Irene keluar dari kamar mandi dengan mengenakan jubah mandinya. Tubuhnya masih bisa merasakan dengan jelas sensasi saat Aldrich merabanya, menciuminya serta meremas-remas b****g dan juga dadanya. Rambutnya yang masih basah membuat dia makin terlihat seksi di mata Aldrich.
Seumur hidup, ia baru merasakannya pertama kali, dan itu bersama seseorang yang menculiknya. Aldrich. Pikirannya kacau, ia tidak bisa menatap Aldrich saat ini. Bagaimana bisa seseorang telah melihat tubuh telanjangnya? Bahkan, Daniel saja belum pernah melihatnya telanjang.
“Aku hanya ingin merasakanmu sebelum aku menjualmu.” Kata Aldrich, ia melemparkan sebuah kaos berwarna putih serta celana jeans perempuan kepada Irene. “Arnold yang memberikannya, itu milik istrinya.” Tambahnya.
“Aku harus memakainya?” tanya Irene.
“Kalau kau masih ingin memakai gaun pestamu, silahkan. Aku ingin mandi.” Kata Aldrich, lalu masuk ke dalam kamar mandi.
Irene buru-buru memakai baju yang diberikan oleh Aldrich. Setelahnya, gadis itu mencoba membuka pintu kamar. Namun pintu tersebut dikunci. Irene sibuk mencari kunci kamar. Ia membuka seluruh laci, memeriksa kolong tempat tidur, sofa, bahkan ia memeriksa lemari serta pakaian Aldrich yang basah tadi. Irene masih tidak menemukannya.
“Kau sedang mencari kunci, kan?” tanya Aldrich, saat keluar kamar mandi dan mendapati Irene sedang sibuk menggeledah semua barang.
Irene terdiam, ia menggeleng, lalu menuju tempat tidur. Irene membaringkan tubuhnya dengan posisi meringkuk. Gadis itu menangis.
“Ya... Ya.. Menangislah, Irene. Aku tidak akan melepaskanmu.” Ujar Aldrich.
“Aku sudah menculik sekitar empat remaja perempuan untuk mendapatkan uang. Jadi kali ini, aku yakin aku akan mendapatkan banyak uang karena menjualmu. Jadi aku tidak akan melepaskanmu begitu saja..”
“Apa kau memiliki keluarga?” tanya Irene.
Aldrich yang tengah memakai baju, berhenti melakukannya, dan ia mengernyit. “Ayahku.” Jawabnya.
“Apa ada yang lain? Apa kau sudah memiliki istri dan anak?”
“Bukan urusanmu.”
“Berapa umurmu?”
“Dua puluh satu.”
Irene terkejut, ia salah mengira. Irene pikir awalnya Aldrich seumuran dengannya. Tapi, siapa peduli. Yang ada dipikiran Irene adalah bagaimana caranya ia kabur serta cara membujuk Aldrich agar ia melepaskannya.
“Jika kau memiliki anak, apa kau tidak pernah membayangkan jika anakmu diculik nanti seperti aku?” tanya Irene, yang menurut Aldrich adalah pertanyaan bodoh.
“Apa kau sedang mencoba menyentuh hati nuraniku sehingga aku akan melepaskanmu?”
“Aku masih perawan, Aldrich. Bahkan aku belum lulus sekolah. Umurku masih tujuh belas.”
Aldrich menggeram dengan kesal, ia mendekati Irene dan hampir menampar perempuan tersebut. Rencananya digagalkan oleh bunyi ponselnya. Ayahnya menelepon.
“Apa kau berada di tempat Arnold?” tanya Alex dari balik telepon.
“Ya, kenapa?”
“Polisi sedang menuju ke sana. Kau harus membawa gadis itu pergi sekarang juga.”
Aldrich mengepalkan tangannya, ia segera memasukan baju-bajunya yang basah, serta memasukan gaun milik Irene ke dalam tasnya. Ia juga memastikan tidak ada puntung rokok yang tertinggal di kamar tersebut. Setelahnya, laki-laki itu kembali memborgol Irene dan menarik Irene secara paksa untuk pergi ke mobilnya.
“Pastikan tempatku bersih.” Perintah Aldrich kepada Arnold saat ia pergi.
*
“Ini semua karenamu, jika kau tidak menuruti mau Martin, Irene tidak akan diculik. Kau tahu?” protes Shopia, yang merupakan sahabat Irene.
“Aku tidak akan pernah mengira ini semua akan terjadi! Lagi pula siapa yang ingin pacarnya sendiri diculik oleh seorang buronan?!” balas Daniel tidak terima dengan ucapan Shopia barusan.
“Kita harus mencari petunjuk..” kata Ave.
“Aku sudah menemukan nama dua penculik itu. Mereka Alex dan Aldrich, berasal dari Seattle..” ujar Daniel, memberikan informasi yang didapatnya dari internet kemarin. “Hingga sekarang, polisi tidak bisa menemukan mereka.” Tambahnya.
“Kau sudah memeriksa handphone milik Irene? Adakah tanda-tanda mencurigakan di sana?” tanya Ave.
Daniel mengangguk, ia segera memberikan sebuah foto yang diambilnya bersama Irene di super market pada hari senin minggu kemarin. Di foto tersebut, ia dan Irene tersenyum. Sementara dibelakang mereka bedua, dikejauhan terlihat seseorang yang mengenakan celana jeans berwarna hitam serta baju garis-garis berwarna biru hitam sedang memperhatikan mereka. Sayangnya, pria itu mengenakan topi hingga mereka tidak bisa melihat wajahnya.
