Setelah satu Minggu berlalu, aku memberanikan diri untuk mengikuti perkuliahan. Ku bulatkan hati, mencoba tegar dan kuat. Aku ga boleh kalah dengan kesedihan, aku harus kuat. Ayo Ta kamu bisa! Aku mencoba menyemangati diriku.
Ku tarik senyum garis lurus, meski dadaku masih terasa sesak, kutarik panjang nafasku dan ku hembuskan pelan agar aku siap melangkah dari parkiran menuju ruangan itu.
Ayo ceria jangan muka sedih. Ayo Ta bisa! bisa! Aku terus menyemangati diriku agar orang tak melihat kesedihan di wajahku.
Dimana Elen dan Raiya, kenapa belum keliatan? Mataku menyusuri tiap sudut lorong yang ku lewati sambil berharap mata ini tak berpapasan dengannya.
Langkahku terhenti.
"Halo Ta, gimana kabarnya?" Seseorang menepuk punggungku dan sontak membuatku kaget. Aku menoleh, kulihat Vanya dengan senyum ceria menatapku.
ih apaan sih, nih orang belagak sok asyik, tumben nyapa! kaya kita besti aja pake senyum senyum ga jelas. Gumamku dalam hati.
Ya, Dia adalah Vanya, anak pindahan dari Jakarta. Aku ga tau jelas apa alasannya, kenapa dia pulang kerumah orang tuanya di Bandung, dan melanjutkan kuliahnya di sini, bukankah di Jakarta lebih keren.. Bahkan sejak awal dia berkenalan dengan Jimmy, Vanya selalu mencari perhatian dan bersikap manis di depan Jimmy,, tapi tidak denganku.
Vanya selalu ikut-ikutan diikegiatan komunitas yang disana ada Jimmy. Bersikap sok asyik di depan Jimmy dan teman-temannya. Entah mengapa, hari ini dia menyapaku dengan senyum lebar, dan mata yang berbinar bahagia.
Ups apa jangan-jangan dia tau aku putus dengan Jimmy, jadi dia senyum tanda bahagia bisa mendekati Jimmy dengan leluasa?
"Kenapa Ta, ko diem aja? Sudah ga usah dipikirin, laki laki tuh emang kaya gitu. Bisanya cuman nyakiti hati wanita. Udah yang sabar ya Ta. Dari awal gue dah tau ko kalau Jimmy tuh pasti suka mainin hati cewek Ta. Tenang aja Ta, Gue ada disini buat Lo ko Ta. Tetep semangat ya Ta"
Cerocos Vanya sambil memegangi pundakku dengan ke dua tangannya.
"I..iya Van, makasih ya. Aku baik baik ja ko Van. Ga masalah" jawabku sembari terbata bata akibat melamun mikirin niat Vanya.
Vanya berjalan meninggalkan ku
"Duluan ke kelas ya Ta"
"Iya, Van"
Tuh kan rasanya ada yang ga beres. Apa Jimmy yang nyebarin berita putusnya hubungan kami?? Atau... Pikiranku terus berkecamuk.
Aku berjalan pelan dan terus berpikir dalam lamunanku, hingga tak ku hiraukan lagi teman teman yang melintas maupun yang menatapku.
Sepulang kuliah hari ini aku harus bicara dengan Jimmy. Tapi apa aku sanggup menatapnya? Bicara dari hati ke hati dengannya?
Emh... Tapi aku harus tau dengan pasti kenapa dia tega meninggalkanku tanpa alasan yang jelas!
"Ta, ngalamun aja.
Udah..udah. ayo masuk" Elen dan Raiya menghardikku di depan kelas. Sambil sedikit mendorongku kearah pintu hingga aku terdorong masuk ke dalam kelas.
"Iya, iya sabar kenapa sih "
Ku susur mataku keseluruhan ruangan kelas dan aku tak melihatJimmy.
Kenapa kamu masih nyari dia Ta!! Bodoh! Lemah! Aku berontak pada hatiku sendiri yang belum move on.
"Kamu tau ga sih semua orang di kampus ini ngegosip tentang kamu Ta?" Kata Elen sambil duduk di depan mejaku
"Emang gosip apa?"
"Kamu sih pake ga masuk kuliah segala! Jadi orang orang pada tau kan!"
"Ya abis mau gimana? Coba kalian pikir, malu mana kalo aku ke kampus dengan mata bengkak? Pasti mereka tambah ngeledik aku kan?
Lagian itu bukan gosip tapi kenyataannya!"
"ih ada yang lebih parah dari itu Ta!" Sahut Raiya pelan sambil berbisik
"Emang ada apa?" Kuturunkan wajahku ke arah mereka berdua.
"Selamat pagi anak anak" dosen datang dan menyapa.
