"Alhamdulillah, rapat berjalan lancar tanpa hambatan."
"Terima kasih Alessa, tanpa bantuan kamu, saya bisa kewalahan menangani rapat hari ini. Apalagi, Lani berada di acara penggalangan dana bersama Pak Wayan untuk anak panti asuhan dan panti jompo." Jelas Frans tanpa Alessa minta.
Alessa melempar senyum, "Tidak apa-apa Pak. Maaf, saya tidak begitu berpengalaman menangani rapat seperti tadi."
"Tapi cukup membuat kolega saya terkesan dengan kemampuan kamu."
"Terima kasih atas pujiannya, Pak."
"Sudah sepantasnya, Alessa." Frans menatap Alessa, gadis itu mengedarkan pandangannya memandang sekitar restoran di balik kaca.
"Setelah ini saya antar kamu pulang, sudah jam empat sore. Lagi pula, shift kerja mu juga sudah usai." Kata Frans melirik arlojinya.
Alessa mengalihkan pandangannya, ia menggeleng pelan. "Terima kasih untuk tumpangannya Pak, tapi saya akan naik angkutan umum saja. Lagi pula, saya harus kembali ke rumah sakit."
Tak ingin menyiakan kesempatan, Frans tak menyerah begitu saja. "Saya bisa mampir ke rumah sakit dulu untuk mengantar mu, setelahnya saya bisa kembali ke apartemen." Katanya dengan senyum simpul. Alessa menatapnya, kemudian kembali mengalihkan tatapannya.
"Tidak masalah jika saya mengantar kamu ke rumah sakit, bukan?" Tambah Frans.
Alessa diam, ia bingung bagaimana caranya menolak Frans agar pria itu tak mengantarnya pulang. Frans menangkap ekspresi Alessa yang tampak tak enak padanya. Gadis itu bingung dengan apa yang harus ia katakan untuk menolak secara halus.
Frans masih setia menunggu respon dari Alessa. Tampaknya gadis itu memilih diam membisu, tak ingin menjawab pertanyaan darinya. Frans menghela napas panjang, jika seperti ini, ia tak bisa memaksa Alessa.
"Jika kamu tidak ingin saya antar ke rumah sakit, saya mengerti. Tapi biarkan saya memesankan taksi untuk mengantar mu dengan selamat." Kata Frans menyudahi pembicaraan.
Alessa menggeleng, "Tidak perlu, Pak. Saya bisa memesan sendiri."
"Bila tak ingin saya antar pulang, setidaknya biarkan saya yang memesankan taksi untuk mu pulang." Alessa diam ditempatnya, ia tak tau harus mengatakan apa.
Frans bangkit dari kursinya, menatap Alessa dengan sisa makanan di meja. "Selesaikan sisa makanan mu, saya akan membayar di kasir."
"Baik Pak, terima kasih." Ucap Alessa hanya di balas senyuman oleh pria itu.
Rasa tidak enak kerap kali merayapi hatinya, Alessa takut menyakiti hati seseorang ketika ia menolak apa yang orang itu minta atau tawarkan. Perasaan yang Alessa bisa sebut adalah sebuah penyakit.
Segera menyelesaikan kegiatan makannya, Alessa bangkit dan menyusul Frans yang kini berada di depan resto. Dengan langkah kecil, Alessa berdiri di samping Frans.
"Ah, ini. Saya sudah memesankan taksi untuk mu. Tinggal menunggu saja, saya akan menemani hingga taksinya datang." Frans menjelaskan dengan menunjukkan aplikasi di ponselnya, sebuah layar menampilkan map dengan gambar mobil yang melaju ke arah alamat resto yang Frans tuliskan.
"Terima kasih, dan maaf sudah merepotkan."
"Jangan sungkan. Saya harus bertanggung jawab dengan mengembalikan mu dalam keadaan selamat tanpa kekurangan satu apapun."
Alessa mengangguk tanpa mengatakan apapun, ia membiarkan Frans melakukan sesukanya selagi hal itu tak membuat Alessa terpaksa.
Sembari menunggu taksi datang, Alessa menyusun kata untuk membuka topik pembicaraan dengan Presdir nya.
"Pak," panggil Alessa.
"Ya?"
"Terima kasih, karena Bapak dan Pak Andre membantu saya dalam kasus kemarin. Saya benar-benar merasa lega karena oknum dari masalah saya sudah ditangkap."
