Nyala lampu telah padam beberapa saat yang lalu, gelap menyelimuti seluruh ruangan yang ada di apartemennya. Tersisa temaram lampu tidur yang menyorot dari dalam kamarnya. Frans membiarkan pintu kamarnya terbuka setelah kepergian Andre.
Tanpa Frans duga, reaksi Andre sangat di luar ekspektasinya. Frans tertawa begitu keras, menertawakan dirinya. Hidupnya seakan di penuhi tuntutan dan larangan. Kemewahan yang Frans dapatkan harus di bayar dengan kebahagiaan yang Frans inginkan. Semuanya harus terenggut begitu saja.
Sekali saja, sekali saja Frans ingin kehidupannya berjalan sesuai dengan apa yang ia inginkan. Tanpa larangan, atau kekangan dari siapapun. Frans ingin kebebasan dalam hidupnya.
"AAARRRRHHHHH!"
Frans membanting lampu tidur yang masih menyala, satu-satunya cahaya yang menerangi apartemennya. Tertunduk dalam rasa putus asa, tak akan Frans sangkal jika ia merasa sendirian.
Kematian Papa merubah hidup Frans, segala cita-cita harus Frans kubur dalam-dalam. Hingga Frans sendiri tak akan mampu menggalinya. Hatinya sungguh sesak, namun perintah Mama dengan alasan demi kebahagiaan Frans tak mampu Frans lawan.
Ketika hidupnya berjalan sesuai aturan sang Mama, Frans bertemu dengan Raras. Sosok gadis cantik yang bekerja sebagai model di Belanda. Frans tak sengaja bertemu dengan Raras ketika dirinya tengah berada di salah satu pusat perbelanjaan.
Raras tampil cantik dengan gaun selutut yang manis membalut tubuh idealnya. Sepatu high heels berwarna hitam menambah kecantikan Raras kian terpancar. Rambut lurus panjangnya terlihat kontras bersentuhan dengan kulitnya yang putih bersih. Dari sinilah, Frans terpana pada paras Raras yang mampu menyihirnya.
Hingga satu kesalahan yang Raras lakukan membuat Frans kecewa besar. Frans kehilangan kepercayaan, perasaan tulus yang Frans miliki untuk Raras di hancurkan begitu saja. Dari kejadian ini, Frans yang terlampau kecewa mempermalukan Raras tepat di acara pesta ulang tahun wanita itu.
Satu kesalahan Frans yang ia sesalkan hingga saat ini. Tentu saja Raras membalas apa yang telah Frans lakukan padanya. Mempermalukan dan menghancurkan karirnya.
Kemudian Andre, sahabatnya itu melontarkan kalimat ancaman ketika Frans berkata jika dirinya memang menyukai Alessa. Gadis berhijab yang dengan cerobohnya membuat Frans tercebur kolam ikan. Entah apa alasan Andre melarangnya dekat dengan Alessa. Namun, larangan Andre yang terang-terangan membuat Frans kembali merasakan kecewa.
Salah satu alasan Frans meminta Alessa menjadi sekretarisnya menggantikan Lani untuk sementara waktu adalah karena Frans ingin memandang Alessa jauh lebih lama. Melihat bagaimana gadis itu ketika bersamanya. Tingkah Alessa yang menarik di matanya, perlahan menjadi obat lelah bagi Frans setelah seharian berkutat bersama berkas rumah sakit.
Tak mampu Frans sangkal, dirinya merasa cemburu. Frans cemburu melihat Andre begitu perhatian terhadap Alessa. Seakan Andre mengetahui Alessa lebih dari siapapun, membuat hatinya sakit ditimpa perasaan cemburu yang begitu menyiksa.
"Pa, Frans rindu Papa. Kapan Papa ajak Frans biar Frans sama Papa. Frans nggak mau sama Mama..." Lirihan Frans di tengah gelapnya malam begitu menyedihkan.
Merangkak menuju ranjang, Frans meraba laci dekat tempat tidurnya. Membuka laci nomor dua dari atas, dan Frans menemukannya. Di bawanya botol kecil transparan itu dalam genggaman tangan.
Tanpa air mineral, Frans menelan beberapa pil yang berada di dalam botol transparan itu. Hanya untuk tertidur dengan nyaman dan tenang, Frans membutuhkan bantuan. Frans memerlukan obat penenang untuk pikirannya yang kacau.
