"Tanda tangani ini!!"
Runcingnya ujung pisau lipat terarah sempurna pada leher kiri Daniella Amanda.
"A-Amosa! Apa-apaan ini?! Jangan bercanda! Turunkan pisaumu!" suara Amanda terdengar begitu parau akibat rasa takut yang berhasil menjalar ke setiap sel dalam tubuhnya.
"Bercanda?! Hahah!! Kau pikir aku bercanda dengan surat pernyataan dan pisau ini?!" teriak Amosa begitu lantang.
Guratan amarah terlihat begitu kentara dari setiap otot-otot yang menegang di wajah Amosa. Bukan hanya Amanda, Amosa pun merasakan tubuhnya sedikit bergetar akibat dikuasai amarah yang terlanjur membuncah.
Napas kedua wanita yang saling berhadapan ini sama-sama terlihat menderu hingga pergerakan dadanya tampak tak beraturan.
"Tapi surat pernyataan ini memintaku agar memberikan ijin pada suamiku untuk menikahimu! Jangan gila, Mo!! Kamu ingin merusak rumah tanggaku?!" suara Amanda kian memekik bersama sepasang bola matanya yang seakan hampir keluar dari tempatnya.
"Memang!! Memang itu tujuanku, menghancurkan rumah tanggamu!! Kenapa?! Takut?! Hahaha!! Bagaimana bisa seorang wanita licik seperti Daniella Amanda takut rumah tangganya hancur, sementara dia sendiri tanpa ragu telah berhasil membuat masa depan wanita lain hancur?!" semakin pecah kemarahan Amosa saat ini. Sepasang netra indahnya juga melotot begitu tajam ke arah wanita yang sangat ingin dibunuhnya itu.
"Ta-tapi… aku mohon jangan seperti ini, Mosa! Maafkan aku. Aku tidak bermaksud membuat semuanya menjadi sekacau ini!" tidak ada pilihan lain di kepala Amanda saat ini selain berusaha meminta belas kasihan dari Amosa.
"Maaf?! Apa katamu?! Maaf?! Hahah!! Kamu pikir dengan memberimu maaf akan bisa mengembalikan masa depanku yang telah hancur sehancur-hancurnya?!" Amosa sampai tertawa getir mendengar ucapan Amanda. Emosi masih tetap membelenggu jiwanya untuk tanpa ragu memberi tekanan pada Daniella Amanda, istri dari Gerald Yosefan.
Amanda tidak bisa berucap apapun lagi. Rasa takut dan kengerian semakin menyeruak memenuhi batinnya.
Bagaimana tidak? Bagian ujung pisau lipat yang diarahkan Mosa padanya kian terasa menekan kulit lehernya.
Amanda bisa menduga, sedikit saja Amosa menggoreskan pisau itu ke leher Amanda maka fatal sudah akibatnya.
"Kamu tau Manda, tidak butuh waktu lama untuk pisau ini menyudahi semuanya. Aku biasa memakai pisau ini untuk membunuh hewan-hewan buas di hutan yang mencoba mencelakaiku," Amosa menjeda ucapannya untuk mengatur napas. Ditatapnya wajah Amanda yang sudah berselubungkan ketakutan dan kepanikan
"Dan bukankah kamu sama dengan binatang-binatang buas yang tanpa ragu sudah berani mencelakaiku?!" lanjut Amosa dengan suara mendesis tepat di dekat telinga Amanda, hingga semakin menambah atmosfer kengerian di ruangan ini.
Kini Amanda bisa melihat rahang Amosa sudah semakin mengeras. Keringat dingin pun membasahi tubuh Amanda yang terus saja bergetar.
Tubuhnya seakan membeku kaku dan lidahnya terlalu kelu untuk kembali memohon pengampunan.
"Mo-Mosa…," hanya suara lirih dan terdengar bergetar inilah yang mampu terucap dari bibir merah Amanda.
"Cepat!! Tanda tangani sekarang!!" teriak Amosa lagi semakin menekan ujung pisau hingga mengenai kulit leher Amanda.
Amanda bisa merasakan ujung pisau itu sudah sedikit menyayat kulitnya hingga rasa perih mulai hadir pada bagian leher kiri.
"Mo… ma-maaf…," buliran-buliran bening sudah beramai-ramai meninggalkan pelupuk mata dan membasahi kedua pipi tirus Amanda.
Dalam ketakutannya, Amanda tak kuasa membendung isak tangis akibat mendapat ancaman seperti ini dari Amosa.
"Cepat!!" tangan kiri Amosa seketika menggebrak meja di dekatnya. Rasanya pasokan kesabaran sudah tidak ada lagi dalam dirinya.
