Jam pulang sekolah sudah berbunyi dan semenjak jam istirahat kedua Heyla sudah masuk kedalam Kelas. Hari itu semua orang melihat nya dengan tatapan mata yang berbeda. Ada yang merasa kasihan dan ada yang merasa senang tapi disembunyikan.
"Gue antar aja yah" ucap Ika sembari berjalan disamping Heyla
"Gak, gue naik bus aja"
"Ck Lo ini betah banget sama bus, orang lain mah milih nebeng dari pada naik kendaraan umum. Aneh banget Lo Ela"
"Emang sejak kapan gue gak aneh? Heheh"
"Oh iya gue mau belajar kelompok hari ini. Kelompok Lo gimana?"
"Gue sih besok"
"Oh.... Yaudah. Tuh om Biro udah nungguin. Pulang sono"
"Bye"
Ika segera menuju tempat supirnya menunggu. Heyla pun segera mendekati halte bus yang sudah mulai ramai dengan siswa lain. Saat Heyla naik ke atas halte Heyla bisa merasakan beberapa murid yang menjauhi nya, baik secara halus seolah sedang mengangkat telfon atau terang terangan menjauh begitu saja.
"Rambut gue masih bau yah?" Batin Heyla yang mengambil rambut panjangnya untuk ia cium sendiri
"Iyasih tapi gak bau-bau amat deh. Gak bakalan kecium begitu aja"
Heyla melihat para siswa siswi yang terdiri dari se angakatan dengannya maupun adik kelasnya sesekali melirik.
"Ela!"
Heyla mendengar namanya dipanggil dan disana sudah ada Aland dengan motornya mengisyaratkan agar Heyla ikut dengannya. Semua orang di halte itu juga ikut melihat.
Karena merasa orang-orang akan keberatan dengan keberadaan nya jika masih tetap menaiki bus Heyla tidak perlu berdebat dengan Aland agar dirinya mau naik motor.
"Maaf gue ngerepotin"
"Sejak kapan Lo ngerepotin gue? Orang gue yang ngajak Lo nebeng"
Heyla segera naik ke boncengan setelah memakai jaket Aland dipinggang. Mereka pun melesat ke jalanan sebelum para siswa yang melihat mereka di halte itu kedatangan bus yang ditunggu.
Dilain tempat Rudy sedang menunggu Rico yang sedang melaksanakan panggilan alamnya. Sudah sejak baru keluar kelas Rico langsung berlari ke toilet.
"Ck, lama banget tuh bocah, feses ya se keras apa sih" umpat Rudy yang sudah lama menunggu di parkiran
Selang beberapa saat Rudy melihat salah satu perempuan teman sekelasnya baru saja keluar dari tangga. Padahal setahunya kelas mereka sudah kosong saat Rudy dan Rico keluar tadi.
"Mungkin dia mampir ke kelas lain" ucap Rudy positif thinking
"Vivi!!"
Rudy melihat Rico yang baru saja datang dan malah mengejar Vivi, bukan melihat ke arahnya yang sudah lama menunggu.
"Ck Ngapain lagi sih.... Gue mau belajar kelompok!"
Rudy segera menghidupkan motor maticnya, Rico masih asik bicara dengan Vivi sehingga Rudy akan mendekati mereka langsung.
"Makasih Ric" ucap Vivi padahal baru saja Rudy datang untuk menguping. Yang mau di dengar malah sudah pergi.
"Kalian ngomongin apa sih baru aja gue nyampe mau ikut dengarin"
"Oh.... Tadi dia jatuhin barang dan gak sadar. Pas banget gue baru keluar dari toilet kan dia belum jauh yaudah gue balikin. Kepo amat Lo ah. kelompok gue mau belajar hari ini ayo buruan"
"Gue juga b*****t! Lo tinggal naik".
Seorang perempuan yang dikenal pendiam dan pandai melukis kini sedang berjalan melewati jalan yang tak biasa ia lewati, bahkan sangkin sukanya perempuan itu menggambarkan pensil warna cair dan padat tidak pernah tak ia bawa ke sekolah. Setelah beberapa meter berjalan ia masuk ke dalam sebuah cafe.
"Lo dah datang? Masuk" ucap Inka yang kebetulan berada di lantai bawah cafe
Mengikuti arah telunjuk Inka Vivi segera menaiki tangga menuju lantai atas. Jantungnya sudah tak karuan saat ia perjalanan menaiki tangga sedangkan dibelakangnya sudah ada Inka. Vivi masih berseragam sekolah sedangkan Inka sudah mengganti atasannya dengan baju lain.
