Aldrich berhenti disebuah pom bensin yang ada di Goodland. Di sana juga terdapat mini market yang tentu saja menjual makanan. Ia memarkirkan mobilnya, lalu meregangkan otot-ototnya. Tubuhnya merasa sangat lelah, jadi ia membutuhkan minuman berenergi.
Aldrich melirik Irene. Gadis itu masih tertidur, meskipun Aldrich tidak yakin. Ia tahu Irene bukanlah gadis bodoh. Gadis itu sejak tadi sudah sering mengelabuinya. Dengan pembawaannya yang tenang, ia mampu meyakinkan Aldrich bahwa ia tidak akan melarikan diri, meskipun ia sedang menyusun rencana dan melihat kemungkinan-kemungkinan yang bisa ia gunakan untuk melarikan diri.
Matahari masih belum terbit. Pom bensin masih sepi, dan tidak ada yang melihat mereka datang. Aldrich juga sudah mengecek titik dan sudut yang dipasangi cctv.
Aldrich menyentuh p******a Irene untuk memastikan bahwa gadis itu benar-benar tertidur. Namun, ia hanyalah manusia biasa yang bisa bernafsu saat melihat gadis secantik Irene. Laki-laki itu malah meremasnya, hingga Irene terbangun. Saat Irene terbangun, Aldrich langsung menamparnya dengan keras, hingga gadis itu meringis kesakitan.
"Kenapa kau membuatku ingin terus menyentuhmu?" gumam Aldrich kesal.
Irene masih terdiam. Ia merasa kepalanya sangat pusing. Ia baru saja bangun dari tidurnya dan belum sepenuhnya tersadar, tiba-tiba Aldrich dengan kasar menamparnya? Sungguh keterlaluan.
"Kau lapar bukan? Tunggu di sini." kata Aldrich.
Aldrich lalu keluar dari mobil, dan tidak lupa untuk mengunci pintu mobil dari luar. Aldrich juga masih mengawasi Irene saat ia mengisi bensin serta membeli sejumlah makanan. Yang ada di mini market tersebut hanyalah roti. Jadi, ia membeli lumayan banyak roti untuk bekal perjalanan.
Biasanya, Aldrich tidak pernah membelikan makanan untuk siapa pun gadis yang ia culik. Mereka juga tidak pernah memintanya pada Aldrich. Ia cenderung tidak tertarik pada gadis-gadis tersebut. Yang ada dipikiran Aldrich saat melihat mereka hanyalah uang, uang, dan uang. Tidak pernah sedikit pun Aldrich menyentuh mereka. Bahkan ia membiarkan gadis-gadis itu kelaparan selama berhari-hari hingga lemas. Jika terpaksa, ia akan memberikan mereka makanan seadanya atau 'bekas' ia makan.
Namun, semua tidak terjadi kepada Irene. Entah kenapa, Aldrich tidak ingin melakukan itu semua kepadanya. Bahkan, baru kali ini Aldrich mencium sampai meremas p******a gadis yang sedang diculiknya. Memikirkan hal ini, kepala Aldrich jadi pusing. Ini sugguh cobaan yang berat untuknya.
Aldrich masuk ke dalam mobil, lalu ia melemparkan beberapa roti kepada Irene. Aldrich juga membeli beberapa kaleng minuman soda serta air mineral. Sejak tadi ia terus mengatakan dirinya bahwa ia adalah penculik yang bodoh. Penculik mana yang akan memberikan makanan enak yang ia beli di mini market kepada korbannya?
Hanya Aldrich. Ya, itu kenyataan pahit yang harus ia telan bulat-bulat.
Irene langsung memakan roti-roti tersebut, bahkan ia sampai terbatuk karena tersedak. Aldrich segera memberikan sekaleng minuman soda untuknya.
Shit. Satu lagi kesalahan yang Aldrich lakukan. Bagaimana bisa ia membantu gadis itu saat ia tersedak??
"Thanks." kata Irene, ia melanjutkan makannya.
"Habiskan semuanya, jangan sampai ada yang tersisa karena tanggal kadaluarsanya besok." jelas Aldrich, ia juga ikut memakan roti itu.
Irene berhenti makan, "Kenapa kau tidak mengatakannya sejak tadi?" tanyanya.
"Kalau aku mengatakannya, kau akan memintaku memberikan makanan yang lain. Ingat, kau tawanan ku. Kau akan kujual."
Irene mengangkat bahunya, ia tidak peduli. Gadis itu lapar.
Setelah makan, matahari mulai naik. Aldrich sudah meminum minuman berenergi, serta membeli beberapa bungkus rokok. Ia kembali melanjutkan perjalanannya menuju Kansas.
"Kita akan ke mana?" tanya Irene lagi.
"Bisa kah kau tidak menanyakan hal itu lagi?!" Bentak Aldrich kesal.
Bunyi ponsel Aldrich membuat Irene terkejut. Ia pikir, Aldrich ingin membentaknya lagi. Tetapi untunglah, tidak.
Alex, ayah Aldrich, menelepon lagi.
"Kau di mana?"
"Aku sedang menuju ke tempat Dave, kenapa?"
