Beberapa hari setelah Armand ditahan, keadaan mulai lebih tenang. Remy diam-diam merencanakan lamaran yang pernah dijanjikannya. Dia meminta bantuan Bu Maryam, tetapi berita itu segera diketahui Edo dan Lukas.
"Kamu membutuhkan kami," ujar Edo. "Lamaran pertama kalian melibatkan pistol. Standar untuk perbaikan cukup tinggi."
"Aku tidak meminta komentar," jawab Remy.
Lukas menyarankan taman belakang karena tempat itu menjadi saksi banyak perubahan mereka. Remy justru ingin mengajak Nesia kembali ke Martha Hall, tempat semuanya dimulai.
"Apakah itu tidak membuat Nyonya mengingat kejadian buruk?" tanya Lukas.
"Aku ingin mengganti kenangan itu dengan pilihan yang lebih baik."
Mereka menyewa Martha Hall untuk satu malam tanpa memberi tahu Nesia. Bu Nita dan Nurma bersedia membantu. Tidak ada dekorasi mewah, hanya bunga lili putih dan makanan dari panti.
Remy datang sore hari untuk memeriksa persiapan. Ruang rias tempat Nesia dahulu dipaksa berganti pakaian dibiarkan tertutup. Dia berdiri lama di depan pintunya sampai Bu Nita menghampiri.
"Nesia tidak pernah menyalahkan saya, tetapi saya tetap menyesal tidak mengetahui apa yang terjadi," ujar Bu Nita.
"Saya yang memberi perintah," jawab Remy. "Semua orang hanya bergerak karena takut kepada saya."
"Kalau malam ini Tuan ingin memperbaiki kenangan, jangan buat semuanya tentang rasa bersalah. Tanyakan apa yang Nesia inginkan setelahnya."
Remy mengangguk. Dia meminta pintu ruang rias dibuka dan masuk sendirian. Kursi tempat Nesia didandani masih berada di sudut. Pada hari itu, Remy bahkan tidak bertanya nama lengkap perempuan yang akan dinikahinya.
Lukas datang membawa kotak cincin. "Apakah Kakak masih yakin memilih tempat ini?"
"Aku ingin mengakui kesalahan di tempat yang sama, kemudian memulai sesuatu yang berbeda."
"Nyonya mungkin marah karena semua orang menyembunyikan rencana."
"Itu risiko yang harus kuhadapi."
Anak-anak dari panti membantu menyusun bunga. Lala membuat kartu bertuliskan agar Kak Nesia dan Kak Remy tidak sering bertengkar. Remy menyimpan kartu itu dekat cincin.
Edo mencicipi semua makanan dan mengeluh tidak ada hidangan mahal. "Kamu melamar pemimpin perusahaan dengan gorengan?"
"Nesia lebih menyukai makanan ini daripada jamuan mahal," jawab Remy.
"Akhirnya kamu mengenal selera istrimu."
Nurma membawa seragam lama Nesia yang masih tersimpan di loker Martha Hall. Remy meminta pakaian itu dibersihkan dan dibingkai, bukan untuk mengingatkan status lama, tetapi menghormati kerja keras Nesia sebelum mereka bertemu.
"Dia mungkin akan mengatakan ini berlebihan," ujar Lukas.
"Aku sudah terbiasa mendengar protesnya."
Menjelang waktu yang dijanjikan, Remy berkali-kali melihat pintu. Setiap kendaraan berhenti membuatnya berdiri. Luka karena ditinggalkan Dona pada hari pernikahan ternyata belum sepenuhnya hilang.
Lukas menyadari kegelisahan tersebut. "Nyonya Nesia akan datang. Dia tidak pernah melanggar janji tanpa alasan."
"Aku tahu."
Namun mengetahui dan mempercayai ketenangan adalah dua hal berbeda. Remy baru memahami betapa takutnya dia kehilangan Nesia setelah berharap pada masa depan bersama.
Pada hari yang direncanakan, Nesia pulang lebih lambat dari kantor. Dia menerima laporan bahwa salah satu pabrik berhenti karena mesin rusak dan langsung pergi ke lokasi.
Remy menunggu di Martha Hall selama dua jam. Edo mulai memakan hidangan, sedangkan Lukas berkali-kali memintanya berhenti.
"Dia tidak datang," ujar Remy gelisah.
"Nesia sedang bekerja, bukan melarikan diri dari pernikahan," jawab Edo. "Jangan samakan dengan masa lalu."
Remy menyadari ketakutannya tidak masuk akal. Namun, menunggu di gedung yang sama seperti hari Dona pergi membangkitkan luka lama.
