Amosa Abigail, seorang penyanyi yang belum lama berkecimpung di dunia entertainment membiarkan amarah dan dendam menguasai dirinya.
Dia yang tersakiti oleh tindakan Daniella Amanda merasa masa depannya sudah hancur. Kini yang ada dalam benaknya hanya satu, yaitu menghancurkan siapapun yang sudah menghancurkannya!
Selesai menemui Amanda dan memberikan ancaman agar wanita itu mau memberikan ijin untuk suaminya menikah lagi, Amosa bergegas melaksanakan misi kedua, yaitu mendatangi Gerald, suami Amanda.
Berhasil meminta waktu Gerald untuk bicara berdua, Amosa segera menyampaikan tujuannya saat ini.
"Nikahi aku!!"
Amanda menatap tajam pada Gerald yang sudah duduk di kursi kebesarannya yang berada di balik meja kerja.
Keduanya saling beradu tatapan tajam.
Gerald sama sekali tidak menyangka akan mendengar permintaan semacam ini dari Amosa. Tentu saja ia tercengang.
"Mo? Kamu…," Gerald sudah kehilangan kata-katanya. Sepasang kelopak mengerjap beberapa kali seolah sedang berusaha meyakinkan diri sendiri bahwa apa yang baru saja ia dengar bukanlah halusinasinya semata.
"Kenapa?! Kamu pikir aku bercanda?! Aku sudah menemui istrimu dan dia sudah menandatangani surat pernyataan. Dengan berbekal surat itu kamu bisa menikahiku!" ucap Amosa dengan suara bergetar.
Gerald bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah Amosa.
"Mo, aku tau apa yang sudah terjadi memang sulit untuk diterima. Tapi tolong pikirkan ini baik-baik. Jangan gegabah dan menuruti kemarahanmu. Aku takut kita semua akan menyesal nantinya," Gerald masih berusaha bersikap tenang dan mencoba menenangkan gadis yang psikisnya sedang terguncang itu.
Mendengar ucapan Gerald, senyum smirk terbit pada sudut bibir Amosa.
"Menyesal?" tanyanya seraya mengangkat sebelah alisnya, sementara senyum smirk itu tetap terlukis pada tempatnya.
"Pada titik di mana aku sudah sehancur ini, apalagi yang takut aku sesalkan? Satu-satunya hal yang bisa membuatku menyesal adalah jika aku membiarkan istrimu bisa tetap tertawa bahagia dalam hidupnya setelah membuat hidupku hancur berantakan!" desis Amosa tajam. Tatapan nyalangnya berhasil menghunus sepasang manik mata berwarna coklat gelap milik Gerald.
Gerald merasa ada hentakan yang begitu kuat tengah menekan setiap dinding-dinding hatinya setelah mendengar barisan kata yang terlontar dari bibir Amosa.
Perasaan takut itu seketika hadir. Bukan takut terhadap kehidupannya yang terancam hancur, tapi takut akan melihat Amosa lebih hancur dari ini.
Kekalutan dan kegusaran tengah melanda batin Gerald. Pria 29 tahun ini tidak ingin sembarangan menentukan langkah yang justru bisa membuatnya semakin jatuh terperosok ke dalam lembah masalah kehidupan.
"Mo… aku…,"
"Oke! Tidak masalah kalau memang kamu tidak ingin menikahiku! Mungkin memang sudah menjadi keberuntungan bagi Manda untuk mendapatkan suami sebaik kamu dan bisa tetap menikmati hidupnya setelah dia menghancurkan hidup wanita lain!!"
Amosa menghela napasnya sejenak sekadar untuk menambah pasokan oksigen dalam dadanya yang sudah terasa begitu sesak.
Ia mencoba menepis buliran-buliran bening yang hampir muncul pada pelupuk matanya dengan mengerjap beberapa kali.
Sekalipun hati dan hidupnya sudah sangat hancur tapi ia tetap memaksa bibirnya untuk tersenyum meskipun yang tercipta justru senyum penuh kegetiran.
"It's fine! Mungkin memang setidakberharga ini hidupku di mata orang lain!"
Tatapan mata yang penuh dengan amarah, kekecewaan, dan dendam itu terlihat jelas dari sepasang netra indahnya.
Gerald bisa melihat hal itu sebelum Amosa memilih untuk melangkahkan kakinya keluar dan meninggalkan Gerald.
"Mo?!" panggil Gerald mengikuti langkah Amosa, tapi gadis itu tetap mengabaikannya.
Mengetahui kalau Gerald sedang mengikuti langkahnya, Amosa bergegas mempercepat pergerakan kaki menuju ke tempat dia memarkir mobil.
"Amosa!"
Gerald semakin mempercepat langkah untuk mengimbangi derap langkah Amosa.
Dia tidak peduli lagi pada orang-orang yang sudah menatap mereka berdua dengan tatapan menyelidik.
Para talent, kru, dan pekerja yang bekerja di bawah naungan Gefan Production tidak segan lagi untuk memberikan atensi yang berlebihan pada Gerald maupun Amosa, karena yang terjadi antara Gerald dan Amosa ini memang telah terlanjur menjadi konsumsi publik.
***
Amosa yang sedang berjalan cepat mengabaikan kedatangan Amanda yang berpapasan dengannya.
Rupanya Amanda baru saja sampai di kediaman mewahnya.