Sontak Amanda terperanjat mendengar suara gebrakan pada meja. Maka dengan tangan yang gemetaran, ia pun berusaha meraih surat pernyataan yang sudah dipersiapkan oleh Amosa untuk ia tanda tangani.
Menatap getir ke arah Amanda yang sedang menandatangani surat pernyataan seperti keinginannya, Amosa membiarkan senyum menyeringai terlukis di wajahnya.
Ia raih surat pernyataan yang sudah bertanda tangan itu dan bergerak mundur menjauhi Amanda dengan tetap mengarahkan pisau lipat yang sangat tajam itu ke arah Amanda.
***
Amosa Abigail, wanita yang tengah diliputi dendam dan amarah itu berhasil melakukan misi pertamanya. Tanpa peduli, ia tinggalkan Amanda di ruang VVIP cafe tempat pertemuan mereka siang itu.
Ia juga tidak lupa memberikan uang Tip kepada salah satu servant cafe yang ia tugasi untuk mematikan kamera CCTV di ruang VVIP.
Kini, langkah selanjutnya yang harus ia lakukan adalah mendatangi Gerald Yosefan, suami dari Daniella Amanda, seorang musisi, komposer, sekaligus orang yang telah membuat karier Amosa di dunia seni musik dan tarik suara ini bisa berada pada puncak keberhasilan.
***
Sudah biasa mendatangi kediaman Gerald Yosefan, membuat Amosa bisa mengakses rumah megah itu dengan mudah.
Setiap petugas keamanan yang berjaga di gerbang depan pun dengan ramah mempersilakan mobil mungil Civic Turbo milik Amosa memasuki pekarangan garasi.
Setiap pelayan yang melihat kedatangan Amosa juga bersikap ramah seperti biasanya karena memang mereka tidak tahu kalau tujuan kedatangan Amosa kali ini bukanlah untuk urusan pekerjaan seperti yang selama ini ia lakukan, melainkan ada visi lain.
Lebih dari satu tahun berkarier di bawah naungan managemen Gefan Production, Amosa sudah hafal betul seperti apa denah lokasi kediaman Gerald Yosefan.
Memasuki pintu utama, Amosa sempat mengarahkan sepasang bola mata berhiaskan softlens dark brown miliknya ke atas, tepatnya ke arah lantai dua.
Biasanya di lantai dua itu banyak musisi dan penyanyi sering menikmati waktu bersantai mereka untuk sekadar ngobrol.
Gerald memang sengaja menjadikan lantai dua rumahnya itu menjadi arena khusus yang memberikan kesan sebagai rumah kedua bagi para talentnya.
Melihat lantai dua sepi, Amosa bergegas melangkahkan sepasang kaki jenjangnya menyusuri lantai satu.
Di lantai ini Gerald sengaja menjadikan rumahnya menjadi rumah produksi.
Ada sebuah studio rekaman, studio khusus untuk latihan vokal, dan ada pula studio khusus yang dijadikan tempat latihan band. Banyak berbagai jenis alat musik sengaja ditempatkan di ruangan ini.
Di lantai satu ini Gerald juga menyediakan satu ruangan khusus sebagai kantor yang menjadi tempat bekerja bagi para anak buahnya yang bekerja di belakang layar, seperti team managemen, krue kameramen, dan team editing.
Pada ruangan inilah mereka juga biasa melakukan meeting.
Dan di antara semua ruangan yang sudah dibangun di lantai satu ini, Gerald menyediakan satu ruangan di sudut koridor yang khusus menjadi kantor pribadinya.
"Mo?" sapa Gerald ketika Amosa membuka pintu studio band.
Seperti feelingnya, Gerald memang sedang berada di studio band bersama band pendatang baru yang bergabung di Gefan Production.
"Bisa minta waktunya? Kita perlu bicara," tanya Amosa tanpa basa-basi.
Melihat wajah datar Amosa, Gerald bisa menduga kalau pembicaraan ini pasti berkaitan dengan masalah yang sedang terjadi di antara mereka.
Gerald menganggukkan kepalanya memenuhi permintaan Amosa.
"Kita bicara di ruanganku," ucap Gerald mengarahkan Amosa untuk mengikutinya.
Dengan jantung berdegup kencang Amosa mengikuti Gerald memasuki ruang pribadi Gerald.
"Silakan duduk, Mo. Ada yang bisa kubantu untuk masalahmu?" Gerald mendudukkan tubuhnya pada sofa kerja berlapis kulit premium.
Di antara Gerald dan Amosa ada sebuah meja kerja yang menjadi jarak.
"Nikahi aku!"
BERSAMBUNG…