"Sama-sama, Alessa." Ujar Frans dengan senyum manis di bibirnya.
Entah mengapa, hatinya merasa bahagia sekali mendengar Kak Ken memanggil nama 'Alessa' dengan suaranya yang berat. Terdengar nyaman di telinganya, dan euforia bahagia menyelimuti perasaannya.
Segera Alessa menggelengkan kepala, apa yang ia pikirkan. Tidak! Ini semua salah! Ia tak boleh seperti ini, memikirkan lelaki yang bukan suaminya. Ingat Alessa, Frans hanya sosok lelaki masa lalu, masa putih abu-abu.
***
Tiba di kost, Alessa tidak menyangka akan menemukan kehadiran Refa yang berada di depan kamar kostnya. Seperti menunggu seseorang.
"Ale! Lo dari mana aja sih?!" Refa menghampiri sahabatnya yang baru saja tiba di kost.
"Ada apa?"
"Gue khawatir! Mana ponsel Lo gak aktif lagi, gue takut Lo kenapa-kenapa habis dari ruang Pak Frans. Sekarang Lo bilang sama gue, Lo abis dari mana?" Todong Refa tak sabaran.
Menghela napas, Alessa bingung jawaban apa yang harus ia berikan pada Refa. Ia tau, gadis itu begitu tak menyukai Frans. Bagaimana jika Refa tau, ia baru saja diseret oleh Presdir kemudian diajak makan dan dipesankan taksi.
"Ale!"
Suara Refa menyadarkan dari lamunannya. Refa masih menunggu, Alessa bingung jawaban apa yang harus ia jadikan alasan. Memilih pasrah, Alessa mengatakan yang sebenarnya.
"Di ajak Pak Frans rapat, soalnya tadi Mbak Lani keluar sama Pak Wayan." Refa menatap tak suka kalimat yang keluar dari bibir Alessa.
"Kenapa harus Lo?"
"Kebetulan gue pas nganter berkas laporan akhir bulan tadi siang." Jawab Alessa apa adanya.
"Ale, usahakan jangan terlalu deket sama Pak Presdir ya? Kalo bisa, Lo serahin tugas yang di kasih Pak Presdir ke Lo ke siapa kek. Yang jelas jangan Lo."
Alessa tersenyum, "Gue baik-baik aja kok Re. Lagian itu udah tugas gue, mana mungkin gue limpahin tugas yang jadi tanggung jawab gue ke orang lain?"
"Tapi gue khawatir, Le. Gue khawatir,"
Alessa memeluk sahabatnya erat, "Makasih banyak, sahabat kesayangan gue selalu khawatir sama gue. Tenang aja, gue baik-baik aja kok, lagi pula, Kak Ken gak mungkin inget gue,"
"Nama Diva, akan selalu jadi salah satu pengagum rahasia yang tak akan pernah terungkap." Sambung Alessa.
Refa membalas pelukan Alessa lebih erat lagi, "Maaf Le. Gue terlalu takut Lo deket sama laki-laki, gue takut Lo disakiti sama mereka. Gue takut kalo Lo kembali jatuh kayak dulu lagi. Gue gak tega liat Lo selalu terpuruk."
"Udah Re, jangan nangis ah. Masa nangis?" Alessa merenggangkan pelukannya, menghapus air mata Refa yang selalu jatuh karenanya.
"Sesekali pikirin diri lo sendiri, hati Lo, perasaan Lo, dan masa depan Lo. Gue baik-baik aja Re, jangan khawatir, okay?" Alessa melempar senyum bahagia pada Refa.
"Sorry, kalo gue berlebihan. Tapi gue sayang sama Lo, Le. Gue sayang banget!" Refa memeluk Alessa dengan spontan hingga Alessa merasa tercekik.
"Refa! Udah lepas! Ntar dikira kita lesbi!"
Dengan segera Refa melepas pelukannya hingga Alessa terhuyung pelan ke belakang, "Iyuh! Gue masih normal! Gue suka cowok-cowok ganteng!"
"Bye! Gue mau kencan! Ntar di kira lesbi beneran lagi! Ya kali! Gue masih suka oppa Mi Ho, cowok tulen, berondong juga gue suka!" Dumel Refa menjauhi Alessa.
Alessa terkikik geli melihat Refa yang marah-marah, kemudian seberkas senyum simpul terbit setelah Refa masuk ke kamar kost-nya.
