Cahaya matahari menusuk mata yang terpejam, ia merasa terganggu karena rasanya waktu sangat cepat berjalan. Baru saja ia terlelap, kini ia harus bangkit karena sinar mentari yang membangunkannya.
Pemandangan kamar yang mewah serta elegan dengan warna hitam putih yang mendominasi. Alessa mencoba menganalisis ia berada dimana sekarang. Seingatnya kamat kost miliknya bukan berwarna hitam dan putih. Ia juga tidak memesan kamar hotel, lalu ia berada dimana?
"Sudah bangun?" Suara pintu terbuka mengiringi seseorang yang baru saja masuk.
Alessa membelalak kaget melihat Presdirnya berada di kamar yang sama dengannya. "Bapak ngapain?!"
Spontan Alessa menatap tubuhnya, bajunya masih lengkap. Ia meraba kepalanya yang masih memakai hijab. Untuk berjaga-jaga, Alessa meringsut menjauh dari Frans.
"Ini adalah kamar saya." Alessa membulatkan matanya.
"APA?!"
"Tidak ingat? Kamu tidur ketika saya menjelaskan laporan yang semalam kau buat."
Seketika ingatannya menggali beberapa jam yang lalu, dimana ketika selesai makan. Alessa mendengar penjelasan Frans yang membuatnya tak bisa menahan kantuk.
Pikiran-pikiran buruk mengenai Frans seketika musnah, jelas sekali ini adalah kesalahannya. Bisa-bisanya Alessa tidur ketika Frans berbicara dengannya.
"Maaf, Pak. Saya ketiduran."
Frans hanya mengangguk, "Jika sudah bangun. Kau bisa keluar. Istirahat lah di rumah mu, itu akan mu lebih nyaman."
"Se-semalam Bapak tidur dimana?"
"Saya bisa tidur dimana saja. Maaf sudah menyentuh mu ketika saya memindahkan mu ke ranjang. Saya pikir akan lebih nyaman tidur di kasur dari pada sofa."
"Eh, iy-iya Pak. Terima kasih."
Dengan gugup, Alessa bangkit dari ranjang. "Se-sekali lagi, saya minta maaf Pak."
"Ya, silahkan keluar."
Buru-buru, Alessa keluar dari kamar yang ternyata berada di ruangan Presdir. Alessa harus pulang, karena siang nanti ia harus kembali bekerja. Tanpa sengaja Alessa meninggalkan barang-barang miliknya di ruangan Frans.
***
Selama perjalanan pulang, Alessa terus saja meruntuk dirinya yang bisa ketiduran di dalam ruangan Presdir. Bagaimana jika Refa tau dirinya tidak ada di kost pagi ini? Segera Alessa memberhentikan ojek untuk mengantarnya ke kost. Bisa bahaya jika Refa melihatnya baru pulang, apalagi Refa bertanya pada Mbak Sarah yang semalam berjaga.
Alessa tidak bisa berbohong.
Alessa melirik arlojinya, pukul setengah tujuh. Biasanya Refa akan menggedor kamar kost-nya. Jika Alessa datang dengan penampilan seperti ini, sudah jelas Refa akan bertanya-tanya. Alessa takut jika Refa lebih dulu datang ke kost nya sebelum dirinya berada di dalam kamar.
"Kenapa semalem bisa ketiduran sih! Jadi ribet gini kan!"
Tiba di depan gerbang kost, Alessa memberikan sejumlah uang sesuai tarif. Ia melirik sebentar, sepertinya Refa belum keluar dari kamar kost-nya. Segera Alessa masuk dan berlari secepat kilat masuk ke kamar kost.
"Untung banget, Refa belum gedor kamar ku! Kalo tau, aku gak ada disini, bisa mati aku!"
"ALE!"
"ALE!"
"ALESSA!"
Suara gedoran pintu di belakangnya membuat Alessa terlonjak kaget. Ingin membuka pintu, namun ia ingat sesuatu. Alessa belum mengganti kemeja dinasnya dengan baju harian. Dengan waktu yang mepet, di iringi gedoran pintu. Alessa bergegas mengganti bajunya agar terlihat lebih baik.
"Lo di kost kan?"
"Alessa!"
Setelah memastikan semuanya siap, barulah Alessa membuka pintu. Penampilan rapi Refa menjadi pemandangan Alessa ketika pintu terbuka.
"Lo baru bangun tidur? Lama banget bukanya!" Refa melepas sepatu pantofel, lantas masuk ke kamar Alessa.
