Remy tiba ketika polisi sudah mengepung rumah. Bu Maryam dan Ani berada di ambulans dengan kondisi selamat, tetapi Bram masih berdiri di atap sambil membawa kotak foto keluarga.
"Di mana dokumen William?" teriak Bram.
"Sudah diserahkan kepada polisi," jawab Remy dari halaman. "Kotak yang kamu pegang hanya berisi foto."
Bram membuka tutupnya dan membuang beberapa gambar ke bawah. Wajahnya berubah marah saat menyadari Remy berkata benar.
"Kamu berbohong! William selalu menyimpan salinan di rumah ini."
"Papa jauh lebih mengenalmu daripada yang kamu pikirkan. Tidak ada bukti penting yang ditinggalkan di tempat mudah dijangkau."
Bram mengancam membakar rumah jika tidak diberi jalan keluar. Bau bahan bakar tercium dari lantai atas. Polisi meminta Remy mundur, tetapi dia menolak pergi sebelum memastikan tidak ada pekerja lain tertinggal.
"Ada tiga titik panas di lantai dua," lapor petugas pemadam. "Seseorang menuangkan bahan bakar dari ruang kerja menuju lorong."
Lukas membuka denah rumah pada tabletnya. Jalur penyiram otomatis terputus karena Bram mematikan pompa utama. Pompa bisa dinyalakan melalui panel luar di sisi timur, tetapi tempat itu terlihat langsung dari atap.
"Saya bisa mencapainya melalui pagar belakang," ujar Edo.
Remy melarang. Dia meminta petugas menggunakan pelindung dan mengalihkan perhatian Bram dari depan. Negosiator polisi mulai berbicara sambil dua pemadam bergerak menuju panel.
Di ambulans, Bu Maryam menjelaskan Bram masuk menggunakan suara rekaman William. Sistem lama mengenali kode serta perintah suara, lalu membuka gerbang tanpa alarm.
"Dia bertanya tentang kotak Nyonya Helena," kata Bu Maryam. "Saya bilang tidak pernah melihatnya."
Ani menunjukkan luka di pergelangan akibat ikatan. "Bram tidak percaya dan menggeledah semua kamar. Dia marah karena kamar Nyonya Nesia tidak menyimpan dokumen apa pun."
Nesia yang masih tersambung melalui telepon mendengar kesaksian itu. "Bu Maryam, jangan kembali ke rumah sebelum aman."
"Nyonya juga jangan datang," jawab perempuan itu. "Tuan Remy sudah cukup membuat kami khawatir."
Remy memprotes dari kejauhan, tetapi semua orang mengabaikannya.
Pompa penyiram akhirnya menyala. Air membasahi ruang kerja dan memperlambat api. Bram menembak ke arah panel, namun pelurunya mengenai dinding pelindung.
Polisi menggunakan suara tembakan untuk menentukan posisinya. Dua petugas naik melalui tangga samping, sementara tim lain memasuki lantai bawah.
Lukas berhasil menghapus kode William dari sistem dan mengembalikan kendali pintu. Semua rekaman akses langsung disalin agar bisa membuktikan Bram sebagai penyusup.
"Sistem sudah menjadi milik kita lagi," katanya.
Remy menyuruh petugas menutup seluruh pintu menuju ruang arsip. Jika Bram mencoba turun, satu-satunya jalur terbuka mengarah ke taman tempat polisi menunggu.
Rencana itu berhasil. Bram meninggalkan atap ketika asap semakin tebal dan bergerak tepat ke jalur yang sudah disiapkan.
Kepala keamanan memastikan seluruh penghuni sudah keluar. Namun, seekor anjing penjaga masih terdengar menggonggong dari garasi. Ani menangis karena hewan itu terjebak.
"Saya akan membukanya melalui sistem luar," ujar Lukas.
Sistem masih dikendalikan Bram. Lukas dan tim teknologi mencoba memutus akses lama milik William. Setiap kali satu pintu berhasil dibuka, Bram menguncinya kembali.
Nesia menelepon dari rumah sakit. "Jangan masuk ke dalam, Remy."
"Aku berada di halaman."
"Saya mengenal nada suara kamu ketika sedang berbohong."
Remy menatap pintu utama. Dia memang berniat masuk melalui jalur ruang kerja.
"Tunggu polisi," pinta Nesia. "Bu Maryam dan Ani sudah selamat. Bukti juga aman. Jangan memberi Bram korban baru."
