POV RAIYA PART 1
Mata itu dengan sinis menatapku, bahkan aku mendengar apa yang mereka gunjingkan.
Mau mereka apa sih? Bisanya hanya bergosip, iri dengan kehidupan orang lain.
'Aku memang berbadan gemuk, tinggi, besar. Tapi apa salahnya jika aku punya pacar ganteng? Meskipun wajahku pas-pasan. Rasanya aku sudah ga tahan tinggal disini. Bagiku, saat ini asrama kampus ini sudah tak seperti dulu lagi, banyak anak baru yang hobinya bergosip, suka kepoin urusan orang.'
"Len, besok bantu aku pindahan ya"
"Serius Rai, kamu mau pindah?"
"Males sama si nenek sihir"
"Lha trus aku gimana Rai"
"Len. Kamu kan masih deket sama mereka, ga bakal kenapa-kenapa kalo ga ada aku Len. Yang mereka ga suka tuh aku bukan kamu!"
"Tapi kan kamu juga sahabat aku Rai"
Aku memutuskan untuk pindah ke kostnya kakakku. Aku pikir memang sebaiknya pindah dari sini, lagian aku sudah masuk semester enam, aku juga sudah bisa memasak untuk diriku sendiri . Jadi jika urusan kuliah kakak semuanya sudah selesai dan kembali ke rumah mama. Aku akan baik-baik saja, mama tak perlu kuatir. Aku akan makan dengan teratur dan ga akan sakit-sakitan lagi. Inilah yang dikuatirkan mama jika aku tinggal sendiri. Aku memang sering sakit tanpa sebab yang jelas.
Dari pada mikirin mereka mending aku telpon mas Raka.
Tut..Tut... Nada sambung telpon terlihat tulisan berdering itu artinya mas Raka bisa dihubungi.
"Halo"
"Ya, halo dek"
"Mas Raka lagi apa?"
"Lagi santai dek, kamu lagi apa dek?"
"Baru beres beres mas, mau pindahan"
"Lho emang mau pindah kemana?"
"Mau ke kostnya kakak ku mas"
"Wah, berarti ga satu asrama dengan adikku lagi? Siapa donk jadi mata-mata'mas disana"
"Jadi aku kau jadikan pacar buat jadi mata-mata adikmu?"
Aku merajuk dan hedak menutup ponselku
"Ya gak lah dek, jangan ngambek donk. Besok ikut Lesti ke Jakarta ya. Main ke rumah mas. Kan weekend, kita bisa jalan berdua"
Aku pun tersenyum membayangkan akan malam mingguan dengan mas Raka. Mas Raka adalah kakak dari Lesti, dan Lesti adalah adik tingkatku, kami tinggal satu atap di asrama kampus. Tampang mas Raka memang ganteng, anak-anak asrama dan adik-adik tingkatku banyak yang iri melihat aku bisa jadian dengan mas Raka, kecuali Lesti yang selalu bersikap baik padaku.
“Len, besok weekend aku mau pergi ke Jakarta bareng Lesti”
“Trus disana kamu nginep dimana?”
“Ya dirumah mas Raka, sekamar dengan Lesti”
“Beneran kamu ga papa tinggal dirumah mas Raka?, hati-hati lho Rai!"
“tenang aja, aku pasti bisa jaga diri ko”
“iya aku percaya kok”
Setelah selesai perkuliahan, aku segera pulang ke kost untuk bersiap-siap. Kulajukan mobil merahku tercinta menuju asrama tempat Lesti tinggal bersama teman-temannya.
Sesampainya di depan gang asrama, aku memelankan laju mobilku agar bisa berhenti pas didepan pintu asrama.
“tin..tin” kutekan klakson mobil tanda memanggil Lesti, kode pemberitahuan kalau aku sudah menunggunya didepan asrama. Namun Lesti tak kunjung keluar. Kuraih ponselku
"Dek. Kakak sudah didepan, jangan lama-lama, takut ada mobil papasan"
Gangnya sempit, bisa masuk dua mobil tapi sangat riskan bersenggolan.
"Iya kak, ini lagi ke toilet sebentar"
Aku malas untuk keluar dari mobil melihat wajah-wajah mereka dan benar saja ketika Lesti keluar dari pintu gerbang, kulihat wajah-wajah itu muncul di jendela dan balkon asrama. Entah apa yang mereka pikirkan, aku juga ga mau pusing.
Glkkk"
Lesti membuka pintu samping deretan belakang menaruh tas ranselnya, dan duduk dibagian depan tepat disampingku.
"Maaf kak jadi nungguin Lesti"
"Iya ga papa Les, Elen kemana ? Ko ga keliatan"
"Lagi ga di asrama Ka, barusan tadi dijemput seseorang, aku ga kenal"
Lesti menjawab sambil ku lajukan pelan dan hati-hati mobil merahku.
***
Jalanan tidak seramai biasanya,, dengan bantuan dari google map serta arahan dari Lesti, akhirnya kami sampai juga di rumah mas Raka sekitar abis Isa.
