"Apa Bu? Kok bisa?!"
"Terus sekarang kondisi Arya, gimana?"
"Luka adikmu cukup parah, Refa. Ibu khawatir sekali. Bapak lagi cari pinjaman untuk biaya operasi Arya, kata Dokter Arya harus segera di operasi."
"Malam-malam begini, Bapak cari pinjaman dimana Bu?"
"Ibu juga tidak tahu. Bapak mu pergi, Ibu masih menunggu Arya di rumah sakit."
"Kata Dokter, berapa kira-kira biaya operasi Arya Bu?"
"Sekitar dua puluh lima juta," suara Ibu Refa terdengar sesak di seberang telepon. Refa syok mendengar jumlah yang tidak sedikit itu.
Uang dari tabungannya tentu kurang banyak, Refa hanya memiliki tujuh juta saja di tabungan. Sekarang apa yang harus Refa lakukan?
"Ibu, ada kartu kesehatan punya Arya? Ibu bisa pake kartu itu!" Refa teringat, jika semua anggota keluarganya sudah memiliki kartu kesehatan.
"Ah, iya. Ibu meletakkan kartu BPJS milik Arya di rumah,"
"Syukurlah, terima kasih sudah mengingatkan Ibu, Refa. Nanti coba Ibu hubungi Bapak ya, Nak."
"Kabari Refa ya, Bu. Sebisa mungkin, Refa akan bantu."
"Iya Nak, terima kasih."
"Ibu tidak perlu bilang terima kasih, yang penting Arya bisa sembuh."
"Maaf selalu merepotkan kamu ya, Nak."
"Ibu ngomong apa sih, yang penting Bapak Ibu, dan Arya sehat."
"Ibu tutup teleponnya ya, Ibu mau bilang sama Bapak mu."
"Iya Bu, assalamualaikum."
"Wa'alaikummussalam."
Refa terduduk lemas di dalam kamar kost-nya. Mendengar adik kesayangannya mengalami kecelakaan, hatinya terasa sakit. Terlebih dengan biaya yang tidak sedikit, Refa harus membantu menutupi kekurangan dari biaya rumah sakit Arya.
Alessa.
Satu nama yang terlintas di pikirannya, "Apa gue pinjem uang ke Ale, ya?"
"Tapi gue selalu bikin Ale susah. Ngrepotin Ale terus, dan sekarang apa gue harus minta tolong ke Ale lagi?"
Menarik napas panjang, Refa mencoba menenangkan hatinya. Ia melirik jam di ponselnya yang menunjukkan sudah pukul setengah sebelas malam. Harusnya, Alessa sudah pulang dan ada di kamar.
Mencuci wajahnya yang basah karena air mata, Refa menguatkan hati. Ia akan meminjam uang milik Alessa untuk menambah biaya kekurangan pengobatan adiknya.
Suasana luar kamar kost sepi, sepertinya penghuni lain masih bekerja atau sudah tidur di masing-masing kamarnya. Refa berjalan melewati tiga kamar untuk mencapai kamar kost milik Alessa.
"Le!"
"Ale!"
Mengetuk pintu, Refa memanggil sahabatnya. Berharap Alessa berada di dalam dan segera membukakan pintu.
"Alessa!"
Diam tanpa ada yang membalas, "Apa Ale belum pulang? Tapi kok tumben. Kan dia gak lembur malam ini."
Mengetuk pintu sekali lagi, Refa memanggil Alessa. "Ale!"
Malam semakin larut dan Alessa belum juga datang, membuat Refa semakin khawatir. "Apa iya sih, Ale lembur di rumah sakit?"
"Apa nginep instalasi nemenin yang jaga shift malam ini?"
Menghela napas, Refa tertunduk lesu. "Terus sekarang gimana?"
"Apa gue nunggu besok aja atau chat Alessa?"
