Tiga minggu terasa singkat bagi semua orang kecuali Nesia. Setiap pagi dia menemukan daftar baru di meja makan: pemeriksaan keamanan, susunan tamu, jadwal latihan, dan laporan renovasi perpustakaan panti.
Remy menjalani cuti dari perusahaan untuk pertama kalinya. Namun, kebiasaannya mengatur tidak ikut berhenti. Dia membuat tabel warna untuk semua pekerjaan sampai Nesia menyembunyikan laptopnya.
"Pernikahan kita tidak memerlukan laporan setiap dua jam," katanya.
"Bagaimana aku tahu semuanya berjalan baik?"
"Dengan mempercayai orang yang kita pilih."
Remy akhirnya menyerahkan koordinasi kepada Rosa dan Dona. Dia hanya mempertahankan tanggung jawab pengamanan bersama Raka. Semua kartu akses Martha Hall diganti, kamera diperiksa, dan pintu layanan dijaga polisi berpakaian sipil.
Nesia sendiri sibuk dengan perpustakaan panti. Rak baru tiba lebih cepat dari perkiraan. Anak-anak mengecat dinding dengan gambar langit, pohon, serta rumah-rumah yang bentuknya berbeda.
Mila menggambar rumah besar berisi banyak orang. "Ini rumah Kak Nesia."
"Mengapa tidak ada pintunya?"
"Supaya semua keluarga bisa masuk."
Jawaban itu membuat Nesia terdiam. Dulu rumah besar Remy memiliki terlalu banyak pintu terkunci. Kini Bu Maryam makan di meja yang sama, Sandra tinggal sampai rumahnya selesai diperbaiki, dan Dona datang tanpa perlu meminta izin.
Tita membantu melapisi buku setelah dokter mengizinkannya bekerja ringan. Bekas luka di pelipisnya belum hilang. Dia beberapa kali terkejut saat mendengar benda jatuh, tetapi tidak menyembunyikan ketakutannya.
"Saya mulai terapi besok," katanya. "Dulu saya pasti malu mengaku membutuhkannya."
"Kali ini jangan berhenti hanya karena merasa sudah lebih baik," pesan Nesia.
Tita mengangguk. Persahabatan mereka belum kembali seperti dahulu, tetapi telah memiliki dasar yang lebih jujur.
Di perusahaan, audit awal menemukan empat kasus keselamatan lain yang ditutup pada masa William. Remy ingin kembali untuk menangani semuanya, namun Lukas mengingatkan bahwa tim independen justru dibentuk agar keluarga tidak mengendalikan hasilnya.
"Kamu boleh bertanggung jawab tanpa menjadi pusat setiap proses," ujar Lukas.
Remy kesal mendengar nasihat dari adiknya, kemudian mengakui bahwa Lukas benar. Dia mengirim surat kepada keluarga korban dan menunggu mereka menentukan bentuk pertemuan.
Dewan menunjuk Lukas sebagai pelaksana sementara. Beberapa direktur meragukan kemampuannya karena selama ini dia selalu berada di belakang Remy. Pada rapat pertama, Lukas menolak usulan menyembunyikan temuan audit dan mengancam mengundurkan diri jika ditekan.
"Ternyata keluarga ini memiliki dua lelaki keras kepala," kata Nesia saat Lukas pulang.
"Tiga kalau menghitung Edo," jawab Remy.
"Edo bukan keras kepala. Dia hanya lapar."
Seolah dipanggil, Edo muncul dari dapur membawa kotak kue uji coba. Dia mengaku menyelamatkannya dari pemborosan. Rosa mengejarnya karena kue itu seharusnya difoto lebih dahulu.
Di tengah kekacauan menyenangkan itu, surat pengadilan datang. Sidang awal Bram, Adrian, Surya, Rico, dan Ratih dijadwalkan sehari setelah pernikahan. Armand akan disidang terpisah karena kondisi kesehatannya.
Dona bimbang. Dia ingin hadir mendengar dakwaan ayahnya, tetapi takut hari pernikahan Nesia berubah menjadi ruang tunggu menuju pengadilan.
