Pagi di sekolah selalu seperti halaman kosong yang baru dibuka: dingin, bersih, menunggu kata pertama. Embun masih menggantung di ujung rumput, udara menyimpan wangi tanah yang basah tipis, dan cahaya matahari menetes di sela dedaunan trembesi, jatuh ke batu-batu paving sebagai kotak-kotak tipis. Suara sapu petugas kebersihan menyisir dedaun—ras… ras…—merangkai ritme yang menenangkan.
Aku datang lebih awal dari biasanya. Bukan piket. Bukan tugas dadakan. Aku datang karena alasan yang tidak ingin kuucapkan keras-keras: ingin melihat Safira datang.
Aku berdiri di bawah lorong, menyandarkan punggung pada pilar catnya mengelupas. Kertas sketsa kugenggam, bukan untuk digambar, melainkan sekadar peganganku supaya tangan tidak gemetar. Gerbang belum ramai. Sepeda menggelinding satu-satu, seragam abu-abu putih menyeberang pelan. Lalu aku melihatnya.
Safira melangkah dari arah halte, tote bag di bahu, kepangnya jatuh rapi ke depan. Pita krem di ujungnya menangkap cahaya dan mengembalikannya sebagai kilau kecil. Ia berhenti sejenak, menoleh pada petugas kebersihan, tersenyum sambil mengucap “pagi” yang singkat tapi tulus—hal kecil yang mungkin dilewatkan orang lain, namun selalu menahan langkahku.
Ada perasaan yang tumbuh bukan karena peristiwa besar, melainkan hal yang berulang: senyum yang tidak dibesar-besarkan, tatapan yang tak pernah menuntut balasan, cara ia merapikan anak rambut di pelipis saat angin nakal. Hal-hal kecil itulah yang pelan-pelan mengisi kosong di dalam d**a, seperti gula yang tenggelam ke dasar gelas dan menunggu diaduk.
“Ahmad?” suaranya menemukan aku. Safira menaungi matanya dengan telapak tangan, memicing karena cahaya. “Pagi. Kamu datang cepat.”
Aku buru-buru menyelipkan kertas sketsa ke belakang. “Latihan bangun pagi,” jawabku canggung.
“Wah, semangat,” ia tersenyum. “Bus-ku hari ini nggak drama. Langka.”
Kami berjalan berdampingan menuju kelas. Jalan setapak masih basah, suara langkah kami terdengar jelas. Di kaca jendela ruang guru, bayangan kami bersebelahan, lalu bergeser ketika kami menoleh ke kanan—seolah memberi isyarat bahwa kami sedang belajar berjalan di garis yang sama tanpa menabrak.
Samar-samar, di kejauhan, aku melihat Diva di dekat tiang bendera. Ia memeluk buku dan memperhatikan kami sepersekian detik lebih lama dari biasanya sebelum tersenyum dan melambaikan tangan. Senyum yang rapi, tanpa sudut yang tajam. Aku membalas lambaian itu, dadaku ditarik perasaan yang sulit ditata: hangat karena tahu ia ada, dan takut karena tahu ia mengerti.
Di kelas, kami tiba saat bangku masih setengah kosong. Kipas dinding baru dinyalakan; debu halus menari dalam cahaya. Diva menata kotak pensilnya—pena, stabilo pastel, correction tape—semuanya diurut, seperti kebiasaannya mengurut sesuatu yang ramai jadi rapi.
“Pagi, Tim Jendela,” sapanya cerah. “Aku pesankan tempat kantin favorit ya, takut penuh.”
“Pagi,” jawab kami hampir bersamaan.
“Mad, spidol hitammu ada? Bu Rani nyari,” tanya Diva.
Aku merogoh tas, kosong. “Saf, boleh pinjam penmu?”
Safira sudah mengeluarkannya sebelum kuminta kedua kali. “Yang ini enak, tinta gel,” katanya, menyodorkan. Jari kami bersentuhan sepersekian detik—bukan letupan, hanya hangat yang jujur—cukup untuk membuat aku menarik napas lebih pelan.
“Terima kasih,” gumamku.
Diva melihat, bukan dengan tatapan menuduh, melainkan tatapan orang yang menyimpan catatan kecil di sudut buku harian. “Istirahat pertama review mading ya,” katanya, mengembalikan ritme. “Aku bawa opsi caption.”
Bel berbunyi. Pelajaran berbaris seperti kereta: Matematika, Bahasa, Sejarah. Aku duduk, menulis, mengangkat tangan saat ditanya, tetapi ada bagian diriku yang tidak di sini. Ada bagian yang berdiri di tepi—mengamati Safira mengernyit ketika tidak paham, menoleh saat paham, menahan tawa ketika aku salah menyebut tahun perjanjian. Aku menegur diri sendiri: jangan berlebihan. Tapi setiap kali ia memanggil, “Mad?”, suaranya menembus seperti matahari mengiris kabut—halus, pasti, dan membuyarkan alasan-alasan yang kupelihara.
Sesudah dua jam, kantin menjadi museum suara: piring beradu, wajan bersiul, seruan “es teh kurang manis tiga!” yang akrab di telinga kami. Diva sudah duduk duluan di meja pojok dekat kipas, tiga gelas mengembun dengan rapi.
“Kita punya dua opsi judul mading,” katanya begitu kami duduk. “Satu puitis, satu sederhana. Pilih?”
“Yang sederhana,” kata Safira. “Biar udara fotonya tetap terasa.”
“Setuju,” sahutku. “Puitisnya pindah ke caption penutup.”
