Sore turun pelan-pelan, seperti seseorang yang tahu caranya mengetuk tanpa mengganggu. Langit di atas halaman sekolah memerah oranye keemasan; sinarnya menyapu rerumputan yang mulai ditinggalkan langkah-langkah pulang. Kertas pengumuman di papan mading bergoyang sedikit, tertiup angin yang membawa sisa wangi kapur dan tanah. Di kejauhan, bel sekolah yang jarang dipakai sore-sore berbunyi sekali—pendek, seperti salam yang terlambat.
Ahmad duduk di bangku taman yang sudah hafal berat mereka bertiga. Di kanan, Safira; di kiri, Diva. Jarak yang biasanya diisi tawa, kini diisi hening yang rapi. Tidak ada yang marah, tidak ada yang berkata kasar, tidak ada yang menengok ke arah lain. Tapi ada sesuatu di udara—tipis, bening, sukar disebut—yang membuat napas harus diatur.
Ahmad merasakan itu dar