Tiba di depan kost, Alessa termenung sesaat. Mengamati kresek di tangannya, lalu pintu sebelah kamar Alessa. Gadis berhijab itu baru menyadari sesuatu. Menghembuskan napas panjang, Alessa menyandarkan punggungnya di pintu kost.
"Gue baru inget, kalo Refa belum pulang dari Madiun. Saking capeknya sama kerjaan sekretaris, gue lupa belum tanyain kabar Refa disana."
Mengambil kunci dari dalam tasnya, Alessa membuka pintu kost dengan lesu. Tubuhnya terasa capek, meski tak banyak aktivitasnya hari ini. Tak jauh berbeda dengan kondisi tubuhnya, pikiran Alessa di penuhi dengan Kak Ken sekarang.
Tak bisa Alessa tampik, ia merasa bersalah karena meninggalkan Kak Ken ketika pria itu dalam kondisi yang tidak baik. Menggelengkan kepalanya, Alessa bersiap membereskan diri. Setelahnya, Alessa akan menghubungi Refa. Menanyakan bagaimana kabar gadis itu di Madiun, sekaligus keadaan adiknya yang tengah di rawat.
***
"Iya Le, rencana besok gue udah balik Surabaya kok."
"Arya gimana?"
"Alhamdulillah, operasi berjalan lancar. Arya baik-baik aja, tapi harus banyak istirahat. Ibu sama Bapak juga gantian nungguin Arya di rumah sakit." Jelas Refa dari seberang telepon.
"Syukur lah," Alessa bernapas lega mendengarnya.
"Maaf ya Re, gue enggak bisa ke sana nemenin Lo."
"Apaan sih Le! Lo tuh udah banyak bantuin gue, bahkan gue ngerasa gak bisa gantiin semua bantuan Lo ke gue selama ini. Jadi, makasih banyak. Bapak sama ibu nungguin Lo di rumah, apalagi Arya. Dia seneng banget dapet hadiah dari Lo."
Alessa mengusap air matanya yang tak ia sadari jatuh membasahi. "Jujur, gue gak bisa berkata-kata lagi sekarang."
Refa tertawa kencang, "Baper ga Lo?"
"Dih, apaan!"
"Ngaku deh! Baper kan Lo?"
"Apaan sih Re?! Gak ada yang baper! Udah ah, gue mau makan. Laper."
"Iya, iya. Gue percaya. Buruan deh, Lo makan. Kasihan banget bestie gue tambah kurus sejak gue tinggal pulang."
"Makanya cepetan balik!"
"Iya, iya bawel! Besok gue udah balik, setelah Arya pulang ke rumah."
"Pokoknya sebelum berangkat, Lo kabari gue lagi ya."
"Siap!"
"Yaudah, gue matiin. Mau makan gue, laper. Assalamualaikum."
"Wa'alaikummussalam."
Alessa bernapas lega sekarang, masalah di rumah Refa sudah selesai. Dan besok, Refa sudah kembali ke kos. Selama kepulangan Refa, banyak hal terjadi di luar prediksi Alessa. Terlebih soal Pak Frans yang memindah tugasnya kan dirinya menjadi sekretaris pria itu.
Tapi, ini bukan keinginan Alessa untuk mendekati Pak Frans. Semuanya mengalir begitu saja, dan lagi Santa Claria dalam masalah yang serius. Alessa dan Pak Frans berusaha sekuat tenaga mencari investor baru untuk Santa Claria setelah mendengar reputasi Santa Claria nyaris anjlok dengan masalah pelayanan dan persediaan obat-obatan.
"Apa ini ada keterkaitan antara perempuan bernama Raras dengan Pak Frans?" Mendengarnya saja membuat Alessa sakit hati. Apalagi membayangkan ketika mereka dulunya adalah sepasang kekasih.
"Inget Alessa! Inget! Lo gak ada hubungan apapun sama Pak Frans! Lupain Kak Ken, lupain dia, Alessa." Alessa semakin frustasi dibuatnya.
"Jangan lupain status Lo yang udah pernah nikah. Enggak semua pria mau sama perempuan yang sudah pernah menikah, apalagi dengan adek iparnya sendiri."
Alessa menggelengkan kepalanya, "Enggak Alessa! Enggak! Lo harus jaga jarak sama Kak Ken! Inget kalo dia sekarang Pak Frans, bukan Kak Ken yang dulu Lo kagumi."
Berdebat dengan perasaan tiada habisnya. Logika dan perasaan tak akan pernah bisa bersatu, mereka akan saling bersaingan dalam memenangkan ego manusia. Tapi, siapa sangka jika logika dan perasaan mampu berjalan beriringan dalam mewujudkan ego manusia mencapai kebahagiaan.
Disini, Alessa masih terjebak dengan logika dan perasaan yang saling bermusuhan. Menyikut satu sama lain, hingga membuat ego melemah dan tak mampu berpikir secara rasional.
