Nesia membaca surat penerimaan tiga kali. Program tersebut menawarkan beasiswa penuh untuk mempelajari pendampingan korban. Dulu dia mendaftar karena ingin memahami kontrak yang pernah menjebaknya dan membantu perempuan lain.
"Kamu harus mengambilnya," kata Remy setelah membaca.
Nesia curiga pada jawaban yang terlalu cepat. "Kota itu enam jam dari sini."
"Aku tahu."
"Kita baru menikah."
"Pernikahan tidak boleh membuatmu mengecilkan hidup."
Meskipun berkata demikian, Remy jelas tidak senang membayangkan rumah kembali sepi. Nesia juga takut jarak mengubah kebersamaan yang baru mereka bangun.
Mereka tidak memutuskan malam itu. Keesokan hari, Nesia mengunjungi kampus, bertemu pengajar, dan melihat tempat tinggal mahasiswa. Remy ikut, tetapi menunggu di luar saat wawancara agar kehadirannya tidak memengaruhi keputusan.
Program mengizinkan sebagian kelas dilakukan daring, tetapi Nesia tetap harus berada di kota itu tiga hari setiap minggu. Mereka membuat jadwal perjalanan bergantian. Remy akan datang saat pekerjaannya memungkinkan, sementara Nesia pulang setiap akhir pekan.
"Orang akan mengatakan suami Anda membiarkan istrinya pergi," ujar salah satu kerabat Wilson.
"Saya tidak membutuhkan izin untuk belajar," jawab Nesia. "Dan Remy bukan penjaga saya."
Remy tersenyum mendengar jawaban itu. Dia tidak membela Nesia karena istrinya sudah mampu membela dirinya sendiri.
Sandra khawatir Nesia terlalu sibuk dengan pusat bantuan, yayasan, dan kuliah. Dona menawarkan mengambil lebih banyak pekerjaan administrasi setelah jam kerja sosialnya selesai. Tita juga bersedia menjadi koordinator tetap.
"Kalian yakin?" tanya Nesia.
"Kami tidak sedang menggantikanmu," kata Tita. "Kami membuat pekerjaan ini menjadi milik banyak orang."
Bu Nita menyediakan ruangan untuk kelas jarak jauh. Miriam menyusun prosedur hukum, sedangkan Ratri bersedia mendokumentasikan sejarah kasus agar tidak bergantung pada ingatan satu orang.
Pada hari pertama kuliah, Remy mengantar Nesia ke stasiun. Dia membawa terlalu banyak makanan dan memeriksa tiket lima kali.
"Anda terlihat seperti ibu yang melepas anak sekolah," kata Nesia.
"Aku memastikan istriku tidak kelaparan."
"Perjalanan hanya dua jam dengan kereta cepat."
Ketika pengumuman keberangkatan terdengar, Remy memeluknya. Tidak ada permintaan agar Nesia membatalkan keputusan. Dia hanya meminta telepon setelah tiba.
Nesia naik ke gerbong dengan perasaan aneh. Bertahun-tahun lalu, dia meninggalkan panti untuk bekerja karena tidak punya pilihan lain. Kini dia pergi dari rumah yang dicintainya karena memiliki pilihan lebih besar.
Kelas pertama membahas relasi kuasa dalam kontrak. Dosen meminta mahasiswa menceritakan alasan memilih program. Nesia tidak menyebut nama Remy atau skandal keluarga. Dia mengatakan pernah menandatangani kesepakatan saat merasa tidak bebas menolak.
"Saya ingin membantu orang mengenali bahwa tanda tangan tidak selalu berarti persetujuan," katanya.
Sepulang kelas, dia menerima foto dari Remy. Lelaki itu mencoba memasak nasi lagi dan hasilnya masih terlalu lembek. Di belakangnya, Bu Maryam berdiri dengan wajah kecewa.
Nesia tertawa di tengah peron. Dia menelepon dan mengajari takaran air, meskipun Bu Maryam akhirnya mengambil alih panci.
Bulan-bulan berikutnya membentuk kebiasaan baru. Mereka belajar menyelesaikan pertengkaran melalui telepon tanpa menutup sambungan. Remy belajar tidur di rumah ketika Nesia tidak ada. Nesia belajar tidak merasa bersalah karena menikmati kelas dan teman-teman baru.
Pada akhir semester, pusat bantuan memenangkan kasus pertamanya. Seorang pekerja hotel dibebaskan dari kontrak yang menahan dokumen pribadinya. Nesia tidak menangani sidang langsung, tetapi risetnya membantu Miriam menyusun gugatan.
