"Kenapa harus Lo, sih Le?! Kenapa gak yang lain aja?! Atau gue, misalnya. Atau Mbak Rahayu? Gani?"
"Gapapa Re, biar aku aja. Nanti aku bisa minta tolong sama Mbak Lani buat bantuin bikin laporan." Ujar Alessa.
Refa menatap tak setuju, "Bukan itu maksud gue, Le."
Alessa menatap sahabatnya yang khawatir semenjak tadi pagi, lebih tepatnya ketika Alessa mengatakan akan menemui Pak Frans. Disaat itulah, Refa panik dan merasa khawatir yang berlebih pada Alessa.
Alessa berusaha meredakan kekhawatiran Refa, namun begitu Refa tiba di kost. Gadis itu langsung menodong pertanyaan pada Alessa mengenai Pak Frans yang memanggilnya ke ruangan Presdir.
"Lo tau kan, siapa Pak Presdir itu? Lo pernah bilang, kalo Pak Presdir itu adalah cinta pertama Lo di SMA. Gimana kalo Pak Frans inget sama Lo? Gue takut Lo terpuruk karena kehadiran Pak Frans di hidup Lo kembali lagi."
Alessa melempar senyum menenangkan, ia memeluk Refa yang di balas oleh sahabatnya. "Makasih Refa udah khawatirin keadaan Ale. Aku tau, Refa mau yang terbaik di dalam kehidupan Ale,"
"Tapi jangan sampai khawatir nya Refa ke Ale, bikin Refa sakit sendiri." Alessa melepaskan pelukannya, "Lagian gue cuma sebagai pengagum rahasia dari Kak Ken, bahkan Kak Ken enggak tau siapa itu Diva ketika SMA. Jadi, Refa jangan khawatir, semuanya akan baik-baik aja."
"Tapi Lo akan lebih sering ketemu sama Pak Frans kalo Lo menyanggupi apa yang dia minta ke Lo, Alessa." Kekeh Refa masih khawatir.
"Re, dengerin gue." Alessa memfokuskan pandangan Refa untuk menatap matanya. "Meskipun gue akan sering ketemu sama Kak Ken, tapi bukan berarti Kak Ken akan inget sama gue. Bahkan Kak Ken enggak kenal sama gue. Udah ya, jangan khawatir sama gue. Presentase Kak Ken inget sosok Diva adalah satu diantara sembilan puluh sembilan persen."
"Tapi, Le,--"
"Refa, percaya sama gue. Semuanya akan baik-baik aja, dan semuanya akan berjalan secara profesional." Kata Alessa meyakinkan Refa.
"Udah ya, jangan khawatir. Lo juga harus pikirin diri Lo sendiri. Sini, pelukan dulu." Alessa merentangkan tangan yang disambut hangat oleh Refa.
"Keluar yuk, cari batagor. Gue pengen makan batagor deh." Kata Alessa setelah melepas pelukan mereka.
"Boleh deh, ntar agak sorean aja ya. Gue pengen tidur dulu."
"Sip." Alessa mengangkat jempolnya setuju.
Refa pamit keluar dari kamar kost Alessa menuju kamarnya, setelah kepergian Refa, Alessa melepas semua beban yang ia tahan. Alessa menangis, meluruhkan sesak di dadanya karena isak tangis yang ia tahan ketika Refa masih berada di dalam kamar kostnya.
"Jangan pikirin gue, Re. Jangan korbanin kebahagiaan Lo demi gue."
Alessa tak sengaja membaca isi notes dalam buku milik Refa. Semuanya menjawab apa yang menjadi pertanyaannya selama ini, mengenai alasan Refa selalu menolak pria yang ingin mendekatinya. Bahkan berniat serius dengan mendatangi kampung halaman Refa.
Namun dengan alasan karir, Refa dengan mudah membohongi Alessa. Dalam notes yang Alessa temukan, Refa menuliskan bahwa apa yang ia lakukan dengan menolak semua pria yang mencoba mendekat padanya adalah karena Alessa. Refa tidak ingin melihat Alessa masih dalam keadaan terpuruk ketika Refa menemukan kebahagiaannya.
