"Re, kamu ngambil cuti?"
Refa menoleh pada Alessa yang berdiri di sampingnya, sedangkan dirinya tengah membereskan koper. Mendengar kabar dari grub instalasi, tentu Alessa sangat terkejut. Pasalnya, sebelum ini Refa tidak mengatakan apapun. Dan pengajuan cuti Alessa terbilang mendadak.
"Iya, gue ngambil cuti satu minggu," Refa berkata sambil sibuk mondar mandir di kamar.
"Ada masalah apa? Kok gak cerita? Mendadak loh ini."
"Adek gue kecelakaan, tadi Ibu telepon gue dan ngabarin soal Arya. Ibu sama Bapak pasti bingung banget di rumah. Gue mau ambil jatah cuti gue."
"Arya?"
Refa mengangguk, "Iya, Arya."
"Terus sekarang keadaan Arya gimana?"
"Harus operasi."
Alessa tidak menyangka kabar buruk menimpa Refa, "Re, kalo butuh apa-apa, kamu bisa telepon aku ya. Aku pasti bantuin kamu."
"Makasih Le, yang penting gue harus sampek rumah dulu."
Alessa mengangguk, "Tenang Re, jangan panik. Udah pesen travel?"
"Udah, katanya jam sembilan waktu pertama perjalanan ke Madiun. Tiga puluh menit lagi."
"Alhamdulillah, kalo udah dapet. Aku bantuin ya, mau bawa apa?"
"Gak usah banyak. Ini udah selese kok, gue mau cepet-cepet pulang. Khawatir sama kondisi Arya, apalagi Ibu sama Bapak juga udah tua. Pasti bingung mau ngurus kartu BPJS." Refa sibuk berpikiran mengenai kondisi adik serta kedua orang tuanya.
"Tadi udah sarapan? Mau aku beliin nasi di depan kost?"
"Makasih Le, tapi gue gak nafsu makan. Rasanya perut gue kenyang banget."
Dering ponsel milik Refa memecah kepanikan gadis itu, segera ia menyambar ponselnya. Melihat hanya nomor saya yang meneleponnya, Refa menerima panggilan tersebut. "Halo?"
"Mbak, ini saya supir travel. Sudah di depan kost Cemara."
"Baik Pak, saya ke depan."