Frans tak bisa tidur nyenyak semalaman, sejak kalimat Andre tentang Alessa memenuhi pikirannya. Entah apa yang Andre ketahui tentang Alessa dan tidak ia ketahui. Semuanya bercongkol dalam pikiran hingga membuat Frans tak tenang.
Belum selesai masalah penggelapan dana Santa Claria, perasannya resah karena perkataan Andre. Memijat pangkal hidungnya pelan, Frans membutuhkan kopi pahit untuk mengawali pagi.
Bangkit dari kursi kebanggaan, Frans berjalan menuju pintu keluar. Namun, gerakannya terhenti karena seseorang sudah membukanya terlebih dahulu. Kedua matanya terpaku melihat sosok yang berdiri di ambang pintu dengan buku jurnal di dekapannya.
"Alessa?"
"Eh, Pak Frans mau kemana?"
"Saya mau keluar, cari OB. Saya mau kopi pahit." Jawab Frans singkat.
Dengan sigap, Alessa menawarkan, "Biar saya yang memesankan untuk Bapak. Pak Frans duduk dulu, nanti kopinya saya bawakan ke ruangan Bapak."
Frans patuh. Pria itu kembali duduk di sofa ruangannya yang tersedia. Menunggu kedatangan Alessa dengan segelas kopi pahit pesanannya.
Tak berselang lama, Alessa kembali datang dengan nampan berisi cangkir kopi.
"Ini kopinya, Pak."
"Terima kasih, Alessa." Alessa mengangguk dan tersenyum sebagai balasan.
Frans mencicipi kopi tersebut, enak. Sesuai dengan lidahnya. Tanpa bertanya, Frans yakin kopi pahit ini buatan Alessa. Karena kopi buatan OB rumah sakit, tidak seperti ini rasanya. Ingin sekali Frans mencicipi kopi pahit ini setiap pagi. Apakah mimpi Frans terlalu berlebihan?
"Silahkan duduk, Alessa. Maaf merepotkan mu, tadi."
Alessa tersenyum simpul, "Saya merasa tidak direpotkan Pak. Karena saya yang menawarkan tadi." Katanya seraya duduk di hadapan Frans.
"Ada masalah?" Tanya Frans langsung.
Dengan cekatan, Alessa mengeluarkan buku jurnal berisi catatan pribadi miliknya. Alessa menyodorkan buku jurnal itu di hadapan Frans. Tanpa menunggu lama, pria itu mengerti dan memeriksa.
Kedua alisnya bertaut, dibacanya lebih dalam catatan itu isinya semakin terasa ganjil. Bahkan Frans merasa tidak masuk akal dengan isi dalam jurnal tersebut.
"Apa maksudnya ini?" Kata Frans menatap Alessa dengan menunjukkan buku jurnal tersebut.
"Itu salinan berkas yang dikirimkan Pak Andre kemarin pada saya." Balas Alessa.
"Dimana dia?"
"Em, Pak Andre berada di luar Pak."
"Sampai kapan?"
"Maaf Pak, saya belum tahu. Pak Andre hanya mengirimkan foto berkas di email saya, juga bilang jika Pak Andre belum bisa kembali ke rumah sakit sekarang."
Frans mengernyit heran mendengar penjelasan Alessa, "Belum bisa kembali? Bukan kah kemarin malam bukti berkas sudah di berikan? Kau juga ada sebagai saksi di apartemen saya, bukan?"
Segera Alessa mengangguk, "Benar Pak."
"Lalu kenapa dia tidak bisa kembali? Seharusnya bukti kemarin sudah lebih dari cukup!"
"Saya tidak tahu, Pak."
Mengalihkan pandangan, Frans mencoba tenang. "Sekarang hubungi Andre, dan minta dia kembali. Sisanya akan saya urus sendiri."
"Baik Pak. Saya permisi."
Segera Alessa kembali ke meja kerjanya. Menghubungi Pak Andre sesuai perintah Pak Frans padanya. Jika di pikir-pikir, bukan kah ini terasa janggal?
Pak Andre mengirimkan salinan bukti, dan menitip pesan padanya. Apa, Pak Andre dalam bahaya? Tapi, apa benar begitu? Jika benar, mengapa Pak Andre tidak mengatakan apapun. Dan tadi, Pak Frans panik setelah membaca ini jurnal yang Alessa salin dari email Pak Andre.
"Apa terjadi sesuatu sama Pak Andre?"
