Dengan setelan yang masih sama dengan pagi ini, tanpa berganti pakaian Rino menuju apartemen yang di sewa kekasihnya selama di Indonesia. Beberapa kali Rino memencet bel, namun Raras tak kunjung membuka pintu apartemennya. Rasa lelah yang ia rasakan, Rino hiraukan demi bertemu dengan Raras.
Karena Raras tak juga membuka pintu, Rino menelepon Raras. Meminta agar perempuan itu membuka pintu untuknya. Ada hal penting yang harus Rino bicarakan. Sikap Raras yang tak mau bekerja sama dengannya membuat Rino sakit kepala. Tidak ada niat sedikit pun dalam hati Rino untuk menghancurkan rumah sakit Santa Claria. Namun, karena dirinya memiliki hubungan dengan Raras sudah pasti Rino sedikit banyak terkena imbasnya.
Rino tak bodoh untuk mengetahui bahwa, Andre menyelidiki dirinya secara diam-diam. Dan kabar mengenai Raras yang berada di Indonesia pasti sudah di ketahui oleh Andre. Rino tak ingin, kekasihnya berakhir di penjara dan karir model wanita itu rusak karena dendam masa lalu.
"Raras! Buka pintunya!"
"RARAS!"
Rino menggedor pintu apartemen Raras sedikit kencang, tak peduli jika ada tetangga sebelah merasa terusik karena tingkahnya. Tak kunjung di buka, Rino semakin menjadi dengan menggedor pintu apartemen Raras secara brutal.
"RARAS! BUKA PINTUNYA ATAU AKU DOBRAK!"
"RARAS!"
"BUKA PINTU SIALAN INI!"
"Jangan menghindari ku, Ras! Kita harus selesein masalah ini!"
"RARAS!!"
Gedoran Rino membuat beberapa tetangga sebelah apartemen terganggu, beberapa ada yang keluar guna melihat kegaduhan yang Rino ciptakan.
"Mas! Tolong jangan berisik! Anak saya sedang belajar!" Ucap seorang wanita paruh baya dari sebelah apartemen Raras.
"Saya juga lagi meeting, tolong jangan membuat keributan! Atau saya akan laporkan pada pihak apartemen!" Ancam seorang pria yang juga merasa terganggu karena ulah Rino.
Bukannya meminta maaf, Rino justru mengacuhkan penghuni apartemen lainnya. "Saya tidak peduli! Saya tidak akan berhenti sebelum perempuan yang berada di apartemen nomor lima kosong satu membuka pintunya!"
"Jangan gitu dong, Mas! Ini urusan kalian, kami tidak tau apa-apa!"
"Karena ini urusan saya, maka saya tidak peduli dengan pekerjaan kalian!" Kata Rino memancing keributan.
"Hargai kami yang tinggal di apartemen ini! Kami bayar Mas!"
"Saya tidak peduli." Rino kembali menggedor pintu apartemen Raras.
Geram dengan tingkah Rino, salah satu penghuni apartemen menonjok Rino penuh emosi. Rino yang tak siaga langsung terjatuh menghantam lantai cukup keras. Wajah penuh kekesalan terpatri pada pria yang menonjok Rino, tanpa merasa bersalah sedikit pun, pria itu kembali melayangkan tinjuan sebelum teriakan seseorang menghentikan keduanya.
"JANGAN!!"
Layangan tinju dari kepalan tangan terhenti sebelum menonjok wajah Rino lagi, seorang wanita memeluk Rino yang jatuh di lantai. Rino menoleh, menatap sosok Raras yang akhirnya mau bertemu dengannya.
"Tolong jangan memukul Rino lagi," pinta Raras.
"Heh Mbak! Kalo gak mau pacarnya saya tonjok, suruh diem! Saya lagi kerja! Berisik tau gak!" Maki pria dari seberang apartemen Raras.
"Baik Pak, maaf sebelumnya."
Mendengus kasar, pria dari seberang apartemen Raras kembali ke apartemennya dengan menutup pintu secara kencang. Begitu pula dengan wanita paruh baya yang sejak tadi menonton keributan hingga akhirnya mengetuk pintu apartemen Raras.
"Tolong di selesaikan masalahnya secara dewasa ya Mbak, Mas. Jangan membuat keributan seperti ini. Kasihan para penghuni lain, kami juga membutuhkan privasi." Ujarnya.
"Saya minta maaf."
