Dua hari setelah kepulangan Refa, sahabatnya itu belum memberinya kabar. Meski dalam hati Alessa dilanda rasa khawatir, namun Alessa mencoba mengerti. Mungkin, Refa sibuk dengan keadaan adiknya yang harus diberikan perhatian lebih. Apalagi setelah operasi, pasti rasanya akan sangat menyakitkan untuk anak seusia Arya yang masih kecil.
Selama di kost maupun di rumah sakit, Alessa selalu sendirian. Tak ada yang menemaninya makan maupun merecoki pekerjaannya. Dan untuk giliran jaga shift milik Refa, Alessa dengan senang hati menggantikannya.
Meski tubuhnya terasa lelah, namun tidak masalah untuk Alessa. Setidaknya ketika Refa kembali bekerja, pekerjaan gadis itu tak begitu banyak karena bantuan Alessa. Sudah menjadi ketetapan rumah sakit apabila cuti kosong tanpa mengganti, maka gaji akan dipotong. Dan Alessa tak ingin semua itu terjadi pada Refa.
Pagi ini sama seperti pagi hari-hari sebelumnya, Alessa berjalan di lorong rumah sakit sembari merenggangkan otot tangannya yang pegal. Menghirup udara rumah sakit yang sama setiap detiknya tak membuat Alessa merasa jenuh atau bosan. Justru Alessa menikmatinya, sangat menikmati pekerjaannya.
Banyak orang berlalu lalang dan menyapa dirinya ketika saling kenal, lainnya hanya sekilas lewat dengan senyum ramah dan sopan Alessa tunjukkan kepada pasien yang berjalan-jalan disekitar rumah sakit atau staf lain.
"Mbak Ale? Kok disini?"
"Gak jadi pindah?"
"Hah?"
Alessa yang baru memasuki ruang instalasi rawat inap bingung, bukannya mendapat sapaan hangat dan sambutan dari rekannya. Alessa justru mendapat pertanyaan mengenai dirinya yang pindah.
"Memangnya ia akan pindah kemana?" Batinnya bertanya-tanya.
"Pindah?" Tanya Alessa tak mengerti.
"Iya pindah, jadi sekretaris Pak Presdir. Asisten gitu katanya,"
"Apa?" Alessa semakin tak mengerti, "Gak mungkin! Mbak Lani masih kerja kok, tadi aku papasan di koridor."
"Jelas-jelas kemarin surat pindahan kamu udah sampek disini."
"Tapi aku enggak merasa dipindahkan Mbak. Mbak Ayu salah denger kali, atau mungkin namanya sama tapi beda divisi?"
Rahayu menggeleng, "Ndak mungkin salah. Namanya benar nama kamu kok, Mbak. Namanya Alessa di instalasi rawat inap, sedangkan di divisi ini nama Alessa cuma sampean aja, Mbak."
Alessa semakin bingung, "Duh, aku tambah bingung. Aku enggak merasa dipindahkan dari instalasi ini, jadi aku masih disini Mbak. Udah ah Mbak, Alessa mau masuk dulu. Siap-siap."
Rahayu ikut bingung dengan apa yang terjadi, jelas-jelas kemarin ia sendiri yang membaca dan mendapat surat tersebut. Tapi, jika Alessa tidak diberitahu mengenai kepindahannya. Mungkin saja, surat yang ia terima kemarin salah.
"Jadi ikutan bingung, kan." Menggeleng, Rahayu kembali bersiap untuk memulai pekerjaannya.
Hingga menjelang siang, ruang instalasi rawat inap masih saja ramai. Banyak keluarga pasien yang menunggu di luar mengantri obat dan juga resep dari dokter jaga. Semua staf yang bertugas mengerjakan resep kewalahan, resep berdatangan tanpa jeda.
Rahayu, Alessa, dan Gani yang hari ini bertugas benar-benar merasa lelah. Padahal jam dinding belum menunjukkan waktu istirahat. Pasien sakit hari ini benar-benar membludak.
"Gue laper," Gani bercelutuk setelah pria itu mengerjakan resep racikan di ruang khusus.
Sementara Rahayu dan Alessa bertugas mengambil obat dalam resep non racikan dan langsung memberikannya pada Apoteker untuk diberi aturan pakai pada obat. Untuk semua resep racikan, Gani yang yang mengerjakan. Tentu saja resep racikan akan lebih rumit dalam penyiapan obat karena melalui beberapa proses dan hitungan jumlah bahan beberapa bahan obat.
