"Gue minta ijin buat Lo cuti ya?"
Alessa mengangkat pandangan, kemudian kembali menunduk menatap bubur ayam kesukaannya. Dalam perjalanan pulang, Refa membelikannya bubur ayam sebagai sarapan karena Refa tak sempat memasak. Gadis itu menunggu Alessa hingga tersadar, Alessa merasa tak enak hati.
"Ale..."
"Rasanya berlebihan Re," Alessa menggeleng, "--Aku ga mau ngrepotin kalian. Bahkan kemaren pun aku udah bolos."
"Ale, Lo enggak bolos kerja. Tapi emang Lo sakit, jadi wajar kalo Lo ijin." Refa membantah perkataan Alessa.
Refa mendorong mangkuk buburnya ke tepi, menghabiskan setengah gelas air minum di sampingnya. "Gue udah bilang ke Pak Andre soal kondisi Lo, dan beliau mengijinkan. Bahkan Pak Andre nyaranin Lo buat ambil cuti beberapa hari."
Refa mencondongkan tubuhnya sedikit menyerong ke arah Alessa, "Jadi, jangan pikirin apapun. Fokus sama diri Lo sendiri, gue selalu nemenin Lo."
Alessa diam sebentar, pikirannya kembali pada kondisi dirinya sendiri. Banyak spekulasi disertai ketakutan terhadap orang di sekitarnya. Kata 'Mengapa?' bermunculan di benaknya.
Mengapa?
Mengapa semua kejadian ini harus terulang kembali. Kejadian dimana semua orang menyalahkannya sebagai bentuk pelampiasan kesalahan yang sama sekali tak Alessa lakukan. Pikirannya berkecamuk tak karuan. Batinnya merasa kelelahan, Alessa merasa jiwanya tak sanggup menghadapi masa sulit ini lagi.
Refa yang melihat Alessa diam dalam lautan pikirannya sendiri merasa kasihan. Perasaannya ikut merasakan apa yang Alessa rasakan, meski gadis itu mengelak kondisinya yang sekarang.
"Alessa..."
Panggilan Refa menyentak Alessa dari lamunannya, di susul tepukan lembut di pundak Alessa. Gadis itu menoleh, menatap Refa dalam diamnya.
"Gue percaya Lo bisa, gue akan selalu jadi pendengar buat Lo. Meskipun enggak bisa jadi yang terbaik, seenggaknya gue akan selalu ada buat Lo."
"Jangan ragu buat meluapkan beban Lo ke gue. Selalu inget, kalo Lo butuh temen cerita, panggil gue. Apapun kondisi gue, gue akan selalu ada buat dengerin cerita Lo. Dengerin kesedihan Lo, nemenin Lo sampek kesedihan itu bosen sama Lo." Refa berkata dengan matanya yang berkaca.
Alessa menolak menatap Refa, menahan embun di kelopak matanya yang tiba-tiba saja siap untuk tumpah. Alessa tetap menggeleng. Mengatakan jika ia baik-baik saja.
"Ale, gue tau Lo baik-baik aja di depan gue." Refa berusaha menggenggam tangan Alessa. Menguatkan pundak sahabatnya yang terlihat kuat.
"Tapi gue tau, kalo Lo juga berpura-pura baik di belakang gue."
Satu kalimat Refa mampu meruntuhkan air matanya yang kini meluncur bebas. Pertahanannya runtuh, Alessa menangis sesenggukan di pelukan Refa.
Refa mengelus punggung Alessa, saling menguatkan diantara keduanya. Refa membisikkan kata-kata penenang untuk Alessa, sebatas hal ini yang bisa Refa lakukan.
"Rasanya sesak Re, sesak. Ak--aku susah buat bernapas. Rasanya sesak."
"Udah Alessa, udah... Lo kuat, dan Lo bisa lewatin semua ini. Gue percaya Lo bisa.
Alessa mengangguk, "Makasih Refa, makasih. Makasih Refa selalu dukung aku, bahkan kamu gak malu punya sahabat kayak aku. Makasih, Re. Makasih..."
"Sama-sama Alessa," Refa mengurai pelukan diantara keduanya.
Mengulas senyum dan menghapus air matanya, Refa memberikan tatapan ceria untuk Alessa.
Refa tertawa mencairkan suasana, "Udah ah, apaan sih. Makasih mulu, tambah satu, dapet bubur satu mangkok!" Candanya.
Alessa tertawa renyah, "Di depan aku belum abis, masa mau di kasih lagi."
"Makanya di abisin. Gue belinya dengan sepenuh cinta."