Berbalik menuju kamarnya sendiri, Refa harus bersabar menunggu esok hari. Semoga Alessa bisa membantunya. Hanya Alessa harapan Refa satu-satunya yang ia percaya saat ini.
Ketika Refa menutup pintu kamarnya, seseorang berjalan lesu masuk ke pelataran kost. Menutup gerbang dan melangkah menuju kamarnya, untuk segera beristirahat. Tampak wajahnya kusut kelelahan setelah seharian bekerja.
Alessa menghempaskan tubuh lelahnya di atas kasur, begitu pintu kamar ia buka. Tak memedulikan kondisi tubuhnya yang kotor, dan belum bersih-bersih. Alessa terlalu malas untuk melakukannya, setidaknya malam ini saja. Alessa melanggar peraturan yang ia buat sendiri.
Saat ini pikirannya berkelana entah kemana, Alessa memikirkan kalimat terakhir Kak Ken yang disampaikan padanya di roof top beberapa jam yang lalu. Hingga tiba di kost, Alessa masih tidak mengerti ucapan Kak Ken. Bak teka teki yang harus Alessa rampungkan jika tak ingin tidur dalam rasa penasaran.
Semakin memikirkan ucapan Kak Ken, semakin pusing pula kepalanya. Menghembuskan napas kasar, Alessa bangkit dari kasur. Nyatanya, kebiasaan Alessa yang harus bersih setelah bekerja membuatnya berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Tak ingin berlama-lama karena malam sudah larut, Alessa juga takut masuk angin jika terlalu lama di kamar mandi. Ia kembali merebahkan diri di ranjang empuknya dalam kondisi yang lebih segar. Bergelung nyaman dengan selimut hangat dan guling empuk.
"Ucapan Kak Ken, mengindikasikan banget kalo dia gak mau gue resign dari Santa Claria," Alessa tampak berpikir, "Tapi kenapa? Kenapa gak boleh resign?"
Mengacak rambutnya yang tergerai panjang, Alessa menggelengkan kepala. "Terserah Pak Presdir lah, jangan ke-geer-an Ale! Bisa aja karena kemampuan gue mumpuni dan layak, makanya Pak Presdir ngomong begitu."
"Tapi kenapa gue merasa berbeda?"
"Bisa gak sih, kalo gue berharap Kak Ken naruh perhatian sama gue?"
Sedetik kemudian Alessa tersadar, "Astagfirullah Alessa! Lo ngomong apa sih?! Gak boleh berharap lagi! Gak boleh jatuh lagi! Kuatkan hati dan jangan berharap apapun pada manusia!"
Melirik jam yang menunjukkan pukul satu malam, Alessa tak sadar jika malam memang benar-benar sudah larut dan Alessa masih terjaga. Melirik ponselnya yang berada tak jauh dari posisi rebahab Ale, gadis itu mengambilnya.
Hari ini ia belum melihat Refa, biasanya gadis itu akan mengiriminya pesan. Namun, ketika Alessa mengeceknya. Kosong.
"Tumben banget, Refa gak chat gue. Biasanya nyariin kenapa belum pulang, ini adem ayem aja deh."
"Apa Refa udah tidur?"
"Mungkin sih, udah jam satu juga."
Dirasa tak ada yang perlu Alessa lakukan, ia meletakkan ponselnya di atas laci samping tempat tidur. Bersiap menjemput mimpi yang sudah menunggunya dengan buaian kelembutan.
***
"Re, kamu ngambil cuti?"
Refa menoleh pada Alessa yang berdiri di sampingnya, sedangkan dirinya tengah membereskan koper. Mendengar kabar dari grub instalasi, tentu Alessa sangat terkejut. Pasalnya, sebelum ini Refa tidak mengatakan apapun. Dan pengajuan cuti Alessa terbilang mendadak. Bahkan Alessa langsung berlari ke kamar Refa, memastikan kabar yang ia terima benar atau salah.