“Mungkin dia memang penculik Irene.” Ujar Shopia sambil menganalisa foto tersebut. “Ia sudah mengikuti Irene sejak awal.”
Ave mencoba mengingat sesuatu. Pikirannya kembali tertuju pada hari Selasa, saat Irene mengunjungi rumahnya.
*
Hari Selasa, tanggal 12 Juli 2016
“Orang tuamu berada di rumah?” tanya Irene kepada Ave.
Hari ini Irene memutuskan meminjam buku yang ia perlukan kepada Ave. Irene malas ke toko buku lantaran buku yang ia cari merupakan buku terbitan lama dan belum tentu masih tersedia di sana.
“Tidak ada, kenapa? Tetapi kau tahu, kan, rumahku dilengkapi cctv. Jadi aman meski pun tidak ada orang di dalamnya.”
Mereka kini sedang berjalan di trotoar. Jarak antara mereka berada dengan rumah Ave sudah dekat. Namun Ave menyadari sesuatu yang janggal untuknya.
Ave termasuk perempuan yang waspada, detail dan memperhatikan sekelilingnya. Ia pasti sadar bila seseorang sedang mengikutinya. Akhirnya, dengan cepat perempuan itu berbalik ke belakang dan mendapati seorang pria yang memakai baju garis-garis berwarna hitam dan biru serta celana biru lengkap dengan topi hitam, sedang mencoba melewati mereka berdua.
Ave segera menarik tangan Irene supaya minggir dan membiarkan pria itu lewat. Pria itu mengatakan terima kasih kepada Irene dan Ave, lalu bergegas pergi.
Sayangnya, Ave tidak bisa terlalu jelas memperhatikan wajah pria itu.
*
“Pria itu mengikuti Irene saat kami sedang berjalan di trotoar menuju ke rumahku. Aku ingat betul ia mengenakan baju yang sama.” Kata Ave yang baru saja mengingat kejadian hari selasa lalu.
“Kau serius? Apa yang dilakukannya?” tanya Shopia.
“Dia tepat dibelakang kami, karena kupikir ia ingin melewati kami, jadi kami memberikan jalan untuknya. Kami sama sekali tidak berpikiran negatif sedikit pun.” Jelas Ave.
“Apa kau meningat wajahnya?” tanya Daniel.
Ave menggeleng, “Aku hanya ingat mereka memakai baju yang sama persis.”
“Apa kita harus memberikan foto ini kepada polisi?” tanya Shopia.
Daniel menggeleng, “Tidak sekarang sebelum kita menemukan bukti lainnya.”
*
Aldrich belum diperintahkan oleh ayahnya harus pergi kemana. Laki-laki itu sudah sangat mengantuk dan ia berpikir ia bisa beristirahat ditempat milik Arnold barang sebentar saja. Sekarang sudah hampir pagi meskipun matahari belum terbit. Ia lapar.
Irene yang tangannya saat ini masih diborgol duduk di sebelahnya. Irene tahu pasti, Aldrich pergi karena polisi mencarinya. Seorang buronan pasti dicari oleh polisi bukan?
Aldrich menghela napasnya, sebentar lagi mereka akan masuk ke daerah Goodland. Mereka masih harus menempuh perjalanan selama 5 jam lagi untuk menuju Kansas. Aldrich harus menemui seseorang di Kansas. Ia bertugas untuk memfoto seluruh tubuh Irene tanpa mengenakan pakaian dan mengirimkannya kepada pelanggannya.
“Mau ke mana kita sekarang?” tanya Irene, “aku lapar.”
Aldrich tidak akan menjawab pertanyaan Irene. Ia sudah sangat bersyukur bahwa Irene tidak melakukan perlawanan apa pun. Jika ia mengatakan bahwa mereka akan menuju Kansas untuk melakukan pemotretan, bisa-bisa Irene mencoba melarikan diri dan membuatnya diambang masalah.
“Aku lapar, Aldrich.”
“Kau sadar sekarang meminta makan kepada siapa?” tanya Aldrich, ia menatap Irene tajam.
Aldrich juga kelaparan. Ia sejak tadi mencoba mencari mini market atau restoran cepat saji mana pun yang buka dua puluh empat jam, dan belum menemukannya.
“Aku sadar betul. Karena kau menculikku, kau harus bertanggung jawab atas aku. Lagi pula kau akan mendapatkan uang setelah menjualku kan?” jawab Irene, ia merasa tubuhnya sangat lemas.
“Bisakah kau diam? Aku juga sedang kelaparan.”
Akhirnya, karena lelah dan mengantuk, Irene memilih diam dan memejamkan matanya. Tak lama, ia tertidur pulas.
Sepanjang perjalanan Aldrich terus menerus menguap, ia berkali-kali memperhatikan wajah cantik Irene dan berkali-kali juga pikirannya dihantui oleh sesuatu. Bahkan, ia terus-terusan berpikiran kotor jika memandangi tubuh Irene.
“Sial.” Gumam Aldrich, kesal dengan dirinya sendiri.
Perjalanan masih jauh, dan pikiran Aldrich sudah semrawut. Aldrich harus tidur. Ia harus mencari sebuah penginapan yang aman dari polisi. Jangan, jangan sampai ia tertangkap.