Menjadi sekretaris pengganti Pak Presdir di luar prediksi Alessa. Ia tidak menyangka semuanya berjalan begitu cepat tanpa ia sadar. Niatnya ingin menghindari justru dipertemukan setiap hari. Masalah rumah sakit kembali mengusik membuat Alessa harus bersiaga dua puluh empat jam.
Sudah beberapa hari semenjak Alessa menjadi sekretaris pribadi menggantikan Mbak Lani. Ia menikmati pekerjaannya, salah satu cara Alessa agar tak dilanda kepanikan. Menjadi seorang sekretaris memang bukan hal yang mudah, Alessa dituntut untuk cekatan dan cepat.
Bahkan, beberapa kali ia terkena semprot oleh Pak Frans karena terlambat menyiapkan jadwal meeting bersama klien. Maklum saja, Alessa baru pertama kali bekerja menjadi sekretaris dadakan.
"Hari ini kita ada meeting dengan calon investor. Berikan hasil presentasi sebaik dan semenarik mungkin. Jangan seperti kemarin."
"Baik, Pak."
"Sudah siap?"
"Sudah Pak, semua berkas sudah saya siapkan untuk presentasi hari ini."
"Bagus, saya mengandalkan kamu, Alessa."
"Saya akan berusaha sebaik mungkin, Pak."
Alessa mengambil berkas, kemudian menyusul Pak Frans yang sudah berada di depan lift. Sama seperti sebelumnya, Alessa dan Pak Frans kini sibuk mencari investor untuk rumah sakit Santa Claria.
Masalah yang menimpa, ditengah puncak kejayaan rumah sakit Santa Claria sungguh diluar prediksi. Membuat rumah sakit kehilangan beberapa investor dan pasien.
Baru saja Alessa merasakan betapa ribetnya telat makan siang, lempar resep ke rekan lain karena sulit pengerjaan. Dan sekarang, keadaan seratus delapan puluh derajat terbalik. Koridor yang selalu ramai oleh keluarga pasien, kini tampak sepi. Hanya beberapa pegawai rumah sakit yang memenuhi rumah sakit..
"Pak," panggil Alessa ketika keduanya memasuki lift.
Frans diam tanpa membalas panggilan Alessa, pandangan pria itu ke depan. Namun telinganya siaga mendengar apa yang akan disampaikan Alessa.
"Mbak Lani masih belum bisa balik ke sini ya, Pak?"
Frans berbalik, menatap Alessa yang berada di belakangnya. "Lani masih berusaha mengusut kasus ini bersama Pak Wayan. Sebelum kasus ini mereda, kamu yang menggantikan tugas Lani sebagai sekretaris saya."
Frans menelisik perempuan itu dengan mata tajamnya, "Ada apa? Keberatan?"
Alessa mendongak, ia menggeleng, "Enggak kok Pak, saya tidak keberatan."
Alessa menghembuskan napas kasar, "Capek." Keluhnya setelah Frans pergi.
Tak urung ia ikut keluar, menyusul Kak Ken-nya yang berjalan cepat. Seolah Alessa mampu mengimbanginya, padahal kan kaki Alessa pendek, berbeda dengan Frans yang memiliki kaki panjang.
"Kak Ken masih sama ya, sama-sama suka ninggalin pas jalan bareng."
"Bisa kan lebih pelan dikit, nungguin gue gitu..."
Alessa mendumel sembari menatap punggung Frans di hadapannya. Pria itu semakin gagah dengan setelah formalnya seperti ini. Berjalan penuh wibawa meski kondisi tubuhnya sedang tidak fit. Karena menjadi sekretaris Frans, membuat Alessa tau kegiatan pria itu setiap harinya.
"Semoga masalah ini cepet kelar, kangen balik ke instalasi lagi."
Alessa berharap agar masalah yang saat ini menimpa rumah sakit Santa Claria segera terselesaikan dengan baik. Masih di usut siapa dalang yang menyebabkan anjloknya citra rumah sakit hingga nyaris mengalami kerugian karena pengeluaran yang membengkak.
***
"Saya lega sekali kita bisa mendapatkan investor baru untuk rumah sakit."
Frans menyandarkan tubuhnya ke sandaran jok belakang, bernapas lega karena rapat hari ini berjalan lancar juga memuaskan. Nyaris saja, mereka kehilangan Pak Bowo-investor yang akan membantu rumah sakit Santa Claria bangkit kembali.
Kerugian yang lumayan banyak, membuat Frans kelimpungan mencari investor baru. Karena investor lama menarik saham mereka di rumah sakit Santa Claria sebab, adanya musuh dalam selimut yang hingga kini masih belum mereka ketahui siapa dalang dibalik kekacauan rumah sakit.
"Hari ini kita ada meeting jam berapa?" Tanya Frans.
Alessa yang duduk di depan, bersebelahan sopir membuka buku catatannya. "Tidak ada Pak, hari ini hanya meeting dengan Pak Bowo saja."
"Jika begitu langsung kembali ke rumah sakit, siang ini ada pemeriksaan untuk pasien jantung."