"Bos kita datang" seru Inka membuat semua penghuni lantai atas melihat kearah dirinya dan Vivi
"Wah..... Cantik juga, jadi dia orangnya?" Tanya laki-laki yang berbeda sekolah dengan mereka. Teman Zico. Mereka semua sedang lengkap disana
"Iya, Lo suka? Ambil aja" ucap Sondia yang berhasil membuat Vivi mati kutu
"Gak sih, gue milih target utama kita aja"
"Hahaha, dasar Lo Raka gak hilang juga b***t Lo" ucap Zico
Mereka sedang sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Zico asik memainkan anak panah kecil yang dilemparkan pada papan target yang tertempel di dinding. Dua orang lain sedang bermain billiar dan satu asik menonton TV.
"Lo gak usah duduk biar Lo kurus, Lo cuman tahu duduk dan menggambar gak jelas sampe jari-jari Lo aja yang goals, ckckckck" Ejek Sondia pada Vivi
"Sondia, gue ada belajar kelompok hari ini jadi gue harus pulang cepat" ucap Vivi berusaha menjelaskan
"Oh ya? Terus?"
"Yah dia minta pulang dong..... Gimana sih Lo" ucap Raka
"Ish berisik, jangan sok asik deh" ucap Lily mewakili Sondia
"Gue cuman mau ngasih ceramah sama permintaan tolong buat Lo. Pertama Lo udah lihatkan kejadian tadi pagi? Lo harusnya bersyukur.... Bukan Lo yang di jadiin kue sama mereka. At least karena Lo juga yang bantuin mereka supaya berhasil..... Jadi kerja Lo hari ini bagus. But you must remember, kalau ini ketahuan bukan kami aja yang tapi kita. Lo tahu gue siapa kan? Jadi Lo tahu yang bahaya cuman Lo doang"
Vivi hanya diam menatap kebawah tanpa berani menatap Sondia yang sedang berbicara padanya. Karena ia tahu pasti tatapan mata itu akan menyakiti hatinya jika dilihat.
"Dan tugas Lo selanjutnya....."
"Lagi?" Ceplos Vivi dengan suatatyang naik satu oktaf, membuat laki-laki teman Zico dan Zico yang awalnya tak peduli langsung melihat ke arahnya.
"Wah... Lo gak mau? Hahha..... Its okay sih tapi Lo tahu sendiri boneka kami bakalan berubah kalau Lo gak mau jadi prajurit. Jadi itu pilihan Lo mau jadi boneka yang bakalan di eksekusi atau prajurit tukang eksekusi. Bukan gue yang bakalan Lo hadapi..... Gue hanya menonton, ingat? Lo jadi prajuritnya. Lo ikutin perintah cewek bertiga itu dan Lo akan aman. Masa SMA yang Lo harapkan berakhir dengan baik akan terwujud. Gue yakin Lo gak mau kena tendang keluar sehari sebelum ujian akhir kan? Hahaha"
Vivi memainkan kuku ibu jarinya sendiri untuk menusuk telunjuknya, ia meluapkan emosinya dengan itu. Ia tak bisa melawan Sondia yang memiliki banyak teman dan koneksi. Jika kasus ini dibawa ke polisi sekalipun ia akan kalah telak. Belum lagi keluarga nya yang berekonomi pas-pasan tidak bisa menyelamatkan dirinya atau menyewa pengacara. Jika ingin lulus dari sekolah ini sesuai rencanya untuk mengejar impiannya ia harus bertahan sekuat mungkin.
"Oke" ucap Vivi dengan terpaksa
"Yasudah, pergi" ucap Sondia kemudian berbalik dan menyesap minumannya.
Dengan langkah kaki yang rasanya lemas Vivi berjalan perlahan menuruni tangga.
"Bertahan Vi, Lo bisa lewatin semua ini. Lo harus Lulus dari sekah ini siapa Lo bisa lanjut ke Univ yang udah Lo rencanain. Jangan sampai gagal.... Mama papa udah habisin banyak biaya buat Lo, ini belum seberapa dari yang mereka rasain. Lo harus kuat" batin Vivi sambil mengepalkan tangannya. Ia sudah keluar dari pintu cafe dengan mata yang sudah berkaca kaca namun masih kuat untuk menahan genangan air di dalamnya.
"Gue langsung pergi belajar kelompok aja deh. Daripada telat"
Setelah Vivi menyapu sedikit. Matanya yang hampir menghujam ia segera berjalan untuk keluar dari persimpangan yang tidak di lewati
Oleh kendaraan umum. Sesuai kesepakatan kelompok ia harus ikut menuju lokasi yang sudah ditentukan.