Nesia akhirnya tiba hampir tengah malam dengan pakaian kerja sederhana. Wajahnya terlihat lelah dan ada noda oli di lengannya.
"Mengapa semua orang ada di sini?" tanyanya.
Bu Nita memeluk mantan pegawainya. "Kami hanya membantu seseorang memperbaiki kesalahan besar."
Remy mendekati Nesia dan meminta maaf karena membawanya tanpa menjelaskan. Nesia melihat ruangan yang dulu membuatnya ketakutan kini dipenuhi orang-orang yang dikenalnya.
"Apakah ada pernikahan lain yang membutuhkan pengganti?" tanyanya.
"Tidak. Kali ini aku ingin bertanya sebelum mengambil keputusan."
Remy membawa Nesia ke panggung kecil. Dia menceritakan bagaimana pada hari pertama dirinya hanya melihat Nesia sebagai jalan keluar dari rasa malu. Kini perempuan itu menjadi rumah, keluarga, dan masa depan yang ingin dijaganya.
Dia berlutut sambil membuka kotak cincin.
"Vanesia Maheswari, maukah kamu memilih menikah denganku sekali lagi, tanpa kontrak dan tanpa paksaan?"
Nesia menahan air mata. Sebelum menjawab, ponselnya berbunyi. Dia hendak mematikannya, tetapi nama Dona terlihat di layar.
"Jawab," ujar Remy. "Dia tidak akan menelepon selarut ini tanpa alasan."
Dona memberi kabar bahwa Armand dilarikan ke rumah sakit tahanan setelah mengalami serangan jantung. Kondisinya kritis dan meminta bertemu kedua putrinya.
Suasana bahagia langsung berubah. Nesia memandang Remy dengan rasa bersalah.
"Kita harus pergi," kata Remy sambil berdiri.
"Tetapi saya belum menjawab."
"Jawab setelah kamu siap. Malam ini keluargamu membutuhkanmu."
Mereka meninggalkan Martha Hall menuju rumah sakit. Cincin tetap berada dalam genggaman Remy, sementara lamaran menunggu jawaban.
Di dalam mobil, Nesia meminta maaf karena malam yang disiapkan Remy kembali terganggu. Remy memasukkan kotak cincin ke saku.
"Kamu tidak menyebabkan serangan jantung Armand."
"Tetapi semua orang sudah menunggu dan menyiapkan tempat itu."
"Mereka akan memahami. Keluarga lebih penting daripada jadwal lamaran."
Nesia memandangnya. Dulu Remy melanjutkan pernikahan meskipun mempelai pergi karena takut reputasinya rusak. Kini dia meninggalkan acara yang disiapkan sendiri tanpa ragu demi orang lain.
"Kamu berubah," ujarnya.
"Karena kamu terlalu sering menentangku."
"Berarti saya guru kepribadian yang lebih berhasil daripada Miss Rosa."
Remy tersenyum dan menggenggam tangannya. Lamaran bisa diulang, sementara kesempatan mendengar pengakuan Armand mungkin hanya datang sekali.
Nesia bersandar pada bahunya. Meski belum memberi jawaban resmi, dalam hati dia sudah tahu akan memilih Remy lagi.
Di rumah sakit tahanan, Armand terbaring dengan alat bantu napas. Dona berdiri di sisi lain ranjang bersama Liana.
Dokter mengatakan kondisi jantungnya benar-benar lemah, tetapi masih sadar. Armand membuka mata ketika Nesia mendekat.
"Aku ingin bicara tanpa polisi," bisiknya.
Permintaan itu ditolak. Penyidik tetap berada di luar tirai dan merekam percakapan.
Armand memberikan sebuah nomor brankas kepada Nesia. "Di sana ada bukti terakhir bahwa Adrian memerintahkan kebakaran."
"Mengapa baru memberikannya sekarang?"
"Karena aku tidak ingin mati membawa seluruh kebohongan."
Sebelum kehilangan kesadaran, Armand menyebut satu nama yang membuat dokter Ilham terkejut.
"Cari Bram. Dia yang mengubah semua perintahku menjadi pembunuhan."
Ilham memeriksa kondisi Armand dan meminta semua orang keluar agar pasien beristirahat. Di koridor, Dona menggenggam tangan Nesia.
"Apa pun yang kita temukan tentang Ayah, jangan biarkan saya menghadapinya sendiri," pintanya.
"Kita akan menghadapinya sebagai saudara," jawab Nesia.
Dona mengangguk, kali ini tanpa menyangkal hubungan mereka.
***