelaku.
"Gue yakin itu Sondia"
"Woi jangan nuduh. Jujur gue juga benci sama tuh anak tapi kita harus cari bukti kalo itu memang dia. Tapi Lo dengar sendiri kan apa yang di bilang Zuke? Mereka di kelas waktu kejadian"
"Mungkin orang bayaran" ceplos Aland membuat Rico dan Ika yang sedang berdebat diam
Dukkkk
"Banyak drama Lo" ucap Heyla memukul Aland yang memang duduk di samping kanannya
"Gue serius, orang orang yang sudah sering melakukan kegiatan seperti ini pasti paham. Ngapain capek capek sendiri kalau bisa orang lain aja kan?"
"Dan Lo maksud yang ngerjain Heyla itu orang bayaran? Ahahha..... Lo kira ini sinetron Land? Ini dunia nyata.... Pembullyan tetap pembullyan. Emang Heyla siapa sampe harus diserang pakai pembully bayaran, hahahaha" tawa Rico menggelar di UKS. Syukurnya hanya mereka yang ada disana dan karena Zuke, Aland dan Ika berada disana guru memilih membiarkan mereka daripada menegor. Untuk siswa seperti mereka biasanya guru lah yang mencari perhatian, bukan mereka.
"Makanan datang......" ucap Rudy dengan nada menyanyi
Rudy sampai di UKS dengan plastik besar yang menjadi pusat perhatian sepanjang perjalanannya tadi.
"Asik.... Gratis kan?" Ucap Rico yang menyambar plastik itu dari tangan Rudy
"Kebetulan gue lagi bokek jadi makanan ini gratis tapi uang bensin dua hari kedepan Lo yang bayar. Yang lain silahkan memilih via transfer atau cash. Kecuali Heyla hari ini karena lagi s**l gue kasih keberuntungan"
Heyla tertawa dan segera mengambil makanan yang ia suka, dengan minuman soda.
"Gue cash aja deh tapi nanti" ucap Zuke
"Gue juga cash. Sekalian Zuke yang bayarin" balas Aland
"Anjirtttt. Enak aja Lo main sebut nama gue"
"Suka-suka gue dong. Mulut mulut gue lo yang sewot"
"Kalo gitu gue Aland yang bayarin" balas Ika. Hingga Aland melotot padanya
"Suka-suka gue dong. Mulut mulut gue"
"Hahahaha" mereka semua menertawai Aland
Dikantor sekolah para guru asik membicarakan kejadian yang Heyla alami tadi. Kasusnya hendak di proses namun terdapat sedikit kesulitan. Banyaknya siswa akan membuat guru BK akan kesusahan. Kejadian seperti ini baru pertama kalinya dialami oleh pihak sekolah. Belum ada kejadian pembullyan atau perundungan yang mereka ketahui selama ini.
"Jadi bagaimana rencana pak Lega?"
Pak Lega adalah guru olahraga sekaligus suami dari guru BK. Biasanya ketegasan pak Lega yang menggrebek Zuke dan yang lain itu sangat sinkron dengan istrinya yang juga tegas.
"Katanya sih dia bakalan memproses tapi belum tahu rencana nya gimana"
Para guru yang mendengar hanya mengangguk paham.
Di tempat yang berbeda Sondia sedang datang menghampiri Zico yang asik berkumpul dengan temannya yang lain, Sondia sudah biasa datang mencari Zico ke tempat tongkrongan anak laki-laki. Dan teman-teman Zico juga sudah merasa itu hal biasa.
"Zico, gue mau ngomong sesuatu" singkat Sondia yang langsung pergi setelah mengatakan itu. Zico juga langsung meletakkan gitar yang tadi sedang ia mainkan dan segera mengikuti kemana Sondia pergi.
"Ada apa?" Tanya Zico langsung setelah mereka sampai di tempat yang jauh dari keramaian
"Gue denger sekolah mau memproses kejadian tadi pagi"
"So?"
"Ck, Lo gak paham yah? Gara gara mereka lakuin nya terang-terangan bisa bisa kita yang kena"
"Lo ngapain takut hah? Tanpa kita sekolah ini gak akan maju jadi seandainya guru tahu, mereka bisa berbuat apa?"
"Oke jika guru tidak bisa ngapa-ngapain. Tapi Lo tahu sendiri masih ada Zuke sama Ika. Meski Ika gak ngaruh banyak tapi Zuke itu berpengaruh. Belum lagi Aland yang punya kaitan sama perusahaan ortu gue. Dia teman Heyla jadi kalo dia tahu.....terus mengancam perusahaan ortu gue, Bisa-bisa gue bakalan di tendang sama papa gue dan jadi gelandangan"
"Ini bukan pertama kalinya ko hadepin masalah beginian. Lo cari aja jalan keluar sendiri" malas Zico dan ia hendak pergi meninggalkan Sondia
"Zic! Setidaknya bantuin gue.... Lo juga terlibat. Selama ini kita bersenang-senang nya gak terang-terangan dan waktu ada masalah begini Lo mau kabur?"
"Kalau begitu kenapa Lo gak buat aja Aland, Zuke dan teman-teman Heyla menjauh? Itu jalan terakhir supaya Lo bisa puas nge ganggu dia. Mengenai cara nya gue rasa Lo udah ahli. So gue cabut dulu"
Zico segera pergi dari sana yang meninggalkan sondia yang terkesan mendengar saran dari Zico tadi
"Membuat Aland, Zuke, Bahkan Ika dan teman-teman b*****t nya itu menjauh? Boleh juga...... Wow kenapa gak terpikir banget sama gue dari tadi" senyum puas Sondia mulai muncul
"Oke gue tinggal nyusun rencana. Apa gue bakalan buat mereka semua menjauh sekaligus atau satu persatu yah"
Sondia dengan senyum bahagia segera pergi dari sana. Ia akan merundingkan hal ini dengan Lily juga Inka. Zico termasuk susah untuk diajak berdiskusi namun ia mudah diajak dalam aksi.
"Lily!"
"Apa?" Jawab Lily yang melihat sondia datang menghampirinya kembali. Tadi ia pergi untuk memanggil Zico tapi ia malah kembali sendirian
"Mana Zico?"
"Masih istirahat. Setelah kelas nanti kita bakal bahas suatu bahasan yang panjang"
.
.
.
.
.
-Jangan lupa beri komentar dan follow Author nya yah ❤️ please-