***
Tubuhnya perlahan membaik berkat perawatan Alessa. Gadis yang selalu berpakaian gamis dengan hijab itu melakukan tugasnya dengan baik. Frans tak mengelak jika ia menyukai perhatian gadis itu padanya.
Alessa.
Menyebut namanya seolah tersihir mantra menggelitik hati. Bibirnya tersenyum geli, dengan raut wajah malu-malu. Frans menggeleng, usianya yang sudah dewasa bukan waktu untuk bersemu malu. Ada tahap serius dimana jauh dalam lubuk hati Frans terdalam, dia menginginkan sosok wanita yang menjadi pasangannya.
Tapi, apa itu...
Alessa?
Entah...
Frans tidak tahu. Gadis itu terlihat menjaga jarak dengannya, apa Alessa lupa jika Frans adalah sosok pria yang dulu sempat Alessa kagumi?
Tapi, apa iya Alessa melupakan secepat itu? Jika Frans pernah mengisi hati dan pikiran Alessa, bukan kan artinya Frans masih memiliki tempat di hati Alessa. Frans hanya harus berusaha sedikit lagi untuk kembali mengisi kekosongan itu.
"Jika dulu aku tidak kuliah di Belanda. Akan kah kita sudah menikah, Alessa? Atau, bahkan kita memiliki anak-anak yang lucu?"
Frans tergelitik dengan gumamannya sendiri. Euforia bahagia itu hadir, membayangkan Frans bersama Alessa dan anak-anak mereka.
"Alessa... Kau dekat, tapi aku baru menyadari mu akhir-akhir ini. Harus kah, aku mengatakan semuanya?"
"Jujur saja, aku tidak suka kau dekat dengan Andre. Apa kau menyukainya, Alessa?" Frans gelisah dengan hatinya.
"Tidak. Ku mohon jawab tidak Alessa, jawab kau tidak menyukai Andre dan katakan kau masih menyukai ku hingga sekarang. Maka, aku yang akan berjuang meyakinkan mu."
Frans curiga dengan Andre yang selalu bersikap menjauhkan Alessa darinya. Seakan Andre tidak suka jika Alessa berada di dekatnya. Apa Andre juga menyukai Alessa?
Tidak! Tidak! Jika Andre menyukai Alessa, pria itu akan mengatakan semuanya. Pasti Andre akan bercerita padanya, mereka telah bersahabat sejak lama. Apapun yang terjadi, keduanya akan selalu berbagi.
Tapi untuk perasaan, apakah Andre sengaja tidak membaginya dengan Frans?
Sibuk berkecimpung dengan pikirannya sendiri, bel apartemen berbunyi nyaring membuatnya terkejut. Frans mendengus kesal.
"s**t! Ngagetin aja sih!"
Bangkit dari sofa, Frans berjalan menuju pintu apartemen. Dari celah pintu, ia melihat Andre kembali datang sendirian. Meski heran, Frans tetap membuka pintu untuk pria itu.
"Ngapain lagi Lo?" Tanya Frans sedikit sewot.
"Numpang tidur."
Setelahnya Andre nyelonong masuk ke dalam apartemen Frans. Duduk di sofa dengan nyaman, menghiraukan si pemilik apartemen yang menatap datar dirinya. Andre mengacuhkan Frans.
"Apartemen gue bukan hotel." Ujar Frans berdiri menjulang di sofa seberang. Memandang Andre yang nyaman duduk di sofa seraya memejamkan mata.
"Abis ini Lo balik." Frans mengambil duduk, mengamati tingkah Andre yang lelah.
"Setelah gue ngomong sama Lo."
"Soal Raras?" Tanya Frans dengan tatapan menyelidik.
Merenggangkan tubuhnya, Frans kembali berkata, "Males gue. Mending Lo pulang aja."
Frans bangkit dari sofa, berniat masuk ke dalam kamarnya. Membiarkan Andre di apartemen miliknya, terserah apa yang akan Andre lakukan. Frans tidak peduli, Andre terlampau membuatnya kesal.
"Bukan, tapi soal Alessa."
Langkahnya terhenti begitu Andre mengatakan tentang Alessa. Frans berdiri mematung. Andre membuka mata, dan menatap lurus Frans yang berdiam di tempatnya.
"Duduk dulu, gue mau ngobrol soal Alessa."
Perkataan Andre seakan membuat Frans semakin kesal. Pria itu seakan mengenal dekat Alessa dibanding dirinya. Meski begitu, tak akan pernah Frans lupakan jika Alessa adalah sosok pengagum rahasianya semasa SMA.
Dilanda penasaran, mau tak mau Frans kembali duduk di sofa.
"Ada apa?"
Andre menatap Frans dengan tatapan yang dalam. Seakan-akan mencari sesuatu di dalam tatapannya. Dirasa membuang waktu, Frans kembali berkata.
"Lo mau ngomong apa sih?" Katanya tak sabaran.
Andre membenarkan posisi duduknya, menatap dalam manik Frans. "Jawab gue dengan jujur."