"Untuk kali ini, Lo harus lebih perhatian sama perasaan Lo sendiri, Refa. Jangan jadikan gue sebagai penghalang diri sama perasaan Lo sendiri. Gue akan sangat bahagia, ketika gue ngeliat Lo bahagia sama cowok yang sayang sama Lo, Refa."
***
Pagi menjemput dengan begitu cepatnya, baru saja Alessa memejamkan mata. Kini, ia harus kembali mengumpulkan nyawa dan bangkit dari kasur empuknya yang melambai-lambai tak ingin di tinggal.
Berjalan sempoyongan menuju kamar mandi, Alessa membersihkan dirinya dan menunaikan kewajibannya sebagai seorang muslim. Doa-doa selalu ia panjatkan kepada Allah, sebagai sandaran yang selalu ada untuk Alessa menjalani kehidupan yang fana ini. Kebahagiaan selalu ia minta untuk keluarga, teman, rekan, dan sahabatnya.
Selesai sholat subuh, Alessa melirik jam Beker yang berada di atas laci, pukul empat kurang sepuluh menit. Alessa merapikan kembali mukena serta sajadah miliknya. Memanaskan air, Alessa berniat membuat secangkir kopi untuknya memulai aktivitas pagi ini.
Hari ini, Alessa masih memiliki satu jatah shift pagi sebelum besok berganti shift siang. Refa masih menikmati jatah liburnya. Mengenai Refa, gadis itu menepati ucapannya. Pukul tujuh, gadis itu keluar bersama satu orang pria dan satu orang anak kecil. Alessa tak mengenalnya, dan Refa belum menceritakan apapun.
Lain kali, Alessa harus menagih penjelasan pada sahabatnya itu.
Hanya sarapan dengan secangkir kopi, Alessa bersiap menuju rumah sakit Santa Claria. Sudah banyak orang berlalu lalang di koridor. Entah itu pasien dengan kursi rodanya, keluarga pasien yang menjenguk, atau petugas kebersihan rumah sakit.
Alessa memasuki instalasi rawat inap, disana sudah banyak rekannya yang datang. Ia melihat arlojinya, sudah pukul tujuh kurang sepuluh menit. Pantas saja sudah ramai dan formasi hari ini lengkap. Kecuali, Andre. Sejak kemarin, Alessa tidak melihat atasannya itu berada di ruang instalasi.
"Pak Andre kemana?" Tanya Alessa ikut bergabung dengan yang lain.
"Pak Andre ada rapat di luar kota. Kemungkinan Pak Andre gak masuk beberapa hari." Jawab Rahayu.
"Tenang aja, Le. Gue udah minta oleh-oleh dari Pak Andre buat kita semua!" Gani berseru penuh semangat.
"Gak sopan banget Lo, minta-minta!"
"Mempererat tali persaudaraan." Jawab Gani kelewat santai.
Alessa memutar bola matanya malas, mendengar Gani berceloteh sama saja mendengar radio rusak. "Udah Mbak. Jangan ngomong sama Gani, dia orangnya rada-rada." Kata Alessa pada Rahayu.
Rahayu tertawa, sedangkan Gani mencebik kesal. Tidak terima atas apa yang Alessa katakan mengenai dirinya. Keseruan mereka harus terhenti ketika ada keranjang berisi resep datang.
"Yuk lanjut! Resepnya udah pada nungguin nih!" Seru Gani.
Rahayu bangkit, di ikuti Alessa yang mengambil resep untuk ia kerjakan. Belum sempat Alessa mengambil obat sesuai yang di perintah di resep dokter. Pintu instalasi terbuka dari luar, mengalihkan perhatian semua orang di dalamnya.
"Mbak Alessa, diminta ke ruangan Pak Presdir."
Alessa terkejut, "Saya? Ada apa ya, Pak?"
"Kurang tau Mbak, saya hanya menyampaikan amanat." Jawab salah satu staf rumah sakit.
"Segera ya, Mbak. Pak Presdir menunggu di ruangannya."
"Baik Pak, terima kasih informasinya."
"Sama-sama Mbak. Maaf semuanya, saya permisi."
Rahayu mendekati Alessa, "Ada masalah Mbak?"
"Duh, gue gak tau Mbak. Gue pergi dulu ya." Alessa dengan tergesa keluar dari instalasi, dalam benaknya ia bertanya-tanya. "Apa gue ngelakuin kesalahan?"
***