Remy mengangkat kedua tangan. Mikrofon kecil di kerahnya mengirim setiap suara kepada polisi yang mengepung pabrik.
"Saya datang untuk mendengar," katanya.
Rico menodong punggungnya dan memerintahkan dia berjalan ke tengah lantai produksi. Mesin-mesin berkarat mengelilingi tempat ayah mereka meninggal puluhan tahun silam.
Ratih turun membawa map lusuh. Di dalamnya terdapat foto kecelakaan dan surat tuntutan yang tidak pernah dijawab William.
"Ayah kami melaporkan mesin rusak tiga kali," ujar Ratih. "Manajer mengatakan produksi tidak boleh berhenti. Ketika mesin meledak, William membayar petugas agar menyebutnya kelalaian pekerja."
Remy membaca surat tersebut. "Saya sudah membuka penyelidikan dan akan memberi pertanggungjawaban."
"Dengan uang? Kalian selalu berpikir uang menghapus kematian."
"Tidak. Uang tidak menghapus apa pun. Tetapi saya bisa mengakui kejahatan itu dan memastikan keluarga lain tidak mengalaminya."
Rico tertawa pahit. Dia menunjukkan luka di kakinya, bukan akibat kebakaran rumah Sandra seperti dugaan Dona, melainkan cedera saat bekerja di pabrik yang sama ketika remaja.
Armand membayar operasinya dan memberi pekerjaan. Sejak itu Rico menganggap lelaki tersebut penyelamat, sampai Bram meyakinkannya bahwa Nesia serta Dona bertanggung jawab atas kehancuran keluarga Maheswari.
"Armand memakai kemarahanmu," kata Remy. "Bram juga. Sekarang Surya memakai kalian untuk mengambil uang dan melarikan diri."
Ratih menoleh kepada Rico. Surya berjanji menjemput mereka dengan kapal, tetapi tidak pernah datang. Kecurigaan terlihat di wajah keduanya.
Remy mengeluarkan salinan transaksi yang diizinkan polisi untuk dibawanya. Surya telah memindahkan sebagian besar uang Bram ke rekening luar negeri atas namanya sendiri. Pembayaran kepada Rico hanya sebagian kecil.
"Dia berbohong," gumam Rico.
"Semua orang kaya berbohong," balas Ratih. "Termasuk dia."
Ratih mengangkat pistol ke arah Remy. Dari mobil, Nesia mendengar Raka memerintahkan tim bersiap. Penembak memiliki sasaran, tetapi Rico berdiri terlalu dekat.
Nesia melihat kamera pabrik dan menyadari panel pengumuman masih terhubung. Dia mengambil mikrofon komunikasi umum.
"Bu Ratih, saya Vanesia."
Suara Nesia bergema di seluruh bangunan. Ratih terkejut dan mencari sumbernya.
"Saya juga anak dari orang yang melakukan banyak kesalahan," lanjut Nesia. "Saya pernah ingin semua orang yang menyakiti keluarga saya merasakan kehilangan yang sama. Tetapi jika Ibu membunuh Remy, Ibu hanya membuat anak lain menanggung dosa ayahnya."
"Diam! Kamu tidak tahu kehilangan kami."
"Benar. Saya tidak akan berpura-pura tahu. Tetapi saya tahu rasanya hidup ditentukan oleh kesalahan orang tua. Kita bisa berhenti mewariskannya malam ini."
Rico menurunkan pistol sedikit. Ratih justru menarik pelatuk ke arah pengeras suara. Tembakan itu memberi polisi alasan bergerak. Kaca pecah dan petugas masuk dari tiga pintu.
Rico menjatuhkan senjata, tetapi Ratih menarik Remy sebagai perisai. Dia mundur menuju tangga besi yang sudah rapuh.
"Suruh mereka berhenti atau dia mati!"
Raka menahan tim. Remy tidak melawan. Dia terus berbicara tentang para keluarga korban yang akan mendapat kesempatan memberi kesaksian. Ratih mengatakan dirinya tidak percaya pada pengadilan yang dulu dibeli William.
"Kalau Anda membunuh saya, kebenaran tentang ayah Anda akan berubah menjadi cerita penculikan ini," ujar Remy. "Biarkan semua orang mengenal Santoso sebagai pekerja yang berani melapor, bukan hanya sebagai ayah seorang pembunuh."
Tangan Ratih gemetar. Rico memanggil kakaknya dan memintanya berhenti. Dia mengaku lelah menjadi senjata bagi orang lain.