Remy mengembuskan napas dan berjanji menunggu. Nesia tetap menyambungkan panggilan agar bisa memastikan.
Lukas akhirnya mengambil alih sistem. Pintu garasi terbuka dan anjing penjaga berlari keluar. Pada saat yang sama, alarm kebakaran menyala. Asap mulai keluar dari jendela lantai dua.
Bram menyalakan api di ruang kerja. Petugas pemadam bergerak masuk, dilindungi polisi. Bram turun dari atap melalui balkon dan mencoba melarikan diri menggunakan tali.
Edo melihatnya menuju taman belakang. Polisi menutup jalur, tetapi Bram melempar granat asap dan menghilang di antara pepohonan.
Remy ikut mengejar sampai mendengar suara tembakan. Dia berhenti seperti janjinya kepada Nesia dan membiarkan petugas bergerak lebih dahulu.
Bram ditemukan di rumah kaca sambil menodongkan senjata kepada salah satu petugas kebun yang bersembunyi. Dia meminta mobil serta jalan keluar.
"Tidak ada lagi orang yang akan menjadi alatmu," ujar Remy dari balik perlindungan.
"Ayahmu juga menggunakan orang lain. Jangan bertindak seolah keluarga Wilson bersih."
"Kesalahan Papa sedang dibuka. Berbeda denganmu, kami tidak lagi menyembunyikannya."
Bram mengarahkan pistol kepada Remy. Sebelum sempat menembak, petugas kebun menggigit tangannya dan polisi melumpuhkannya.
Bram diborgol. Di sakunya ditemukan pemantik api, beberapa kode keamanan, dan flashdisk berisi daftar orang yang masih bekerja untuknya.
Api berhasil dipadamkan sebelum mencapai kamar. Ruang kerja rusak berat, tetapi foto serta dokumen pribadi sebagian besar selamat.
Remy mengambil satu foto Helena dari halaman. Bagian tepinya terbakar, namun wajah ibunya masih terlihat.
"Maaf saya terlambat menemukan kebenaran, Bu," gumamnya.
Lukas berdiri di sampingnya. "Kita akan memastikan semua pelaku bertanggung jawab."
Remy menatap adiknya dan mengangguk. Mereka meninggalkan rumah untuk sementara sampai pemeriksaan selesai.
Ketika Remy kembali ke rumah sakit, Nesia langsung memeluknya.
"Kamu menepati janji?" tanyanya.
"Aku tidak masuk sebelum polisi."
"Tetapi kamu ikut mengejar."
"Hanya sampai taman."
Nesia memukul dadanya pelan. "Kesabaranmu masih perlu banyak latihan."
Remy mencium keningnya. "Setidaknya malam ini semua orang selamat dan Bram sudah tertangkap."
Namun, flashdisk Bram dilindungi kata sandi. Satu-satunya petunjuk adalah tanggal kematian Helena dan nama seseorang yang tidak dikenal.
Nama itu adalah Martha.
Di bawah nama tersebut terdapat serangkaian angka yang awalnya dianggap kode tambahan. Bu Nita mengenalinya sebagai tanggal pendirian Martha Hall.
"Bram mungkin tidak tahu hubungan gedung itu dengan Helena," ujarnya melalui telepon. "Tetapi dia pasti menemukan nama Ibu dari catatan William."
Remy memandang rumah yang rusak. Bukti ibunya ternyata tersebar di tempat-tempat yang selama ini dianggap biasa. William mungkin sengaja memisahkannya agar tidak bisa dimusnahkan sekaligus.
Polisi meminta semua keluarga tinggal di lokasi aman selama pemeriksaan. Remy memilih membawa mereka ke rumah sakit karena Sandra dan Dona masih dirawat. Di sana, keluarga berkumpul menunggu hasil pembacaan flashdisk.
Ketika kata sandi akhirnya berhasil, muncul folder bernama Martha Hall. Isinya hanya satu foto gedung dan koordinat ruangan di bawah panggung.
"Besok kita kembali ke tempat semuanya dimulai," kata Nesia.
Remy menggenggam tangannya. "Kali ini tidak ada yang akan memaksamu masuk ke ruangan mana pun."
Nesia mengangguk. Di tengah bau obat dan suara langkah perawat, janji sederhana itu terasa lebih kuat daripada perlindungan bersenjata mana pun.
***