"b******k Lo!"
Satu tonjokan melayang begitu saja. Menghantam pipi sebelah kiri hingga wajahnya terpelanting ke samping. Pria itu mengerang menahan sakit, kedua tangannya terikat ke atas. Tubuhnya dipaksa berdiri hanya dengan bertopang kedua tangannya.
Napasnya terengah-engah, tubuhnya lemas dan kepalanya terasa pusing. Ia mencoba bertahan, berharap ada yang menyadari dirinya yang tak kunjung kembali. Ponselnya juga sudah rusak tanpa sempat ia memberi tahu, untungnya salinan bukti sudah ia berikan pada Alessa.
"Lo gak akan ngalamin hal ini kalo Lo gak ikut campur masalah gue, Andre."
Andre, pria yang kini terikat itu menatap nyalang ke arah perempuan seksi di hadapannya. Tubuhnya tak bisa berkutik, Andre menerima semua serangan dan pukulan dari orang-orang berbadan besar atas suruhan perempuan itu. Wajahnya saja yang cantik, tapi hatinya busuk.
"Lo yang jadi musuh dalam selimut. Jangan nyalahin gue." Andre berkata dengan lemas. Kedua sudut bibirnya berdarah, wajahnya pun ikut babak belur. Matanya sayup-sayup menatap sekitar. Wajahnya menunduk lemah.
"Dari dulu gue gak suka sama Frans." Balasnya menatap tajam Andre.
"Tapi bukan berarti Lo hancurin sepupu Lo sendiri," Andre mengangkat wajahnya, "Dokter Rino." Tambahnya.
"Frans memang pantas mendapatkannya." Dokter Rino membalas dengan cepat.
"Apalagi Tante Claria. Ibu dan anak sama saja, mereka berdua serakah atas kepemilikan Santa Claria. Rumah Sakit itu adalah warisan dari kakek buyut kami, seharusnya saham Rumah Sakit Santa Claria di bagi rata dengan keluarga besar Kennedy. Tapi Tante Claria begitu congkak dengan apa yang wanita itu miliki." Papar Dokter Rino dengan tatapan kebencian.
Andre yang mendengarnya, menatap tak setuju, "Lo salah paham sama Frans dan Tante Claria."
"Lo!" Tunjuk Dokter Rino, "Hanya karyawan instalasi, jadi jangan banyak tingkah sebagai sosok pahlawan kesiangan. Nyawa Lo ada di tangan gue." Katanya dengan mengepalkan tangan.
"Anda terlalu yakin, Dokter Rino." Ejek Andre.
"Gelar yang Anda dapatkan sangat tidak pantas untuk orang seperti Anda, Dokter Rino. Sudah seharusnya gelar itu di copot dari dulu." Ucapan Andre semakin membuat amarah Dokter Rino meledak.
"Lo tuh,--"
"Sabar Sayang, jangan terpancing emosi. Dia hanya mainin emosi kamu aja." Raras--wanita bertubuh molek itu mengelus d**a Dokter Rino perlahan, mencoba menenangkan amarahnya.
"Jijik banget gue liat kalian berdua mesraan diatas penderitaan orang" Andre berdecih kasar.
Raras menahan tubuh Dokter Rino, wanita itu sendiri yang maju selangkah mendekati Andre yang masih terikat tak berdaya. Wajahnya sudah membiru karena tonjokan anak buah sewaannya. Raras tersenyum puas.
"Jadi kamu yang bernama Andre ya? Cukup tampan."
"Raras!" Tegur Dokter Rino tak terima Raras memuji pria lain. Raras mengabaikannya.
"Sayang sekali, kau menjadi penghalang rencana ku untuk menghancurkan Frans. Jadi terpaksa, aku akan menyingkirkan mu." Raras tersenyum miring.
Dokter Rino yang mendengar hal tersebut segera menghampiri Raras, "Ras! Apa yang kamu bicarakan?"
Raras tersenyum tenang, "Memangnya apa yang aku bicarakan, Sayang?"