"Gue capek Re, semalem benerin laporan yang salah."
Refa duduk di sofa, dengan tangan yang memegang toples camilan. "Oh," respon gadis itu membuat Alessa mengelus d**a.
"Udah jam tujuh kurang, nanti telat, Refa!" Kata Alessa mengingatkan. Bagaimana tidak, saat ini jam dinding menunjukkan pukul tujuh kurang sepuluh menit. Dan Refa dengan santainya duduk di sofa sembari memakan camilan.
"Iya! Iya! Gue berangkat!" Refa meletakkan toples berisi camilan ke atas meja.
Kemudian gadis itu pamit pada Alessa, "Gue otw dulu."
Alessa mengangguk sekilas, "Hati-hati di jalan." Yang dibalas Refa dengan acungan jempol.
Menutup pintu, Alessa bernapas lega. "Alhamdulillah, selamet dari interogasi."
Setelahnya, Alessa mencari tasnya. Ia kebingungan, dimana ia meletakkan tasnya ketika panik tadi. Mencarinya ke seluruh kamar, Alessa tetap tidak menemukan apapun. Kepanikan membuat Alessa lupa.
"Tas ku dimana sih?"
"Gara-gara panik jadi lupa gini."
Dering ponsel di atas kasur membuat pencarian Alessa terhenti, ia mengambil ponselnya. Tertulis nomor yang tidak ia simpan memanggil menggunakan panggilan pulsa.
Diantara takut penipu atau nomor penting, Alessa bingung. Apakah harus menerima atau tidak. Namun ponsel itu mati, belum sempat Alessa meletakkan. Ponselnya kembali berdering.
"Mungkin nomor penting." Gumam Alessa menerima panggilan telepon.
"Halo, assalamualaikum."
"Wa'alaikummussalam."
"Maaf, dengan siapa?"
"Saya Frans, tas mu tertinggal di ruangan saya. Jangan lupa untuk mengambilnya nanti,"
"Ah, pantas saja." Gumam Alessa namun masih terdengar oleh Frans. "Baik Pak, nanti saya ambil tas saya. Terima kasih informasinya."
"Sama-sama, saya tutup dulu. Assalamualaikum."
"Iya Pak, wa'alaikummussalam."
Menghela napas lega, Alessa membanting tubuhnya ke atas kasur. "Bisa-bisanya tas ku ketinggalan di ruangannya Kak Ken, Astaghfirullah."
"Tapi Kak Ken tau nomor aku dari siapa?"
"Bodo lah, capek. Mau bobo dulu," kata Alessa memeluk gulingnya erat. Mengarungi mimpi yang sempat membuainya sekejap.
***
Alessa melirik arlojinya sebentar, sudah pukul sembilan lebih dua puluh menit. Ia terlambat pulang karena menunggu shift selanjutnya yang belum datang. Anak-anak yang berjaga bersama Alessa sudah pulang lebih dulu. Berbeda dengan Alessa yang senang hati menggantikan rekannya sementara hingga datang.
Bukannya berbelok ke arah lorong sebelah kiri, Alessa justru mengambil jalan masuk ke lorong sebelah kanan. Dimana ia akan ke ruangan Presdir untuk mengambil tas miliknya yang tertinggal di ruang Presdir.
"Semoga aja, Kak Ken masih ada di sana," gumam Alessa sembari menaiki lift.
Ketika kotak besi itu membawanya menuju lantai dua, Alessa berjalan pelan menuju ruangan Presdir. Meja Mbak Lani yang berada di depan ruangan Presdir sudah kosong dan rapi. Pertanda si empu sudah meninggalkan meja kerjanya.
Tangannya terangkat, akan mengetuk pintu seketika terhenti. Tanpa sengaja, samar-samar Alessa mendengar suara gaduh dari dalam ruang Presdir.
"--Semuanya untuk kamu, Frans!"
"Ma! Tolong jangan recokin Frans dengan hal seperti itu!"
"Mama bukan recokin kamu, tapi Mama mau kamu mikirin masa depan kamu."
"Apa yang harus Frans pikirin soal masa depan Frans? Bukan kah Mama sudah mengatur semuanya?" Kata Frans dengan nada tinggi.
"Masa depan Frans," Frans menjeda ucapannya, menatap hal lain selain Mamanya.
"--Sudah Mama tentukan, lalu untuk apa Mama meminta pendapat Frans mengenai masa depan Frans sendiri?" Sambung Frans tersenyum kecut.
