Remy memilih kota pantai kecil yang tidak memiliki hotel mewah. Nesia curiga Lukas membantu menentukan tempat karena penginapan mereka hanya memiliki enam kamar dan sinyal telepon buruk.
"Ini sangat sederhana untuk ukuran Anda," katanya.
"Aku sedang memperluas kemampuan bertahan hidup."
"Kemarin Anda membawa empat koper."
"Tiga di antaranya milikmu."
Mereka berdebat sampai pemilik penginapan tertawa. Untuk menghindari perhatian, Remy mendaftar tanpa gelar dan memakai nama lengkap yang jarang muncul di media.
Hari pertama mereka berjalan di pasar ikan. Remy tidak tahu cara menawar dan hampir membayar sepuluh kali harga biasa. Nesia mengambil alih, lalu membiarkannya membawa semua belanja sebagai hukuman.
Di pantai, tidak ada orang yang mengenal kisah pernikahan kontrak atau keluarga Maheswari. Mereka hanya pasangan yang terlalu lama memilih kelapa dan bertengkar mengenai tabir surya.
Pengawal tetap mengikuti dari kejauhan, tetapi Nesia hampir melupakan keberadaannya. Dia berenang sampai sore, sedangkan Remy ternyata takut air dalam.
"Anda menghadapi Rico dengan pistol, tetapi takut ombak?"
"Pistol tidak menarik kakiku ke dasar laut."
Nesia mengajarinya mengapung. Remy berkali-kali mencengkeram bahunya sampai mereka sama-sama tenggelam sebentar. Ketika akhirnya berhasil, wajahnya tampak lebih bangga daripada saat memenangkan rapat dewan.
Malam hari, mereka memasak ikan bersama pemilik penginapan. Remy masih tidak dipercaya memegang nasi, jadi dia mendapat tugas memotong jeruk. Nesia mengirim foto hasilnya kepada keluarga.
Grup keluarga langsung ramai. Edo bertanya mengapa tidak diajak. Dona meminta oleh-oleh. Sandra mengingatkan mereka memakai obat nyamuk. Bu Maryam hanya ingin memastikan Remy makan sayur.
"Kita pergi supaya jauh dari mereka," kata Remy.
"Tetapi Anda tersenyum membaca semua pesannya."
Remy tidak membantah. Dia menaruh telepon dan mengajak Nesia berjalan di tepi air.
Di bawah langit gelap, mereka berbicara mengenai anak. Topik itu selalu dihindari karena hidup terlalu berbahaya dan pernikahan pertama tidak lahir dari pilihan.
"Apakah kamu ingin memiliki anak?" tanya Remy hati-hati.
Nesia tidak langsung menjawab. Dia menyukai anak-anak panti, tetapi takut mengulangi luka Sandra dan Helena. Menjadi ibu terasa seperti janji jauh lebih besar daripada menikah.
"Suatu hari mungkin," katanya. "Tetapi saya tidak ingin anak menjadi cara memperbaiki keluarga kita."
"Aku juga tidak. Dan kalau kamu tidak menginginkannya, kita tetap keluarga."
Jawaban itu melegakan Nesia. Mereka sepakat tidak membuat keputusan karena desakan nama keluarga atau kebutuhan pewaris.
Keesokan pagi, pusat bantuan menelepon. Seorang perempuan datang membawa anak dan membutuhkan tempat aman. Tita sebenarnya mampu menangani, tetapi Nesia hampir memesan kendaraan untuk pulang.
Remy bertanya apakah tim yang dibentuknya dapat dipercaya. Nesia teringat nasihat yang sering dia berikan kepada Remy.
Dia menelepon Miriam, memastikan prosedur berjalan, lalu tetap tinggal. Beberapa jam kemudian, Tita melaporkan perempuan serta anaknya sudah berada di rumah aman.
"Ternyata tempat itu tidak runtuh tanpa saya," kata Nesia.
"Perasaan yang sangat mengganggu, bukan?"
Mereka tertawa karena akhirnya memahami kegelisahan yang sama. Membangun sesuatu yang baik juga berarti membiarkannya berdiri tanpa terus dipegang.
