Nama Bram tidak dikenal Nesia, tetapi Remy pernah mendengarnya. Bram Surya adalah kepala keamanan lama Wijaya Group yang mengundurkan diri setelah kematian Helena.
"Dia juga paman Rania dari pihak ibu," ujar Dona setelah memeriksa arsip keluarga.
Ilham mengatakan Bram pernah membawa Armand ke klinik malam setelah kebakaran. Tangannya terluka dan pakaiannya berbau asap.
"Apakah Armand mengatakan Adrian yang memerintah untuk menyelamatkan diri?" tanya Remy.
"Kita membutuhkan bukti dari brankas," jawab Nesia.
Nomor yang diberikan Armand mengarah pada ruang penyimpanan di gedung tua Wijaya Group. Polisi membuka brankas di hadapan mereka. Di dalamnya terdapat rekaman percakapan Adrian dan Bram, buku pembayaran, serta foto malam kebakaran.
Rekaman membuktikan Adrian meminta Bram mengambil bayi agar Sandra bersedia menikah dengannya. Namun, dia hanya memerintahkan penculikan, bukan membakar rumah. Bram menyalakan api untuk menghapus jejak dan kemudian memeras Armand yang mengetahui rencana tersebut.
Dalam rekaman kedua, Armand terdengar memarahi Bram karena membahayakan bayi. Bram membalas bahwa api diperlukan agar semua orang percaya Nesia meninggal. Dia kemudian menuntut saham dan perlindungan sebagai imbalan diam.
"Jadi Ayah tidak memerintahkan kebakaran," ujar Dona.
"Tetapi dia membantu menutupi dan membayar pelaku," jawab Sandra. "Itulah yang membuat Bram terus memiliki kekuatan."
Nesia mendengarkan suara ayah kandungnya memohon agar Bram tidak menyentuh anak-anak. Ada sisi manusia yang selama ini hampir tidak terlihat. Namun, rasa takut Armand selalu berakhir menjadi keputusan yang melukai orang lain.
Buku pembayaran mencatat uang terus mengalir bahkan setelah Adrian meninggal. Bram menggunakan dana tersebut untuk menyuap petugas, mengawasi panti, dan membentuk perusahaan kreditur.
"Utang Maheswari sebenarnya masuk ke rekening Bram," ujar Edo setelah memeriksa nomor rekening. "Armand menandatangani kontrak karena diperas."
"Mengapa Ayah tidak melapor?" tanya Dona.
"Karena Bram memiliki rekaman ini dan bukti hubungan Nesia," jawab Remy. "Armand lebih memilih menghancurkan perusahaan perlahan daripada menghadapi kebenaran."
Mereka menemukan surat ancaman terakhir. Bram meminta Armand menyerahkan kendali penuh setelah Nesia muncul. Jika menolak, dia akan membocorkan bukti kebakaran dan kematian Helena sambil menjadikan Armand satu-satunya pelaku.
"Itu sebabnya Ayah menyuruhku meninggalkan pernikahan," kata Dona. "Dia takut hubungan dengan Remy membuat kedua perusahaan memeriksa transaksi bersama."
Penyidik menyusun kronologi baru. Adrian memulai penculikan, Bram memperluasnya menjadi kebakaran, Armand menutup kejahatan, dan selama puluhan tahun ketiganya saling mengancam.
"Tidak ada satu orang pun yang tidak bersalah," ujar Nesia. "Tetapi tingkat kesalahan mereka berbeda."
Sandra mengangguk. "Pengadilan yang akan menentukan. Yang penting, kita berhenti mewariskan kebohongan itu."
Dokumen lain menunjukkan Bram memiliki akses lama ke sistem keamanan rumah Wilson melalui kode William. William pernah mempekerjakannya sebelum mengetahui keterlibatannya dalam kematian Helena.
"Mengapa kode itu masih aktif?" tanya Lukas.
Remy menghubungi kepala keamanan. Sistem lama seharusnya sudah dinonaktifkan, tetapi seseorang mengaktifkannya kembali melalui akses Anton sebelum ditangkap.
"Bram menyiapkan jalan masuk sejak lama," ujar Remy. "Dia tidak hanya mencari bukti. Dia mungkin ingin menghapus seluruh salinan yang menghubungkannya dengan Ibu."
Bu Maryam diberi peringatan untuk meninggalkan rumah, tetapi panggilannya tidak tersambung. Kamera menunjukkan semua pintu terkunci dari dalam.
Tim keamanan bergerak menuju rumah menggunakan akses manual. Remy mencoba menghubungi Bu Maryam melalui sambungan dapur, tetapi hanya terdengar suara benda jatuh.
