"Selamat pagi, Pak Andre!"
Suara sapaan yang ceria terdengar begitu Andre memasuki pintu instalasi rawat inap. Andre terkejut melihat seseorang yang berdiri dengan senyum manis di wajahnya yang bersinar.
"Bengong aja si Bapak!" Gani menepuk pundak Andre, membuat si empu terkejut karena ulahnya.
"Gani!" Andre mengelus dadanya yang berdebar karena ulah Gani.
"Ngagetin saya saja!" Lanjut Andre ingin menjitak kepala Gani, namun pria itu berhasil menghindar.
"Ya siapa suruh, Bapak terpesona!" Celutuk Gani iseng.
"Mas Gani! Omongannya!" Rahayu memperingati dengan kode matanya.
Pria seumuran dengan Refa itu justru tertawa, "Apaan sih Mbak! Mbak Rahayu gak liat, Pak Andre sampek terpesona gitu liat Alessa?!"
"Gani! Lo tuh ngasal aja kalo ngomong!" Alessa berniat memukul Gani dengan kertas koran yang ia pegang.
Dengan lincahnya Gani mengelak, "Wleee! Gak kena! Gak kena!"
"Gani!" Kesal Alessa.
"Hei! Hei! Sudah! Mas Gani jangan godain Mbak Alessa terus dong!"
"Iya nih, Mbak! Gani jahil!" Alessa menimpali.
Gani tersenyum sombong, "Kalo gak ada gue, paling kalian nyariin."
"Dih! Enggak!" Celutuk Rahayu.
"Rahayu nolaknya semangat banget. Kayak gugup gitu, ada hubungan apa nih antara Rahayu dan Gani."
Andre yang sejak tadi diam karena bullyan Gani, kini membalikkan keadaan. "Saya tidak menyangka ada sesuatu diantara kalian berdua, rekan-rekan yang saya asuh."
"Pak Andre! Apaan sih Pak! Gak ada!"
"Si Bapak ngapain? Mau bales dendam?"
Ujar Rahayu dan Gani bersamaan. Membuat suasana instalasi rawat inap pagi itu hangat penuh gelak tawa. Andre yang tadinya menjadi titik fokus perhatian anggota instalasi, kini berbalik menjadi Gani yang menjadi bullyan menggantikan Andre.
Di sisi lain, Rahayu menolak keras rekan-rekan yang menggodanya memiliki hubungan spesial dengan Gani, sebaliknya dengan apa yang di lakukan Gani. Pria itu malah menikmati siulan menggoda dari rekan-rekannya. Tak perlu repot-repot menjelaskan, karena sikap Gani yang dasarnya sedikit slengekan.
"Cie Mbak Rahayu,"
"Apaan sih, cie, cie. Gak ada!" Rahayu menoleh pada Andre, "Kalo Pak Andre punya masalah sama Gani, jangan bawa-bawa saya dong, Pak." Protes Rahayu tidak terima.
Kemudian, Andre menatap Gani. "Gan! Sorry ya, ketampanan kamu tidak bisa membuat Rahayu jatuh hati."
"Aduh! Sakitnya hati ini."
"Teganya Dek Rahayu memperlakukan Kang Mas Gani sejahat ini."
"Kang Mas Gani terluka loh, Dek."
Andre tertawa terpingkal-pingkal mendengar celutukan dari rekan-rekan yang menimpali candaan mereka. Begitu pula Alessa yang tertawa senang melihat drama kecil diantara keluarga instalasi.
"Sudah! Sudah! Jangan gaduh, waktunya kerja. Resepnya ngantri tuh!" Ucap salah seorang apoteker wanita paruh baya yang melerai candaan mereka.
"Yuk kerja! Kerja!"
"Yah, padahal lagi asik-asiknya."
"Ntar, lain kali kayak gini lagi." Timpal Gani yang langsung mendapat pukulan dari Rahayu.
"Enak aja lain kali! Gak ada!" Semprot Rahayu, kemudian ia mengambil resep dan meracik obatnya.
"Kang Mas Gani beneran di tolak." Celutuk Andre semakin memperkeruh suasana.
"Syirik aja, Pak Andre. Tuh sama Alessa!" Gani mengendikkan dagunya ke arah Alessa.
Alessa yang kembali di jadikan umpan menatap tak terima, "Loh? Ngapain ke gue lagi?"
"Pak Andre terpesona!" Ucap Gani ngasal kemudian pergi.
"Ngeselin banget si Gani." Kata Alessa.
Andre yang berada tak jauh darinya memusatkan perhatian pada Alessa. "Jika tak ada Gani, suasana juga pasti sepi."