"Beli dengan sepenuh cinta?" Bingung Ale.
"Karena gue enggak buat buburnya, makanya beli dengan sepenuh cinta."
Alessa tertawa renyah berkat Refa. Kini, Alessa harus meyakinkan diri, tidak ada salahnya ia datang dan berkonsultasi. Semuanya akan baik-baik saja, dan Alessa percaya. Tuhan memberikan cobaan ini karena Alessa mampu melewatinya.
***
"Terima kasih Pak. Bapak mau repot-repot menyediakan waktu buat saya."
Seutas senyum manis terpatri di bibirnya, aura yang Andre bawa selalu menyenangkan. Meski terkadang ia sedang dalam mode kesal, sebisa mungkin aura positif Andre berikan untuk semua anak buahnya agar menjadi contoh tauladan yang baik.
"Tidak masalah Refa. Justru sekalian saya ingin menanyakan kabar Alessa."
Kini, keduanya berada di resto dekat rumah sakit di saat jam istirahat. Refa sengaja secara pribadi meminta langsung kepada Andre selaku Kepala Divisi Instalasi rawat inap untuk berbicara secara pribadi. Meskipun nantinya ia akan bertemu dengan Andre, namun Refa merasa ia harus membicarakan masalah ini secara empat mata mewakili Ale.
"Bagaimana kabar Alessa? Sudah membaik?"
Andre membuka suara, sekaligus mengawali topik pembicaraan siang ini.
"Alhamdulillah, tadi pagi sudah boleh pulang Pak. Keadaan Alessa juga baik-baik saja."
Andre mengangguk-anggukkan kepalanya. "Alhamdulillah, saya turut senang mendengarnya. Maafkan saya karena saya tidak sempat menjenguknya kemarin, ada pekerjaan tambahan yang harus segera saya selesaikan."
Refa menggeleng sungkan, "Tidak apa-apa Pak. Lagi pula, doa dari Bapak sudah cukup."
Andre mengulas senyum, ia menunggu kelanjutan pembicaraan dari salah satu anak buahnya.
"Maaf Pak, sebelumnya," Refa berbicara dengan ragu-ragu.
"Saya datang kemari meminta waktu Bapak, mewakili Alessa agar di ijinkan cuti selama tiga hari."
Andre menatap Refa mengerti, "Apa ini ada kaitannya dengan desas desus yang saya dengar?"
Tampak Refa mengalihkan pandangan, gadis itu dilema antara memberitahu Andre atau tidak. Jika Refa memberitahu Andre ada baiknya, atasan Divisinya itu akan membantu Alessa dan mempermudah semuanya. Namun, Refa takut, Alessa tidak akan setuju dengan apa yang ia lakukan.
"Saya hanya mendengar terjadi sesuatu dengan Alessa kemarin pagi di instalasi. Dan saya juga sudah mendengar soal kecerobohan Alessa yang membuat nama divisi instalasi menjadi buruk."
Refa menatap Andre dengan pandangan terkejut, desas desus yang tak benar itu sudah menyebar begitu cepat. Refa tak menyangka, untung saja ia sudah membujuk Alessa untuk mengambil cuti. Bila sahabatnya itu kembali bekerja dengan kondisi di rumah sakit yang semakin kacau, maka Alessa akan tambah beban pikiran.
"Saya akan membantu sebisa saya, apabila saya tau pokok masalah yang terjadi di sini. Jujur saja, saya pun merasa risih dengan kabar itu. Satu kesalahan dari satu orang, membuat semua anggota instalasi terkena imbasnya."
Refa mengangkat pandangan terkejut, "Maaf Pak. Saya sudah berusaha meluruskan masalah. Namun mereka malah tak mau percaya dan terus saja menyerang Alessa dengan kalimat-kalimat yang tidak beretika."
Andre meminum seteguk minuman yang ia pesan, "Jika boleh, saya ingin tau masalah apa yang ada di sini. Karena kabar yang entah bagaimana munculnya itu, semua anak-anak instalasi rawat inap tidak ada yang mau keluar di kantin. Mereka memilih memesan makanan dan menjauhi orang luar instalasi untuk sementara waktu karena desas-desus tersebut."
Refa terkejut mendengar pernyataan dari Andre. Begitu besar dampak dari insiden kemarin yang membuat teman-teman divisi enggan untuk keluar istirahat. Padahal Refa tau, jika jam istirahat mereka semua akan berebut siapa yang akan keluar mencari makan sementara satu orang mengurus sisa resep dan mendapat jatah istirahat terakhir.
"Pak Andre, mewakili Alessa, saya minta maaf..."