Mengambil ponselnya, Alessa mencoba menghubungi pria itu. Beberapa kali berdering, namun tak kunjung diangkat. Alessa semakin panik dibuatnya.
"Ayo Pak Andre, angkat teleponnya. Kenapa gak diangkat sih?"
Mencoba kembali, Alessa menelepon nomor Pak Andre yang tak diangkat. Berulang kali berdering, namun terabaikan. Alessa semakin gelisah dibuatnya.
"Apa terjadi sesuatu sama Pak Andre? Tapi apa?"
Di saat Alessa bingung, pintu lift berdenting sekali. Alessa mengalihkan pandangan ke depan, disana, tepat pintu lift terbuka sosok yang sangat Alessa kenali telah kembali.
"Mbak Lani!"
"Mbak Ale!"
Sosok yang disapa dengan nama Lain itu bertepuk girang. Melambai penuh semangat, dan menghampiri Alessa yang juga menyambut kedatangannya. Alessa memeluk Lani dengan hangat sebagai ucapan selamat datang.
"Gimana kabarnya, Mbak?"
"Alhamdulillah, baik." Lani mengurai pelukan diantara keduanya, "Mbak Alessa sendiri gimana?"
Alessa tersenyum senang, "Alhamdulillah Mbak, Alessa baik."
"Seneng banget bisa kembali ke rumah sakit setelah sekian lama di luar terus!" Katanya semangat.
"Soal masalah tentang Santa Claria itu, gimana Mbak?" Tanya Alessa penasaran.
"Masalah itu,--"
"Maaf mengganggu semuanya," seorang pria paruh baya menyela ucapan Lani.
"Pak Wayan?"
Si empu pemilik nama hanya tersenyum, "Halo Alessa, senang bisa melihat mu baik-baik saja." Alessa tersenyum sebagai balasan.
"Sebaiknya, kita masuk ke ruangan Pak Frans dan membicarakan masalah ini disana." Kata Pak Wayan bijak.
Lani dan Alessa mengangguk serentak, "Baik Pak, tidak masalah."
Pak Wayan pertama kali memimpin masuk ke ruangan Pak Frans, disusul Lani. Alessa mengikuti setelah membawa ponselnya dalam genggaman. Di liriknya layar yang sudah mati, tak ada panggilan balasan dari Pak Andre.
"Semoga Pak Andre baik-baik saja."
***
"Beberapa staf rumah sakit yang terlibat, sudah saya laporkan pada pihak kepolisian." Pak Wayan menyodorkan beberapa kertas di hadapan Pak Frans.
Alessa dan Lani setia duduk di sofa, mendengarkan. Memberikan waktu Pak Wayan untuk menjelaskan keadaan Santa Claria sekarang. Beberapa minggu Pak Frans menugaskan Pak Wayan dan Lani mengatasi masalah eksternal Santa Claria.
"Ya, saya sudah mengetahuinya tadi."
"Saya, sengaja meminta penangkapan pelaku ketika mereka berada di luar rumah sakit. Jika penangkapan dilakukan di rumah sakit, saya takut mengganggu kenyamanan pasien."
"Tidak masalah. Perlahan, semuanya mulai bertemu titik terang."
"Kami akan berusaha semaksimal mungkin, Pak Frans." Balas Pak Wayan.
Pak Frans mengulas senyum manis, "Pak Wayan dan Lani sudah bekerja dengan begitu keras. Saya sangat berterima kasih. Saya rasa, masalah ini akan selesai dalam waktu dekat dan para investor akan kembali menanamkan saham mereka di Santa Claria."
"Tentu Pak, saya berharap demikian."
Lantas Frans menatap Lani, "Terima kasih juga untuk mu, Lani."
"Sudah menjadi tugas kami bekerja sebaik mungkin di Santa Claria."
"Tapi Pak Frans, ada yang belum kami sampaikan." Tiba-tiba Pak Wayan berucap.
Frans mengerutkan kening bingung, "Ada lagi?"
Lani dan Pak Wayan saling memandang. Memberanikan diri untuk memberi tahu apa yang terjadi, Lani mengangguk sebagai kode. Sementara Alessa yang sejak tadi diam, mulai penasaran.
"Satu diantara staf yang ditangkap adalah orang yang sama dengan oknum penyebar masalah tentang Alessa."
"Apa? Bukan kah, saat itu masalah sudah diatasi?"
