Bel pulang baru saja menelan detik terakhir pelajaran. Ruang kelas berubah menjadi akuarium suara: tawa yang memantul di dinding, kursi berderit, seruan “punyamu berapa?” dilontarkan dengan santai yang kadang terasa kejam. Kertas ujian berserakan di atas meja—sudutnya bertindihan, sebagian miring sehingga menyisihkan debu kapur yang seperti salju tipis. Sinar matahari sore menembus jendela, jatuh dalam bar kotak-kotak di lantai ubin yang mulai kusam; cahaya itu memantul halus ke wajah-wajah yang masih sibuk mengukur diri pakai angka.
Diva duduk diam. Di hadapannya, kertas ujian terbuka seperti pintu yang tak ingin ia masuki lagi. Di pojok kanan atas, angka merah mencolok—tegas, bulat, dan terasa lebih keras dari yang mestinya. Ujung jarinya menyentuhnya pelan, lalu mundur seolah angka itu panas. Kerongkongannya mengering. Ia baru semalam mengulang bab ini sampai larut; highlighter pastel-nya dipakai hati-hati, margin-marginnya diisi ringkasan. Usaha itu terasa nyata di telapak tangan yang masih pegal. Dan kini, angka merah itu menatapnya balik tanpa menyesal.
“Rata-rataku naik, Div! Kamu?” tanya seseorang dari barisan belakang. Diva berpura-pura sibuk menata tas, menekuk kertas dengan rapi—bukan untuk disembunyikan, melainkan agar tangannya punya tugas selain tremor kecil.
“Lumayan,” jawabnya pendek. Suaranya terdengar normal. Hanya pipinya yang terasa hangat, seperti baru ditempeli sinar.
Dari seberang, Ahmad mengangkat kepala. Ia tengah merapikan kertasnya sendiri saat tatapannya menangkap Diva yang tidak bergerak lebih dari satu menit penuh. Ia mengenal diam yang seperti itu—diam yang bukan istirahat, melainkan menahan sesuatu agar tidak tumpah. Tanpa banyak pikir, ia berdiri, mengambil kertasnya, lalu berpindah ke bangku di sebelah Diva.
Ia tidak bertanya apa-apa. Tidak mengeluarkan komentar ceria yang sering dipakai orang untuk menambal rasa canggung. Ahmad hanya duduk, menaruh tasnya di lantai, mencondongkan badan sedikit—cukup untuk dekat, tidak cukup untuk menekan.
Diva melirik. Ahmad tersenyum kecil—tenang, tidak memaksa. Senyum yang seperti menaruh handuk hangat di bahu.
“Boleh lihat?” suaranya rendah, memberi ruang untuk menolak.
Diva ragu sepersekian, lalu mendorong kertas itu beberapa sentimeter. Ahmad tidak langsung menatap angka merah. Matanya menyapu rangkaian jawaban, garis-garis biru di halaman, tulisan Diva yang biasanya stabil hari ini sedikit miring. Ia berhenti pada soal-soal yang salah, menandai pola tanpa pena—hanya dengan alis yang mengerut tipis.
“Ini bukan kamu,” katanya pelan. “Ini cuma hari ini.”
Diva menahan napas. Kalimat sederhana itu tiba-tiba memindahkan beban dari d**a ke meja, entah bagaimana.
“Aku sudah belajar, Mad,” ucap Diva, suaranya pecah halus di ujung. “Aku beneran belajar. Kenapa yang keluar… malah begini?”
Ahmad mengangguk, pelan sekali. “Aku tahu. Aku lihat sendiri kamu ngatur catatan, ngingetin kita berdua. Yang terlihat hari ini—” ia menepuk pelan pojok kertas yang tidak ada angka merahnya, “—bukan segalanya. Boleh sedih sebentar, ya. Setelah itu, kita cari kenapa. Bukan buat menyalahkan, buat kenal medan.”
“Medan?” Diva mengulang, geli yang lemah.
“Medan soal,” Ahmad tersenyum. “Yang nyangkut di sini,” ia menunjuk satu nomor, “itu bukan kamu nggak paham. Kamu kurang waktu di langkah tengah. Kita latihan langkah itu.”
Kata “kita” menurunkan sesuatu yang bising di kepala Diva. Ia menatap meja, lalu angka merah itu lagi. Masih sama merahnya, tapi tidak seangkuh tadi.
Beberapa anak melintas sambil membahas nilai dengan suara tinggi; ada yang memukul-mukul kertas dengan bangga, ada yang mengeluh sambil tertawa. Seseorang mendekat ke meja Diva. “Div, dapet berapa?” tanyanya santai.