Pada hari terakhir, Remy membawa Nesia ke dermaga saat matahari terbit. Tidak ada dekorasi atau cincin baru. Dia hanya mengeluarkan dua tiket kosong untuk perjalanan berikutnya.
"Kita isi tujuannya bersama," katanya.
Nesia menyimpan tiket itu. Dahulu Remy menentukan mobil, rumah, dan pernikahan tanpa bertanya. Kini bahkan tujuan liburan dibiarkan kosong sampai mereka memilih berdua.
Sebelum pulang, mereka menulis kartu pos kepada anak-anak panti. Remy menggambar ombak yang terlihat seperti gunung. Nesia tidak memperbaikinya karena gambar itu akan membuat Mila tertawa.
Dalam perjalanan kembali, Nesia tertidur di bahu Remy. Ketika bangun, mereka sudah mendekati kota. Berita dan pekerjaan menunggu, tetapi tidak lagi terasa seperti badai yang akan menelan mereka.
Di rumah, seluruh keluarga ternyata menyiapkan makan malam selamat datang meskipun mereka hanya pergi empat hari. Edo memasang tulisan bulan madu berhasil tanpa penculikan.
Raka yang kebetulan mengantar dokumen menyuruhnya menurunkan tulisan tidak lucu itu. Nesia justru memotretnya sebelum dilepas.
Sandra memperhatikan wajah putrinya dan bertanya apakah perjalanan menyenangkan.
"Sangat tenang," jawab Nesia. "Remy hampir tenggelam di air setinggi dada."
Rahasia itu membuat Remy menjadi bahan tertawaan sepanjang makan malam. Dia mengancam tidak membagikan oleh-oleh, tetapi akhirnya memberikan semuanya.
Saat rumah kembali sepi, Nesia menemukan surat penerimaan program pendidikan hukum di meja. Dia pernah mendaftar berbulan-bulan lalu, sebelum penculikan dan pernikahan.
Program itu mengharuskannya belajar selama satu tahun di kota lain.
Surat tersebut membuat makan malam mendadak sunyi. Edo langsung menawarkan pindah ke kota itu sebagai penjaga, sedangkan Bu Maryam bertanya apakah asramanya memiliki dapur bersih. Remy tidak ikut menertawakan. Dia membaca rincian program dan menyadari tanggal mulai hanya satu bulan lagi.
Nesia hampir menyimpan surat itu. Pusat bantuan baru berdiri, Sandra masih menata hidup, dan Remy baru kembali bekerja. Selalu ada alasan masuk akal untuk menunda keinginannya sendiri.
Sandra mengenali keraguan tersebut. "Ibu kehilangan banyak tahun karena menunggu keadaan aman," katanya. "Keadaan sempurna tidak pernah datang."
Dona mengingatkan bahwa Nesia selama ini meminta semua orang bertanggung jawab atas hidup masing-masing. Menolak kesempatan hanya untuk mengawasi keluarga berarti Nesia kembali menjadikan dirinya penyangga semua masalah.
"Kami mungkin membuat kesalahan saat kamu pergi," kata Dona. "Tetapi itu hak kami juga."
Remy akhirnya mengaku takut. Bukan takut Nesia tidak mampu, melainkan takut jarak membuat istrinya mengetahui bahwa hidup tanpa Remy ternyata lebih mudah.
Nesia duduk di sampingnya. "Saya pernah hidup tanpa Anda. Saya mampu melakukannya. Saya tinggal karena hidup bersama Anda adalah pilihan saya, bukan karena tidak punya tempat lain."
Kalimat itu menyakitkan sekaligus menenangkan Remy. Cinta Nesia tidak bergantung pada kelemahan. Setiap kepulangan akan memiliki arti karena dia benar-benar bisa memilih tidak kembali.
Mereka sepakat mengunjungi kampus sebelum menjawab. Jika program tidak sesuai, Nesia boleh menolak karena penilaiannya sendiri, bukan demi menyelamatkan perasaan siapa pun.
***