Berbeda dengan Amosa yang memilih untuk tak acuh pada Amanda dan bergegas memasuki mobil mewahnya, Amanda justru menatap nyalang ke arah Amosa.
Amanda juga melihat Gerald sedang berusaha mengejar Amosa. Bahkan suaminya itu seakan tidak ingin mempedulikan kehadiran Amanda yang kini sudah berjalan ke arah Gerald.
"Ge?! Dia… dia gila, Ge!" Amanda justru berusaha mengadukan apa yang telah dilakukan Amosa padanya sebelum ini.
Tapi Gerald tetap mengabaikan Amanda. Ia menganggap ucapan istrinya itu hanya sebagai angin lalu.
"Ge!! Kamu ini mendengarku tidak?! Kenapa mengejarnya?! Dia gila, Ge!! Dia berusaha merebutmu dariku!!"
Teriakan Amanda terdengar begitu nyaring sekalipun napasnya masih menderu karena sedang berusaha menyamai langkah Gerald.
"Tutup mulutmu, Manda!! Kamu yang sudah membuatnya gila!!" Gerald menghardik istrinya. Ia kembali fokus untuk mengejar Amosa yang sudah melesat bersama mobil pribadi hasil dari berkariernya di dunia entertaint.
Mendapat bentakan seperti ini dari suaminya adalah kali pertama bagi Amanda.
Hal ini membuatnya tercengang hingga kakinya terhenti seketika, seolah sedang terpaku.
Sementara itu Gerald justru bergegas menaiki salah satu mobil pribadinya dan pergi meninggalkan Amanda yang masih terhenyak seraya menatap nanar ke arah mobil Gerald yang sudah keluar melewati gerbang tinggi.
***
Gagal membuat Gerald menuruti keinginannya, membuat Amosa merasa semakin putus asa. Satu-satunya alasan dia bertahan hidup di saat semuanya sudah hancur adalah untuk membalas dendam pada Amanda.
Tapi sikap Gerald yang menolak keinginan Amosa telah menggagalkan harapan gadis itu.
"s**t!! Kenapa kamu menolakku, Gerald!! Aku tidak bisa melihat istrimu bahagia di atas kehancuranku! Tidak bisa!!"
Amosa membiarkan emosinya terlampiaskan melalui teriakan-teriakan di dalam mobil. Ia tidak peduli sekalipun saat ini ia sedang mengendarai mobil sendiri.
Sedikitpun Amosa tidak ingin meredam emosinya. Bahaya menyetir dalam kondisi marah juga tidak lagi dihiraukannya.
Bahkan Amosa sengaja menginjak pedal gas dalam-dalam hingga mobil melesat kian cepat. Keselamatan bukan lagi menjadi prioritas untuknya. Bahkan nyawa pun sudah tidak ada artinya lagi bagi dia.
"Tidak ada artinya hidup bersama kehancuran!!" ucap Amosa menatap tajam ke arah depan.
Perputaran keempat roda mobilnya kian melesat. Kelihaiannya dalam bermanuver di jalan raya terlihat dari pergerakan mobil yang meliuk-liuk menghindari pengguna jalan yang lain.
Berjarak kurang dari sepuluh meter dari mobil Amosa, mobil Gerald juga terpantau lihai dalam melakukan pengejaran.
Padatnya jalan raya tidak menyurutkan niat Gerald untuk bisa mendapatkan Amosa kembali.
Tapi jantung Gerald seketika terasa berhenti berdetak saat ia melihat traffic light di depan tiba-tiba berubah warna menjadi merah.
Di saat semua mobil yang sejalur dengannya mulai berhenti rapi di belakang garis marka, Gerald justru melihat mobil Amosa sama sekali tidak berhenti!
Mobil Civic Turbo berwarna putih s**u yang sedang dikendarai Amosa itu terus melaju tanpa mengurangi kecepatan sedikitpun!
Amosa tetap melintasi perempatan jalan raya itu dengan kecepatan tinggi.
"Astaga! Mosa!!" teriak Gerald panik sementara dia sendiri tidak bisa berbuat apa-apa. Mobil-mobil lain di depannya tentu saja menjadi penghalang untuk mobil Gerald bisa bergerak maju.
"Mosa!! Ya Tuhan!!!"
Seru Gerald semakin memekik ketika sepasang bola matanya melihat ada mobil dari sisi kiri melintas dengan cepat.
Yang ada di pikiran Gerald saat ini adalah mobil Amosa akan tertabrak oleh mobil-mobil yang melaju dari sisi kiri karena saat ini memang traffic light di sisi kiri sedang berwarna hijau.
Gerald sampai membekap mulutnya yang menganga lebar menggunakan kedua tangan. Napasnya tercekat, jantungnya seakan sedang melompat-lompat di atas trampolin.
Tidak bisa berkata-kata lagi, saat ini Gerald bagaikan sedang melihat adegan slow motion di mana sebuah mobil sedang terancam akan tertabrak oleh barisan mobil lain dengan posisi tegak lurus.
Suara-suara klakson dari mobil-mobil lain mulai terdengar mendengung memenuhi kepala Gerald hingga pria itu memilih untuk memejamkan mata.
Tidak, dia benar-benar tidak sanggup jika harus melihat mobil Amosa tertabrak oleh mobil lain.
***
BERSAMBUNG…