Ketika obat penenang itu mulai bekerja, Frans menjatuhkan dirinya di atas lantai tanpa alas. Dinginnya keramik menyentuh tubuhnya yang hangat. Namun Frans tak peduli, yang Frans inginkan sekarang adalah tidur dengan tenang tanpa beban pikiran yang mengganggu mimpinya.
***
"Pak Frans baik-baik saja, Pak?"
Pak Andre menoleh begitu Alessa bertanya, pandangannya masih fokus menyetir agar keduanya aman hingga tujuan. "Tenang saja, dia baik-baik saja."
Alessa mengangguk sebagai respon. Pak Andre yang tidak puas dengan respon Alessa gantian bertanya, "Memangnya ada apa?"
"Eh, enggak Pak. Tadi sebelum kita keluar, Pak Frans kelihatan marah sama Alessa. Takutnya Alessa bikin salah, dan Alessa belum minta maaf sama Pak Frans." Ungkap Alessa dilanda kegelisahan.
"Tidak ada masalah Alessa. Pak Frans mungkin hanya lelah, makanya tadi dia sedikit sensitif. Tau sendiri kan? Masalah rumah sakit kian rumit? Apalagi masalah ini menyangkut masa lalu Pak Frans sendiri."
Jika di ingatkan lagi dengan percakapan mereka beberapa menit yang lalu, Alessa masih tidak bisa menerima apabila sebelum ini, Pak Frans memiliki suatu hubungan dengan perempuan lain. Hatinya terasa sesak, tatapannya seolah terpaku tak percaya. Alessa semakin minder dengan penampilannya yang sederhana.
"Saya awalnya juga tidak percaya dengan informasi yang saya terima. Maka dari itu, beberapa hari saya mencoba menyelidiki sendiri, apakah informasi yang saya dapatkan adalah benar? Dan tanpa saya duga, memang benar."
"Raras, mantan pacar dari Pak Frans adalah dalang di balik semua kekacauan dan manipulasi data rumah sakit. Padahal sebelumnya saya berpikir, masalah ini datang dari pihak yang tidak suka dengan Santa Claria."
"Ternyata, datang dari masa lalu Presdirnya sendiri." Celutuk Pak Andre menambahkan.
Alessa diam termenung dalam duduknya, pandangannya mengarah ke luar jendela. Namun, sepasang telinganya fokus mendengar perkataan Pak Andre. Pikirannya berkelana entah kemana, dalam hatinya Alessa bertanya-tanya.
Apa hak dirinya merasakan perasaan sesak seperti ini? Perasaan Alessa hanyalah sebatas kagum, tak lebih dari itu.
Sosok perempuan bernama Raras menyimpan misteri, bagaimana kisah Pak Frans yang begitu menyukai sosok Raras dulunya? Apakah Raras begitu cantik? Sudah pasti, Raras adalah seorang model. Sementara Alessa? Tamatan Farmasi D3 yang menggantungkan hidup dengan keluarga Pak Frans.
"Untuk sekarang Pak Frans sudah tidak berhubungan dengan Raras, Pak?"
Pak Andre menoleh heran mendengar pertanyaan Alessa, tak urung pria akhir dua puluhan itu menjawab pertanyaan Alessa. "Setahu saya, Pak Frans sudah tidak memiliki hubungan apapun dengan Raras. Dan sekarang justru si Raras itu memiliki hubungan dengan Dokter Rino. Parahnya lagi, si Dokter Rino ini saudara Pak Frans sendiri,"
"Jadi bisa dibilang, Dokter Rino ikut berkontribusi dalam kasus rumah sakit Santa Claria." Sambung Pak Andre dengan tatapan fokus menyetir.
Alessa termenung, Pak Andre yang tidak mendapat respon memanggil Alessa beberapa kali. "Alessa?!"
"Iya, Pak?" Alessa menjawab dengan terkejut.
"Kamu melamun? Kenapa? Lapar? Kita mampir makan dulu ya?"
Alessa menggeleng dengan cepat, "Enggak Pak, Alessa masih kenyang. Kalo boleh, mau langsung pulang ke kost saja. Refa juga sudah menunggu di kost."
Pak Andre mengangguk penuh pengertian, "Ya sudah, kita pesan makanan saja kalau begitu. Sekalian buat Refa."
"Tidak Pak, Alessa tidak mau merepotkan Pak Andre."
"Saya tidak merasa direpotkan, jangan menolak makanan Alessa, tidak baik." Balas Pak Andre seketika membuat Alessa terdiam.