Tanpa membalas permintaan maaf Raras, wanita paruh baya itu berbalik masuk ke dal apartemennya. Tersisa Rino dan Raras yang masih berada di lantai lorong depan pintu apartemen Raras. Wanita itu membantu Rino bangkit dan masuk ke dalam apartemennya.
Suasana hening melingkupi keduanya, Raras tidak berniat membuka suara sama sekali. Sementara Rino, pria itu memilih memandang Raras dengan intens. Meski sedikit risih, Raras membiarkan Rino memandanginya begitu intens.
"Kamu obatin luka kamu sendiri." Raras menyodorkan kotak obat secara kasar.
Tak tinggal diam, Rino menarik tangan Raras ketika wanita itu hendak pergi. Hingga Raras terjatuh ke sofa sedikit keras.
"Kamu apa-apaan sih?!"
"Lepasin!" Raras memberontak ketika Rino tak melepaskan cekalan tangannya.
"Mau kamu apa sih?!"
Rino menatap Raras dengan tatapan tajam, "Mau aku?! Mau aku gampang, Ras!"
"Cukup kamu berhenti dari semua dendam kamu! Cukup Ras! Cukup!"
"Apa hak kamu ngomong kayak gini ke aku? Hah?!" Raras menujuk Rino dengan telunjuknya.
"Kamu! Gak ada hak larang-larang aku!" Sambung Raras.
"Kamu salah Raras! Aku ada hak sama kamu! Aku berhak melindungi kamu, cegah kamu dari bahaya!"
"Gak! Kamu gak ada hak sama sekali!"
Rino menarik lengan Raras hingga tubuh wanita itu jatuh ke pangkuannya, memeluk Raras begitu erat hingga wanita itu merasa sesak.
"LEPAS!"
"LEPASIN AKU RINO! LEPAS!"
Rino menggeleng, "Enggak! Aku enggak akan pernah lepasin kamu!"
"Kamu sendiri tahu Ras! Betapa aku sayang sama kamu, aku cinta sama kamu! Tapi kamu sudah hilang akal karena dendam kamu sama saudara aku sendiri!"
"Frans harus rasain gimana rasanya karir dia hancur! Dan bagaimana rasanya di permalukan!"
"Enggak Ras! Cukup!"
"Sebelum Frans benar-benar hancur, aku enggak pernah ngerasa cukup!"
"Ras! Kamu udah gak waras!"
Dengan mendorong d**a Rino, Raras berhasil terbebas dari pelukan pria itu. Raras beranjak menjauh dan menatap tajam pada pacarnya itu. Yang ada pada manik mata Raras saat ini adalah kemarahan, bahkan Raras tak peduli dengan Rino yang mencoba menasehatinya.
"AKU EMANG GILA! KENAPA?! HAH?!"
"Aku ingin Frans merasakan apa yang dulu aku rasakan! Karir aku hancur, No! Hancur!"
"Susah payah aku bangun karir aku dari awal lagi, dan semua itu karena siapa? Fransciso Kennedy Reneegan! Pria itu yang membuat karir ku hancur!"
"Frans pikir, aku akan diam aja? Enggak! Aku menuntut balas atas apa yang dulu telah Frans lakukan sama aku!"
Luapan emosi Raras dalam kalimatnya membuat wanita itu kian tak terkontrol. Baru kali ini Rino melihat sosok berbeda dari diri Raras yang belum ia ketahui sebelumnya.
"Aku enggak butuh bantuan kamu! Kalo kamu mau laporin aku ke saudara brengesek mu itu! Laporkan! Aku enggak takut!"
Raras tersenyum miring, "Justru aku yang akan mempermalukan Frans lebih dari ini!" Ancam Raras.
"Sekarang kamu keluar dari apartemen aku!" Tunjuk Raras mengarah pintu apartemen.
Rino menggeleng, "Enggak Ras! Enggak!"
"Lupain Frans, dia cuma pria masa lalu kamu. Sekarang ada aku, lupain Frans, Ras. Lupain dia."
"Aku sayang sama kamu, aku ingin kamu menikah sama aku dan lupain dendam kamu sama Frans. Aku mohon Ras, nikah sama aku."
Raras menatap datar, "Jangan berharap banyak Rino, aku enggak akan pernah mau menikah sama kamu!"
"Ras! Jaga ucapan kamu! Hanya aku satu-satunya laki-laki yang tulus sayang sama kamu."