Diva tertawa, mengangkat alis. “Penulis bayangan, ternyata.” Ia menyerahkan daftar pendek: kalimat-kalimat ringkas yang memegang inti. “Kalau ini terlalu manis, bilang. Aku bisa kurangi ‘gula’.”
“Gula yang ini sehat,” jawabku. “Bikin orang berhenti sebentar.”
Safira memiringkan gelas, esnya berbunyi—ting—suara kecil yang menenangkan. “Aku bawa tiga foto,” katanya, menunjukkan layar ponsel. “Yang koridor, yang jendela, dan yang lantai—cahaya jatuhnya miring.”
Aku mencondong. Kami berbagi jarak pada layar kecil, kepala hampir bersentuhan. Aku menahan diri untuk tidak terlalu dekat; menahan diri adalah keterampilan yang sehari-hari terasa seperti olahraga baru. “Yang ini,” tunjukku. “Cahayanya seperti menunjuk jalan pulang.”
Safira melirik, bibirnya terangkat. “Kamu selalu melihat arah di tempat yang orang lain sebut kebetulan.”
Diva mengamati kami berdua, lalu menyelipkan kalimat agar udara tidak terlalu padat. “Kalau sudah dipilih, kita atur margin, ya. Font-nya yang kemarin—tanpa serif—biar bersih.”
Ritme kembali enak. Kami makan, berbagi ayam goreng seperti biasa: kulit untuk Diva, daging dekat tulang untuk Safira, sisanya untukku. Di sela-sela, kami tertawa—tawa yang tidak panjang, tetapi cukup untuk mengingatkan: kami bertiga masih di sini.
Namun kesadaran itu tidak sepenuhnya menghapus ketakutanku. Ada garis halus yang kurasakan bergerak. Tatapanku yang dulu sering pulang ke Diva, kini singgah lebih lama pada Safira. Diva masih tersenyum, masih membuat ringkasan, masih menjadi “penjaga rasa”. Dan aku—meski tak ingin—merasa bersalah pada seseorang yang begitu pandai menjaga sementara aku sedang kacau.
Siang menua. Jam dinding mengusir menit dengan tenang. Di kelas, Bu Rani menulis di papan, kapur memercik. Safira meminjam penggarisku; aku menyerahkannya dengan hati-hati, seolah benda itu bisa membocorkan rahasia. Diva menatap ke depan, tapi aku menangkap pantulan kecil di kaca jendela: tiga wajah dalam satu bingkai—aku di tengah, dua temanku di kanan-kiri—dan jarak di antara kami seperti garis yang bergerak sejauh setengah napas.
Sehabis pelajaran, kami membereskan meja. “Sore latihan foto?” tanya Safira.
“Boleh,” jawabku terlalu cepat. “Aku bawa karton buat reflektor.”
Diva memasukkan correction tape ke kotak. “Kalian duluan. Aku pulang lebih awal, ada perlu.” Ia tersenyum. Senyum baik-baik saja. Senyum yang membuatku ingin bertanya “kamu benar-benar baik-baik saja?” tapi kutahan, karena aku pengecut.
Kami berpisah di koridor. Aku menunggu di lapangan sementara Safira ke perpustakaan mengambil buku. Lapangan sore seperti ruang tunggu yang luas: garis putih memanjang, ring berdiri diam, angin mengusir sisa panas aspal. Aku duduk di baris tribun, menengadah. Langit biru bersih, titik-titik burung berlatih melawan arah angin. Di sini, suara di dalam menjadi jelas.
Apa yang sedang kau lakukan, Ahmad? tanyaku pada diri sendiri. Kemarin kamu mengucap janji: kita nggak akan pisah. Kalau kamu jatuh di tempat yang salah, janji itu yang retak duluan.
Aku menatap telapak tangan—bekas hangat genggaman kami bertiga masih terasa seperti bayang-bayang. Aku ingin tetap menjadi temannya. Aku ingin tetap menjadi temannya juga. Dua keinginan yang bertabrakan ke titik yang sama. Setiap hari aku berkata pada diri sendiri: cukup lihat dari jauh. Cukup bantu kalau perlu. Cukup.
Tapi pagi ini, langkahku datang lebih awal hanya untuk melihatnya berjalan dari gerbang. Siang ini, rasanya aku menghafal cara ia mengucap “terima kasih” pada ibu kantin ketika es teh mendarat. Petang nanti, aku tahu aku akan ingat lagi cara pita krem menepuk pipinya ketika angin iseng. Menghafal membuat hati tenggelam perlahan—tanpa suara, tanpa percikan, dan tanpa pegangan.
Safira muncul dari lorong, membawa dua buku. Aku berdiri, menyimpan gelisah di bawah senyum. Kami akan memotret koridor, bermain cahaya di lantai, merapikan rencana. Mungkin kami akan tertawa—sedikit. Mungkin aku akan menatapnya terlalu lama lagi. Mungkin aku akan menatap ke arah lain agar tidak ketahuan. Dan di antara semua “mungkin”, ada satu kalimat yang menolak dibantah oleh pagi yang begitu cerah:
Aku jatuh.
Aku menutup mata sekejap, membiarkan matahari menghangatkan kelopak seperti kompres hangat untuk kepala yang berisik. Saat kubuka, aku tidak bertambah berani; hanya bertambah jujur pada rasa takutku sendiri.
Aku melangkah ke tengah lapangan, sendirian beberapa detik sebelum Safira tiba. Suara dunia menipis. Aku menatap langit—birunya lebar sekali, seperti halaman yang menunggu pernyataan paling pendek.
“Kalau ini cinta… kenapa rasanya justru takut kehilangan dua orang sekaligus?”