"Kita tidak ada rencana untuk menyingkirkan Andre! Kau sendiri yang mengatakan jika kau hanya akan memberinya sedikit pelajaran karena mengusik rencana mu." Bela Dokter Rino.
Sebelumnya, Raras memang meminta Dokter Rino untuk menyekap Andre, sebagai kaki tangan Frans. Posisi Andre sangat rawan membuat rencananya gagal karena Andre sedikit banyak mengetahui siapa dirinya dan apa rencana Raras untuk menghancurkan Santa Claria.
Raras menampilkan ekspresi kaget yang sengaja dibuat-buat, "Ah, benar kah? Apa aku mengatakan hal itu pada mu, Sayang?"
Dokter Rino menghela napas panjang, "Raras, kau berjanji hanya akan memberinya pelajaran. Dan aku merasa, kau tidak perlu menyingkirkan Andre. Kau bisa masuk penjara."
"Masuk penjara ya?"
"Iya Ras, ku mohon jangan lakukan itu. Aku sangat mencintaimu. Dan kau tau apa yang aku inginkan dari mu, bukan?"
Raras tersenyum menggoda, "Memangnya, apa yang kau inginkan dari ku, Sayang?"
Dokter Rino mengambil sebelah tangan Raras, digenggamnya erat penuh kasih. "Menikah dengan mu, dan kita bisa hidup bahagia."
Mendengar kalimat Dokter Rino, Raras terbahak kencang. Andre mendengar tawa Raras seperti mengejek kalimat Dokter Rino. Namun, Dokter umum itu masih belum sadar jika ia hanya dimanfaatkan oleh Raras.
Nampak jelas saat Raras dengan mudahnya memuji pria lain di hadapan Dokter Rino. Tak segan, Raras juga mengatakan hal yang Andre rasa melukai perasaan Dokter Rino. Namun, Dokter Rino menganggap hal biasa dan memuji Raras. Benar-benar percintaan yang sakit!
"Bualan apa yang sedang kau ucapkan, Rino?" Tanya Raras meremehkan.
"Raras, bukan kah kau mengatakan kau juga mencintai ku? Begitu pun dengan ku, aku bahkan sangat mencintai mu. Kita bisa melupakan dendam mu setelah Santa Claria dan Frans hancur. Dan hidup bersama di tempat yang kau sukai."
Lihat lah, betapa ucapan Dokter Rino penuh dengan harapan. Besar perasaan Dokter Rino untuk Raras yang hanya memanfaatkan perasaan cinta Dokter Rino untuk kepentingan balas dendam Raras. Entah Andre harus merasa kasihan pada orang yang telah menyekapnya atau pada dirinya sendiri.
"Rino, Rino... Kau masih belum sadar ya, ternyata."
Menatap dua pria berbadan besar di samping kanan dan kiri Andre, Raras memberi perintah.
"Ikat Rino seperti Rino yang mengikat Andre."
Dokter Rino membelalak kaget, "Apa maksud mu, Raras!"
"Baik Bu."
"Baik Bu."
"Raras,--" belum sempat Dokter Rino berbicara, kedua pria berbadan besar itu mengikat kedua tangan Dokter Rino sama persis dengan apa yang Dokter Rino lakukan pada Andre.
"Ras! Apa-apaan ini!"
"Lepaskan Ras! Lepaskan aku!"
"Ras! Kau mencintaiku, mengapa kau mengikat ku seperti ini! Lepaskan Ras!"
Dokter Rino berteriak histeris, meronta meminta di lepaskan. Namun Raras justru menikmati teriakan Dokter Rino yang mengalun bagai candu.
"Dari pada kau berkata manis dengan mengajak ku menikah, suara teriakan mu terdengar lebih baik."
"Ras! Apa maksudmu!"
"Kau dan Frans sama-sama bodoh." Raras berkata dengan wajah congkak.
"Ras!"