"Makan di kantin aja, kalo di luar kayaknya enggak keburu deh." Kata Alessa ikut meracik obat dalam resep yang telah ia terima.
Alessa duduk di samping Gani, pria itu nampak sangat kelelahan. Tak hanya Gani, namun semua staf pagi ini merasakan hal yang sama. Resep yang membludak sementara jam istirahat yang sudah berjalan sepuluh menit lalu, membuat mereka masih terjebak di instalasi rawat inap.
"Terserah, yang penting makan."
Alessa melirik Gani, meski mengeluh lapar, pria itu masih cekatan dalam memasukkan serbuk obat ke dalam kertas puyer. Membaginya dengan rata dan membungkusnya tapi.
"Mbak Ale! Mau titip makan siang gak?" Suara Rahayu menghampiri keduanya di ruang meracik obat terdengar kencang.
"Gue mau dong, Ay!"
Rahayu menatap sinis pada Gani, "Dih! Aku gak nawarin Mas Gani ya!"
"Ya Allah, Ay. Gue laper tau, pengen makan. Tapi nih kerjaan gak beres-beres. Gak kasihan Lo sama gue?"
Rahayu mengendikkan bahunya acuh, "Bukan urusan aku sih."
Gani mencebik kesal, "Nih bocil satu suka banget bikin emosi."
Alessa menggeleng pelan mendengar pertengkaran antara Gani dan Rahayu. Keduanya memang selalu terlibat pertengkaran, tak pernah akur sama sekali. Seperti kucing dan tikus, sebentar bikin masalah, sebentar lagi baikan.
"Beliin aja, Mbak. Kasihan, anak orang, jomblo lagi. Gak ada yg perhatian selain kita." Celutuk Alessa.
"Lo kalo ngomong sadis amat."
"Kenyataan!" Rahayu menjawab dengan nada ketus.
"Ini bocil ngapain ikutah deh," Heran Gani.
"Apaan? Mas Gani aja yang ikutan aku!"
"Pede banget! Kurang kerjaan ngikutin Lo!"
"Tuh buktinya, ngikutin omongan aku dari tadi!" Rahayu protes tak terima.
"Terus Lo suruh gue ngomong pake bahasa Inggris gitu?"
"Aku gak nyuruh tuh!"
"Nih bocil ngeselin amat jadi bocil!" Kata Gani kesal.
Alessa tertawa mendengar obrolan Gani dan Rahayu yang menggelitik. Benar bukan? Keduanya sama-sama tak bisa akur, tapi nanti kalo gak ada salah satu, pada nyariin.
"Udah, udah... Ini kenapa pada ribut sih?" Alessa menahan tawanya yang nyaris meledak.
Menatap Rahayu yang merengut kesal karena Gani, "Mbak, aku nitip makanan ya? Sekalian sama Gani."
"Yes! Tuh dengerin!"
Raut muka Rahayu semakin keruh, "Ngapain sama Mas Gani sih, Mbak. Biarin aja beli sendiri!"
Tak urung gadis itu pun menyodorkan tangannya ke arah Gani, bermaksud meminta uang. Gani dengan sombongnya mengeluarkan uang lima puluh ribuan, memberikan pada Rahayu.
"Tuh! Sekalian bayarin punya Ale!"
"Aku?" Tanya Rahayu menunjuk dirinya sendiri.
"Bayar sendiri!"
"Mas Gani pilih kasih!"
"Emang gue lebih memilih berkasih sama Ale? Kenapa? Cemburu Lo?"
"GAK!" Sewot Rahayu merampas uang dari Gani dan melenggang pergi.
Alessa menatap Gani dengan tatapan jijik, "Ewhhhh! Berkasih? Geli banget tau gak sih, Gan!"
Gani mengabaikan protes Alessa, pria itu hanya tertawa puas. Alessa menatap aneh kelakuan temannya yang satu ini. Bisa jadi semua karena faktor instalasi yang di d******i dengan staf perempuan, sementara Gani yang merasa paling ganteng diantara yang cantik merasa sangat kepedean.
"Makin lama, makin aneh aja kamu, Gan. Efek jomblo?" Tanya Alessa membantu Gani membungkus puyer dan memasukkannya ke dalam plastik klip.
"Bisa jadi sih, gue suka sama,--"
"Mbak Alessa?" Sela seseorang diantara keduanya.
Alessa menoleh, "Iya Mbak? Ada apa?" Ternyata salah satu Apoteker yang memanggilnya.
"Di tunggu Pak Presdir di ruangannya. Segera ya!"