Perempuan itu datang ke Martha Hall membawa bunga. "Saya kira karena pernah menandatangani, saya tidak boleh berubah pikiran," katanya.
Nesia teringat dirinya di lorong pernikahan pertama. "Tidak ada kontrak yang berhak mengambil kemanusiaan seseorang."
Malam perayaan, seluruh keluarga berkumpul di ruang arsip Helena-Martha. Mereka menambahkan salinan putusan kasus baru di samping dokumen lama. Ruangan yang dahulu menyimpan rahasia kini menyimpan bukti bahwa kebenaran dapat dipakai menolong orang lain.
Remy mengumumkan pusat pelatihan keselamatan pabrik resmi selesai. Pak Darman akan memimpin dewan pengawas. Lukas tetap menjadi direktur operasional, sedangkan Remy memilih menangani pemulihan korban dan tata kelola.
Dona menyelesaikan sebagian masa kerja sosialnya. Hubungannya dengan Sandra semakin baik, meskipun mereka masih mengikuti konseling keluarga. Armand mengirim surat sebulan sekali. Dona membaca beberapa, menyimpan yang lain, dan tidak lagi merasa wajib membalas semuanya.
Setelah tamu pulang, Nesia dan Remy berdiri di panggung tempat mereka dua kali mengucapkan kesediaan menikah. Gedung sudah gelap kecuali lampu kecil di lorong.
"Setahun lalu saya bekerja di sini dan takut kehilangan pekerjaan," kata Nesia.
"Setahun lalu aku mengira semua masalah bisa diselesaikan dengan perintah."
"Sekarang?"
"Sekarang aku tahu sebagian masalah harus didengarkan sampai selesai."
Remy mengeluarkan tiket perjalanan kosong yang mereka simpan dari pantai. Nesia menuliskan tujuan: Panti Kasih Bunda cabang baru yang sedang dibangun di kota tempatnya kuliah.
"Itu bukan liburan," protes Remy.
"Ada danau di dekat sana. Anda bisa latihan berenang."
"Aku mulai menyesal memberimu pilihan."
Nesia mencubit lengannya. Mereka berjalan keluar sambil berdebat, melewati foto Helena, Martha, William, dan keluarga baru mereka.
Di depan pintu, Remy berhenti. "Kalau harus memilih lagi, apakah kamu tetap mau menikah denganku?"
Nesia tidak memberi jawaban cepat hanya untuk menenangkannya. Dia memikirkan perjalanan mereka, kesalahan yang belum tentu berakhir, dan kehidupan luas yang kini terbuka.
"Hari ini saya memilih Anda," katanya. "Besok, perlakukan saya dengan baik dan tanyakan lagi."
Remy tertawa, lalu menawarkan tangan. Nesia menggenggamnya dan melangkah keluar menuju jalan yang tidak ditentukan keluarga, utang, ataupun kontrak.
Jalan itu mereka pilih sendiri, satu hari pada satu waktu.
Setahun pendidikan berlalu lebih cepat daripada dugaan mereka. Pada hari kelulusan, Remy datang bersama seluruh keluarga dan membawa bunga yang terlalu besar. Nesia menerima sertifikat dengan nama Vanesia tanpa tambahan gelar keluarga pada papan pengumuman. Dia ingin pencapaiannya berdiri sebagai miliknya sendiri.
Bu Sari membawa Mila dan beberapa anak panti. Tita menangis paling keras, sedangkan Dona merekam sampai penyimpanan teleponnya penuh. Sandra memasangkan kembali kalung keluarga yang pernah dipakai Nesia saat menikah.
"Dulu Ibu memberikannya untuk menandai kamu sebagai Maheswari," kata Sandra. "Sekarang pakailah hanya kalau kamu menyukainya."
Nesia memilih memakainya. Benda yang sama terasa berbeda ketika tidak lagi membawa tuntutan.
Dalam perjalanan pulang, Remy bertanya apa rencana Nesia berikutnya. Nesia ingin memperluas pusat bantuan ke kota-kota industri dan melatih pendamping dari kalangan pekerja sendiri. Dia tidak meminta perusahaan Remy menjadi penyandang dana tunggal agar program tetap independen.
"Berarti aku harus mengajukan proposal seperti orang lain?"
"Lengkap dengan pemeriksaan konflik kepentingan."
Remy pura-pura mengeluh, tetapi malam itu dia mulai menyiapkan dokumen. Mereka kembali ke rumah sebagai dua orang dengan pekerjaan masing-masing, tujuan bersama, dan kebebasan untuk terus tumbuh.
***