"Eh cepet banget sudah sampai"
mas Raka menyambut kami di depan pintu rumah. Ini adalah meet up pertama kami di Jakarta, di rumah mas Raka. Biasanya mas Raka yang datang ke Bandung sambil menengok atau mengantarkan Lesti.
"Iya Mas, ga macet"
Sedangkan Lesti masuk ke dalam rumah tanpa menyapa mas Raka. Huh ga sopan, main tinggal aja nih Lesti. Mentang-mentang ini rumahnya. Ga pakai permisi segala. gumamku dalam hati.
"Ayo masuk, malah diem aja"
"Iya mas, Bapak Ibu ada?"
'duh semoga ga dirumah, takut ketemu camer eh calon mertua'
"Ada ko, mama lagi nonton sinetron"
"....…" Aku mulai deg-degan
Kulangkah kakiku mengikuti mas Raka melewati ruang tamu, ya itu pasti ruang tamu, karena ada beberapa kursi sofa dengan ukuran ruangan kira-kira 3x2,5 meter. Sempit, kecil tak seperti dirumah mamaku. Mataku memperhatikan dinding yang dipenuhi bingkai-bingkai foto entah foto jaman kapan itu.
Setelah melewati ruangan sempit itu, kulihat ruang berikutnya yang lebih luas dan lega, ada suara tv dengan adegan nangis nangis. Entahlah itu sinetron atau apa, aku juga ga pernah nonton tv.
Aku hanya melihat kepala perempuan dan setengah punggungnya menghadap ke arah TV. Mas Raka menegur.
"Ma, ini Raiya ma"
Perempuan itu tak bergeming. Rupanya siaran TV itu sedang menghipnotis nya.
"Ma, itu sinetron ma, sudah ga usah sedih" ucap mas Raka mendekati mama nya dan berbicara didekat telinga mama, sambil menepuk kedua punggungnya.
Mama mas Raka terlihat kaget.
"ih apaan sih Raka, ganggu mama aja!"
Mas Raka terkekeh melihat ekspresi mama nya.
"Mama sih serius banget sampe ga denger Raka ngomong dari tadi"
"Iya, ada apa? Ini lagi seru Ka"
"Ma ini aku mau kenalin Raiya"
"Eh neng Raiya, sini duduk sini." Mama membalikkan punggungnya masih dalam posisi duduk di sofa.
"Iya Tante" aku melangkah maju mendekati mama mas Raka dan ! menyalami dengan mencium punggung tangannya. Mama membalas mengiusap kepalaku.
"Sini neng duduk sama mama nonton bareng"
"Makasih Tante "
"Lain kali lah ma, biar Raiya mandi dulu, lagian udah malam mah, mereka belum pada makan"
" Ya sudah, sana ajak Raiya dan adikmu makan ya Ka, tanggung nih lagi seru ceritanya"
"Siap ma, laksanakan " mama tersenyum dan segera kembali mengarahkan pandangan nya ke arah televisi.
Mas Raka memegang kedua pundak ku dan mengarahkan ku berjalan melewati beberapa deratan kamar.
Glkkk"
Mas Raka membuka pintu kamar dan tanpa masuk kedalamnya.
"Ini kamar Lesti Rai, kamarku disebelahnya. Dan kamar mandi ada di sebelah sini" mas Raka Sambil menunjukkan ruangan-ruangan yang ada disekitar aku berdiri.
"Iya makasih mas"
"Sepertinya Lesti sebentar lagi selesai mandi nanti kamu bisa mandi dulu. Aku mau siapkan makanan "
"Iya mas ga perlu repot-repot "
Tau aja kalau aku lapar, perutku sedari tadi sudah menyanyikan lagu, untung saja mas Raka ga denger nyanyian isi perutku. mas Raka menuju ruang makan yang ada disebelah kamar mandi. Aku segera masuk ke dalam kamar Lesti untuk menyiapkan perlengkapan mandi dan baju ganti.
***
Setelah menyelesaikan makan malam, dan membersihkan diri. Aku berpamitan pada mas Raka, Rasanya lelah sekali, aku hanya ingin segera lelap dalam tidurku.
"Mas, aku lelah. Pengen tiduran"
"Ya sudah sana tidur dikamar Lesti. Kalau ada apa-apa bangunkan Lesti atau panggil mas di kamar sebelah ya"
"Iya mas. Mas ga perlu kuatir"
Mas Raka mengantarku sampai depan pintu kamar Lesti.
"Lesti mama mas? Tadi sehabis cuci piring aku ga llihat lagi."
"Paling juga diruang tengah atau nongkrong di teras, sudah ga usah pikirin Lesti, duluan aja sana dek, ga papa kan tidur sendiri?"
"Ya ga papa lah mas, udah biasa sendiri"
"Atau mau ditemenin sama mas?"
Mas Raka menggoda sambil mengerlingkan matanya serta menyenggol bahuku.
"Akh itu mah mau nya aja!" Aku tersipu malu dan segera masuk kamar dan menutup pintu.