"Gak usah sok misterius, gue mau istirahat."
"Lo suka sama Alessa kan?" Tanya Andre telak.
Tatapan Frans berubah datar, "Kenapa Lo tanya gitu? Lo suka sama bawahan Lo sendiri?"
Andre menggeleng, "Gak usah mengalihkan, Frans. Yang gue tanya itu Lo. Bukan gue."
"Jadi jawab pertanyaan gue tadi. Lo suka Alessa, kan?"
"Ada urusan apa Lo, tanya gitu ke gue?"
Frans tak kunjung menjawab pertanyaan sederhana Andre. Pria itu justru memberikan pertanyaan lain yang tidak di perlukan. Andre semakin yakin, jika Frans memiliki perasaan untuk Alessa.
"Dengan Lo yang gak jawab pertanyaan gue, itu semakin meyakinkan gue kalo Lo emang suka sama Alessa." Simpul Andre.
"Sejak kapan Lo ngurus persoalan kek gini? Emang penting buat Lo?"
Andre menatap Frans serius, "Perasaan Lo yang suka sama Alessa adalah hal yang serius buat gue."
Frans mengernyit heran, "Maksudnya Lo suka juga sama Alessa?"
"Ini bukan soal suka atau enggak, Frans. Tapi ini masalah keadaan."
"Lo ngomong apa sih, Ndre?"
"Lo masih gak paham ya?" Andre tak habis pikir dengan Frans.
"Lo," tunjuk Andre pada Frans, "Dengan Alessa itu berbeda, Frans."
"Maksud Lo apa ngomong kayak gitu ke gue?"
"Dari segi finansial dan ekonomi, Lo sama Alessa itu beda. Lo, seorang Presdir dan Alessa adalah karyawan Lo. Apalagi Tante Claria, Lo gak kasihan sama Alessa? Gimana respon Tante Claria kalo Lo suka sama karyawan Lo sendiri?"
Frans merasa perkataan Andre terdengar keterlaluan. Menahan emosi, Frans mencoba menenangkan dirinya. Ia tidak boleh emosi menanggapi perkataan Andre.
"Punya hak apa Lo sama kehidupan gue?" Ucap Frans dengan nada datar.
"Gue cuma mau ngelindungin Lo sebagai sahabat gue, dan Alessa sebagai staf instalasi gue."
Frans tersenyum miring, "Gue gak yakin sama omongan Lo. Jujur aja deh, Ndre. Kalo Lo suka sama Alessa, bukan kayak gini caranya. Saingan yang sehat!"
"Gue enggak suka sama Alessa. Gue cuma mau yang terbaik buat kalian berdua. Lo masih inget kan, Frans. Apa yang pernah gue bilang ke elo? Sebisa mungkin, jangan bikin Alessa terlibat sesuatu sama Lo."
Frans menatap dalam diam.
"Dengan Lo yang jadiin Alessa sekretaris pengganti Lani, itu semakin bikin gue yakin kalo Lo suka sama Alessa."
"Kalo iya, kenapa?" Tantang Frans, "Gue suka sama Alessa, urusannya sama Lo apa?"
Andre mengambil napas panjang, "Setelah masalah Santa Claria beres, dan Lani sudah kembali. Gue mohon sama Lo, berhenti deketin Alessa."
Frans tertawa sumbang, "Aneh deh Lo. Punya hubungan apa sama Alessa hingga Lo segitu ngelindungin dia dari gue? Lo sendiri yang ngomong kalo Lo gak suka kan, sama Alessa? Kenapa perkataan Lo gak dukung perasaan gue sama sekali?"
"Frans, bukan gitu. Tapi gue,--"
"Jangan bawa Mama gue buat alasan. Kalo ternyata Alessa juga suka sama gue, Lo bisa apa?" Potong Frans tegas.
"Lo gak ada hak ngelarang perasaan Alessa buat gue, begitu pun dengan gue yang suka sama Alessa." Balas Frans dengan telak.
Andre terdiam membeku. Ia tak bisa membalas kalimat terakhir Frans. Kalimat Frans ada benarnya, Andre terlalu jauh melindungi Alessa hingga ia melupakan kehidupannya sendiri.
"Oke, gue minta maaf. Gue terlalu takut Lo sakitin Alessa." Kata Andre, Frans tersenyum pahit. Begitu besarnya Andre tidak mempercayainya Frans.
"Perjuangan Lo buat dapetin kepercayaan Alessa akan berat karena masa lalu. Tapi gue berharap, Lo bisa bahagiain Alessa."
Andre bangkit dari sofa, menepuk pelan celana kainnya. "Gue pulang dulu, cepet sembuh Lo."
Frans menatap Andre berjalan menuju pintu apartemen. Baru saja pria itu membuka pintu, Andre terdiam di ambang pintu.
"Apapun keadaan Alessa, semoga hal itu enggak akan merubah perasaan Lo sama dia."
***