Dilain tempat Heyla sedang heboh sendiri dirumahnya, sempat sempatnya ia ketiduran sebentar padahal ia harus pergi belajar kelompok.
"Bibi!! Ela pergi belajar kelompok dulu!" Teriak Heyla sambil mencari sepatunya. Karena terburu-buru dia bahkan tidak sempat memilih baju dan langsung mengambil pakaian yang tergantung di kamarnya. Alhasil dia hanya memakai baju yang biasanya ia pakai ketika pergi sendirian untuk ber hibernasi di perpustakaan.
Dengan celana dasar berwarna hitam, Hoodie berwarna coklat dan sepatu sneaker nya Heyla berlari dengan Tote bag putih yang berisi beberapa buku.
Tringggggg
Tringggggg
Heyla menghentikan langkahnya sebentar untuk mengangkat telfon.
"Halo? Bentar gue udah dijalan kok...."
"Dimananya?"
"Ini udah setengah jalan, mulai aja belajarnya gue udah dekat"
"Dekat banget yah sampe bisa jalan kaki"
"Hah?" Heran Heyla ketika Aland mengatakan 'Jalan kaki'. Ia langsung memperhatikan sekitar nya.
"s**t, ehehehhe"
Dengan senyum tak bersalah Heyla melihat Aland yang sudah menyilangkan tangan di d**a sambil bersender pada tiang listrik.
"Lo.... Sejak kapan disini?" Tanya Heyla setelah ia mendekati Aland
"Udah lama sih"
"Hah? Serius? Kenapa gak langsung pergi aja coba?"
"Entah, keinget aja sama Lo" ucap Aland dengan polos sambil mengambil helm baru yang sudah ia beli
"Hahahaha sejak kapan Lo punya helm kodok warna pink kayak gini, ngakak anjim aahahaha" tawa Heyla terbahak-bahak sukur saja sekitar tidak terlalu ramai jadi Aland tidak terlalu menanggung malu
"Gue beli buat Lo, karena gue rasa Lo bakalan sering naik motor sama gue. Ini demi keselamatan. Kalo nailobil harus pake sabuk jadi kalo naik ...."
"Iya gue tahu, pakai helm... Tapi ini apaan ya ampun Lo pikir gue anak TK apa helmnya beginian? Iyasih cantik warna pink tapi ini kodok Land. Ada bibirnya lagi, pftttt" Heyla tidak bisa menahan tawanya melihat helm yang sedang ia pegang. Dibagian kepala belakang ada gambar mata dan moncong kodok yang sangat lembut sebagai hiasan. Ia tidak bisa membayangkan jika orang yang berada dibelakang mereka nanti akan tertawa sampai mati melihat helm yang ia pakai
"Ck, yaudah sini kalo gak mau" kesal Aland hendak menarik kembali helm yang sudah di pegang Heyla
"Eits..... Gak boleh. Karena gue yang nebeng sama Lo hari ini berarti gue beruntung bisa jadi orang yang pertama pakai helm kodok Lo. Walaupun....." Heyla mengulum mulutnya sendiri untuk menahan tawanya. Humor Heyla menang rendah hingga hak kecil pun bisa membuatnya tertawa terpingkal-pingkal.
"Walaupun helm ini unik. Dah yok nanti yang lain marah sama kita berdua" ajak Heyla yang melihat Aland sudah mulai kesal karena Heyla asik tertawa karena helm pilihannya.
Setelah Heyla naik ke boncengan Aland yang tinggi mereka segera melesat kejalan menuju perpustakaan kota tempat mereka kemarin.
Setelah beberapa menit Heyla merasa ganjal dengan wajahnya, ia pun tersadar ia tidak memakai kacamata atau softlens.
"Gawat, kalo gue khilaf bisa baca dalam jarak jauh nanti mereka malam heran. Aish..... Coba kalo gue gak sama Aland pasti gue udah pergi beli kacamata 30 ribuan dulu tadi" batin Heyla
"Mungkin hari ini gue harus peka dan pura-pura gak bisa lihat penjelasan Malia deh. Gue gak tahu rasanya minus tinggi itu gimana ya ampun..." Batinnya lagi.
Setelah beberapa lama mereka sampai di tempat tujuan. Aland sengaja sedikit mengebut agar yang lain tak lama menunggu.
"Eh Lo bedua udah datang?" Sapa Malia
"Bareng yah?" Herannya lagi melihat Heyla dan Aland datang bersamaan lagi
"Eng...."
