Tiba di kamar, Alessa menghempaskan tubuh lelahnya di atas kasur. Tak memedulikan kondisi tubuhnya yang kotor, dan belum bersih-bersih. Alessa terlalu malas untuk melakukannya, setidaknya malam ini saja. Alessa melanggar peraturan yang ia buat sendiri.
Saat ini pikirannya berkelana entah kemana, Alessa memikirkan kalimat terakhir Kak Ken yang disampaikan padanya di roof top beberapa jam yang lalu. Hingga tiba di kost, Alessa masih tidak mengerti ucapan Kak Ken. Bak teka teki yang harus Alessa rampungkan jika tak ingin tidur dalam rasa penasaran.
Semakin memikirkan ucapan Kak Ken, semakin pusing pula kepalanya. Menghembuskan napas kasar, Alessa bangkit dari kasur. Nyatanya, kebiasaan Alessa yang harus bersih setelah bekerja membuatnya berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Tak ingin berlama-lama karena malam sudah larut, Alessa juga takut masuk angin jika terlalu lama di kamar mandi. Ia kembali merebahkan diri di ranjang empuknya dalam kondisi yang lebih segar.
"Ucapan Kak Ken, mengindikasikan banget kalo dia gak mau aku resign dari Santa Claria," Alessa tampak berpikir, "Tapi kenapa? Kenapa gak boleh resign?"
Mengacak rambutnya yang tergerai panjang, Alessa menggelengkan kepala. "Terserah Pak Presdir lah, jangan ke-geer-an Ale! Bisa aja karena kemampuan mu mumpuni dan layak, makanya Pak Presdir ngomong begitu."
"Tapi kenapa aku merasa berbeda?"
"Bisa gak sih, kalo aku berharap Kak Ken menaruh perhatian sama aku?"
Sedetik kemudian Alessa tersadar, "Astagfirullah Alessa! Kamu ngomong apa sih?! Gak boleh berharap lagi! Gak boleh jatuh lagi! Kuatkan hati dan jangan berharap apapun pada manusia!"