"Dengar Rino. Sejak awal, aku sama sekali tidak ingin terikat pernikahan dengan pria mana pun. Termasuk dengan Frans. Berbeda dengan mu, sikap Frans yang dingin membuat ku jatuh hati padanya, tapi dia terlalu naif. Melihat ku mencium wanita lain saja sudah kebakaran jenggot dan memutuskan ku."
"Raras, tapi aku berbeda dengan Frans!"
"Kau dan sepupu mu itu tidak ada bedanya. Kalian berdua memang sama-sama bodoh dan lemah!" Sentak Raras kasar.
"Kau pikir, aku benar-benar mencintai mu? Kau yakin, Rino?"
"Ras, tapi kita sudah melakukannya. Dan aku, aku melihat tes pack di kamar mu memiliki garis dua, aku akan bertanggung jawab dan melindungi kalian." Dokter Rino sempat melihat sampah di kamar Raras yang berisi bekas tes pack dengan dua garis merah.
Raras menatap datar Rino, "Kau sudah tau ya ternyata."
"Raras, aku yakin sekali. Janin itu adalah anak kita. Aku mengenal mu dengan baik, kita melakukannya beberapa kali. Dan aku selalu menemani mu, kau tidak mungkin melakukannya dengan pria lain di belakang ku."
Andre terkejut mendengar pengakuan Dokter Rino. Tak akan pernah Andre sangka, Dokter Rino melakukan hal b***t dengan Raras. Hubungan mereka sudah terlalu jauh untuk dikatakan sebagai pasangan yang hanya bermain-main.
Bahkan, Dokter Rino sendiri menemukan fakta jika Raras mengandung anaknya. Andre diam membisu mendengar ungkapan Dokter Rino. Sejak tadi pun, Raras diam membisu tanpa sepatah kata yang keluar sejak pengakuan Dokter Rino mengenai janin mereka.
"Kau mengharapkan apa dari ku?"
"Apa?"
Andre membelalak mendengarnya. Raras tersenyum miring dengan raut wajah datar. Andre menduga wanita itu melakukan hal kejam pada janinnya sendiri. Tapi, tidak! Andre tidak boleh memikirkan hal bodoh. Mana ada ibu yang tega membunuh janinnya sendiri?
"Aku sudah melenyapkannya." Ucap Raras tiba-tiba.
Andre dan Dokter Rino sama-sama terperangah dengan ucapan Raras. Andre menatap syok wanita itu. Apalagi Dokter Rino yang diam terpaku tak bisa berbicara. Seakan jiwanya hilang bersama raganya.
"LO GILA HAH?!"
"PEREMPUAN MACAM APA YANG TEGA GUGURIN KANDUNGANNYA SENDIRI!"
"GAK WARAS LO!"
Bukan dari Dokter Rino, suara makian itu bersumber dari Andre yang sudah tidak tahan dengan sifat Raras. Andre marah, kesal dan emosi mendengar pengakuan Raras. Wanita biadab itu tidak punya hati.
"Kalian ngerti kan, sekarang? Apa yang bisa aku lakuin sama kalian."
Raras memberikan tatapan tajam, "Termasuk kamu, Sayangku Rino."
Raras tertawa terbahak-bahak. Suara tawa yang terdengar mengerikan. Layaknya penyihir jahat yang mendapat anak kecil untuk dijadikan tumbal. Andre meronta minta dilepaskan. Dokter Rino masih diam terpaku, tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.
Bayinya yang bahkan belum pernah ia lihat, sudah mati oleh ibu kandungnya sendiri.
"Hajar mereka hingga mati. Aku tidak ingin kalian meninggalkan jejak." Andre terkejut mendengar kalimat Raras.
"RAS! JANGAN GILA LO!"
"LEPASIN GUE!"
"RARAS!"
Wanita itu tersenyum miring, "Mau kalian apakah mereka, terserah kalian. Terpenting untuk saat ini, aku tidak ingin melihat mereka." Katanya sebelum pergi menjauh, meninggalkan Andre dan Dokter Rino terikat tak berdaya.
"Baik Bu."
"Baik Bu.
"WANITA b******k LO!"
"RARAS!"
***