"Setuju Pak."
"Alessa," panggil Andre membuat Alessa menoleh.
"Nanti jam istirahat ke ruangan saya ya, ada hal yang harus saya bicarakan sama kamu." Sambung Andre.
"Baik Pak."
Alessa menatap kepergian Andre dengan senyuman lega. Meskipun tersisa satu hari cuti yang seharusnya ia ambil, Alessa tidak merasa menyesal. Ia masuk bekerja dan meminta maaf kepada seluruh rekan instalasi rawat inap. Meski ia tidak percaya diri, dan takut bagaimana respon mereka padanya. Nyatanya semua ketakutannya terbantahkan dengan sapaan hangat dan senyum ramah dari semua rekan instalasi.
"Hatiku terasa lega sekarang." Alessa menyentuh dadanya pelan, detakan jantungnya yang berirama.
"Bagus Alessa, apa yang Lo lakuin udah lebih dari cukup. Pelan-pelan, Lo harus bisa kembali dengan keadaan diri Lo yang dulu."
***
Pria itu mengeluh karena sinar matahari menerobos masuk ke dalam kamar. Ia berusaha bangkit dari tidurnya. Kepalanya terasa sangat pusing, rasa tidak nyaman ia rasakan pada perutnya. Mual dan kembung.
Menyesuaikan cahaya yang masuk ke retina matanya, ia menatap sekeliling. Dekorasi kamar yang ia tempati bukan kamarnya. Jelas ini bukan apartment yang ia tinggali.
Mengingat apa yang terjadi sebelumnya, Frans berada di ruangannya dan mabuk. Kemudian samar-samar ia melihat Andre yang datang membawanya entah ke apartemen pria itu. Frans menghembuskan napas perlahan, setidaknya Andre yang menemukannya. Bukan Lani atau pun petugas OB rumah sakit yang bersih-bersih setiap pagi.
Baru saja ia akan beranjak dari ranjang, ia melihat gelas dengan tempelan kertas note di atas laci samping tempat tidur. Ia mencabut kertas tersebut dan membacanya.
Abisin kalo Lo masih pengen waras.
Kunci apartemen tanggal lahir gue, jangan bilang Lo lupa atau Lo gak akan bisa keluar dari apartemen gue.
Frans meremas kertas note itu dan membuangnya sembarangan. Diambilnya segelas air yang Frans percaya adalah air perasan lemon. Ia menghabiskannya hingga tandas tanpa sisa. Frans merasa risih dengan tubuhnya yang terasa lengket.
"Sialan! Gue hang over."
Frans bangkit dari ranjang, membersihkan tubuhnya dengan air dingin agar terasa lebih segar. Selepas membersihkan tubuhnya, Frans yang tak membawa baju ganti mengambil salah satu kemeja Andre acak.
Frans melihat jam dinding yang menunjukkan pukul sepuluh pagi, sudah sangat terlambat untuknya datang ke rumah sakit. Frans mengecek ponselnya yang banyak sekali notif dari Suster Siska dan Lani.
"Alkohol sialan!"
Bergegas Frans melesat ke rumah sakit dengan memesan taksi online. Dalam perjalanan dering ponselnya memecah kesunyian antara ia dan sopir taksi.
Segera Frans mengangkat panggilan tersebut, "Halo, Lani?"
"Pak! Bapak dimana ya? Ini ada meeting jam setengah sebelas di ruang rapat." Suara Lani terdengar panik di seberang telepon.
"Kamu handle sebentar, saya masih dalam perjalanan."
"Jangan lupa siapkan berkas rapat dengan baik dan lengkap."
"Tapi Pak,--" belum sempat Lani berkata, Frans mematikan panggilan.
Baru saja ponselnya ia letakkan di saku jasnya, ponsel itu kembali berdering. Segera Frans menerima panggilan tersebut.
"Halo?"
"Halo Pak? Pemeriksaan hari ini bagaimana ya, Pak? Pasiennya sudah banyak yang mengantri, Pak Frans dimana?" Sama dengan Lani, Suster Siska tampak kelimpungan di sana.
Rasanya kepala Frans ingin pecah mendengar keluhan pagi ini. "Kamu handle dulu, saya ada rapat."
"Duh! Tidak bisa Pak, hari ini jadwal Pak Frans pemeriksaan langsung, masa saya sih, Pak?"
"Intinya saya mau kamu handle dulu, terserah. Saya akan datang setelah rapat, saya usahakan secepat mungkin."
"Tunggu Pak Frans--" Frans mematikan panggilan ketika Suster Siska belum usai berkata.