Alessa menangis penuh sesak membaca notes milik Refa. Ikatan persahabatan diantara mereka membuat Refa mengambil tindakan yang justru merugikan diri Refa sendiri. Alessa merasa bersalah, semuanya karena rasa ketakutan Alessa yang belum disembuhkan.
"Lo harus bisa hidup tanpa gue, Re. Gue akan selalu dihantui rasa bersalah karena Lo ngorbanin kebahagiaan Lo demi gue."
Alessa menatap bingkai berisi fotonya dengan Refa, mulai sekarang Alessa harus bisa menyembuhkan perasaan takutnya akan suatu hubungan. Alessa meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia baik-baik saja, dengan begitu kekhawatiran Refa padanya akan menghilang.
Refa akan menemukan kebahagiaan dengan seseorang yang mencintainya. Begitu pula dengan Alessa yang mencoba membuka hati untuk penghuni yang baru.
Pertanyaannya, apakah Alessa sanggup melewati semua ini sendirian tanpa bahu yang menyanggahnya setiap waktu?
***
"Gue udah bilang sama Lo. Penjelasan gue kurang jelas?"
Sosok pria yang duduk di sofa, fokus pada laptopnya sejak kedatangan Andre satu jam yang lalu. Ia datang ke apartemen Frans karena mendapat kabar, jika Alessa diberikan tugas tambahan secara langsung oleh Presdir secara pribadi.
"Frans! Gue ngomong sama Lo! Bukan sama tembok!" Andre kesal karena Frans yang cuek padanya. Bahkan untuk minuman yang berada di hadapan Frans dan dirinya, merupakan buatan Andre tanpa campur tangan si pemilik apartemen.
"Ya terus kenapa?" Tanya Frans santai.
Hubungan keduanya sudah mulai membaik. Jadi tanpa ragu, Andre sering berkunjung ke apartemen sahabatnya itu.
"Gue bisa ngerjain laporan yang Lo minta sendiri. Tanpa bantuan Alessa."
"Gue sebagai kepala divisi instalasi, merasa keberatan atas tugas yang Lo kasih ke staf gue."
Frans yang muak mendengar ocehan Andre mengenai gadis bernama Alessa seketika meletakkan laptopnya dengan kasar. Perasaannya marah, dan tak suka mendengar Andre yang membela gadis incarannya dengan begitu posesif.
"Lo ada hubungan apa sama gadis itu?" Tanya Frans dengan nada tajam.
"Gue adalah atasan Alessa, gue yang bertanggung jawab untuk semua kenyamanan semua anggota gue dalam bekerja. Mana mungkin gue biarin staf dalam tim gue ngerjain tugas yang bukan keahlian dia?!"
Penjelasan Andre seakan menyembunyikan sosok Alessa yang mendapat perhatian khusus dari Andre. Frans benci mengatakannya, tapi semua pembicaraan ini berakhir tegang karena gadis bernama Alessa. Padahal hubungan keduanya baru saja membaik.
Frans memberikan tatapan tajam, dengan nada datar ia berkata, "Kalo Lo atasan gadis itu, gue adalah atasan Lo. Lo gak ada hak buat nentuin apa yang harus gue lakuin ke staf gue."
Ucapan menohok Frans menyentil sedikit perasaan Andre. Memang benar bila Andre bukanlah siapa-siapa bila di bandingkan dengan Frans yang berstatus Presdir. Tapi, Frans juga tidak berhak menggunakan statusnya sesuka hati.
"Gue tau Lo atasan gue, tapi Lo gak bisa gunain status Lo untuk ngelakuin hal diluar kuasa Lo." Balas Andre tak terima.
Frans tersenyum miring, "Gue tau apa yang gue lakuin secara sadar. Jadi jangan menggurui gue, inget baik-baik kalo gue adalah atasan Lo di rumah sakit. Segala urusan yang berhubungan dengan rumah sakit mengenai keputusan yang gue ambil, Lo,--" tunjuknya pada Andre, "Gak berhak ikut campur."
