"Yang aku temukan adalah tas serta handphone Irene. Aku tidak menemukan apa pun selain ini. Dia pergi meninggalkanku begitu saja karena marah padaku." ujar Daniel kepada polisi.
Daniel merutuki dirinya sendiri, kenapa dia harus menuruti permintaan Martin? Dia juga berbohong kepada polisi soal ini, dia tidak mengatakan bahwa dia melihat seseorang menarik Irene.
Seorang pria dengan pakaian serba hitam. Sudah pasti, Irene diculik.
"Tolong temukan anak kami." ujar Ayah Irene, Gerald.
Polisi menghela napas, "Aku hanya takut Irene diculik oleh buronan itu." katanya.
"Buronan?" tanya Daniel.
"Ya, buronan ayah dan anak yang sedang kami cari. Ayahnya melakukan banyak kejahatan, seperti menculik perempuan remaja dan menjualnya. Kami belum menemukan di mana mereka menjual perempuan-perempuan yang hilang itu." jelas polisi.
Mama Irene, Eliza, hanya bisa gigit jari setelah mendengarkan penjelasan dari polisi. Ia berharap, Irene bukan diculik oleh buronan ayah dan anak tersebut.
Kabar bahwa Irene Sandlers telah diculik dengan cepat merebak ke seluruh penjuru sekolah. Semua membicarakan Daniel. Semua menyalahlan Daniel, termasuk Ave dan Shopia. Sementara, Ave putus dengan Martin karena kejadian prom kemarin.
Tidak ada yang berbicara kepada Daniel sejal malam itu. Daniel pun tidak berani menegur siapa pun, karena dia merasa bersalah atas kejadian ini. Bagaimana pun, banyak alasan mengapa panitia prom tidak membolehkan semua siswa untuk tidak membawa minuman keras.
Daniel sendiri lebih memilih menyibukkan dirinya untuk mencari informasi-informasi serta konspirasi yang sudah dibuat oleh seseorang mengenai buronan tersebut. Setelah ia ketahui, nama buronan tersebut adalah Alex Scott, sang ayah. Serta Aldrich Scott, sang anak.
"Alex dan Aldrich." gumam Daniel setelah menemukan artikel mengenai mereka di internet. "Bagaimana mungkin polisi tidak bisa menangkap mereka?" tanyanya bingung.
*
Aldrich pindah ke kursi belakang, ia duduk di sebelah Irene. Ia memandang Irene bingung, gadis ini sejak tadi belum juga melakukan perlawanan apa pun. Ia kemudian melepaskan tali yang mengikat kaki Irene, dan gadis itu masih diam.
"Kau tidak mencoba untuk mengelabuiku kan?" tanya Aldrich.
Irene menggeleng. "Ini di mana?" tanyanya.
"Apa kau perlu tau?"
Aldrich membuka ikatan tangan Irene. Irene masih diam. Namun ketika Aldrich sedang mengambil sebuah borgol di saku jeansnya, Irene segera memberontak dan mencoba membuka pintu mobil yang sudah dikunci oleh Aldrich.
Aldrich dengan sekuat tenaga menangkap kembali tangan Irene, lalu memasangkan borgol di tangan gadis itu. Gadis itu masih mencoba memberontak, dengan cepat Aldrich menamparnya, sehingga Irene diam.
"Biarkan aku pergi." kata Irene, tangisnya pecah.
"Bagaimana mungkin aku membiarkanmu pergi? Kau berharga mahal, dan aku sudah menguntitmu selama seminggu." balas Aldrich.
Aldrich segera menaril tangan gadis itu dengan kasar. Mereka keluar dari mobil. Karena keadaan sudah larut malam, tidak ada yang lewat di depan penginapan ilegal ini. Bagaimana Irene tahu bahwa penginapan ini ilegal? Lihat saja, di depannya gelap, tidak ada lampu sama sekali. Mungkin tidak akan tau bahwa penginapan ini ada, jika mereka tidak tinggal disekitar sini.
Aldrich membuka pintu penginapan, lalu segera menuju meja resepsionis yang dijaga oleh seorang pria gendut bertato.
"Tolong aku! Aku diculik!" teriak Irene, kepada pria tersebut.
Pria tersebut menatap Aldrich kebingungan, lalu mereka segera tertawa. "Aku tidak bisa menolongmu, gadis kecil. Aku sendiri sudah dibayar oleh ayahnya untuk membiarkan Aldrich membawa gadisnya ke sini." jelasnya.
Semua gadis yang dibawa oleh Aldrich pasti meminta tolong kepadanya. Jadi, ia sudah biasa menjawab pertanyaan yang sama itu.
Irene menggeram kesal, bagaimana mungkin seorang penjaga penginapan kongkalikong dengan seorang penculik? Pantas saja mereka dengan mudah menjalankan semua misi, jika seperti ini caranya.
Pria gendut tersebut memberikan kunci kamar kepada Aldrich. Laki-laki itu segera mengambilnya, lalu menarik tangan Irene secara paksa.
"Tenang saja, kali ini aku tidak akan menyusahkanmu." teriak Aldrich kepada pria gendut penjaga penginapan tersebut.
Pria gendut tersebut hanya tertawa. Ia menyadari bahwa perempuan yang dibawa oleh Aldrich kali ini tidak banyak melakukan hal yang menyusahkan. Irene cenderung melakukan sedikit perlawanan.