"Tolong sekali ini saja, Mama ngertiin posisi Frans." Tutup pria itu kemudian berjalan menuju pintu.
Alessa yang masih berdiri di depan pintu, tak lama pintu itu terbuka. Menampilkan Frans dengan raut terkejut melihat Alessa berada di depan ruangannya.
"Aa,--anu, Pak... Saya,--"
"Ikut saya!" Tanpa banyak bicara, Frans menarik lengan baju Alessa tanpa bersentuhan, sehingga gadis itu mengikuti Frans yang entah akan membawanya kemana. Alessa menuruti saja, melihat situasi yang sulit. Membuat suasana menjadi akward untuk sekedar menolak.
Sebelumnya, Alessa tak menyangka akan berada di atas bangunan tempat ia bekerja. Suasana yang tenang, dengan kilauan lampu lalu lalang dari jalanan menjadi pemandangannya dari atas sini. Benar-benar menakjubkan, sekaligus menyeramkan ketika jatuh ke bawah.
Selama bekerja di rumah sakit Santa Claria, Alessa tidak pernah menemukan tangga rahasia menuju roof top. Jika Alessa tau, sudah pasti selepas bekerja, ia akan mampir sejenak untuk menenangkan pikiran.
"Bapak tidur?"
Alessa melirik Frans yang sejak tadi terlentang dengan lengan yang menutupi wajahnya. Gurat kelelahan menghiasi wajahnya yang selalu berekspresi tegas. Berapa banyak pekerjaan yang ia emban di pundaknya?
"Saya masih terjaga." Jawab Frans.
Sejak tiga puluh menit yang lalu, lebih tepatnya sejak Frans menarik lengan baju Alessa yang ternyata membawanya ke roof top rumah sakit. Pria itu tidur tanpa alas, tanpa mengkhawatirkan kemejanya yang kotor karena debu. Ia merebahkan diri dengan tenang bak tidur.
Alessa takut jika pria itu tertidur, sudah pasti Alessa tak akan sanggup membawanya turun.
"Saya kira, Bapak tidur."
Tak ada balasan dari Frans. Pria itu tetap diam, dan melanjutkan rebahannya di atas lantai roof top. Alessa ikut diam, ia tak tau harus berbuat apa. Yang Alessa lakukan hanyalah menikmati suasana malam ini di atas roof top bersama Kak Ken-nya.
"Saya harap kamu tidak mendengar pembicaraan di ruangan saya."
Alessa menoleh ketika pria itu membuka suara, "Sa-saya,--"
"Meskipun kamu mengetahui, saya minta agar kamu bersikap seperti biasa. Tanpa mengetahui apapun yang terjadi di ruangan saya, beberapa menit lalu."
"Pak Frans tenang saja, bukan hak saya mencampuri urusan orang lain. Saya akan diam, mengaggap tidak ada yang terjadi beberapa menit lalu di ruangan Bapak."
Frans tersenyum tipis, "Terima kasih, Alessa."
"Sama-sama Pak, meski saya tidak tau untuk apa Bapak mengatakan terima kasih sama saya, namun saya akan tetap merahasiakannya."
"Maaf dan terima kasih untuk semuanya,"
Alessa menoleh, "Semuanya?"
Frans bangkit dari posisi rebahannya, ia duduk tak jauh dari Alessa yang berjarak dua meter darinya. "Maaf karena pertemuan pertama kita, saya dalam kondisi tidak baik. Sehingga kamu terlibat suatu gosip yang tidak menyenangkan."
"Dan terima kasih, karena saya masih bisa mendapat kesempatan bertemu dengan mu."
Alessa mengernyitkan keningnya bingung, sungguh ia tak mengerti apa yang Frans sampaikan padanya. "Ya, kan memang saya masih bekerja di rumah sakit milik Bapak."
"Berbeda halnya jika saya mengundurkan diri dari rumah sakit Bapak, pasti Bapak tidak akan pernah melihat sa,--"
"Saya tidak akan pernah membiarkan hal itu terjadi." Sela Frans dengan nada tak suka.
"Maksud Bapak?"
Frans menatap wajah ayu Alessa, gadis berkerudung itu kini sangat cantik dengan pakaian yang tertutup. Seingat Frans, dulunya Alessa tak mengenakan hijab dan pakaian tertutup. Alessa adalah gadis yang sama dengan gadis lainnya, namun perubahan menjadi manusia yang lebih baik, membuat Alessa jauh lebih cantik.
"Tidak semua hal harus diketahui, Alessa. Kadang kala hanya cukup untuk dimengerti."
***