Gani menatap bingung sahabatnya, "Lo ada urusan apa sampek di suruh ke ruangan Pak Frans?"
Alessa membalas dengan tatapan yang sama, "Aku aja enggak tau,"
Alessa menyelesaikan bungkus puyer terakhirnya, "Ya udah, aku ke sana dulu ya Gan. Sorry gak bisa bantuin."
"Eh, nanti makanan Lo gimana?"
"Simpen aja, ntar aku langsung balik kok kalo urusannya udah selese."
"Oke!" Kata Gani mengacungkan jempol tangannya.
"Kalo Lo gak balik kayak kemaren, awas tuh makanan Lo udah masuk ke perut gue!" teriak Gani dari kejauhan.
***
Sejak keluar dari instalasi, Alessa dipenuhi oleh rasa penasaran. Kenapa Kak Ken memanggilnya? Apa ini mengenai laporan bulanan yang ia kerjakan? Tapi setahu Alessa, masalah mengenai laporan pun sudah beres. Jadi tidak mungkin, tapi apa?
Keluar dari lift, Alessa tak melihat Mbak Lani yang biasanya berjaga di balik meja kerjanya. Mengerutkan kening bingung, jika Mbak Lani tidak ada bukannya Kak Ken juga tidak ada?
Mencoba mengetuk pintu, Alessa memberanikan diri untuk berkata di depan ruangan Presdir. "Permisi, Pak."
"Masuk."
"Loh? Kak Ken di dalam? Kok Mbak Lani gak ada di mejanya?" Alessa bertanya dalam kebingungan.
Menggelengkan kepala, Alessa memasuki ruangan Pak Presdir dengan sopan. "Bapak memanggil saya?"
"Iya, duduk dulu."
Alessa menurut, ia duduk di sofa yang berada di dalam ruangan tersebut. Menunggu Kak Ken yang sedang fokus dengan laptopnya. Tampak sangat kentara jika Kak Ken lelah, kerutan di keningnya menambah kesan tua di wajahnya yang tampan. Kantung mata yang mengitam menghias bawah kelopak matanya. Bisa Alessa katakan penampilan Kak Ken jauh lebih berantakan dari terakhir ia temui.
Pandangannya mengedar, ruangan Kak Ken masih sama. Tak ada tambahan barang yang berarti disini. Hanya perabotan yang dibutuhkan tanpa hiasan agar lebih cantik dan fresh.
"Alessa Divanka Gunawan," Alessa menoleh ketika Kak Ken memanggilnya dengan nama lengkapnya.
Ada perasaan aneh yang membuat jiwanya bergetar, dan Alessa tidak bisa menjelaskan perasaan itu. Tatapannya fokus pada Kak Ken yang datang menghampiri. Berjalan pelan penuh wibawa dan aura kepemimpinan yang mampu membuat Alessa bungkam.
Bahkan Alessa tak menyadari jarak antara ia dan Kak Ken semakin dekat. Pria itu mengikis jarak yang menjadi penghalang antara dirinya dan Alessa.
Gadis berkerudung biru muda dengan baju batik khas rumah sakit Santa Claria, sama persis dengan baju yang Frans kenakan. Alessa tampak cantik meski siang yang panas membuat gadis itu berkeringat.
Bagaimana dulu Frans tidak menyadari adanya sosok cantik Alessa yang mendukungnya dirinya dari belakang. Namun sayangnya, karena salah paham semuanya menjadi rumit seperti sekarang.
Andai saja, Frans menyadari sosok Alessa yang mengaguminya dari jauh. Tentu Frans akan menemukan Alessa dan bahkan hubungan keduanya akan berlanjut dalam sebuah ikatan pernikahan. Atau justru telah memiliki anak? Entah apa yang yabg Frans pikirkan sekarang, mengapa pikirannya fokus pada gadis yang menatapnya tanpa kedip ini?
"Itu nama panjang mu, bukan?" Tanya Frans kembali menguasai kendali tubuhnya.
Alessa mengerjapkan matanya yang sempat terpaku pada sosok Kak Ken, "Iy,--iya, Pak. Itu nama saya,"
Frans mengangguk, kemudian ia menyodorkan berkas ke arah Alessa. "Baca dulu,"
Alessa menerima berkas yang di sodorkan oleh Frans. Ia membacanya penuh teliti dan hati-hati, takut melewati sesuatu yang penting. Semakin lama, Alessa membulatkan matanya membaca berkas tersebut.
"Pak? Ini maksudnya apa?"
"Mulai hari ini, kamu, saya pindahkan jadi sekretaris saya."
"Apa?!"
***