Bersiul sepanjang koridor, Andre tampak bahagia karena tugas dadakan yang Frans perintahkan padanya telah usai. Tinggal ia berikan pada Frans besok pagi, tubuhnya terasa pegal. Andre ingin segera tiba di rumah dan memanjakan tubuhnya dengan sabun aroma terapi.
Membayangkan saja membuat anggota tubuhnya meronta-ronta tak sabar ingin pulang. Malam yang menyenangkan meski harus melewati hari yang berat.
Siulan merdu dari bibinya seketika terhenti ketika ia tiba di basment. Satu diantara dua mobil yang terparkir rapi adalah adalah mobil miliknya, dan satu lagi mobil milik Frans.
Andre mengernyitkan kening, Frans masih berada di rumah sakit?
Mengendikkan bahu acuh, "Mungkin juga nglembur lagi tuh anak."
Lantas, Andre berjalan menuju mobilnya dengan santai. Dilewatinya mobil milik Frans dengan tatapan acuh. Begitu Andre masuk ke dalam mobilnya, sekilas ia melirik mobil milik Frans yang anteng di tempatnya tetapi berbeda dengan hatinya yang gelisah.
Mencoba tenang, Andre tancap gas keluar basment. Ia tak memedulikan Frans meskipun pria itu lembur di rumah sakit, ia tak peduli. Rasa kekesalannya masih menguasai pikirannya.
Begitu Andre tiba di depan gerbang seorang satpam membukakan pintu untuknya, Andre menatap heran pada satpam penjaga yang sudah larut tak kunjung pulang. Andre memberhentikan mobilnya tepat di pos satpam.
"Pak Yadi belum pulang?"
"Eh, Mas Andre. Belum Mas, nunggu si Bos."
"Belum pulang ya Pak?"
"Belum Mas, biasanya jam segini sudah pulang. Tapi ini si Bos lemburnya lebih lama dari biasanya." Jelas Pak Yadi sambil melihat jam dinding di dalam pos satpam.
Andre kepikiran akan keberadaan mobil Frans yang masih di basment rumah sakit. Perasaan gelisah kian menggelayuti. Apalagi Pak Yadi, belum bisa pulang karena Frans juga belum pulang.
Mau sampai kapan pria itu lembur? Jika Frans saja, maka Andre tidak masalah. Namun di hadapannya, ada seorang suami sekaligus ayah yang berusaha mencari uang demi menghidupi keluarganya.
"Pak Yadi, ikut saya temuin si Bos ya. Pak Yadi juga harus pulang, ini sudah malam. Kasihan keluarga Pak Yadi di rumah."
"Baik Mas Andre, baik. Terima kasih, saya sangat berterima kasih sama Mas Andre."
Andre menggeleng, "Tidak perlu Pak, saya memikirkan bagaimana istri dan anak Bapak yang menunggu Pak Yadi pulang."
"Saya putar balik dulu ya Pak. Pak Yadi tunggu saya di lobby."
"Baik Mas."
Alhasil Andre kembali memutar mobilnya hingga berhenti di depan loby rumah sakit. Ia menyusul Pak Yadi yang telah menunggunya di lift.
"Biasanya si Bos selalu lembur di ruangannya, Mas."
Andre mengernyit heran, "Pak Yadi sampek hapal."
Pak Yadi tertawa kecil, sembari memencet tombol ke lantai dua. "Saya selalu mengecek Mas. Apakah si Bos sudah pulang atau belum. Namun, terakhir kali ketika saya memeriksa, ternyata si Bos marah. Semenjak saat itu, saya hanya menunggu si Bos pulang di pos satpam."
Andre mengangguk setuju, "Emosi Pak Presdir kadang buruk."
"Benar. Tapi si Bos juga baik. Sering nganter saya pulang." Kata Pak Yadi.
Andre membalas dengan senyuman. Suara dentingan lift terdengar pelan. Pertanda mereka telah tiba di lantai dua. Begitu pintu lift terbuka, Andre dan Pak Yadi keluar menuju ruangan Presdir yang berada di pojok.
Tiba di depan pintu, Andre tak langsung masuk. Ia mengetuk pintu terlebih dahulu. Sekali dua kali, tak ada sahutan dari dalam. Andre menatap heran. Apakah Frans sudah pulang? Tapi mobilnya masih berada di basment.
"Pak Yadi yakin Pak Presdir belum pulang?"
"Yakin Mas."
"Kok sepi ya, Pak?"
"Kita buka saja bagaimana, Pak? Saya takut terjadi sesuatu sama si Bos."
Andre setuju, tanpa berlama-lama ia membuka pintu ruangan Presdir. Di ikuti Pak Yadi di belakangnya.
"Pak Frans?" Panggil Andre yang melihat meja Presdir dalam keadaan kosong.
"Astagfirullah! Pak Frans!" Pak Yadi terkejut melihat tubuh Frans yang tergeletak di lantai.
Andre membulatkan matanya, "Frans!"
"Frans!" Andre menepuk kedua pipi Frans dengan kencang. Namun pria itu tak bergerak sama sekali. Tercium aroma alkohol yang menyengat dari tubuhnya..
Sekilas Andre melirik di atas meja pantry, terdapat beberapa botol Tequila yang kosong. Frans pasti kebanyakan minum alkohol.
"Sial!" Umpat Andre.