"Kakak tidak perlu tersenyum sepanjang hari untuk saya," ujar Nesia. "Datanglah dengan semua perasaan Kakak."
Sandra juga menerima panggilan sebagai saksi. Malam-malamnya kembali dipenuhi mimpi buruk tentang kebakaran. Nesia menemaninya menemui konselor yang menangani Tita.
"Ibu seharusnya menjaga kamu, bukan sebaliknya," kata Sandra.
"Sekarang kita bisa saling menjaga."
Bu Nita membawa kabar lebih baik. Ruang arsip Helena dan Martha sudah selesai. Foto kedua perempuan dipasang tanpa menyembunyikan nama keluarga mereka. Pada dinding tertulis bahwa gedung itu didirikan untuk memberi pekerjaan aman kepada perempuan.
Remy berdiri lama di depan foto ibunya. Dia meletakkan syal Helena dalam kotak kaca, lalu menambahkan salinan surat terakhir William. Bukan untuk menyamakan kesalahan dan kebaikan mereka, tetapi agar sejarah keluarga ditampilkan utuh.
Dua malam sebelum acara, hujan turun deras seperti malam ketika Nesia pertama kali bertemu Remy. Lampu rumah sempat padam dan membuat semua orang tegang. Ternyata hanya pohon tumbang mengenai kabel.
Remy menemukan Nesia berdiri di teras menikmati udara basah.
"Apakah kamu takut?" tanyanya.
"Sedikit. Tetapi saya tidak ingin hujan selalu menjadi pertanda buruk."
Remy membuka payung dan mengajaknya berjalan ke halaman. Mereka membiarkan percikan membasahi sepatu sambil mengingat pertemuan pertama yang dimulai dengan paksaan.
"Kalau bisa kembali ke malam itu, apa yang akan kamu lakukan?" tanya Nesia.
"Menawarkan bantuan, memberimu pilihan, lalu berharap kamu tetap mau mengenalku."
"Saya mungkin akan menolak."
"Aku akan datang lagi dengan cara yang lebih sopan."
Nesia tertawa. Masa lalu tidak berubah, tetapi maknanya tidak lagi menguasai mereka. Saat kembali ke rumah, listrik menyala dan keluarga bersorak seolah mereka baru memenangkan sesuatu.
Di meja, undangan terakhir menunggu untuk diberikan kepada seseorang yang belum menjawab.
Undangan itu ditujukan kepada Armand.
Keputusan mengirimkannya menimbulkan perdebatan terakhir malam itu. Remy takut Nesia hanya merasa wajib karena hubungan darah, sedangkan Sandra khawatir Dona menyesal jika ayahnya sama sekali tidak diberi tahu.
Nesia menjelaskan undangan bukan pengampunan. Armand boleh mengetahui bahwa kedua putrinya telah berdamai, tetapi dia tidak berhak mengubah acara menjadi tempat meminta pembelaan.
"Saya ingin keputusan hadir atau tidak menjadi tanggung jawabnya," kata Nesia. "Selama ini semua orang membuat pilihan atas nama orang lain. Saya tidak mau mengulanginya."
Dona membawa undangan itu ke kamarnya. Beberapa saat kemudian dia kembali dan mengatakan ingin menyerahkannya bersama Nesia. Sandra memeluk kedua putrinya, meskipun wajahnya menunjukkan ketakutan lama.
Mereka juga menyepakati batas yang jelas. Armand tidak boleh berbicara kepada media, mendekati Sandra tanpa izin, atau menggunakan pernikahan sebagai alasan meminta keringanan. Jika satu syarat dilanggar, undangan ditarik.
Remy melihat cara Nesia memisahkan belas kasih dari kelemahan. Dahulu dia mengira memberi pilihan berarti kehilangan kendali. Kini dia memahami batas yang disepakati bersama justru membuat semua orang lebih aman.
Sebelum tidur, Nesia menulis nama Armand pada amplop tanpa gelar keluarga. Tangannya tidak gemetar. Apa pun jawabannya, hari pernikahan itu tetap menjadi milik Nesia dan Remy.
***