Aldrich mendorong Irene ke atas tempat tidur penginapan. Laki-laki tersebut langsung duduk di sofa setelahnya, ia menghela napas karena kelelahan. Sudah sekitar seminggu ini saat ia mengincar Irene, ia kekurangan tidur. Bagaimana pun selama ini, kriteria seperti Irene lah yang disukai para pelanggan Ayahnya. Kebanyakan dari mereka adalah para pejabat-pejabat tinggi negara yang meminta untuk dirahasiakan identitasnya. Karena kalau sampai ketahuan, Alex, ayah Aldrich pasti akan dibunuh. Mereka bisa melakukan apa saja untuk menyingkirkan Alex maupun Aldrich.
Irene bangkit dari tempat tidur, ia duduk menghadap Aldrich. "Kenapa kita satu kamar?" tanya Irene.
"Kalau tidak, kau akan kabur. Dan aku juga tidak memiliki uang untuk menyewa dua kamar." jawab Aldrich, ia menyalakan rokoknya. Dalam sekejap, asap rokok mengepul di kamar penginapan tersebut.
“Memangnya kenapa?” tanya Aldrich.
Irene menggeleng, ia hanya duduk dengan pandangan yang kosong. Ia masih menggunakan gaun promnya, tanpa alas kaki. Rambutnya sudah berantakan, riasan wajahnya juga sudah berantakan.
Aldrich mematikan rokoknya yang belum habis, ia bangkit dari duduknya lalu berjalan ke arah lemari. Ia mengambil sebuah jubah mandi berwarna putih pudar dan melemparkannya kepada Irene.
“Mandilah.” ujar Aldrich, ia kembali duduk, lalu menyalakan tv.
Irene memandang Aldrich bingung, “Bagaimana aku mandi jika tanganku diborgol?” tanyanya.
Aldrich menghela napas, ia kembali bangkit lalu menghampiri Irene. Laki-laki itu merunduk untuk membukakan kunci borgol Irene. “Jika kau memaksa kabur, kau akan kubunuh.” ujar Aldrich dengan tegas. “Lagi pula kau tidak akan menemukan pintu keluar selain di depan. Dan kau tahu, Arnold pasti menjaga pintu agar kau tidak kabur, dia punya senjata. Jika kau memaksa kabur, kau akan ditembak olehnya. Dan di kamar ini juga tidak memiliki jendela, begitu pun dengan kamar mandinya.” jelasnya lagi.
Irene tidak punya pilihan lain. Cewek itu akhirnya bangkit, ia mengambil jubah mandi yang diberikan Aldrich tadi dan berjalan ke arah kamar mandi. Gadis itu tidak tau harus melakukan apa, dia tidak punya pilihan apa pun selain menuruti Aldrich. Dalam hati, Irene berdoa semoga orang tuanya segera melaporkan kejadian ini ke polisi dan ia bisa ditemukan.
Irene membasuh tubuhnya di bawah pancuran shower. Gadis itu mencoba tenang sejak tadi, tidak mencoba melawan sedikit pun. Dan jika ia menemukan kemungkinan besar ia bisa kabur, ia akan menggunakan kesempatan tersebut.
Irene tidak sadar bahwa pintu kamar mandi sedang dibuka. Pintu tersebut tidak memiliki kunci. Arnold sengaja merusak kunci tersebut atas permintaan dari Alex. Dan tepat di depan pintu, Aldrich sedang berdiri sambil melihat tubuh tanpa busana Irene.
Aldrich sempat bengong saat melihatnya. Kulit Irene yang halus serta berwarna putih membuat ia lupa diri. Dadanya yang ranum serta pinggangnya yang terbentuk semakin membuat Aldrich tidak sadar bahwa ia berjalan semakin mendekati gadis itu.
Irene sendiri tidak sadar saat Aldrich berjalan mendekatinya. Gadis itu baru sadar setelah Aldrich melingkarkan tangannya ke tubuh telanjang miliknya. Irene terkejut, ia memberontak, namun dengan cepat Aldrich mulai menciumi bahu gadis itu.
Irene menggigit bibirnya. Bibir Aldrich seakan menyapu bahunya, lalu menuju ke lehernya membuat ia mengerang. Tangan Aldrich juga mulai bermain di buah d**a gadis itu. Bermain-main diputingnya, lalu meremasnya dengan kasar.
“Hentikan.” Perintah Irene, ia tidak ingin terlarut dengan ini.
Namun Aldrich tidak menghentikannya, ia memutar tubuh Irene menghadapnya. Pakaian yang dipakainya sudah basah terkena air, begitu pun dengan rambutnya. Aldrich mulai menciumi Irene secara paksa. Tangan Aldrich menahan tangan Irene agar gadis itu tidak memberontak.
“Aldrich.” Panggil Irene, “Hentikan.” Tambahnya.
Bibir Aldrich turun ke arah leher Irene, lalu menuju payudaranya. Aldrich terus menciumi tubuh Irene, hingga gadis itu akhirnya mengerang setelah sekian lama menahannya.
“Mmmhhh...” erang Irene.
“Siapa namamu?” tanya Aldrich.
“H-hentikan...” pinta Irene sekali lagi.
“Jawab pertanyaanku.”
“Irene.”
Setelah sampai di perut Irene, Aldrich berhenti. Ia tidak boleh mengambil keperawanan Irene. Aldrich yakin, Irene masih perawan. Jika terbukti masih perawan, ia akan mendapatkan uang tambahan.
Sebelum Aldrich pergi, tangan laki-laki itu membelai serta meremas b****g Irene. Sekali lagi, gadis itu mengerang.