Dirasa selesai membalas ucapan Andre padanya, Frans bangkit dari sofa. "Gue mau istirahat, pintu keluar ada belakang Lo."
Tanpa memedulikan Andre, Frans melangkah masuk ke kamarnya. Membiarkan Andre tetap berada di ruang tamu, dan pergi dengan sendirinya mendengar kalimat pengusiran secara tersirat.
"Gue gak akan biarin Lo main-main sama Alessa. Meskipun Lo adalah sahabat gue sekali pun."
***
Hari yang di tunggu telah tiba, dimana bulan baru telah menyambut. Berpisah dengan bulan lama yang memberikan banyak kegiatan menyenangkan maupun kesakitan di dalamnya.
Namun, tidak untuk Alessa. Berkali-kali gadis itu memeriksa data laporan yang telah selesai ia buat dengan lembur beberapa hari. Untung saja di tengah sibuknya Lani sebagai sekretaris Presdir, gadis itu mau membantu Alessa menyelesaikan laporannya.
"Tinggal setor aja deh, ke Pak Presdir."
Seakan bebannya terangkat, Alessa merenggangkan ototnya hingga suara-suara aneh dari tulangnya bergemelatuk. Rasa puas dan lega menggelayut, begitu Alessa berhasil menyelesaikan semua tugas-tugasnya. Entah itu tugas dari Pak Presdir, atau tugasnya di instalasi.
"Le, mau ikut beli mie ayam gak?" Tanya Gani yang baru saja menghampiri Alessa di ruang penyimpanan stok injeksi di instalasi.
"Sama siapa?"
"Sama anak-anak. Instalasi di tungguin sama Mbak Rahayu, dia nitip katanya. Sama Mbak Apoteker juga ikut, mau nitip apa ikut beli?"
Alessa tampak berpikir, ia melihat laporannya belum ia berikan pada Pak Presdir. Karena tak ingin menambah beban tanggungan lebih lama lagi, Alessa memutuskan untuk mengorbankan jam istirahatnya.
"Nitip aja deh. Gue masih ada urusan," Alessa merogoh kantong kemeja batiknya, memberikan selembar uang dua puluh ribuan pada Gani.
"Nanti makanan gue, Lo taro di sini aja ya, Gan."
"Oke deh, siap!"
Menyiapkan seluruh berkas dengan cermat dan teliti, dirasa tak ada yang ketinggalan. Alessa membawa berkas laporan untuk ia serahkan pada Pak Presdir di ruangannya.
Tak butuh waktu lama, Alessa tiba di ruangan Pak Presdir. Lani yang biasanya duduk fokus pada laptopnya kini tak ada entah kemana. Mengendikkan bahu acuh, Alessa melanjutkan langkahnya menuju ruang Presdir yang masih tertutup rapat seperti biasanya.
Mengetuk pintu pelan, Alessa menunggu mendapat ijin untuk masuk. Karena tak kunjung merespon, Alessa membuka pintu dan mendorongnya pelan.
"Selamat siang, Pak Frans?"
Kosong.
Tak ada siapapun di ruangan itu, di meja Sekretaris pun juga sama. Alessa melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Masih jam istirahat sih, mungkin Pak Frans sama Mbak Lani lagi makan."
Alessa menatap berkas laporan yang ia bawa dengan meja milik Frans, "Gue taro di meja aja deh. Masa gue bawa balik lagi."
Alessa meletakkan berkas laporan yang Frans minta di atas meja pria itu, setelah ini tugasnya selesai. Ia akan kembali ke instalasi dan menikmati waktu istirahatnya yang tersisa.
Baru saja Alessa menyentuh gagang pintu, pintu sudah terbuka dari luar. Membuatnya terkejut melihat sosok yang ia cari berada tepat di hadapannya.
