"Hai, Ale! Gue bawain somay nih, buat Lo."
Refa berdiri di depan pintu dengan menenteng kresek berwarna putih berisi sterofoam. Senyum lebar terpatri di wajahnya yang cantik menyambut Alessa yang baru bangun tidur. Bahkan pakaiannya belum Alessa ganti dari semalam, piyama bergambar Doraemon.
"Dari mana?" Tanya Alessa seraya memberi akses Refa masuk ke dalam kamar kost-nya.
"Ketemu Pak Andre."
"Barusan ini?"
"Iya, terus mampir beliin Lo siomay. Pasti Lo belum makan, kan?"
Refa mengambil duduk di atas karpet. Meletakkan kresek berisi dua sterofoam siomay, lalu menyiapkan siomay untuk mereka berdua makan. Alessa mengikuti tanpa protes, meski ia merasa baik-baik saja. Tapi, Refa terlalu khawatir padanya.
"Tau aja sih, Re."
"Nih, buat Lo."
Alessa menerima piring berisi siomay, lalu memakannya. Begitu pun dengan Refa, gadis itu menikmati makanannya dengan tenang. Rasa penasaran menggelayuti, Alessa penasaran dengan respon Pak Andre. Ragu-ragu, Alessa memulai pembicaraan.
"Pak Andre gimana?"
Refa menghentikan kegiatan makannya, "Aman kok Le. Pak Andre bilang, dia mau bantuin masalah ini. Jadi, buat pelajaran ke depannya. Bukan cuma buat Lo, tapi semua staf."
Ale menatap siomaynya dalam diam, "Termasuk ke Pak Frans?"
Refa mengangguk pasti, "Hooh, tadi sih aslinya gue mewakili Lo buat minta maaf ke Pak Andre. Tapi, Pak Andre maunya Lo sendiri yang minta maaf ke Pak Andre, staf instalasi, sama Pak Frans secara tertulis. Supaya masalah ini diselesaikan dengan baik karena ada bukti tertulisnya."
"Setelah gue selese cuti, gue akan minta maaf sama Pak Andre juga Pak Frans secara formal. Lagi pula, gue ngerasa bersalah banget karena udah kabur dari masalah gue sendiri disaat Lo susah payah bantuin gue."
"Duh, apaan sih Le! Justru karena gue sahabat Lo, gue gak mau Lo sakit. Gue berusaha buat bantuin Lo semampu gue. Nanti pas Lo udah fit, Lo bisa selesein sendiri." Ucap Refa dengan senyum tulus di bibirnya.
Alessa bangkit dari duduknya, memeluk Refa erat. "Makasih Re! Lo baik banget sama gue!"
Refa membalas pelukan Alessa, mengusap punggung Alessa menguatkan. "Sama-sama Le, gue seneng bisa bantuin Lo."
Keduanya terlarut dalam pelukan, hingga suara Refa membuyarkan momen hangat diantara mereka.
"Le, gue masih laper."
Sontak Alessa melepas pelukannya hingga membuat Refa tak sengaja terjungkal.
"Duh! Lo apaan sih, Le! Sakit tau!" Katanya mengusap kepalanya yang terantuk lemari.
"Ya, Lo sih! Masa siomay sebungkus udah abis masih ngomong laper!" Protes Alessa melirik piring yang telah tandas.
"Hehehe... Maklum lah, Le. Dari pagi gue belum makan nasi, jadi laper mulu bawaannya."
Memutar bola matanya malas, "Gak heran sih, sama karakteristik perut Lo yang kayak gini."
Mendengarnya, Refa terbahak. "Yaelah, Le. Hapal banget Lo sama gue."
Menghembus napas kasar, Alessa bangkit dari duduknya. Berjalan ke arah meja kecil tak jauh dari tempatnya duduk. Alessa mengambil bungkusan kresek putih dengan logo swalayan. Memberikannya pada Refa.
"Nih! Sisa bahan yang sempet gue beli kemaren. Cukup banyak buat nanti malem juga." Refa menerimanya senang hati. Memeriksa bahan mentah apa yang masih tersisa.