"Iya, gue ngambil cuti satu minggu," Refa berkata sambil sibuk mondar mandir di kamar. Ia bahkan lupa tidak memberi tahu Alessa mengenai cuti yang ia ambil semalam.
"Ada masalah apa? Kok gak cerita? Mendadak loh ini." Alessa nampak khawatir, karena sebelumnya Refa tidak menceritakan sesuatu hal padanya mengenai dirinya dalam waktu dekat. Dan Alessa menganggap semuanya baik-baik saja.
"Adek gue kecelakaan, semalem Ibu telepon gue dan ngabarin soal Arya. Ibu sama Bapak pasti bingung banget di rumah. Gue mau ambil jatah cuti gue."
"Arya, adik Lo yang kecil itu kan?"
Refa mengangguk, "Iya, Arya yang itu."
"Terus sekarang keadaan Arya gimana?"
"Dari yang gue denger, Arya harus operasi. Tapi lebih spesifiknya gue belum tau."
Alessa tidak menyangka kabar buruk menimpa keluarga Refa, apalagi Arya. Adik kecil Refa yang menggemaskan di mata Alessa. "Re, kalo butuh apa-apa, lo bisa telepon gue ya. Gue pasti bantuin Lo."
"Makasih Le, yang penting gue harus sampek rumah dulu."
"Harusnya gue yang minta maaf, gue tau kabar ini dari anak-anak grub chat."
Refa menggeleng, "Gue yang salah, enggak bilang ke Lo. Karena kondisi gue panik dan gue cuma hubungi Pak Andre buat pengajuan cuti."
Alessa mengangguk, "Tarik napas Re, tenang ya, jangan panik. Udah pesen travel?"
Refa mengambil napas dalam dan mengeluarkan perlahan, menstabilkan deru napas dan detak jantungnya yang tak karuan panik. "Udah, katanya jam sembilan waktu pertama untuk perjalanan ke Madiun hari ini."
Alessa melirik jam dinding di kamar Refa, "Sebentar lagi," katanya.
"Alhamdulillah, kalo udah dapet. Gue bantuin ya, mau bawa apa?" Sambung Alessa.
"Seperlunya aja. Ini udah selese kok, gue mau cepet-cepet pulang. Khawatir sama kondisi Arya, apalagi Ibu sama Bapak juga udah tua. Pasti bingung mau ngurus kartu BPJS Arya." Refa sibuk berpikiran mengenai kondisi adik serta kedua orang tuanya.
"Tadi udah sarapan? Mau gue beliin nasi di depan kost?"
"Makasih Le, tapi gue gak nafsu makan. Rasanya perut gue kenyang banget."
"Tapi Lo harus makan, Re. Nanti sampek rumah pasti Lo gak makan karena pikiran Lo fokus ke Arya,"
"Sedikit aja, buat energi di perjalanan." Bujuk Alessa.
Mengangguk meski berat hati, "Gue masih ada roti. Gue makan itu aja."
Senyum simpul Alessa terbit, "Boleh Re, yang penting perut Lo keisi makanan."
Refa memakan roti tawar tanpa selai dengan tak bernafsu. Alessa paham perasaan dan kondisi sahabatnya. Namun, Refa juga tak boleh mengabaikan kondisi kesehatannya sendiri karena panik dengan keadaan Arya.
"Gue gak tau gimana bisa Arya kecelakaan, padahal itu anak gak pernah main ke jalan raya. Bahkan hingga harus operasi." Kata Refa di sela makannya.
Tatapan gadis itu sarat akan kesedihan, "Gue bingung dengan keadaan Bapak sama Ibu. Bapak sama Ibu pasti khawatir sama keadaan Arya, apalagi Arya masih enam tahun harus operasi. Dan yang pasti biaya operasi Arya gak sedikit."
"Gue gak bisa bayangin Le. Rasanya sesek banget! Rasanya gue gak bisa napas."
"Hussttt... Udah Re, namanya musibah gak ada yang tau. Kamu harus kuat." Alessa memeluk Refa yang disambut erat diiringi isak tangis.