"Tanyakan kepada Dokter Miftah, apakah sudah bisa kembali bekerja atau belum." Perintah Frans lagi.
"Baik Pak,"
Selain mengurus masalah rumah sakit, Frans juga masih menjadi Dokter spesialis jantung menggantikan Dokter Miftah-Dokter spesialis jantung sebelumnya yang mengambil cuti. Belum ada pengganti Dokter spesialis jantung, sehingga membuat Frans harus melaksanakan dua pekerjaan dalam satu waktu.
Hal ini membuat keadaan rumah sakit semakin memburuk dengan sistem yang berantakan. Alessa pun ikut terkena imbasnya, dirinya ikut merasakan pusingnya mengatur jadwal Frans menjadi Presdir dan Dokter.
Perjalanan empat puluh menit mereka tempuh dengan menggunakan mobil dinas rumah sakit. Begitu mobil masuk basement dan terparkir rapi. Frans langsung melenggang keluar menuju lift yang akan membawanya ke lantai satu rumah sakit.
"Di tinggalin lagi," lirih Alessa keluar dari mobil.
"Sabar ya Mbak Alessa, si Bapak emang begitu orangnya." Celutuk Pak Banu yang mendengar suara Alessa. Pak Banu adalah satu sopir ambulans yang juga menjadi sopir mobil dinas ketika ada perjalanan meeting keluar kota.
"Iya Pak," Alessa menjawab serta tertawa kikuk.
Lantas Alessa menyusul Frans, membiarkan Pak Banu mengurus mobil dinas rumah sakit. Dalam hati Alessa terus saja menggerutu, bawaan ketika bertemu Pak Presdir.
Alessa berhenti di depan pintu lift lantai dua, ketika mendengar notifikasi ponselnya. Di bacanya pesan yang berisi, Dokter Miftah sudah bisa kembali bekerja bulan depan. Itu artinya Frans masih akan merangkap dua profesi dalam satu Minggu ke depan.
Baiklah, Alessa harus tahan banting. Setidaknya sampai bulan depan. Dan pekerjaan Alessa akan berkurang, begitu pula dengan Pak Presdir.
Setelah membalas pesan yang ia terima, Alessa melanjutkan langkahnya menuju ruangan Presdir. Melihat pintu terbuka, Alessa akan mengetuk pintu sebelum suara nyaring mengagetkannya.
Plak!
Sontak Alessa berdiri kaku di tempatnya. Ia tak berani masuk, karena suara tamparan yang begitu ngilu terdengar di telinganya. Di susul suara teriakan amarah dari seorang wanita yang berada di dalam ruangan Presdir.
"KETERLALUAN!"
"Kamu mau bikin rumah sakit keluarga kita bangkrut, Frans?! Hah?!"
"JAWAB MAMA!"
"Jangan diem kayak orang bisu!"
Mama Claria tak mampu menopang berat tubuhnya sendiri hingga jatuh ke sofa. Beliau menangis tersedu-sedu di dalam ruangan Presdir.
"Kenapa rumah sakit keluarga kita bisa tersandung masalah seserius ini, Frans? Para investor menarik saham di Santa Claria karena mereka mendapat berita yang buruk!"
"Pelayanan tidak memuaskan, obat generik mahal, Dokter jaga yang angkuh, dan penggelapan dana bantuan sosial?!" Mama Claria menatap Frans tak percaya.
"Apa yang sebenarnya terjadi, Frans? Kenapa bisa seperti ini?!"
"Kamu yang bilang sama Mama sendiri, kalau kamu mengusut kasus penggelapan dana untuk penerimaan obat! Tapi kenapa masalahnya bisa sebesar ini?!"
"Ma, Mama tenang dulu. Frans ambilkan minum dulu ya,"
Frans menyodorkan segelas air mineral untuk Mama Claria yang masih menangis. Napasnya tersengal-sengal karena meluapkan emosi mengenai rumah sakit yang tadi pagi baru ia dengar.
Mama Claria menerima segelas air mineral dari putranya. Wanita paruh baya itu meminum untuk menenangkan emosi yang masih bergejolak. Hatinya terasa hancur mendengar rumah sakit yang ia perjuangkan kini nyaris diambang kebangkrutan.
"Mama tenang dulu, Ma." Frans duduk di samping Mamanya.
"Frans masih mengusahakan yang terbaik untuk rumah sakit ini, Frans tidak akan membiarkan mereka menghancurkan rumah sakit yang Mama dan Papa bangun susah payah. Frans akan berusaha sekuat mungkin untuk mengembalikan semuanya seperti semula."
"Mama tidak mau rumah sakit ini kembali hancur Frans, Mama tidak mau." Frans memeluk Mamanya dengan perasaan pilu.
"Untuk sekarang Frans meminta Pak Wayan dan Lani mengatasi masalah eksternal rumah sakit. Andre juga masih menyelidiki dalang dari kasus yang menimpa Santa Claria, dan Frans mencari investor baru untuk membantu kita, Ma. Mama tenang dulu ya, Mama doakan Frans agar semuanya kembali membaik."