Alessa membiarkan Pak Andre turun sendirian dari mobil milik Pak Andre sendiri. Pria itu berjalan ke pinggir jalan menuju rumah makan tenda dan memesan makanan. Tampak dari kejauhan Pak Andre membawa bungkusan berisi makanan yang selesai ia pesan.
"Ini, saya pesankan kamu sama Refa makanan. Sekalian ada gorengan buat kalian." Pak Andre menyerahkan bungkusan makanan itu untuk Alessa begitu memasuki mobil.
"Terima kasih Pak."
"Sama-sama."
Pak Andre melanjutkan perjalanan, kost Alessa sebentar lagi akan tiba. Tak ingin senyap melingkupi keduanya, Pak Andre membuka suara.
"Alessa, jika kamu mau kembali ke instalasi rawat inap lagi, saya akan bantu untuk mengatakannya pada Pak Presdir."
Alessa menatap Pak Andre dalam diam, kemudian mengalihkan pandangannya ke luar jendela. Alessa mulai merasa nyaman dengan pekerjaan yang sekarang. Entah sejak kapan, yang Alessa tau, ia menikmatinya.
"Tapi saya tidak bisa meninggalkan pekerjaan saya begitu saja, Pak. Saya harus menyelesaikan tanggung jawab saya yang belum selesai."
"Tidak masalah jika pekerjaan sekretaris belum usai, Alessa. Lagi pula, menjadi sekretaris Pak Frans bukan keahlian kamu. Saya akan minta Lani untuk handle sisa pekerjaan kamu." Papar Pak Andre dengan panjang.
Alessa menatap Pak Andre dengan pandangan yang sulit, ia tidak suka mendengar kalimat Pak Andre yang seakan menggampangkan pekerjaan. Alessa tidak dapat kembali ke instalasi rawat inap jika tanggung jawabnya sebagai sekretaris pengganti belum usai.
"Maaf, Pak. Saya bekerja secara profesional, jadi sebelum saya kembali ke instalasi rawat inap, saya akan menyelesaikan tanggung jawab saya pada Pak Frans. Apalagi Mbak Lani masih memiliki pekerjaan di luar rumah sakit. Saya tidak ingin membebani Mbak Lani dengan tanggung jawab saya di sini."
Pak Andre menangkap nada tersirat dari penolakan Alessa, sedikit suasana canggung menghias diantara keduanya. Meski Alessa mengatakan dengan kalimat yang sangat halus, namun Pak Andre tau.
Sedikit rasa penyesalan menyelinap di hati Pak Andre, perkataannya seolah-olah memiliki kekuasaan untuk mempermudah posisi Alessa. Meski niat hati Pak Andre hanya ingin membantu Alessa agar terlepas dari tanggung jawab yang seharusnya tak Alessa kerjakan.
Frans dengan sikapnya yang keterlaluan, seenaknya memilih Alessa untuk menggantikan pekerjaan Lani. Demi kepentingan pria itu sendiri, sangat kekanak-kanakan.
"Tidak masalah Alessa. Saya mengapresiasi kinerja kamu. Jika ada kesulitan, kamu bisa menghubungi saya."
Alessa mengangguk pelan, "Baik Pak. Terima kasih."
"Sudah sampai," ujar Pak Andre.
Tanpa menunggu lebih lama lagi, Alessa turun dari mobil seraya membawa bungkusan makanan dari Pak Andre. Buru-buru berjalan menuju sisi kemudi dimana Pak Andre yang akan turun dari mobil mengurungkan niatnya.
"Saya masuk dulu, Pak. Terima kasih atas tumpangan dan makanannya."
Lantas Alessa berbalik dan masuk ke dalam kost. Mengunci gerbang kost, yang mengisyaratkan agar Pak Andre segera menjauh dari kost-nya. Dalam diam, Alessa mendengar suara mobil Pak Andre menjauh dari depan gerbang.
Baru kali ini, Alessa merasa kecewa karena perkataan Pak Andre. Selama ini, Pak Andre adalah sosok bijaksana yang mengayomi anak-anak instalasi rawat inap. Sedikit perkataan Pak Andre mampu mengurangi nilai plus di mata Alessa. Tidak sepantasnya Pak Andre berkata hal demikian, seolah-olah Alessa tidak mampu mengerjakan pekerjaan yang bukan keahliannya. Alessa lebih dari sekedar kata mampu.
***