Ahmad menoleh, nada suaranya tetap tenang. “Lagi evaluasi dulu. Nanti kita cerita, ya.” Ia menyisipkan kalimat itu seperti pintu yang ditutup dengan sopan. Anak itu mengangguk, berlalu tanpa masalah.
Diva mengusap pelan sudut matanya, seolah ada debu yang mengganggu. Ahmad pura-pura tidak melihat, pandangannya kembali ke kertas, ke satu demi satu guratan. “Kamu selalu nyemangatin orang lain,” katanya lagi, nada bukan memuji, hanya menyampaikan fakta. “Giliran kamu jatuh sedikit, biar kami yang dorong.”
Diva tertawa pendek, kali ini tidak meyakinkan. “Kamu siapa? ‘Kami’ siapa? Kamu sama…?”
“Safira juga,” Ahmad tidak menahan namanya. “Dia pasti bilang, ‘kita belajar bareng’. Aku bilang, ‘kita bongkar polanya’.” Ia melirik, matanya hangat. “Dua resep yang sama bagusnya.”
Diva mengangguk. Kata-kata itu tidak menghapus angka merah, tapi menambahkan warna lain di sekelilingnya. Rasa malu dan kecewa perlahan bercampur dengan merasa dilihat.
Safira muncul di pintu, menenteng botol air. Ia melihat formasi di meja Diva: Ahmad duduk di samping, Diva menunduk dengan kertas yang sudah terlipat separuh. Safira cepat membaca udara. Ia mendekat, meletakkan botol, duduk di seberang. Tangannya menyentuh punggung Diva sekali—singkat, hangat.
“Boleh ikut lihat?” tanyanya.
Diva menggeser kertas, menampilkan angka itu tanpa meminta maaf. Safira mengangguk pelan, alisnya melengkung empati, bukan kasihan. “Aku juga pernah segitu,” katanya jujur, menyebut angka yang mirip. “Sakitnya kayak gini. Tapi nanti rasanya nggak sehebat ini, kok. Kita belajar bareng, aku bawa soal latihan Bu Rani kemarin. Banyak jebakan yang mirip.”
“Lihat?” Ahmad menimpali ringan. “Aku bilang apa.”
Tigaan itu hening sesaat—hening yang tidak dingin. Di luar, suara sepatu diseret di lorong; matahari menggeser sedikit, cahaya di ubin pindah separuh ubin. Diva menarik napas lebih panjang dari sebelumnya. Ia membiarkan udara masuk ke tempat yang tadi dikepung angka.
“Boleh aku pegang kertasnya?” tanya Ahmad.
Diva menyerahkan. Ahmad memutar kertas, meminjam pulpen Diva. “Boleh aku nulis dikit di sudut?” Ia menatap Diva minta izin. Diva mengangguk.
Ahmad menunduk, menulis sesuatu singkat di pojok bawah, hurufnya tegak rapi. Ia menutup tinta dengan meniup kecil—kebiasaan lama—lalu mendorong kertas kembali. Diva belum membacanya. Ia ingin menunda, seperti menyimpan hadiah kecil.
“Div,” Safira menyentuh botol air, mendorongnya ke dekat Diva. “Minum dulu. Kadang lelah bikin nilai jatuh bukan karena nggak paham, tapi karena kepala pengap.”
Diva menuruti. Air dingin menuruni tenggorokan, meninggalkan hangat yang aneh di d**a. Ia menatap dua sahabatnya. Ada perbedaan yang tidak bisa ia jelaskan: Safira memeluk dengan tenang, Ahmad menambatkan dengan tenang. Yang satu memberi tempat bernafas, yang satu memberi jangkar. Hari ini, jangkar itu terasa lebih dekat. Lebih lembut. Lebih hangat.
“Terima kasih,” ucap Diva akhirnya. Ia masih malu, tapi malu yang tidak sendirian. “Aku… kayak gagal jadi aku. Padahal selama ini aku merasa bisa. Nilai ini kayak… bilang aku salah menilai diri.”
Ahmad menggeleng, tegas. “Nilai mengukur benar-salah jawaban. Bukan benar-salah dirimu.”
Safira menambahkan, senyumnya tipis, “Kamu nggak perlu jadi kuat tiap jam. Hari ini kuatnya cukup segini. Besok nambah kita cicil.”
Diva menahan tawa di tengah tangis yang tidak jadi. “Kalian ini… kenapa baiknya sinkron gini?”
“Karena bos-nya satu,” canda Ahmad, menunjuk Diva. “PR—Penjaga Rasa—kami.”