Namun Suster Siska kembali menelepon Frans, "Ada apa Suster?"
"Bapak tolong datang secepatnya ya? Saya kewalahan."
"Segera Suster, saya mengatakan akan segera datang."
"Baik Pak." Frans mematikan panggilan.
Frans benar-benar pusing sekarang. Kesalahannya karena ia dengan sombong mengambil alih pekerjaan dokter yang seharusnya mendapat dokter ganti. Meskipun Frans adalah dokter spesialis jantung, namun posisi Presdir cukup membuatnya kewalahan. Apalagi Frans berniat mengubah peraturan rumah sakit dan pembaruan karyawan yang ia pikir lamban atau tidak mematuhi peraturan karyawan.
Tak cukup dua kali, ponselnya kembali berdering. Dengan kesal Frans menerima panggilan tersebut. "Apa lagi Suster?! Kan saya sudah bilang, handle pasien yang ada selagi saya belum datang!"
Tak ada sahutan dari seberang telepon, membuat Frans mengernyitkan keningnya. Di buka kembali layar ponsel yang menelponnya. Tertulis nama Andre di sana.
"Sial."
Andre yang berada di seberang telepon terbahak-bahak. Suara tawanya terdengar bahagia, merasa puas. "Udah bangun Lo?"
"Kenapa telepon?"
"Mau pastiin sahabat gue udah bangun apa belum. Kasihan Lani, pontang panting siapin berkas, handle rapat karena bosnya yang teler." Ejek Andre.
"Diem Lo!"
"Hahaha... Akhirnya sahabat gue balik lagi!"
Frans diam tanpa membalas kalimat Andre, ia membiarkan Andre mengejeknya agar pria itu puas.
"Ntar malem gue mau ke apartemen Lo, jangan ngelak. Awas aja."
"Hm."
"Buruan ke rumah sakit. Lagi pada riweh! Jangan nambah-nambahin beban."
"Lo pikir gue masih tiduran?! Sabar kek! Gue masih di jalan."
"Oh... Kirain masih ngorok di kamar gue, Lo."
"Kamar gue Lo beresin kan?" Tanya Andre.
"Hm."
"Hm Lo itu iya apa enggak?"
"Iya,--"
"Syukur deh."
"--Iya, enggak gue beresin. Langsung gue tinggal." Sambung Frans.
"Sialan Lo! Gak tau diri numpang di apartemen gue!"
"Lo panggil service room aja, ntar gue bayarin."
"Lo pikir hotel!"
"Gue matiin, gue udah sampek."
"Lah? Frans! Frans!"
Frans mematikan panggilan dari Andre, membayar ongkos taksi dan masuk dengan segera ke ruang rapat. Dirinya telat lima belas menit dari jadwal rapat yang telah di sepakati.
***
"Lain kali, kamu harus bisa handle saat saya belum datang. Saya tidak mau ada masalah seperti ini lagi ya, Lan!"
Lani, sekretaris Frans yang berdiri di tengah ruangan hanya bisa menunduk diam. Lani hanya bisa pasrah dengan segala omelan Pak Frans padanya, meski secara teknis Pak Frans lah yang terlambat datang bukan Lani.
"Baik Pak, saya akan berusaha lebih keras lagi."
"Harus." Jawab Frans dengan tegas, "Lagian kamu sudah menjadi sekretaris Mama saya bertahun-tahun, jadi kamu sudah tanggap dan cerdas jika ada kejadian seperti ini terulang lagi." Dumel Frans tiada henti.
"Tapi, Bu Claria tidak pernah terlambat, Pak." Ucap Lani pelan.
"Apa kamu bilang?"
"Itu Pak, saya harus belajar lagi supaya Bapak tidak malu." Jawab Lani asal.
Frans mengangguk, "Bagus itu, kamu harus belajar lagi."
Lani mengulas senyum canggung, dalam hati ia mengutuk Pak Frans yang begitu mengesalkan. Presdirnya ini marah-marah karena Lani yang tidak cekatan, padahal Pak Frans saja yang salah. Tipe Presdir yang melimpahkan kesalahan pada bawahannya.
"Kenapa masih disini?"
Lani tergagap, "Eh, iy-iya Pak! Saya permisi dulu."
"Hm."
Menutup pintu ruangan, Lani menghentak kaki kesal. Kedua tangannya mengepal di jahitan rok pendeknya. Heels menghentak lantai keras, tak membuatnya takut jika Pak Frans mendengar kelakuannya.
"Hiiiiiihhh! Pak Frans ngeselin banget sih jadi Presdir!"
***