"Bawa ke mobil saya saja, Pak! Saya yang akan antar Pak Frans."
"Baik Mas."
Kemudian Pak Yadi membantu Andre memapah tubuh Frans hingga depan lobby. Frans masih dalam keadaan tak sadarkan diri akibat banyaknya alkohol yang ia minum.
"Minta tolong, rahasiakan hal ini ya, Pak."
"Tentu Mas. Saya akan merahasiakannya hanya untuk saya sendiri."
"Terima kasih Pak Yadi. Sekarang Pak Yadi bisa pulang."
"Baik Mas."
Kemudian Andre tancap gas menuju apartemennya. Di liriknya Frans yang masih dalam keadaan pingsan. Tak ada tanda-tanda pria itu akan bangun.
"Nyusahin banget sih Lo!"
"Sialan! Kalo bukan sahabat gue, mana mau gue nolongin Lo!"
"Udah gue buang di trotoar!" Ujar Andre kesal.
***
Sayup-sayup suara berisik dari kamar mandi mengusik tidurnya yang nyenyak. Pria di atas tempat tidur itu mengerang pelan. Masih mengenakan kemeja dan celana bahan, ia bangkit dengan mata yang masih menutup karena kantuk.
"Apaan sih! Berisik!" Katanya kesal.
Lantas pria itu kembali merebahkan dirinya di atas kasur empuk. Menikmati buaian kapas - kapas lembut memanjakan tubuhnya yang letih. Semua angannya harus kandas ketika suara yang sangat mengganggu terdengar dari kamar mandi.
Andre kembali bangun dengan wajah tertekuk kesal. Tidurnya yang lelap terganggu. Namun, seketika Andre teringat sesuatu.
"Gue kan ada di apartemen, yang disini cuma gue aja. Terus yang berisik siapa?" Andre melotot menatap pintu kamar mandi.
"FRANS!"
"Sialan! Gue lupa kalo Frans ada di apartemen gue!"
Secepat kilat Andre meloncat dari atas ranjangnya. Berlari menuju kamar mandi. Begitu Andre tiba di kamar mandi, pria itu membelalakkan matanya melihat Frans yang bersandar lemas di dekat closet.
"Frans!"
Andre segera membantu Frans yang sudah lemas karena muntah tak kunjung berhenti. Wajahnya pucat, dengan bibirnya yang kering. Rambut acak-acakan, dan matanya memerah. Penampilan pagi yang sangat buruk.
"Kebanyakan minum alkohol sih Lo! Kan, jadi gini akhirnya. Eyywwhhh! Jijik banget gue! Pagi-pagi harus ngurusin orang muntah."
Tak urung Andre membantu Frans bangkit dari kamar mandi. Belum sempat Andre membawa Frans keluar, pria itu berbalik dan memuntahkan isi di perutnya yang berupa cairan kuning pekat.
"Lo tuh kalo mau bunuh diri pake cara yang simpel kek, berdiri di tengah rel kereta! Atau apa gitu! Ini malah overdosis alkohol!"
"Mana gue gak nyewa pembantu lagi! Terpaksa gue yang beresin muntahan Lo!"
Andre tak henti-hentinya mendumel melihat Frans yang tak kunjung berhenti memuntahkan sesuatu dari mulutnya. Lama-lama, ia merasa kasihan melihat Frans yang tampak pucat dan lemas.
"Ck! Nyusahin Lo! Untung Lo punya temen kayak gue!"
Akhirnya Andre membantu Frans berdiri, menuntun Frans untuk membasuh wajahnya sendiri di wastafel. Dirasa cukup, Andre membantu Frans menuju ranjang. Ia membiarkan sahabatnya itu tidur di kasurnya. Frans sama sekali tak bersuara, mungkin karena tubuhnya yang lemas dan rasa pusing karena efek alkohol semalam.
Andre berjalan keluar kamar, meninggalkan Frans yang sudah terlelap kembali di atas ranjangnya. Meski pemalas dan menyukai hal-hal instan, untuk kali ini Andre membuat air perasan lemon agar Frans kembali sadar dari pengaruh alkohol yang buruk.
"Sebanyak-banyaknya gue minum alkohol, gue gak sampek hang over!"
"Frans punya masalah apa sih Lo, sampek ngabisin Tequila lima botol sendirian. Di kira itu minuman kaleng penyegar!"
"Ini nih! Akibatnya punya masalah tapi gak mau cerita ke gue! Di pendem sampek mabok!" Gerutuan Andre mengiringi tangannya yang berjibaku di dapur.
Selesai membuat air perasan lemon, Andre membawanya ke kamar. Posisi Frans masih sama dengan posisi terakhir Andre meninggalkannya.
Meletakkan gelas berisi air perasan lemon di atas laci samping tempat tidur, Andre melihat jam bekernya, menunjukkan pukul setengah tujuh, ia harus segera berangkat ke rumah sakit. Pria itu mengambil handuk dan setelan baju kerjanya, Andre masuk ke kamar mandi untuk bersiap.
Sebelum keluar apartemen, Andre menempelkan sebuah notes di gelas yang ia letakkan di laci samping tempat tidur, berharap notes tersebut terbaca oleh Frans.
"Habisin tuh! Awas aja Lo nyusahin gue, lagi."
Lantas meninggalkan sahabatnya yang masih memejamkan mata di kumpulan kapuk empuk.
***