"Pagi Bu" (semua mahasiswa)
Elen dan Raiya segera balik badan. Sambil berbisik pelan
"Nanti siang kita lanjutkan. Oke!"
"Oke"
Aku duduk di deretan paling belakang, Ku pandangi seluruh sudut ruangan, mencari sosok yang masih ku rindu. Ya, aku masih sangat merindukannya, masih sangat mencintainya. Aku berbohong kalau aku kuat Aku masih rapuh.
Air mataku tiba-tiba tak terbendung, memenuhi bola mataku. Melihat Jimmy duduk di deretan paling depan. Dan Vanya duduk bersebelahan dengan Jimmy. Aku tau mereka cuman teman, Vanya memang menyukai Jimmy tapi dia bukanlah tipe gadis yang akan di sukai oleh Jimmy. Tapi aku ga suka melihat mereka begitu akrab.
Ya itu ga mungkin! Cukup Agatha! Fokus! Mereka bukan urusanmu!
Ku raih tisue dari dalam tasku sambil pura pura menunduk, ku hapus air mata dalam bola mataku sebelum ia terjatuh membasahi pipiku. Kutarik nafas dalam, dan ku hembuskan sepelan mungkin agar tak seorangpun mendengarnya.
Aku tak fokus pada apa yang diajarkan dosen di depan. Pikiranku terus melayang, mmbawaku pada kenangan di setiap sudut ruang kelas ada memory bersamanya.
Biasanya yang duduk di dekatnya, itu aku!
Yang biasanya tersenyum disampingnya, itu aku! Bukan dia!
Yang membuatku sedih bukanlah Vanya yang duduk di samping Jimmy. Tapi setiap kata-kata yang diucapkan Jimmy masih mengiang-ngiang di telingaku. Arghh....
Sepertinya hantu kesedihan sedang menari nari disekitar ku.
Tiba-tiba badanku lemas seperti mau pingsan
"Bu, ijin ke toilet" aku mengacungkan tangan kananku.
Sambil membawa tisue, aku berjalan ke arah pintu, dan parahnya aku melewati tepat dimana Jimmy duduk.
Kenapa kau masih menghantuiku!
Aroma parfumnya menambah sakit di dadaku. Aroma wanginya begitu melekat dalam tiap hembusan nafasku. Mengingatkanku pada pelukan hangat Jimmy.
Secepat mungkin aku berjalan keluar ruangan kelas.
Aku menutup mulutku, menahan sesak di d**a. Sesak karena sakitnya masih terasa begitu menusuk jantungku.
Air mataku tak dapat ku bendung lagi.
Oh Tuhan, mengapa aku selemah ini? Berikan aku kekuatan agar aku bisa berdiri tegak. Berikan aku keberanian untuk melangkah tegar. Menatap masa depan tanpa bayangan masa indah bersamanya. Please God!!
Aku terisak menangis sambil terus menutup mulutku.
"Ta, kamu ga papa?"
"Kamu baik-baik aja kan Ta?"
"Buka Ta!"
Aku tau itu suara Elen dan Raiya. Segera ku hapus air mataku, dan ku tarik nafas dalam-dalam dan ku hembuskan cepat.
Ku buka pintu toilet, tempat dimana aku bersembunyi dari kenyataan. Entah berapa lama aku ada di dalam dan menahan Isak tangisku.
"Aku ga papa ko" jawabku dengan begitu pelan dan sangat lemah.
Elen dan Raiya memelukku "kami disini untuk kamu Ta"
Aku kembali menangis ?
Raiya mengambil tisue dan menghapus air mataku. Mereka menggandeng dan membawaku ke ruangan kelas yang sudah sepi.
"Kita berdoa yuk" ajak Elen
"Ya Ta, kita doa biar hati kamu tenang"
Dan kami berdoa bersama. Aku menarik nafas. "Amin"
"Tapi dia ko jahat banget Ya." Suaraku lirih, dan mata masih berair.
"Begitu saja dia bilang putus!!!" Masih dengan rasa kesal dan sedih mendalam
"Kamu harus tunjukkan kalau kamu bukan wanita lemah. Kamu bisa tanpa dia Ta!"
Elen berdiri berlagak seperti bodyguard
"Kalau perlu kita hajar sama-sama" Raiya menimpali dengan gaya Popeye mengangkat kedua otot tangannya
Mereka berdua terkekeh bersama, dan aku mulai merespon dengan senyuman.
"By the way tadi pagi kalian mau ngomongin gosip apa?"
"Emhhh, ga jadi deh Ta, besok aja kami ceritain"
"Kenapa mesti besok?"
"Kamu tenangin hati kamu dulu ya, oke!"
"Oke, tapi janji ya, besok kalian bakal ceritain"
Mereka mengantarku ke parkiran motor. Hari ini cuman ada satu mata kuliah, jadi aku putuskan untuk langsung pulang saja.