"Maaf, Pak. Ada pesan untuk Bapak." Lani, sang sekretaris menghadang jalan Frans untuk pulang.
Diberikannya kertas terlipat rapi pada Frans, sang Presdir mengernyitkan dahinya bingung. "Dari siapa?"
"Dari Bu Claria. Beliau meminta Bapak untuk membaca isi pesannya, karena nomor Bapak tidak bisa di hubungi." Jelas informasi dari Lani.
Frans mengangguk singkat, "Terima kasih. Kau bisa pulang."
Lani tersenyum manis, "Baik Pak."
Sembari membuka lipatan surat yang ia dapatkan, Frans memasuki lift. Menekan tombol menuju lantai basemen, Frans ingin segera pulang ke apartemennya. Dalam surat tertulis, Mamanya meminta Frans untuk datang ke rumah. Frans menatap bosan, ia sengaja mematikan ponselnya agar Mama tak merecokinya untuk selalu pulang ke rumah.
Beberapa hari yang lalu, ketika Frans memutuskan untuk tinggal di apartemen dengan Mamanya yang menyetujui. Akan tetapi, beberapa hari kemudian Mamanya selalu meneror Frans untuk pulang ke rumah, dengan dalih Mamanya merasa kesepian.
Jam di pergelangan tangannya menunjukkan pukul delapan malam, Frans yang kelelahan memutuskan untuk mampir sebentar ke rumahnya. Hanya berkunjung tanpa berniat menginap meski sudah malam menjelang larut.
Tak membutuhkan waktu yang lama, Frans tiba di pekarangan rumahnya yang luas. Lampu-lampu masih menyala terang, seakan menanti kedatangan seseorang. Frans turun dari mobilnya, berjalan memasuki rumah. Dengan ucapan salam, dan sambutan dari suara televisi yang menyala adalah hal pertama yang ia dengar ketika pulang.
"Assalamualaikum."
Mama Claria yang duduk di sofa ruang tamu, seketika bangkit. "Wa'alaikummussalam, Frans,"
Senyum sumringah terpatri di bibirnya, wanita paruh baya yang masih cantik ketika tergerus usia itu bahagia mendapat kehadiran putranya di rumah.
"Kamu pulang?"
Frans menyalimi tangan Mamanya, "Frans mampir sebentar."
"Loh? Kok mampir? Nginep ya? Temenin Mama."
Kalimat yang baru saja disampaikan oleh Mamanya adalah hal yang tak ia sukai. Meletakkan jasnya di senderan sofa, Frans berjalan ke dapur mengambil segelas air minum.
"Sudah makan? Mau Mama masakin?" Mama Claria mengikuti Frans menuju dapur.
Frans diam tak membalas, Mamanya tampak sibuk membuka kulkas dan memilah bahan makanan. Sepertinya wanita paruh baya itu akan memasak untuk putranya.
"Ma. Tidak perlu repot masakin Frans, Frans sudah makan." Mama Claria sontak mengentikan kegiatannya.
Mama Claria menutup kulkas dan berbalik menatap Frans, "Ya sudah. Mama bikinin kopi mau? Atau teh?"
Frans menggeleng, "Frans tidak berniat untuk bergadang malam ini, Ma."
"Mama buatin air madu hangat ya? Pasti putra Mama kecapekan setelah pulang kerja."
Tanpa menunggu balasan dari Frans, Mama Claria langsung menyalakan kompor dan memasak air panas. Mengambil madu di ia simpan di laci atas, dan menuangkannya ke dalam gelas. Frans diam memperhatikan Mamanya, memutuskan untuk duduk di kursi meja makan. Frans menunggu minuman buatan Mamanya, setidaknya Frans meminum dan lekas kembali ke apartemennya.
"Minum dulu, biar lebih enakan. Mama jamin, setelah ini putra Mama bisa tidur dengan nyaman." Mama Claria memberikan segelas air madu hangat dengan irisan lemon di dalamnya.
Frans meminumnya dengan tenang. Terlihat sekali Mama Claria bahagia mendapati Frans pulang ke rumah. Begitu Frans selesai meminum minumannya, Mama Claria membereskan bekas gelas minuman Frans.
"Sini, biar Mama yang cuci." Dengan sigap Mama mengambil alih gelasnya.
"Frans..." Panggil Mama. Pria itu diam, menunggu kalimat Mamanya.
"Mama kesepian di rumah ini, Frans pulang ke rumah ya?"
