Dear Jimmy,
Maaf sudah menganggu mu, tapi kita harus bicara. Rasanya ini belum selesai. Dua Minggu lalu aku masih belum mengatakan iya atas keputusanmu. Bagiku ini tidak adil. Tolong beri aku penjelasan.
Aku ga bisa membohongi perasaanku, aku harap kamu mengerti. Aku tunggu saat kelas selesai besok. Di ruang kelas C dan hanya kita berdua bicara empat mata. Makasih ya Jim.
Agatha.
"Ana, sini" kulambaikan tanganku pada salah satu teman sekelasku.
"Ada apa Ta?"
"Nitip ya, kasih surat ini ke Jimmy. Tapi jangan sampai ada yang tau ya An. Please! Ana baik deh" senyumku memohon.
"Iya, iya tenang aja"
"Makasih ya An, God bless Ana"
Ana adalah salah satu teman baikku di kampus, diawal-awal semester bahkan kami punya team belajar, nongkrong dan nge-band bareng. Termasuk Jimmy salah satunya anggota kelompok kami, teman baik yang jadi kekasih.
Setelah menitipkan surat, aku pulang dengan perasaan deg-degan.
Aku sengaja merahasiakan ini dari Raiya dan Elen, karena aku tau mereka pasti tidak akan mengijinkanku untuk bicara soal hubungan itu lagi dengan Jimmy. Tapi aku sangat penasaran kenapa semua berakhir secepat ini tanpa ada masalah. Tepatnya aku masih sayang dan belum rela ditinggalkan dengan cara seperti ini!
Aku tak sabar menantikan hari esok. Aku berdiri tepat dimana kami pernah duduk berdua disitu. Teringat peristiwa sore itu tepatnya 9 bulan yang lalu.
Sepulang kegiatan di kampus, kami duduk bersama teman-teman di teras Gedung utama. Semakin lama waktu berjalan, satu persatu mereka pergi berpamitan pulang dan tinggallah kami berdua masih .
Ya, hanya kami berdua. Aku dan Jimmy masih asyik, ngobrolin banyak hal.
Jimmy yang duduk disamping kanan ku, tiba-tiba mendaratkan sebuah kecupan tepat di pipiku seraya berkata dengan lembut.
"Aku sayang kamu Ta"
Aku mematung sejenak, menoleh dan menatapnya
"Ha, maksud kamu?"
Jimmy mengulurkan pergelangan tangannya tepat dihadapan kami berdua, dia memutar alarm yang ada di smart watch dan menekan tanggal hari ini tanggal 6 Mei hari jadian kita.
Kembali aku menatap manik mata Jimmy
"Maksudnya kamu nembak aku? Dan kita jadian hari ini?"
"Beneran Jim?" Aku bertanya sekali lagi, seperti ga percaya.
Rasa yang aku pendam selama persahabatan kami kini disambut dengan perasaan cinta yang sama. Aku genggam erat tangan Jimmy dan bersandar disampingnya. Tuhan ini adalah hari paling bahagia dalam hidupku
Dua insan yang sedang kasmaran telah lupa jika waktu semakin sore.
"Aku pulang dulu ya Jim, sudah sore"
“Oke, Hati-hati ya Ta. Sampai jumpa besok”
Akhirnya ku menemukanmu, Saat hati ini mulai merapuh.
Akhirnya ku menemukanmu. Saat raga ini ingin berlabuh
Ku berharap engkau lah, Jawaban sgala risau hatiku.
Dan biarkan diriku, Mencintaimu hingga ujung usiaku.
Jika nanti ku sanding dirimu, Miliki aku dengan segala kelemahanku
Dan bila nanti engkau di sampingku, Jangan pernah letih tuk mencintaiku
Akhirnya ku menemukanmu, Saat hati ini mulai merapuh
Ku berharap engkau lah, Jawaban sgala risau hatiku
Dan biarkan diriku, Mencintaimu hingga ujung usiaku
Jika nanti ku sanding dirimu, Miliki aku dengan segala kelemahanku
Dan bila nanti engkau di sampingku, Jangan pernah letih tuk mencintaiku
Akhirnya ku menemukanmu (Song by NAFF)
Aku tersenyum sambil mendengarkan lagunya Naff, pas banget sama yang lagi aku rasain. Ku kirim video klip Naff ke Jimmy. Serta kutambahkan caption love
"Dengerin deh, pas banget kaya yang aku rasain sekarang"
Jimmy sedang online dan membalas
"Iya, aku juga. Love you"
"Love you too"
Ku pejamkan mata dan berharap ini bukanlah sekedar mimpi.