"Iya" potong Aland sebelum Heyla memikirkan jawaban lain. Ia duduk dibangku yang kosong disamping Malia. Heyla bertatapan mata dengan Malia dan tersenyum tipis, ia duduk dibangku kosong diantara Rial dan Saskia.
"Oke sesuai jadwal kita bakalan belajar matematika hari ini" ucap Malia
Tanpa aba-aba mereka langsung mengeluarkan buku mereka. Malia mengeluarkan buku gambar besar untuk tempat ia menjelaskan nantinya.
"Kita belajar tentang persamaan dan per tidak samaan linier?" Ucap Heyla memastikan
"Ehmm... Itu udah lewat, kita udah baik ke materi selanjutnya" ucap Malia
"Lah? Kita ulang semua dong.... Kelompok belajar kira baru dibuat jadi gue gak paham. Ya kan?" Ucap Heyla sambil meminta persetujuan pada Rial dan Saskia
"Iya Malia, gue rasa ulang aja deh biar kami lebih paham" balas Saskia
Mereka semua pun lanjut melihat ke arah Rial. Karena akhirnya merasa diperhatikan Rial yang awalnya bodi amat keheranan
"Gue.... Terserah" ucapnya
"Thanks Rial, Lo nge buktiin kalo kamus terserah bukan kamus cewek. Tapi kamus cowok" ucap Heyla sambil menepuk bahu Rial
Malia mengeluarkan spidol dan membuka buku yang sudah ia siapkan, ia mulai menjelaskan pelajaran matematika dari awal bahkan dimulai dari konsep tersadar. Hanya Aland yang lagi-lagi asik mengamati semua teman-teman nya itu terfokus pada sebuah buku yang sedang di coret Malia.
"Emang Lo ngeliat nya jelas?" Ucap Aland membuat mereka semua berhenti mengamati
"Sorry, gue ngomong sama Heyla soalnya kacamata dia rusak di sekolah tadi"
Posisi Heyla memang posisi terjauh dengan Malia apalagi meja bundar mereka lumayan besar.
"Emmm.... Gue fokus sama kata-kata Malia aja sih" jawab Heyla berusaha menyelamatkan diri
"Yaudah sini Lo gue ajarin, Rial Lo pindah ke bangku gue supaya leher Lo gak sakit" instruksi Aland
Rial hanya menurut tanpa memindahkan tasnya ia bertukar posisi dengan Aland. Sehingga Malia berada ditengah tengah antara Rial dan Saskia, disamping Saskia ada Heyla yang kemudian Aland.
"Buka buku Lo" ucap Aland
Heyla mengeluarkan bukunya dan membuka halaman sesuai dengan Malia tadi. Aland mengambil buku tulis Heyla dan meletakkan diantara mereka.
"Jadi gini, kita mulai dari ......."
Aland mulai mengajarkan materi pada Heyla dimulai dari awal, Heyla yang memang sebenarnya lumayan mengerti tetap fokus hingga ia semakin paham. Setelah beberapa belas menit mereka terbagi dalam dua kelompok Malia dan Aland memberikan soal pada masing-masing muridnya.
"Lo pintar juga yah nge jelasin land. Gue rasa Heyla paham banget deh sama penjelasan Lo tadi" puji Malia
"Hehehehe, seandainya gue paham gak bakalan gue tunjukkin Bambang" batin Heyla sambil menjawab soal yang Aland berikan
"Ngapain Lo senyum? Lo bisa jawabkan?" Ucap Aland melihat tingkah aneh Heyla lagi
"Bisa dong" sombong Heyla
Malia memperhatikan Rial yang menjawab soal dan melihat laki-laki itu lancar saja, ia beralih melihat Saskia yang kesusahan dan mulai membantu.
Aland jadi ikut-ikutan melirik Heyla yang sedang mengerjakan soal.
"Siap" ucap Heyla dengan semangat saat Aland baru saja hendak melihat cara Heyla menjawab soal.
"Serius? Coba gue lihat" curiga Aland menarik buku Heyla.
Tidak butuh waktu lama bagi Aland untuk memeriksa jawaban matematika seseorang.
"Ini salah semua La, gak ada benarnya sama sekali, Lo ..... Kok bisa gini sih" frustasi Aland melihat hasil Heyla, sedangkan yang di marahi hanya memasang wajah bodo amat.
-jangan lupa beri komentar dan follow Author nya yah ❤️ pleasee-
-maaf atas banyaknya typo yang berserakan-