"Jangan lemah, harus kuat! Refa harus kuat! Ingat ada adik-adik kamu dan orang tua kamu yang butuh sosok Refa. Setelah nangis, Refa harus balik lagi jadi sosok yang kuat dan tangguh." Alessa menyemangati Refa meski gadis itu dalam keadaan yang rapuh. Dukungan dan pelukan adalah hal yang Refa butuhkan saat ini.
Dering ponsel milik Refa memecah suasana sedih gadis itu, segera ia menyambar ponselnya. Melihat hanya nomor saya yang meneleponnya, Refa menerima panggilan tersebut. "Halo?"
"Mbak, ini saya supir travel. Sudah di depan kost Cemara."
"Baik Pak, saya ke depan."
Mematikan ponsel, Refa memandang Alessa, "Travelnya udah di depan. Gue berangkat dulu ya, segala urusan gue di sini, minta tolong buat Lo handle dulu ya, Le."
Refa menghapus air matanya yang masih mengalir deras. Meski matanya memerah tak dapat ia sembunyikan, namun ia harus kuat ketika tiba di rumah dan bertemu dengan keluarganya. Alessa benar, Refa harus kembali menjadi sosok yang kuat dan tangguh seperti sebelumnya.
Alessa mengangguk, "Terpenting sekarang ada keadaan Arya dan Bapak sama Ibu."
"Makasih Le,"
"Sama-sama Refa, inget masih ada gue sahabat Lo. Jadi, jangan pernah anggap Lo sendirian." Refa mengangguk dengan wajah yang berantakan. Senyum yang coba Refa paksakan terpatri di bibirnya yang menahan tangis.
"Re!"
Panggil Alessa ketika Refa akan keluar kamar, "Sebentar, gue ada sesuatu."
Alessa berlari menuju kamarnya, tak lama ia kembali dengan membawa satu kantong kresek merk salah satu swalayan. Lantas ia memberikan kantong tersebut pada Refa.
"Kasih ke Arya, dia pasti suka."
"Ini apa?"
"Makanan sama mainan. Tadinya gue mau jenguk keponakan. Tapi lebih baik buat Arya, bilang cepet sembuh dari Mbak Alessa."
Refa menerima dengan mata berkaca, "Lo gak harus ngasih ini, Le."
"Gapapa. Biar Arya cepet sembuh. Nanti aku bisa beliin lagi buat Radit."
"Makasih ya, Le."
"Jangan bilang makasih terus Re, kita sabahat. Harus saling membantu, maaf belum bisa nganter, titip sama buat Bapak sama Ibu."
"Pasti."
"Jangan lupa kabarin kalo udah sampek, Re!"
Refa mengangguk dan menaiki mobil travel yang akan mengantarnya pulang ke kampung halaman. Bertemu dengan keluarga yang ia sayangi dan kasihi.
Melambaikan tangan untuk Alessa dari dalam mobil, Alessa membalas dengan senyuman dan kepalan tangan. Berharap Refa harus kuat ketika tiba di rumah.
Alessa setia memandang kepergian mobil yang ditumpangi Refa dari depan gerbang kost hingga mengecil dan hilang dari pandangannya. Kabar yang baru saja ia terima pagi ini membuat Alessa dilanda rasa khawatir.
Alessa bangun kesiangan pagi ini, dan untungnya Refa belum berangkat pulang ke Madiun. Rasanya Alessa adalah sahabat yang buruk sekarang. Semalam Refa pasti cemas mengenai keadaan adiknya, dan Alessa justru bersama Kak Ken. Menemani pria itu dalam keadaan yang kurang baik.
Alessa merasa bersalah kepada Refa, harusnya semalam ia langsung pulang meski Kak Ken memaksanya menemani pria itu. "Ada apa sama Lo sih, Alessa! Ayok! Jangan jadi perempuan lemah lagi!"
***