Suara klakson motor tit..tit..titttt
"Ta, Lo mo tidur dikampus, buruan pulang! Udah sore."
"Eh iya"
"Yuk bareng"
"Iya Cad, bentar gue ambil motor gue dulu ya"
Richard membuat aku tersadar. Huhhh sedih banget sih hidupku. Kenapa cuman kenangan! Gumamku sambil berjalan cepat mengambil motor yang kuparkir didepan Gedung.
"Lo kenapa sih Ta? Ngalamun ga jelas gitu, kesambet baru tau rasa Lo"
"Iye, iye. Yuk"
Bremmrgg,,., Motor kami berjalan beriringan meninggalkan kampus.
Richard adalah teman baikku asal Jakarta, dia pandai bernyanyi sambil memainkan gitar. Terkadang dia ciptakan lagu santai yang menghibur teman-teman. Dia lebih muda dariku, lebih tepatnya hubungan kami sudah seperti kakak adik.
Richard memberi kode untuk berhenti ke kiri, kami mampir di sebuah cafe.
"Hari ini gue yang traktir"
"Tumben, Lo abis dapat transferan dari ortu Lo Cad?"
"Kagak"
"Lha tumben aja"
"Kalo ga mau Lo aja yang bayar"
"Eh ga, gue ga bawa duit" kami terkekeh bersama.
"Ta, Lo masih mikirin Jimmy?"
Aku cuman diam dan menghela nafas panjang
"Raiya Elen udah cerita ke elo belum Ta?"
"Tentang apa Cad, soal Jimmy?"
"Ga, ga jadi Ta. takut salah gue sama gosip"
"Kapan hari sih mereka berdua ada mo cerita sesuatu. Terus Bu Desi Dateng, ga jadi deh. Gue juga lupa nanya lagi tentang apaan"
"Ya udah ga usah dipikirin, gue cuman pesen kalo Lo ga perlu sedih mikirin Jimmy"
"Thank ya Cad, Lo dah nemeni gue"
"Sama-sama Ta. Yuk di makan"
Kami makan makanan yang udah dipesan.
Aku selalu bicara Lo gue ke Richard ngikutin gaya ngomong dia. Dasar kocak, ditengan-tengah makan ada aja yang dia lakuin yang bikin aku ketawa. Kadang bikin lelucon yang garing tapi aku tetap ketawa dibuatnya.
Aku tau dia sedang menghibur suasana hatiku yang sedang patah hati.
"Btw gimana hubungan Lo sama anak SMA"
"Oh si Laras, udah putus"
"Ko bisa Cad, kenapa?"
"Dia diem Mulu, dasar bocah. Gue ga ngerti apa yang dia mau. Tapi menurutku gue sih dia punya gebetan juga sama anak SMA disekolahnya Ta. Tapi ga benerin ngomong ke gue. Ya udah deh, dari pada entar gue yang diputusin. Mending gue yang mutusin. Biar keliatan cowo Ta"
"Oh jadi maksud Lo, cowo berhak mutusin cewe gitu aja!" Sambil kulempar secuil makanan ku ke arah Richard. Sambil keberi muka kesalku.
"Eh ga gitu Ta, maksud gue, kan hubungan kami emang ga nyambung gitu Ta"
"Tapi kan dia cantik Cad"
"Iya sih, cuman cantik aja ga cukup Ta"
"Huh sok puitis Lo Cad"
"Ember Ta "
"Panci emak Lo sekalian noh" sambil aku berdiri merapikan diriku
"Sono bayar Ta"
"ih ogah, gue ga bawa duit. Sana buruan bayar"
Richard kearah kasir dan membayar semua pesanan kami tadi.
"Tengkyu ya Cad, dah traktir"
" Sama-sama Ta, awas Lo mewek lagi!"
"Iye, nih senyum senyum" sambil ku tunjukkan senyuman paling lebar ke arah Richard, Richard pun terkekeh.
Kami segera melaju dan berpisah di perempatan.
Aku berharap besok aku mendapatkan jawaban bahwa keputusannya salah. Dan kami masih bisa seperti dulu lagi.
Kupejamkan mata berharap Tuhan memberikan mimpi indah dan hari yang membahagiakan di hari esok.