"Lo shift malem kan nanti?"
"Hooh. Mau masak apa nih?" Tanyanya setelah memeriksa sisa bahan yang tersisa.
"Apa aja, sebisa Lo."
"Ini sih, tinggal spaghetti doang yang masih banyak. Bikin mie spaghetti pangsit gimana?"
"Boleh! Masak yang simpel-simpel aja."
"Tapi gue gak tau resepnya." Ceplos Refa polos.
Alessa menatap datar Refa, "Lo yang ngusulin, Lo sendiri yang ribet."
"Cari di t****k dong! Kan banyak tuh resep aneh-aneh buat anak kost kayak kita."
Refa tergelak kencang mendengar usulan Alessa. Tidak salah sebenarnya, hanya saja usulan Alessa terdengar seperti menyindirnya karena Refa suka terpengaruh oleh resep khas anak t****k.
"Nyindir gue?"
"Itu Lo ngerasa. Pake tanya."
"Syalan ih." Ceplos Refa kesal namun masih tertawa.
***
"Hasil laporan yang Lo minta kemaren."
Map berwarna kuning yang berisi beberapa berkas tersimpan di dalamnya. Andre meletakkan map tersebut di atas meja. Frans melirik sekilas, kemudian pria itu melanjutkan pekerjaannya.
"Nanti saya periksa. Silahkan keluar."
Andre memutar bola matanya kesal mendengar sikap dan suara profesional yang Frans lakukan. Tak ada yang salah memang, karena sikap tersebut hubungan persahabatan antara dirinya dan Frans merenggang. Rasanya ia ingin meninju wajah Frans agar pria itu sadar, Andre adalah tak hanya rekan kerja melainkan sahabatnya.
"Apa yang Anda tunggu? Pintu keluar ada di belakang Anda."
Perkataan Frans menyentak Andre yang termenung sekejap. Dalam hati ia selalu menggerutu, mencaci sikap Frans padanya. Akan tetapi, Andre sadar dan mencoba mengerti keadaan Frans meskipun terasa sangat mengesalkan.
"Baik Pak. Saya permisi." Andre berbalik menuju pintu keluar sambil mengoceh setelah menutup pintu ruangan Presdir.
"Anda-saya, anda-saya! Gak mampu pake bahasa yang biasa aja apa? Di kira gue siapa? Rekan kerja?! Gue sahabat Lo!"
"Coba Lo jadi gue! Gimana pusingnya gue pas Tante Claria nyariin Lo!"
"Masa iya gue bohong sama Tante Claria! Ntar gue dapet karma! Gak! Gak!"
"Gue gak mau!"
Andre tak henti-hentinya mendumel sambil berjalan. Ia pikir, Frans sudah tak marah lagi. Tapi ternyata, pembahasan semalam masih berlanjut hingga siang ini. Sialan! Frans benar-benar bos yang menyebalkan!
Lani yang baru dari kantin mengernyitkan kening melihat Andre yang tampak berbicara sendiri. Mencoba berpikir positif, Lani menengok telinga kanan dan kiri Andre. Siapa tau pria itu sedang menelpon sambil berjalan. Tapi, terdengar dari suaranya tampak ia sedang kesal.
"Bapak lagi ngomong sama siapa?"
Pertanyaan Lani terlontar begitu Andre melewatinya. Masih berkecimpung dengan pikirannya sendiri, Andre tak membalas pertanyaan Lani padanya. Andre terus saja mengoceh dengan nada kesal.
"Pak! Pak Andre!"
Panggilan Lani membuat langkah Andre berhenti sejenak. Ia menatap Lani yang juga menatapnya kebingungan. Seakan sekretaris Presdir itu melihat sesuatu untuk pertama kalinya.
"Bapak kenapa?"
"Saya? Kamu ngapain tanya sama saya, Lani?! Tanya saja sama bos kamu!" Jawab Andre sebelum memasuki lift menuju lantai satu.