Pak Wayan menjadi gugup, "Be-benar Pak. Ternyata pelaku yang kini berada di penjara dan satu pelaku yang baru saja ditangkap telah bekerja sama dan menerima uang suap dari seseorang. Untuk identitas seseorang yang menyuap mereka, mereka bungkam Pak. Sama sekali tidak mau mengatakan apapun."
Frans terdiam mendengar perkataan Pak Wayan, satu nama seseorang yang kini berada di pikirannya. Begitu pula dengan Alessa, sesuai dengan bukti yang kemarin malam Pak Andre sampaikan, juga salinan bukti yang tadi pagi Alessa terima.
Alessa menatap Pak Frans, dalang dari semua masalah di Santa Claria adalah orang terdekat Pak Frans sendiri. Sepupu dan mantan kekasihnya.
"Kalian tenang saja, saya sudah mengetahui siapa orang yang dengan sengaja menghancurkan Santa Claria. Dalang di balik semua masalah yang saat ini terjadi."
Pak Wayan dan Lani tentu terkejut mendengarnya. Berbeda dengan Alessa yang hanya diam tanpa suara. Seakan Alessa sudah mengetahui perbicangan ini.
"Pak Frans sudah tahu?" Tanya Lani pertama kali.
"Pak Frans tau dari siapa?" Kali ini Pak Wayan juga bersuara.
"Kemarin malam Pak Andre sudah menceritakan semuanya. Bukti jika ada salah satu dokter yang menjadi dalang dari penggelapan dana obat generik dan pelayanan kesehatan pada pasien kartu kesehatan."
"Astagfirullah." Lani terkejut mendengarnya.
"Pak Frans serius?"
"Masalah ini juga kesalahan saya." Frans menambahkan.
"Kesalahan Pak Frans? Apa maksud Bapak?"
Alessa segera menengahi, "Pak Frans. Semua ini bukan karena Bapak, jadi Pak Frans jangan bilang seperti itu."
"Alessa, kamu tahu sesuatu?" Pak Wayan bertanya penasaran.
Alessa menatap Pak Wayan, lalu Lani bergantian. Alessa ragu akan menceritakan, namun Pak Frans mengijinkan Alessa berbicara. Frans masih tidak menyangka, sepupu dan mantan kekasihnya berperan besar dalam masalah ini.
"Dokter yang terlibat dalam penggelapan dana adalah Pak Rino dan mantan kekasih Pak Frans. Saya merasa, mantan kekasih Pak Frans memiliki dendam pribadi dengan Pak Frans, dan memanfaatkan Pak Rino yang notabene saudara Pak Frans untuk melancarkan rencananya." Kata Alessa.
Lani syok mendengarnya, "Pak Rino?"
Pak Wayan menatap Pak Frans, "Pak Frans, apa Anda yakin dengan ini? Saya rasa Pak Rino,--"
"Berikan buktinya, Alessa." Titah Pak Frans memotong kalimat Pak Wayan.
Dengan segera Alessa memberikan berkas yang kemarin diberikan oleh Pak Andre, juga pesan email yang telah pria itu kirimkan padanya. Pak Wayan dan Lani menerima dengan cepat, memeriksa berkas yang Alessa berikan.
"Saya, tidak menyangka... Pak Rino?"
"Saya berniat melaporkan Pak Rino ke polisi, tapi saya masih menunggu Pak Andre. Sejak tadi pagi, Pak Andre tidak bisa di hubungi." Ucap Pak Frans.
Mengalihkan pandangan ke arah Alessa, Pak Frans berkata, "Sejak tadi, Pak Andre belum menghubungi mu kembali?"
Alessa menjawab dengan gelengan, "Belum Pak, Pak Andre belum menghubungi saya kembali. Bahkan sejak tadi, chat saya sama Pak Andre masih centang satu. Sepertinya Pak Andre memang tidak memegang ponsel."
"Saya khawatir Pak Andre ada masalah, Pak." Ucap Pak Wayan tiba-tiba. Raut cemas terpatri di wajahnya yang berkeriput.
Meletakkan kertas di meja, Pak Wayan kembali berkata, "Dengan adanya bukti ini, saya takut Pak Rino mencelakai Pak Andre."
"Saya juga khawatir dengan Pak Andre." Lani ikut menambahkan.
Tanpa menunggu lagi, Pak Frans segera bangkit.
"Kita ke ruangan Pak Rino sekarang!"
Bergegas mereka semua bangkit dan melangkah keluar menuju ruang kerja Pak Rino. Memastikan jika pria itu masih berada disana untuk menghapus rasa khawatir mereka pada Pak Andre.
***