"Aku ikut," kata Nesia.
"Kali ini kamu tetap di rumah sakit bersama Dona," jawab Remy. "Bram menginginkan bukti yang berkaitan denganmu."
Nesia meminta suaminya berjanji tidak masuk sebelum polisi tiba. Di rumah, Bram mengikat Bu Maryam dan Ani di ruang keluarga sambil mencari kaset William serta surat Helena.
Bu Maryam sengaja mengatakan dokumen berada di ruang kerja lantai atas. Saat Bram naik, Ani melepaskan ikatan menggunakan pecahan vas dan menekan alarm kebakaran.
Pintu otomatis terbuka ketika sistem darurat aktif. Keduanya berlari keluar tepat saat polisi memasuki halaman.
Bram membawa satu kotak dari ruang kerja dan naik ke atap, lalu mengancam membakarnya jika tidak diberi jalan keluar.
Remy mengenali kotak itu sebagai tempat foto keluarga, bukan bukti yang dicari. Namun, Bram belum mengetahui kesalahannya.
"Armand tetap membantu menutupinya," ujar Nesia.
"Dia bersalah, tetapi bukan satu-satunya pelaku," kata penyidik.
Buku pembayaran menunjukkan Bram menerima uang dari Armand, Adrian, dan beberapa direksi Maheswari. Dia juga berada di balik sabotase mobil Helena, sedangkan Jaka hanya menjalankan pekerjaan teknis di bawah ancaman.
"Di mana Bram sekarang?" tanya Lukas.
Alamat terakhirnya adalah sebuah perkebunan di luar kota. Polisi bergerak, tetapi rumah itu sudah kosong. Mereka menemukan ruang pengawasan berisi foto Nesia, Remy, Dona, dan seluruh saksi.
Di dinding terdapat rencana yang menunjukkan Bram mengatur banyak serangan tanpa sepengetahuan Armand. Dia memanfaatkan ketakutan Armand untuk mengambil dana dan membangun jaringan sendiri.
"Berarti ancaman belum berakhir," kata Remy.
Sebuah laptop menyimpan pesan terjadwal. Bram berniat mengambil alih perusahaan kreditur setelah Maheswari bangkrut. Penangkapan Armand merusak rencananya, sehingga dia mungkin menyerang secara langsung.
Polisi menempatkan perlindungan tambahan di rumah sakit dan kantor. Nesia menolak berhenti bekerja, tetapi setuju tidak pergi tanpa pengawal.
Armand sadar keesokan harinya. Penyidik menunjukkan bukti Bram. Lelaki itu mengakui dirinya membayar untuk menutup kejahatan karena takut skandal menghancurkan keluarga.
"Ketakutan Anda justru memberi Bram kekuatan," ujar Nesia.
"Aku tahu."
"Apakah Anda menyesal karena menyakiti kami atau hanya karena tertangkap?"
Armand memandang kedua putrinya. "Aku tidak tahu cara meminta maaf setelah semua yang kulakukan."
Dona menggenggam tangan Liana, tetapi tidak mendekat. "Mulailah dengan mengatakan kebenaran di pengadilan."
Armand setuju memberikan kesaksian penuh dan menyerahkan seluruh aset pribadi untuk mengganti kerugian perusahaan. Itu tidak menghapus kejahatan, tetapi menjadi langkah pertama tanggung jawab.
Di luar ruang rawat, Remy kembali mengeluarkan kotak cincin. "Malam kita terus diganggu. Tetapi aku masih menunggu jawaban."
Nesia tersenyum. "Saya sengaja belum menjawab agar kamu belajar sabar."
"Aku sudah cukup sabar."
"Kalau begitu, ya. Saya mau menikah denganmu sekali lagi."
Remy memasangkan cincin ke jarinya dan memeluknya. Dona yang melihat dari pintu menghela napas.
"Setidaknya kali ini jangan suruh aku menjadi pengantin," katanya.
"Saya ingin Kak Dona berdiri di sisi saya," jawab Nesia.
Dona terdiam, lalu mengangguk. "Aku akan memikirkannya."
Kebahagiaan itu berlangsung singkat. Lukas menerima pemberitahuan bahwa sistem keamanan rumah Remy baru saja dimatikan dari jarak jauh.
Bu Maryam dan Ani masih berada di dalam rumah.
Di layar kamera terakhir, seorang lelaki tua memasuki gerbang menggunakan kode milik William.
Bram telah datang mengambil bukti terakhir.
Dan kini keselamatan seluruh penghuni rumah menjadi taruhannya.
***