Kaki jenjang berbalut high heels merah menyala menapaki lantai. Suara yang di hasilkan dari high heelsnya berbunyi nyaring menggema saat dirinya memasuki ruangan. Bibirnya yang terpoles lipstik merah maroon tersenyum menggoda melihat sesosok pria yang sedang menikmati cerutunya.
"Hai, sayang."
Tanpa basa basi, ia memeluk pria tersebut. Menyenderkan kepalanya di pundak pria yang kini merespon kehadirannya. Mengelus punggungnya yang terbalut dress cantik berwarna merah.
"Hm... Kau benar-benar datang?" Pria itu mematikan cerutunya di asbak.
Tangannya besar dan berotot memeluk perempuan yang bergelayut manja di tubuhnya. "Kau sungguh merindukan ku?" Tanyanya.
Perempuan itu melepaskan gelayutan manja, menatap kesal pada pria yang sangat ia rindukan. "Bagaimana bisa kau mengatakan sesuatu yang menyakiti hati ku?!"
Melangkah menuju sofa dengan raut kesal, ia mendudukkan bokongnya kasar. "Kau keterlaluan!"
"Aku jauh-jauh datang ke Indonesia karena permintaan mu! Bahkan aku membatalkan kerja sama dengan beberapa perusahaan majalah dan pemilik butik!"
"Apa aku membuat mu rugi?"
"Kau sudah tau jawabannya Rino! Jangan menggoda ku!"
Pria bernama Rino itu tergelak pelan, "Maafkan aku Raras, aku hanya khawatir kau masih memikirkan pria mantan pacar mu itu."
Rino memeluk Raras dari samping, ikut menyandarkan kepalanya dalam pelukan perempuan yang tengah merajuk itu. "Aku juga merindukan mu, Sayang. Maaf, aku sedikit cemburu."
Raras--perempuan itu menghentikan aksi merajuknya, pada akhirnya ia luluh karena sikap Rino. Raras tak bisa mengabaikan tingkah manja Rino, padahal baru beberapa hari yang lalu Rino mendatanginya di Belanda.
"Aku hanya mencintai mu," balas Raras menangkap kedua pipi Rino. Menatap pria yang juga membalas tatapannya.
"Mana mungkin aku masih memikirkannya?" Tanya Raras kesal. "Justru aku memikirkan cara terbaik membalas dendam untuk saudara mu itu!"
"Jangan terlalu kejam, Sayang. Kau tak kasihan padanya?"
Raras memutar bola matanya kesal, "Dia sudah memutuskan hubungannya dengan ku dengan cara yang memalukan! Aku tidak terima, Rino! Aku ingin membalas perlakuannya pada ku!"
"Sudah cukup kau membuatnya kewalahan, Sayang. Ingat, aku bekerja untuknya. Kau ingin membuat ku menjadi pria pengangguran?" Rino bertanya dengan nada santai.
Raras menatap kekasihnya tak suka, "Kau bisa menjadi manager ku. Aku tidak keberatan." Ujar Raras dengan kerlipan mata menggoda.
Rino tertawa jenaka, "Ayolah Raras... Kekasih mu ini seorang Dokter, kau tau itu bukan?"
Raras cemberut kesal, memilih tak menanggapi Rino ia mengeluarkan ponselnya. Menghiraukan keberadaan Rino yang berada di sampingnya. Saat asyik membalas komentar dari para penggemarnya, Raras mengernyitkan keningnya heran.
"Kau masih bekerja di Santa Claria? Kenapa tidak keluar saja dari sana?"
Rino melirik Raras yang masih bermain ponsel, menghela napas panjang. Pria itu mendekatkan posisi duduknya dengan Raras, menyenderkan kepalanya di bahu seksi Raras yang kecil. Ikut melihat aktivitas Raras yang membalas komentar dari fansnya.
"Mereka memuji kekasih ku." Kata Rino.
"Hm..."
"Aku merasa cemburu,"
Seutas senyuman terpatri di sudut bibir Raras, mematikan ponselnya. Raras menangkup wajah kekasihnya yang tampak lelah. Cekungan di bawah matanya yang menghitam sudah cukup menjelaskan keadaan kekasihnya saat ini.
Raras mengelus rambut Rino penuh sayang, "Dari awal aku sudah mengatakan jika aku seorang model. Dan kau masih saja mendekati ku,"
Rino membuka matanya begitu Raras selesai berbicara, ia masih menikmati elusan dari tangan Raras menyentuh kepalanya. "Karena aku mencintaimu."
Raras tertawa pelan, "Kau bisa saja membuat ku tersipu."
"Karena aku ingin melihat pipi mu yang memerah malu."
"Baiklah Sayang, sekarang mari kita serius." Raras membantu Rino menegakkan punggungnya ke sandaran sofa.