Lani terbengong di tempatnya, "Saya ada salah apa sama Pak Andre sampek di gas begitu?"
Pandangannya berpusat pada ruangan Presdir di sebelah kirinya, "Akhir-akhir ini, yang keluar dari ruangannya Pak Frans hobi banget marah-marah. Memangnya aku salah apa sih? Harusnya mereka balik marah ke Pak Frans dong!"
"Lani kan anaknya pendiem, kalem dan baik. Malah kena omelan tiap ada orang yang keluar dari ruangan Pak Frans."
"Eh! Ngapain malah aku ikutan ngomel sih!"
"Gara-gara Pak Andre nih! Keselnya nempel di aku!"
***
Lembar demi lembar ia baca, meneliti tulisan dengan cermat. Kacamata membingkai indah wajahnya, menambah aura tenang namun serius. Tak ada siapapun di ruangan itu. Hanya terdengar suara hembusan napasnya sendiri yang berpadu detik jam berlalu.
Frans mencoba memfokuskan pikirannya pada laporan, berkali-kali fokusnya buyar karena pikirannya justru memikirkan hal lain. Gadis berhijab yang tak sengaja menabraknya. Membuatnya malu dan Frans lepas kendali meluapkan emosinya. Dimana bersamaan dengan hal itu, Frans memiliki suasana hati yang buruk.
Entah bagaimana masalah ini terjadi, gadis berhijab itu malah menjadi buah bibir staf rumah sakit. Bahkan imbas dari masalah ini adalah seluruh anggota instalasi rawat inap menjadi perbincangan. Dan Andre mengatakan ini adalah masalah kecil. Apakah pria itu buta? Divisi yang ia pimpin mengalami masalah, dan ia masih menganggap enteng tanpa pemberitahuan kepadanya.
Frans semakin kesal saja. Dan apalagi? Andre mengenal dekat Alessa? Frans tidak suka mendengarnya. Ia tidak suka mendengar ada pria lain yang dekat dengan Alessa, penggemar rahasia yang dulu ia cari dan menjadi misteri untuknya. Kini, ketika ia menemukan sosok penggemar masa SMA-nya, malah Andre sudah mengenalnya lebih dulu.
"Andre sialan!"
Jika Frans tau gadis yang menabraknya adalah sosok penggemar yang ia cari, maka ia akan lebih berhati-hati dalam bertindak. Sayangnya semua telah terjadi, sekarang yang harus Frans lakukan adalah memperbaiki masalah dan rumor tidak benar mengenai Alessa. Juga membuat Alessa berada di dekatnya, dalam pandangan matanya.
"Alessa Divanka Gunawan. Bagaimana bisa nama mu begitu mudah memenuhi pikiran ku? Katakan Alessa, apa yang harus aku lakukan?"
Frans menatap intens profil berisi data pribadi Alessa, lengkap dengan pas foto kecil di pojok kanan. Pandangan matanya tak ingin lepas dari senyum tipis Alessa yang berada di foto kecil tersebut.
Lama menatap foto milik Alessa, Frans di kejutkan dengan dering ponselnya yang bergetar di atas meja. Menghembuskan napas pelan, Frans menetralkan jantungnya yang berdetak cepat karena terkejut.
Di ambilnya ponsel tersebut, tertera nama Mamanya yang menelepon di tengah malam. Frans merasa khawatir, segera ia menerima panggilan tersebut.
"Halo Ma, assalamualaikum."
"Halo Frans, wa'alaikummussalam."
"Ada apa Ma? Kenapa telepon Frans malam-malam?"
Tak ada jawaban dari Mama Claria, namun napasnya terdengar tersengal-sengal dari seberang telepon. Frans semakin khawatir, apa yang terjadi pada Mamanya.
"Ma! Jawab Frans! Mama kenapa?"
"Mama sekarang ada dimana?"
"Ma!"
"Frans... Mama, Mama takut." Jawab Mama Claria.
"Mama takut kenapa? Sekarang Mama ada dimana? Mama ada di luar?"