"Rumah ini sepi tanpa kamu, Mama sendirian Frans. Temen-temen Mama yang memiliki anak seumuran kamu, semuanya sudah menikah. Kebanyakan dari teman Mama memiliki cucu dan Mama menikmati masa tua sendirian tanpa cucu dari putra Mama sendiri."
Frans merasakan adanya pergolakan hati, rasa tidak adil. Pria itu mengetahui kemana arah pembicaraan Mamanya. Tak lain dan tak bukan, Mamanya akan kembali menuntut sesuatu darinya.
"Mama lihat akhir-akhir ini kamu tidak memperhatikan kesehatan kamu sendiri. Kamu suka lembur di rumah sakit, nyaris seluruh waktu mu ada di rumah sakit. Kamu mengabaikan kesehatan kamu sendiri."
"Setidaknya Mama akan tenang bila putra Mama ada yang mengurusnya di luar sana."
"Frans.." Mama Claria menggenggam tangan Frans, "Mama mau tanya sama kamu."
Frans menatap Mamanya, "Frans punya pacar di luar sana? Atau mau Mama saja yang mencarikan calon istri untuk Frans?"
"Mama mengenal beberapa anak dari teman Mama yang memiliki pendidikan bagus dan juga setara sama kamu. Mama kenalin sama mereka ya? Kalian bisa kenalan dulu nantinya, siapa tau cocok." Kata Mama Claria dengan antusias.
Melepas genggaman tangan Mamanya, "Frans mohon, Mama jangan promosiin putra Mama."
"Frans, maksud Mama baik. Kamu sudah bekerja keras demi rumah sakit keluarga kita. Dan Mama ingin calon istri yang terbaik juga untuk kamu, calon istri yang pantas dan sepadan sama kamu."
Frans menggeleng, "Calon istri yang Mama anggap pantas untuk Frans belum tentu pantas untuk Frans. Menikah bukan hal main-main Ma, dan Frans akan lebih selektif memilih calon istri yang terbaik untuk Frans sendiri,"
"Frans mohon sama Mama, biarkan Frans memilih calon istri yang terbaik untuk Frans sendiri."
"Mama hanya ingin membantu Frans."
"Cukup dengan doa-doa Mama untuk Frans." Tutup Frans menampar telak pembicaraan antara ibu dan anak malam ini.
"Frans kembali ke apartemen dulu Ma, sudah malam. Jaga kesehatan Mama."
Tanpa melihat respon Mamanya, Frans mencium tangan kanan Mamanya. Kemudian berlalu dari dapur. Meninggalkan Mama Claria yang termenung sendirian di rumah besar keluarga Reenegan.
Mama Claria berbalik, tampak sekilas ia melihat punggung Frans yang hilang di balik sekat dapur dan ruang keluarga.
"Mama hanya ingin yang terbaik untuk kamu, Frans. Mama mencoba mengganti peran Mama ketika kamu jauh dari Mama. Tapi mengapa kamu selalu menolak apa yang Mama berikan sama kamu?"
"Mama sayang kamu, Frans. Kamu adalah putra kesayangan Mama dan almarhum Papa kamu."
***
"Cuti?"
Andre mengangguk, membenarkan.
"Kenapa mendadak?"
"Ya berarti ada urusan mendesak." Jawab Andre santai.
Andre menghentikan permainan mobile legend di ponselnya, membiarkan dirinya dikalahkan oleh musuh. Sepenuhnya ia memusatkan perhatian pada Frans yang tampak gelisah. Meski Frans tutupi dengan sikap santainya.
"Lo kenapa sih?"
"Ga ada."
Jawaban Frans justru menimbulkan tanda tanya bagi Andre. Tak seperti biasanya Frans terlihat gelisah seperti ini. Entah apa yang menjadi beban pikirannya.
"Oke. Gue anggep begitu. Tapi kenapa muka Lo gelisah setelah denger Alessa ngambil cuti tiga hari?"
Frans tetap menggeleng, "Gak ada apa-apa."
Andre semakin curiga, "Gue kasih tau, kalo Lo berharap permintaan maaf dari Alessa karena kejadian beberapa hari itu, oke. Gue akan bilang langsung ke Alessa supaya dia minta maaf ke Lo," Andre menjeda kalimatnya. Dimana Frans menatap penuh seksama perkataan Andre, menunggu kelanjutan dari apa yang akan pria itu sampaikan padanya.
"Tapi gue mohon pengertian dari Lo. Setelah dia selese ambil cuti, dan mempersiapkan diri buat ketemu sama Lo, untuk menyampaikan permintaan maaf." Sambung Andre.