Ratih menoleh sesaat. Tangga di bawah kakinya patah. Remy meraih pagar, sedangkan Ratih hampir jatuh ke lantai bawah. Dia masih memegang pistol ketika Remy menangkap pergelangan tangannya.
"Lepaskan saya," katanya.
"Saya tidak akan membayar kematian dengan kematian lagi."
Rico membantu polisi menarik mereka. Setelah selamat, Ratih tidak lagi melawan. Dia menyerahkan pistol dan meminta semua bukti kecelakaan dalam map tidak dihilangkan.
"Saya akan memastikan itu masuk pengadilan," janji Raka.
Rico serta Ratih ditangkap. Dari keterangan mereka, polisi menemukan Surya di sebuah vila dekat perbatasan. Dia membawa uang Bram, paspor palsu, dan daftar pejabat yang pernah disuap Armand.
Nesia berlari masuk setelah lokasi dinyatakan aman. Dia memeluk Remy begitu erat sampai lelaki itu kesulitan bernapas.
"Saya mengatakan tidak ada yang bergerak sendiri," katanya dengan air mata marah.
"Polisi ada di sekelilingku."
"Tetap saja Anda yang berdiri di depan pistol."
Remy tidak mencari pembelaan. "Aku minta maaf."
Nesia memeriksa wajah dan tangannya, lalu memeluknya lagi. "Permintaan maaf diterima setelah dokter mengatakan Anda baik-baik saja."
Di rumah sakit, Remy hanya mengalami luka gores. Dona datang bersama Sandra dan memarahinya hampir setengah jam. Lukas merekam sebagian omelan sebagai bahan sambutan pernikahan.
Raka mengabarkan ancaman terhadap Nesia dan Dona resmi berakhir. Rico mengakui tidak ada pelaku lain yang menerima perintah. Ratih juga bersedia bersaksi mengenai kematian William dan kejahatan Surya.
Pagi menjelang ketika Nesia serta Remy meninggalkan rumah sakit. Mereka melewati Martha Hall yang masih gelap. Di kaca depan gedung, pengumuman penundaan pernikahan masih terpasang.
"Kapan kita memilih tanggal baru?" tanya Remy.
Nesia menatap matahari yang mulai muncul. "Hari ini. Sebelum ada rahasia keluarga lain yang menemukan kita."
Remy tertawa dan menggenggam tangannya. Untuk pertama kalinya, mereka memilih hari bahagia bukan karena terdesak keadaan, melainkan karena ancaman terakhir telah mereka hadapi bersama.
Sebelum pulang, mereka singgah di makam William dan Helena. Remy meletakkan laporan awal kecelakaan pabrik di antara kedua pusara. Dia tidak meminta maaf atas nama ayahnya karena pengampunan bukan miliknya untuk diberikan. Dia hanya berjanji tidak akan mengubur temuan tim independen.
Nesia berdiri di sampingnya tanpa berbicara. Setelah beberapa menit, Remy mengatakan dirinya ingin melepas jabatan sementara sampai audit selesai. Lukas akan menangani operasional bersama pengawas dari serikat pekerja.
"Anda yakin?" tanya Nesia.
"Tidak sepenuhnya. Tetapi untuk sekali ini, ketidakpastian tidak membuatku ingin mengendalikan semuanya."
Nesia tersenyum. Perubahan Remy tidak terjadi melalui satu tindakan besar. Perubahan itu terlihat dari kesediaannya memberi orang lain ruang, mengakui ketakutan, dan bertanggung jawab atas kekuasaan yang diwarisi.
Mereka memilih tanggal tiga minggu kemudian. Raka mengatakan waktu itu cukup untuk pemeriksaan keamanan baru, sementara dokter memastikan Tita sudah dapat hadir. Undangan lama tidak dicetak ulang. Anak-anak panti menempelkan kertas kecil bertuliskan tanggal baru pada setiap kartu.
Ketika matahari naik lebih tinggi, Martha Hall dibuka kembali. Para pekerja membersihkan panggung dan mengganti bunga yang layu. Nesia turut mengangkat kursi sampai Remy memaksanya beristirahat karena semalam tidak tidur.
"Calon istri Anda pernah menghadapi penculik," kata Nesia. "Dia mampu membawa kursi."
"Calon suamimu baru disandera. Beri dia kesempatan merasa berguna."
Nesia menyerahkan kursi itu sambil tertawa. Di sekeliling mereka, keluarga dan pekerja memulai persiapan lagi. Tidak ada yang menjamin hidup akan bebas dari masalah setelah pernikahan. Namun, kini mereka tahu rahasia tidak akan dibiarkan tumbuh dalam diam.
***