"Dari awal aku memang sudah serius sama kamu, Raras."
"Kali ini rayuan mu tidak berguna, Rino. Jangan mengalihkan pembicaraan."
Rino pasrah, "Baiklah, baiklah... Aku menyerah,"
Raras tersenyum puas, ia selalu suka pujian yang Rino berikan padanya. Namun, karena pujian Rino yang manis, Raras selalu lupa amarah yang ingin ia luapkan. Perasaannya terlalu lemah, hingga terkadang membuat Raras terjebak dalam rayuan manis Rino padanya.
"Keluar dari Santa Claria dan bekerja lah di rumah sakit lain jika tak ingin menjadi manager ku." Raras berkata dengan tatapan serius.
Rino menatap tidak setuju, berulang kali Raras membahas masalah yang sama. Rino sudah terlalu bosan mendengarnya. Rino tau, betapa dendamnya Raras kepada saudaranya. Tetapi, membalas dengan perbuatan hingga Santa Claria nyaris bangkrut pun tak bisa Rino benarkan.
"Kita sudah membahasnya Raras, harus kah kita kembali berdebat karena masalah ini?"
"Karena aku tidak ingin karir mu hancur karena ku, Rino."
"Jika begitu, maka berhentilah." Rino berkata dengan membalas tatapan serius Raras.
"Masalah ini tidak akan pernah selesai jika kau selalu mengungkit dendam masa lalu. Lupakan Raras, lupakan Frans dan mulai hidup bersama ku."
Rino menggenggam tangan Raras penuh kasih sayang, tatapannya penuh harapan kebahagiaan. Ia benar-benar mencintai Raras meski perempuan itu terobsesi dengan balas dendamnya.
"Sudah semua ini Raras, dan menikah lah dengan ku."
Raras menatap dalam diam, menyelami tatapan Rino padanya. Perlahan, Raras melepas genggaman tangan Rino yang selembut sutra. Raras tau Rino adalah pria baik, sayangnya dalam hatinya masih terselimuti dendam yang belum terpuaskan.
"Maaf Rino, aku tidak bisa."
Raras segera beranjak pergi, meninggalkan Rino yang mematung dalam diam. Perasaan sesak itu pasti ada, namun Rino tak akan menyerah. Raras baru menolaknya dua kali, dan Rino masih memiliki ribuan kesempatan untuk kembali memperjuangkan cintanya. Mengembalikan sifat baik Raras yang nyaris hilang karena dendam.
***
"Lo yakin?"
Andre menatap Frans malas, "Lo pikir gue main-main sejak tadi?"
Frans menatap tidak percaya apa yang Andre berikan padanya. Rasanya semua ini terasa begitu menyesakkan, ingin sekali Frans mencabik-cabik wajah cantik Raras yang menjadi andalan perempuan itu. Geram melihat tingkah Raras yang kekanakan seperti ini, perempuan itu tidak tau caranya membalas dendam dengan elegan.
Tidak memikirkan bagaimana nasib pegawai yang bekerja di rumah sakit Santa Claria. Tentu juga akan mempengaruhi seluruh pegawai secara tidak langsung karena ulah mantan pacar Frans.
"Seharusnya ini jadi salah Lo, siapa yang nyuruh cari pacar seorang model?! Sudah begitu, Lo putuskan hubungan di acara peresmian perempuan itu?! Bagaimana perempuan itu tidak balas dendam?! Sudah jelas jawabannya akan membalas perlakuan mantan pacar yang buruk padanya!"
Andre meluapkan emosinya pada Frans, berhari-hari energinya terkuras hanya karena masalah percintaan Frans yang belum mereda. Berawal dari sebuah hubungan asmara yang berakhir buruk. Ingin rasanya Andre menjeglukkan wajah tampan Frans agar pria itu memiliki sedikit wajah jelek.
"Gue gak tau akan seperti ini, jangan salahin gue." Bela Frans.
"Gue nguras energi, karena imbas dari hubungan asmara Lo! Benar-benar menjengkelkan!"
Frans memutar bola matanya kesal, "Jika itu menjengkelkan, urusi hingga selesai! Penjarakan saja perempuan itu!"
"Hei! Tidak semudah itu! Mantan pacar mu itu seorang model, tentu akan berimbas dengan karirnya!"
"Gue peduli?" Tanya Frans acuh, "Jelas aja enggak! Dia juga ngerusak reputasi gue!"
"Kalian berdua tuh sama-sama keras kepala." Komentar Andre meminum air mineralnya.
Alessa yang sejak tadi mendengar perdebatan antara Andre dan Frans, diam tak banyak komentar. Dalam sudut hatinya yang dalam, Alessa sedikit merasa tidak suka mendengar Frans memiliki pacar meski sudah putus. Dirinya merasa tidak terima, ada sesuatu yang menyakitkan yang tak bisa Alessa ungkapkan.
