Spanduk putih besar berkibar di bawah matahari pagi: “Selamat Jalan, Siswa Angkatan Terakhir.” Bunga-bunga kertas menempel seperti musim yang dipanggil paksa ke atas panggung. Lagu-lagu kenangan diputar lewat pengeras suara—suara penyanyi bercampur gema, membuat lirik-lirik terasa datang dari tempat yang sedikit lebih jauh. Lapangan sekolah penuh seragam putih yang sekarang jadi kanvas: tanda tangan saling silang, coretan bercanda, pesan yang ingin bertahan lebih lama daripada spidol yang memudah. Bau tinta menyengat lembut di udara, bercampur wangi rambut yang kena matahari, keringat yang tidak malu, dan sedikit debu yang naik dari tanah.
Di tengah kerumunan itu, kami bertiga berdiri berdekatan: Ahmad, Diva, dan aku, Safira—tiga titik yang dulu mudah digambar garisnya, sekarang pelan-pel