Gelengan Raras membuat Rino tak mengerti, "Enggak No, kamu enggak tulus sayang sama aku."
"Masih banyak pria lain di luar sana yang jauh lebih menginginkan ku! Dan aku salah memilih mu."
"Aku salah menjatuhkan hati pada mu, ketika kau sendiri tak pernah mendukung semua keputusan ku."
"Seharusnya aku tidak mengenal mu jika harus berakhir seperti ini. Aku sangat menyesal memberikan hati ku sama kamu."
Tatapan Rino berkaca-kaca, tatapan putus asa karena ucapan Raras menyentil hatinya. Rino beranjak dari sofa, menggenggam tangan Raras penuh kelembutan.
"Aku minta maaf udah nyakitin kamu, tapi beneran aku sayang sama kamu Ras. Aku mau kamu nikah sama aku, aku janji akan bahagiain kamu."
Raras melepas tangan Rino yang menggenggamnya, menolak sentuhan Rino pada tubuhnya. Dengan pelan, Raras memandang Rino tepat di manik pria itu. Tatapannya tak lepas dari mata Rino yang memandang Raras penuh kekaguman.
"Kalo kamu, tulus sayang sama aku. Aku mau, kamu bantuin aku buat hancurin sehancur-hancurnya karir Frans. Buat dia merasakan apa yang dulu aku rasakan. Itu yang dinamakan kamu tulus sayang sama aku."
Rino menggeleng, "Enggak Ras, apa yang kamu lakuin,--"
"Sssttttt.... Kamu mau aku bahagia? Itu adalah caranya aku bisa bahagia sama kamu No."
"Aku tau kamu sayang sama aku. Dan kamu juga sayang sama saudara kamu. Tapi perasaan kamu sama aku, jauh lemah dari pada kuatnya ikatan saudara kalian."
"Aku tidak akan menyalahkan, karena aku sadar diri. Kalo kamu, nggak akan mau sama aku." Raras menepuk bahu Rino pelan, "Tapi kamu tenang aja, aku enggak akan menyerah buat hancurin Frans. Dan aku, enggak akan bilang kalo kita memiliki sebuah hubungan lebih dari seorang teman."
"Ini adalah dendam ku, kamu tidak perlu ikut campur. Aku pastikan hanya aku yang menerima imbas dari dendam ku."
"Enggak Ras! Enggak!" Rino menolak perkataan Raras, membekap mulut wanita itu dengan kencang.
"Aku enggak suka kamu ngomong kayak gitu, Ras. Aku enggak mau kamu terluka karena dendam kamu. Aku enggak mau kamu masuk penjara dan karir kamu hancur lagi, aku enggak mau."
Raras memeluk Rino penuh kelembutan, "Kalo kamu enggak mau, aku terluka sendirian. Kita sama-sama hancurin Frans. Itu adalah tanda bahwa kamu tulus sayang sama aku, dan aku mau kamu membuktikan sama aku. Apakah kamu lebih memilih saudara kamu sendiri? Atau aku, wanita yang kamu sayangi?"
Saat itu juga, ucapan yang keluar dari bibir Raras bagai titah yang mampu menghipnotis Rino untuk tunduk padanya. Bisikan-bisikan Raras seperti melodi yang perlahan merasuki alam bawah sadarnya untuk mengikuti kemauan Raras.
"Mana yang akan kamu pilih, No? Itu akan menentukan seberapa tulusnya kamu sayang sama aku."
"Aku sayang sama kamu, Ras." Bisik Rino memeluk erat tubuh Raras.
"Jika kamu tulus sayang sama aku, buktikan No. Buktikan perasaan kamu selama ini."
Dan anggukan Rino menjadi jawaban akan apa yang akan terjadi. Begitu mudahnya Raras membolak-balik kewarasan Rino karena perasaan Rino yang tulus. Tanpa syarat, Rino menerima kekurangan Raras, namun Raras memanfaatkan Rino yang notabenenya saudara Frans agar membantunya menghancurkan karir saudara Rino sendiri.
Rino adalah sosok yang tegas, namun perasaan hatinya untuk Raras begitu mudah membuat Rino lemah tak berdaya menolak permintaan kekasihnya itu. Di ragukan dan di sepelekan membuat Rino merasa harus melakukan sesuatu untuk meyakinkan Raras bahwa dirinya benar-benar mencintai Raras tanpa syarat.
***