Sesuatu yang sulit Alessa jelaskan, apa keinginan dari hatinya yang terdalam. Alessa sadari, ia tak ada hak untuk memiliki perasaan tidak suka ketika Frans pernah memiliki pacar. Kembali pada realitanya, Alessa bukan seseorang yang spesial di hidup Frans.
"Pak Andre mau Alessa bikinin teh herbal?" Tawar Alessa ramah.
Pak Andre menggeleng, "Terima kasih Alessa. Air mineral saja cukup." Ucapnya menunjukkan sebotol air mineral yang sudah tandas.
Alessa mengangguk paham, kemudian gadis itu bermain ponsel dengan nyaman meski hatinya gelisah dan matanya tak tentu arah. Mendengar percakapan antara Frans dan Andre yang masih saja membahas mantan dari Kak Ken-nya.
"Gue masih cari tau, si mantan Lo punya hubungan apa sama sodara Lo. Gue curiga kalo sodara Lo juga terlibat sama mantan Lo buat bikin masalah gak guna kayak gini."
Frans menggeser laptopnya, menyingkirkan barang elektronik yang dirasa mengganggu pembicaraan mereka. "Gue yakin Rino ikut terlibat. Gak mungkin rumah sakit sekacau ini tanpa bantuan orang dalam. Bisa saja Rino musuh dalam selimut!"
Andre masih merasa kurang yakin dengan pendapat Frans, karena menurutnya kekacauan di dalam rumah sakit Santa Claria sudah terjadi jauh sebelum Frans memutuskan hubungan dengan Raras yang menyebabkan Raras balas dendam kepada Frans.
"Jangan menyimpulkan secara sepihak, kita perlu bukti lebih akurat lagi buat buktiin semua opini kita soal Rino yang terlibat atau enggak. Setidaknya, kasus ini harus berhasil menemukan titik terang dan pelaku yang sesungguhnya."
"Saya setuju sama Pak Andre. Dari pada menyimpulkan pendapat secara sepihak yang menggiring opini buruk, lebih baik mencari bukti dan mendakwa pelaku di pengadilan. Cara itu akan sangat membantu reputasi Santa Claria ke depan."
"Great!" Andre bertepuk tangan, ia memandang Alessa dengan pandangan antusias, "Saran kamu sangat luar biasa Alessa!"
Alessa menampilkan senyum manis mendengar pujian Pak Andre yang ala kadarnya. Perasaan di hargai dan di dengarkan melambung tinggi hingga Alessa tak ragu mengulas senyum menawan. "Sekedar saran saja, Pak."
"Tapi saran mu cukup bagus Alessa, kita bisa menangkap pelaku sekaligus mengembalikan citra rumah sakit Santa Claria."
Frans memutar bola matanya malas, "Berlebihan." Komentarnya sarkas.
Alessa yang tadinya tersenyum, kini mengendurkan sudut bibirnya. Hatinya terasa di cubit oleh perkataan Frans yang membuatnya merasa tak di hargai. Alessa pikir hubungan keduanya telah membaik setelah apa yang ia lakukan, nyatanya Frans masih sama. Sulit untuk membuat pria itu melihat dirinya, mengatakan jika ada Alessa yang dulu pernah mengaguminya dalam diam.
"Maaf Pak."
"Ck!" Andre berdecak tak suka, "Lo apa-apaan sih Frans?! Hargai usaha Alessa sedikit kan bisa? Kenapa harus Lo sewotin?"
"Terserah!" Frans bangkit dari sofa, pria itu melangkah acuh ke kamar. Meninggalkan Alessa dan Andre yang menatap punggung Frans dengan pandangan yang berbeda.
Alessa dengan pandangan sayu karena sikap Frans yang membuat hatinya sakit, dan Andre yang memandang Frans dengan tatapan kesal karena tingkah semena-mena Frans.
"Gapapa Pak, kalau begitu saya pamit."
Andre menoleh mendengar Alessa akan pamit, ia melihat jam dinding yang menunjukkan pukul sebelas malam. Rasanya Andre pun tak akan tega membiarkan Alessa pulang sendirian. Apalagi seorang diri, menaiki angkutan umum yang masih ada atau tidak.
"Saya antar."
Alessa menolak, "Enggak Pak, saya bisa pulang sendiri kok."
"Ini sudah malam, saya tidak setega itu membiarkan kamu pulang sendirian."
"Tapi, Pak saya,--"
"Tunggu saya di lobby." Potong Andre.
Mau tak mau, Alessa mengikuti perintah Andre, mengambil tasnya dan keluar dari apartemen Frans. Menunggu Pak Andre di lobby, selagi pria itu membereskan urusannya dengan Frans.
***