"Ahh, Kansas. Aku hanya ingin memastikan apa kah kau tertangkap atau tidak."
Sial. Bahkan Ayahnya sendiri selalu meremehkannya. Apa tidak cukup, sejak tadi Aldrich merasa bahwa misinya kali ini akan gagal?
"Apa ada penginapan lagi sekitar sana? Sebelum tempat Dave."
"Kau bisa menuju Anderson Ave di Manhattan. Dan bertemu dengan Gomez."
"Baiklah."
Aldrich segesa melajukan mobilnya dengan cepat menuju Anderson Ave di Manhattan. Gomez pasti kenalan ayahnya, Aldrich membatin.
'"Apa kita akan menginap di penginapan lagi?" tanya Irene, gadis itu sudah menghabiskan rotinya. Ia kini sedang menikmati sekaleng minuman soda.
"Memangnya kau tidak ingin istirahat? Aku bahkan belum tidur karena sibuk menguntitmu."
"Aku tidak meminta kau menguntitku."
Aldrich menggeram kesal, "Bagaimana bisa pacarmu bisa menyukaimu? Kau menyebalkan."
"Tau apa kau soal aku dan pacarku?"
Aldrich tersenyum licik, "Kalian berciuman pada hari Kamis di depan rumahmu." ujarnya. "Menonton kebodohan kalian sangalah seru."
*
Hari Kamis, tanggal 14 Juli 2016
Irene memutuskan untuk mengambil kelas tambahan untuk persiapan mengikuti ujian masuk Universitas. Daniel pun juga dipaksa olehnya untuk mengikuti kelas tambahan tersebut.
Hari ini mereka pulang jam delapan malam, dan Daniel mengantar Irene. Kali ini, Daniel tidak menggunakan mobil ayahnya untuk mengantar Irene. Cowok itu meminjam mobil milik Pamannya yang kebetulan sedang menginap di rumahnya.
"Apa kau menikmatinya tadi?" tanya Irene.
Daniel mengangkat bahunya, ia menghela napas lalu meletakan tangannya di pundak Irene. Cowok itu merangkul Irene dan menariknya mendekat.
"Lumayan. Tapi aku tidak menyukai matematika." jawabnya.
Irene tertawa, "Bagaimana mungkin kau tidak menyukai pelajaran paling penting di sekolah?"
"Kata siapa matematika itu pelajaran paling penting?"
"Kataku."
Daniel lalu tertawa, ia mengacak rambut Irene. Cowok itu lalu mengecup puncak kepala Irene.
"Kau berani menciumku?" tanya Irene.
Daniel mengangguk, lalu kembali mencium puncak kepala gadis itu. Irene tertawa geli karenanya.
"Lalu kenapa kau tidak berani mencium bibirku? Sudah setahun kita pacaran." ujar Irene, menggoda Daniel.
Daniel tersenyum, "Jadi kau menantangku?" tanyanya.
Irene mengangguk, dan sebelum ia mengatakan apa yang ada di pikirannya, Daniel langsung melumat bibirnya. Irene pun membalas ciuman Daniel. Mereka berciuman cukup lama hingga mereka terkejut karena ternyata orang tua Irene melihatnya.
"Maafkan aku." kata Daniel kepada kedua orang tua Irene.
Sedangkan kedua orang tua Irene hanya tertawa melihat kelakuan mereka berdua. Mereka mewajarinya. Mereka tahu betul Irene bukanlah tipe anak perempuan yang nakal.
"Pulanglah, Ayahmu mencarimu." kata Ayah Irene.
Daniel pun menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, ia mengangguk dan segera pulang.
*
Pipi Irene memerah saat mengingat kejadian malam itu bersama Daniel. Ia tidak menyangka bahwa Aldirch melihatnya berciuman dengan Daniel malam itu. Tentu saja ia kesal. Namun ia memilih untuk tidak menyahuti Aldrich lagi.
"Aku ingin tidur. Dan, kapan kau melepas borgol ini?" tanya Irene.
"Aku tidak akan melepaskannya." jawab Aldrich.
Irene menggeram kesal, ia merasa tidak leluasa sekarang. Makan pun harus dengan hati-hati. "Aku tidak betah memakainya." katanya.
"Tidak, Irene." ucap Aldrich. "Sekali lagi kau berbicara, akan kubunuh kau."
Setelahnya, Irene diam. Ia kembali memikirkan bagaimana cara ia melarikan diri dan memasang mode siaga bilamana nanti akan terjadi sesuatu padanya. Sejak tadi, Irene mencoba melarikan diri dengan cara mencari sesuatu untuk memecahkan kaca mobil. Namun ia tidak menemukannya, ditambah Aldrich terus saja memperhatikannya.
Irene khawatir dia tidak akan bisa melarikan diri jika seperti ini caranya. Irene harus berpikir lebih keras lagi. Pasti saat ini kedua orang tuanya sedang sibuk mencarinya. Apa lagi Ayahnya, yang memiliki penyakit lemah jantung. Bagaimana kalau sesuatu terjadi kepada Ayah?
Irene harus melarikan diri.