Dari seberang telepon Mama Claria menggeleng, "Mama ada di rumah. Tapi Mama takut, barusan Mama buruk. Mama takut sendirian di rumah. Frans pulang ya..."
Frans menghela napas lega, ternyata Mamanya berada di rumah. Syukurlah, setidaknya Frans merasa tenang sekarang.
"Mama tidak perlu takut, tidak ada hal buruk yang terjadi. Mama sekarang istirahat lagi ya? Frans harus lembur, banyak laporan yang harus Frans selesaikan secepatnya."
"Frans... Mama takut sendirian, Frans pulang ya? Temenin Mama."
"Besok Frans akan carikan pembantu rumah tangga untuk membantu Mama. Berhentikan saja pembantu harian yang selalu datang ke rumah, Frans akan gantikan dengan pembantu yang bersedia menginap di rumah."
"Tidak bisakah Frans pulang?" Mama Claria menahan suaranya agar tidak bergetar, "Frans pulang ya? Temenin Mama."
"Ma... Pekerjaan Frans tidak bisa ditinggal begitu saja, Frans harus segera selesein semuanya. Agar rumah sakit keluarga kita selalu berjaya, sesuai dengan apa yang Mama harapkan."
"Frans..." Panggil Mama Claria lirih.
Mama Claria tidak menyangka, dengan kalimat yang putranya sampaikan. Rasanya sangat sakit, menusuk relung hatinya yang terdalam.
"Kalo ada apa-apa, Mama bisa hubungi Frans lagi. Selamat tidur Mama."
Panggilan terputus begitu saja oleh Frans. Di seberang telepon Mama Claria menangis tersedu-sedu menumpahkan air matanya yang ia tahan.
"Bagaimana bisa Mama menghubungi kamu, jika kamu selalu menghindar dari Mama." Ucap Mama Claria di sela tangisnya.
Disisi lain, Frans merasa apa yang ia katakan pada Mamanya sangat keterlaluan. Pria di akhir usia dua puluh tahunan itu menyadarinya, namun kalimat yang ia ucapkan adalah amarah terpendam dari Frans yang ia simpan sejak lama. Hanya lewat kalimat tanpa menatap wajah Mamanya, Frans bisa mengatakan hal sekejam itu. Meskipun ia tau, Mamanya menangis setelah ia memutus panggilan sepihak.
"Maafkan Frans, Ma. Maafkan Frans..."
Selalu terjadi setiap Frans bertemu dengan Mamanya atau mendapat telepon dari Mamanya. Ia akan menangis, melepaskan beban yang tak kunjung menghilang. Rasanya letih sekali harus memakai topeng baik-baik saja ketika jiwa dan raganya hancur.
Bangkit dari kursi kebanggan-nya, Frans berjalan menuju kulkas kecil yang berada di dekat pantry. Ia mengambil sebotol Tequila yang ia simpan diantara air mineral. Membalik gelas yang tergantung di tempat rak, Frans menuangkan minumannya ke dalam gelas.
Teguk demi seteguk, Frans merasakan rasa khas dari Tequila menyebar ke seluruh tubuhnya. Memberikan sensasi menenangkan yang ia inginkan. Pikirannya yang kacau, serta suasana hatinya yang buruk membuat Frans harus berteman dengan minuman beralkohol tersebut.
Merasa kurang, Frans kembali mengambil beberapa botol Tequila dan menenggaknya secara langsung dari bibir botol.
"Uhuk! Uhuh!"
Frans terbatuk karena tergesa-gesa meminum Tequila. Pandangannya kabur, dan kepalanya terasa ringan. Frans tertawa puas, menikmati ketenangan sementara yang ia dapatkan dari minuman beralkohol kesayangannya.
Berjalan sempoyongan, Frans berniat merebahkan tubuhnya pada sofa. Belum sempat Frans tiba di sofa, ia terjatuh menghantam lantai. Pandangannya terlalu kabur menatap fokus keberadaan sofa dengan tepat karena pengaruh alkohol, kesadarannya perlahan menghilang. Menghitam di peluk kegelapan.
***