"Mama doakan Frans, Mama mendoakan yang terbaik." Pelukan Mama Claria semakin erat memeluk putranya.
Frans membalas pelukan Mamanya. Menemani Mamanya yang masih emosi karena masalah rumah sakit kembali menyerang.
Alessa yang berdiri terpaku di depan pintu, tak berani masuk. Ia tak sengaja mengintip dari sela pintu yang memperlihatkan ibu dan anak yang melepaskan emosi. Tak ingin mengganggu karena kehadirannya, Alessa memilih berbalik dengan berjalan pelan menjauhi ruangan Presdir.
***
"Mbak Alessa!"
Suara nyaring Rahayu menyambut ketika Alessa memasuki unit Instalasi rawat inap. Tampak semua staf terkejut karena kedatangan Alessa yang tak pernah mereka duga.
"Mbak Alessa! Kangen!" Rahayu langsung memeluk tubuh Alessa erat.
Alessa membalas pelukan Rahayu, Gani pun tak kalah terkejutnya melihat kedatangan Alessa setelah beberapa hari menjadi sekretaris Pak Presdir.
"Balik Lo? Kangen sama kita?"
Alessa melepaskan pelukan Rahayu ketika mendengar pertanyaan penuh keheranan Gani untuknya. Alessa tertawa sejenak. "Iya nih, aku kangen banget sama suasana di instalasi."
"Yaudah Mbak, Mbak Alessa balik ke sini aja. Ternyata kangen juga kalo gak ada Mbak Alessa."
"Iya, kenapa Alessa? Ada masalah?" Tanya salah satu Apoteker yang bertugas disana.
"Enggak kok Bu, gak ada apa-apa. Mumpung kerjaan udah beres, Alessa mampir sebentar."
Apoteker paruh baya itu mengangguk paham, tak ingin membuka obrolan lebih lanjut. Ia memilih menyelesaikannya pekerjaannya menulis etiket obat.
"Refa ngambil cuti, gak ada kabar."
"Eh, Lo juga pindah jadi sekretarisnya Pak Frans. Ada apa sih, Le?"
Gani sangat kepo dengan status Alessa yang tiba-tiba saja di pindah menjadi sekretaris Presdir. Juga kondisi rumah sakit yang beberapa hari lalu, ramai. Kini, justru sepi. Hanya ada beberapa pasien yang masih menginap yang berada di rumah sakit ini, selain itu, mereka memilih rumah sakit lain.
"Ada masalah, intinya semua petinggi lagi berusaha buat nyelesein masalah ini."
"Trus kok Lo bisa jadi sekretarisnya Pak Frans? Mendadak lagi?" Tanya Gani penuh selidik, "Jangan-jangan Lo,--"
"Hust! Kalo ngomong jangan aneh-aneh deh, Gan!"
"Bener nih, Mas Gani. Takutnya ada orang yang salah paham." Timpal Rahayu.
"Ya kan aneh aja gitu, masa iya anak instalasi jadi sekretaris Presdir? Masuk akal gak sih?" Gani masih menatap Alessa tak percaya.
"Mungkin karena gue pernah sekali ikut rapat. Itu pun terdesak karena Mbak Lani ada urusan di luar sama Pak Wayan, dan rapat berjalan lancar. Justru menang tender. Bisa aja karena itu, padahal cuma sekali sih."
"Gak logis banget alasan Lo!" Gani masih tetap tidak menerima.
"Kok Mas Gani sewot sih?" Rahayu membela Alessa, "Lagian kenapa sih? Mbak Alessa jadi sekretarisnya Pak Frans? Toh juga cuma sementara kan? Sampek semuanya kembali normal, iya kan Mbak?"
Alessa mengangguk, "Iya Mbak Rahayu bener, aku jadi sekertaris Presdir juga sementara kok Gan. Kalo masalah ini udah selesai dan Mbak Lani balik lagi, aku juga kembali lagi ke instalasi."
Perlahan ekspresi Gani mengendur, tak sekeras tadi. "Okay, semoga aja. Masalah apapun yang menimpa rumah sakit Santa Claria cepet membaik. Dan Lo bisa kumpul lagi sama kita di sini, sama Refa juga."
Alessa mengangguk, "Doain yang baik ya."
"Pasti dong Mbak, rasanya di sini kita udah jadi keluarga." Kata Rahayu dengan senyuman.
"Resepnya banyak gak? Mau aku bantuin?" Tanya Alessa antusias. "Kangen bikin resep racikan."
"Tuh!" Gani menunjukkan ruang racik obat dengan dagunya, "Bantuin gue."
Alessa mengangkat tangannya tanda hormat, "Siap bos!"
"Rahayu ikut, Mbak! Sekalian cerita-cerita ih!"
"Boleh!"
"Hadeh! Nih bocil ikut segala!"
Rahayu melempar tatapan sinis, "Wle!"
"Ngledek lagi! Dasar bocil!"
***