Diva memutar bola mata, tapi bibirnya terangkat. Hening lagi. Kali ini, heningnya menyembuhkan. Ahmad merapikan kertas ujian, melipatnya dua kali, telaten, seolah benda itu rapuh. Ia tidak meminta Diva untuk tersenyum. Ia tidak mengajak foto lucu agar lupa. Ia hanya duduk dan menempatkan dirinya di sini, bersama kejatuhan kecil milik Diva, sampai kejatuhan itu berhenti terasa curam.
Di meja samping, dua anak masih membandingkan angka dengan nada tinggi. Di langit-langit, kipas berputar dan mengeluarkan bunyi “duk” sesekali. Matahari condong lebih rendah, menyerempet pojok meja. Wajah Diva pelan-pelan kembali berwarna.
“Kalau kamu mau,” kata Ahmad, berdiri setengah, “sore nanti aku kirim catatan langkah tengah itu. Kita latih bareng. Biar pas ujian remedial, kamu yang nertawain angka.”
“Janji?” Diva menatapnya, setengah bercanda setengah sungguh.
“Janji,” kata Ahmad. “Aku nggak pandai banyak-banyak, tapi aku bisa duduk lama.”
Safira tertawa kecil. “Itu betul.”
Mereka bertiga membereskan meja. Diva memasukkan kertas ujian ke bagian dalam buku catatan—diselipkan seperti surat yang tidak ingin ditinggal di permukaan. Tas-tas diangkat. Suara langkah orang mulai menipis. Di ambang pintu, Safira berhenti. “Aku ke perpustakaan dulu, lihat jadwal lomba foto. Menyusul di gerbang?”
“Ya,” sahut Ahmad dan Diva bersamaan.
Safira pergi, meninggalkan wangi shampoo samar yang tertiup angin. Diva dan Ahmad berjalan perlahan di lorong. Cahaya sore membentang panjang seperti karpet tipis di depan mereka. Tidak ada yang buru-buru bicara. Di sebuah titik, Diva melambat, memberi ruang kepada dua anak yang lewat. Ahmad menyesuaikan langkah, tetap di sisi—tidak mendahului, tidak tertinggal.
“Mad,” kata Diva, pelan. “Terima kasih sudah… duduk.”
Ahmad menoleh. “Sama-sama.”
Diva menatap depan lagi. Di perutnya, rasa sedih masih tinggal, tapi bentuknya berubah. Tidak lagi batu yang berat. Lebih seperti air hangat yang bergerak—tidak nyaman, namun menenangkan. Ia tahu besok tugas-tugas lain akan menunggu. Ia tahu tidak ada yang menjamin remedial akan semudah motivasi sore ini. Namun untuk pertama kali sejak melihat angka merah itu, Diva merasa bisa bernapas tanpa harus pura-pura kuat.
Di gerbang, Safira sudah menunggu. Mereka bertiga pulang bersama sampai pertigaan, lalu berpisah seperti biasa. Ahmad mengangkat tangannya, “Sampai besok.” Safira menambahkan, “Belajar bareng nanti malam?” Diva mengangguk. “Kirim jamnya.”
Setelah perpisahan kecil, jalan menjadi milik Diva sendiri. Ia berjalan pelan, membiarkan bayangan panjangnya memandu arah. Langit sore memantulkan warna madu di atap-atap rumah, burung kecil berputar di kabel listrik. Di tangan, ia memegang buku catatan. Di dalamnya—diselipkan rapi—kertas nilai yang barusan membuatnya hampir retak.
Diva berhenti di bawah pohon mangga di ujung gang. Ia membuka buku, melepaskan lipatan kertas itu. Angka merah itu masih sama, tetap menonjol. Tapi kini matanya jatuh ke sudut bawah, pada tulisan kecil yang tadi ditulis Ahmad. Tinta gel hitam, huruf tegak rapi, dan inisial yang ia kenal.
“Nilai bisa naik, tapi semangat jangan pernah turun — A.”
Diva menyentuh tulisan itu dengan ujung jemari—ringan, seolah takut mengusik. Senyum kecil muncul tanpa komando, bukan untuk menolak sedih, melainkan untuk memberi sedih tempat yang wajar. Ia melipat kertas itu lagi, lebih hati-hati, lalu memasukkannya ke saku bagian depan tas—dekat.
Langkahnya terasa lebih mantap. Matahari menyerah pelan di barat; angin membawa wangi tanah yang berubah hangat. Untuk pertama kalinya hari ini, rasa gagal di dadanya tidak lagi dingin. Ia berubah menjadi sesuatu yang perlahan menghangatkan telapak tangan: kecil, nyata, dan bisa digenggam.