Frans sedikit tidak mengerti maksud dari kalimat Andre, "Mempersiapkan diri? Kenapa harus mempersiapkan diri?"
Andre menghela napas lelah, masalah ini baru saja selesai kemarin. Dan ia harus kembali membahas masalah ini dengan Frans.
"Ada masalah lagi?"
Dengan terpaksa, Andre mengangguk. Raut wajah Frans yang tadinya gelisah kini berubah kesal. "Kenapa gak ngomong sih?!"
"Masalahnya udah selese. Gue bisa atasi masalah itu sendiri, toh juga masalahnya udah clear sekarang." Jawab Andre dengan begitu entengnya.
Hal tersebut semakin membuat Frans kian kesal, "Siapa Lo yang sesuka hati ngelakuin apapun tanpa persetujuan gue?"
Andre semakin tak mengerti kemana arah pembicaraan ini, "Lo ngomong apa sih? Lo masih kesel sama gue?!"
"Jelas! Lo gak perlu tanya dong masalah itu. Ucapan Lo seakan-akan posisi Lo di Santa Claria itu penting." Tekan Frans di akhir kalimat.
"Oke, gue minta maaf soal kemaren. Gue terpaksa bilang ke Tante Claria. Lo sendiri ngerti kan, gimana Mama Lo? Dan asal Lo tau ya, Frans. Posisi Lo masih sebatas calon Presdir, posisi Presdir masih di pegang oleh Mama Lo, Tante Claria."
Andre menjelaskan posisinya saat Mama Claria mencoba mencari tahu apa yang sedang Frans lakukan di Rumah Sakit. Meski Mama Claria berjanji untuk menyerahkan semua urusan pada Andre dan Frans, namun tetap saja. Frans meminta penyelidikan tetap dirahasiakan tanpa ada orang yang tahu, termasuk Mamanya.
"Terserah Lo deh, tapi gue gak mau kejadian kayak gini terulang lagi." Tegas Frans membuat Andre hanya bisa mengangguk pasrah.
"Sorry, Frans."
Frans bangkit dari sofa, berjalan ke kulkas mengambil dua bir kaleng. Melempar salah satunya untuk Andre, dengan sigap pria itu menangkap bir kaleng yang Frans lempar. Frans meraih sesuatu di laci atas kulkas sebelum kembali bergabung bersama Andre.
Menunggu Frans datang, Andre memeriksa ponselnya. Andre sudah malas melanjutkan kegiatannya bermain game online. Pria itu hanya scroll i********:, menyukai postingan dan membalas komentar.
"Masalah apa yang udah Lo selesein?" tanya Frans duduk di sofa seberang tempat duduk Andre.
"Sebenernya belum bener-bener selese kalo Alessa belum ketemu sama Lo secara resmi. Seenggaknya, Alessa ada niatan buat minta maaf dan tanggung jawab sama kerjaannya." Kata Andre masih fokus pada ponselnya.
"Kerjaan apa?"
"Pas Lo kecebur, beberapa berkas yang Alessa bawa basah kena air kolam. Dan berkas itu berkas penting buat pengajuan acara di panti asuhan."
"Terus?" Tanya Frans lagi.
"Ya, gak terus-terus... Intinya, berkas itu udah beres berkat Alessa."
Frans mengangguk paham, kepulan asap keluar dari mulutnya. Mengudara memenuhi ruang tamu apartemen Frans. Andre yang tadinya bermain ponsel, sepenuhnya menatap Frans.
"Lo?" Andre menatap Frans tak percaya, "Sejak kapan Lo ngerokok?"
"Kenapa? Karena gue dokter?"
Meletakkan ponsel, "Itu Lo tau."
"Gak ada alasan buat gue milih ngerokok."
"Sejak kapan?"
"Sejak gue di Belanda."
Tanpa bertanya lebih jauh, Andre cukup mengerti. Pria itu membuka penutup kaleng, menenggak bir hingga tandas. Kemudian mengambil ponsel, beranjak pergi.
"Gue pulang dulu, besok kita bisa bicara soal masalah Lo sama Alessa."
Malam itu Frans habiskan sendiri dengan sebungkus rokok dan sekaleng bir. Menikmati waktu sendirian di apartemen yang tentram. Melupakan sejenak masalah yang terus saja menggelayuti tanpa memberi waktu bernapas lega. Hanya di malam hari, Frans bisa menjadi dirinya sendiri. Keesokan paginya, Frans harus memasang topeng sosok lain sebagai perlindungan diri.
***