Andre memberikan senyum menenangkan, "Akan lebih baik, jika Alessa yang meminta maaf kepada saya dan rekan kalian secara langsung."
Refa mengangguk mengerti, "Baik Pak. Tapi, untuk sekarang saya akan mewakili dulu karena Alessa harus istirahat."
"Baiklah Refa, tidak masalah. Ada yang ingin disampaikan lagi?"
"Em... Soal masalah kemarin Pak," Refa menjeda ucapannya. Mengambil napas, ia menenangkan diri.
"Saya tidak tau harus bagaimana untuk membantu Alessa. Saya ingin meminta bantuan Bapak."
"Cuti yang Alessa ambil, adakah kaitannya dengan masalah ini?" Tanya Andre.
"Saya sedikit tau soal masa lalu Alessa." Tambah Andre membuat Refa mendongak.
Refa tidak menyangka, Andre mengetahui masa lalu Alessa. "Ba-bapak tau soal ini?"
Andre tanpa ragu mengangguk, "Ya, saya tau."
"Tapi saya tidak akan membahasnya, saya yakin Alessa gadis yang kuat. Apalagi kamu sebagai sahabatnya selalu mendukung Alessa, itu lebih dari cukup."
"Disini, saya ingin tau mengenai desas desus yang saya dengar. Saya ingin meminta penjelasan kamu, agar saya bisa meluruskan masalah Alessa agar Presdir tidak turun tangan menyelesaikan masalah ini."
Kemudian cerita singkat Refa mengalir, ia menceritakan kejadian sebelumnya. Dimana Alessa mendapat kabar miring karena kecerobohannya.
"Alessa tidak sengaja membuat Pak Presdir jatuh ke kolam dan membuat semua dokumen yang Alessa bawa menjadi rusak. Alessa sudah meminta maaf, tapi Pak Presdir membentak Alessa dan pergi."
"Malamnya, Alessa kepikiran. Alessa yang seharusnya sudah pulang, ia memilih lembur di instalasi untuk mengganti dokumen yang rusak."
"Sayangnya, di pagi harinya, saya tidak tau akan ada insiden kecil. Dimana para perawat yang datang justru menjelekkan anak-anak instalasi karena kesalahan Alessa, saya sudah mencegah dan meminta mereka menunggu di luar instalasi. Namun, semuanya terlambat. Alessa mendengar ucapan menyakitkan dari para perawat, saat itu Alessa masih berusaha tidak mendengar apapun. Tapi saya tau, Alessa mendengar semuanya. Dan Alessa jatuh pingsan."
Refa mengakhiri cerita dengan menahan suaranya agar tidak bergetar. Refa yang hanya melihat, tanpa menjalani merasakan sesak atas beban yang di pikul. Apalagi Alessa yang menjalani semuanya sendirian, rasanya Refa tidak sekuat Alessa.
"Mendengar cerita kamu, itu sekedar lebih dari cukup. Saya akan membantu menyelesaikan masalah ini, jika benar adanya seperti itu. Saya hanya perlu menghentikan penyebaran gosip yang tidak benar adanya. Juga menyusut siapa yang menyebarkan gosip tidak pantas itu."
Secercah senyum terbesit di bibir Refa, "Terima kasih Pak Andre, terima kasih Bapak sudah mau membantu Alessa."
"Alessa adalah bagian dari instalasi yang saya pimpin. Jadi untuk kebaikan semua orang, saya tidak segan membantu."
"Oh, dan satu lagi," Andre teringat sesuatu. Ia menatap Refa yang terkesiap karena suaranya.
"Iya Pak?"
"Sebisa mungkin hindari masalah dengan Pak Presdir." Refa tak menyangka kalimat itu keluar dari bibir kepala Divisinya.
"Kenapa, Pak?" Refa bertanya kebingungan. Pasalnya, ia mengatakan hal yang sama pada Ale, dan kini ia mendengar sendiri dari Kepala Divisinya
Tanpa menjawab, Andre memberikan sebaris senyum. Ia menyeruput minumannya. Kemudian melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Ah, sudah pukul satu." Katanya.
"Maaf Refa, saya harus kembali ke instalasi. Jam istirahat sudah usai, jangan lupa datang tepat waktu. Dan ingat apa yang saya sampaikan tadi."
Refa mengangguk, "Ah baik Pak, terima kasih."
"Sama-sama." Andre kemudian pergi meninggalkan Refa yang masih berada di kursi resto.
"Semoga masalah ini berakhir dengan baik, aamiin..." Ucapnya lirih memandang punggung Pak Andre yang menjauh pergi.
***