"Ba-bapak?" Alesss menyentuh dadanya pelan, mentralkan detakannya yang kencang karena kaget.
"Kebetulan ada kamu,"
"Hah? Saya?" Frans mengangguk.
"Ada apa ya, Pak?"
"Ikut saya!"
Tanpa kata, Frans menarik tangan Alessa menuju lift. Gadis itu masih terkejut dengan perlakuan dari Frans. Pria itu tiba-tiba saja datang dan menggeretnya keluar.
Alessa diam membeku tanpa perlawanan dalam genggaman tangan Frans, di lihatnya tangan kirinya yang di cekal erat seperti takut kehilangan. Alessa menggelengkan kepalanya, menyadarkan diri dari angan bodoh yang sekilas muncul. Meski masih terhalang kain baju, namun Alessa merasa ini adalah kesalahan.
Alessa mencoba melepaskan cekalan tangan Frans, namun pria itu justru mengeratkannya. Alessa menatap tak mengerti, tak tinggal diam, Alessa berusaha melepaskan tangannya sendiri.
Bukannya terlepas, tangan Frans tak mengijinkan Alessa terlepas dari genggaman tangannya. "Bapak, mau ngajak saya kemana?"
"Pak! Setidaknya lepaskan tangan saya."
Tingkah Alessa yang memberontak membuat gadis itu nyaris terjatuh, Frans dengan spontan menarik kencang genggaman tangan Alessa hingga tubuh gadis itu tersentak ke pelukannya.
Alessa terpaku di dalam pelukan Frans, terdiam bisu tak tau apa yang harus gadis itu lakukan. Pelukan Frans melingkupinya, menyelimuti tubuhnya yang rapuh agar bersandar pada tubuh pria itu.
"Saya membutuhkan kamu untuk membantu saya dalam presentasi, Lani sedang rapat bersama Pak Wayan. Tentu saja saya tidak bisa melakukannya sendirian." Kata Frans lirih, tepat di wajah Alessa.
"Ba-bapak ti-tidak perlu hingga memeluk saya."
Kemudian Frans melepaskan pelukannya, namun tubuh Alessa nyaris limbung. Frans menopangnya dan membantu Alessa agar bisa berdiri dengan benar. Frans menunduk, menatap manik milik gadis di hadapannya dengan tatapan yang intens.
"Bagaimana saya bisa melepaskan kamu jika kamu nyaris terjatuh?" Tanya Frans dengan suaranya yang pelan dan dalam.
Lift yang mereka naiki terasa sangat lama tiba pada lantai yang di tuju. Dengan gugup, Alessa menyeimbangkan tubuhnya sendiri.
"Saya bisa sendiri!"
Alessa bangkit dan menguatkan kakinya untuk berdiri, apa yang telah ia lakukan. Dalam hati Alessa merutuk perbuatannya yang diam di peluk oleh seorang pria.
"Saya minta tolong sama Bapak, jangan memeluk saya seperti itu. Meskipun saya nyaris terjatuh, itu akan lebih baik daripada Bapak menyentuh seorang perempuan yang bukan mahramnya."
Kalimat Alessa jelas saja memukul telak Frans yang terbawa perasaan. Sejenak Frans diam, kemudian mengangguk.
"Maafkan saya karena telah memelukmu tanpa ijin. Saya hanya tidak ingin kau terjatuh."
"Tidak apa-apa, Pak. Dan juga, jangan menggandeng saya. Meskipun keperluannya mendesak, Bapak cukup dengan mengatakannya. Saya akan senang hati membantu Bapak."
"Terima kasih Alessa, maafkan sikap saya pada mu."
"Sama-sama Pak."
Kini, Alessa mengambil jarak agar sedikit berjauhan dari Frans. Pria itu menyadari tindakan Alessa yang menjaga batas antara padanya. Menutup mata menyesal, Frans menghela napas.
"Akan kah perjuangan saya untuk mendapatkan mu akan berat, Alessa?" Batinnya menatap pantulan Alessa di kotak besi yang mereka naiki.
***