Wajah Damar ada di mana-mana. Di layar warung kopi, di running text televisi, di ponsel orang-orang yang berdesak di halte. BURUAN NOMOR SATU. Tapi di gang-gang sempit kota tempat mereka bersembunyi sekarang, ada juga coretan cat semprot di tembok: garis biru kasar, tangan terangkat. Tanda perlawanan. Damar tidak tahu harus merasa bangga atau ngeri.
Mereka menumpang di lantai dua sebuah toko bekas yang sudah tutup, di belakang pasar. Bau kardus lembap dan jengkol dari dapur tetangga. Sekar menempel peta kota di dinding dengan selotip, menandai titik-titik kamera dengan spidol merah. Lintang duduk bersila di pojok, memutar-mutar tutup botol di atas telapak tangannya — tanpa menyentuhnya. Tutup botol itu mengambang, berputar pelan, ruang di sekelilingnya berkerut tipis seperti permukaan air kena angin.
"Berhenti pamer," kata Damar, setengah bercanda.
"Aku gak pamer." Lintang menangkap tutup botol itu. "Aku latihan."
Sejak ibunya selamat, anak itu berubah. Bukan cuma lebih tenang. Lebih keras. Tatapannya kadang bikin Damar lupa Lintang baru sepuluh tahun.
Malam itu, saat Sekar menggelar rencana pengintaian fasilitas Sanggar berikutnya, Lintang ikut bicara. "Aku mau ikut."
Damar mengangkat kepala dari peta. "Kamu tetap di sini sama Ibu."
"Ibu di safehouse netral. Aman. Aku gak perlu jagain dia tiap detik." Lintang berdiri. Tutup botol di tangannya remuk jadi bola sebesar kelereng — bukan diremas tangan, tapi diremas ruang. "Kamu selalu nyuruh aku nunggu. Tiap kali ada bahaya, aku ditinggal di belakang pintu."
"Karena kamu anak-anak."
"Aku anak-anak yang bisa naruh tangki air di atas kepala kamu kalau aku mau." Suaranya tidak marah. Justru itu yang membuat Damar diam. "Damar, waktu kamu buka sel-sel di Sarang dulu, kamu nyuruh kita lari ke hutan. Aku lari. Tapi banyak anak yang gak. Mereka kekecil, ketakutan, gak ada yang nuntun. Aku tahu rasanya jadi yang ditinggal."
Sekar menurunkan spidol. Ia tidak menyela. Ia tahu kapan suaranya tidak dibutuhkan.
Damar menggosok wajahnya. "Kalau kamu kenapa-kenapa—"
"Kalau aku diem aja terus dan kamu yang kenapa-kenapa, gimana?" Lintang melangkah maju. "Kekuatanku bukan cuma buat dilindungin. Aku bisa bikin tembok dari udara. Aku bisa tutup jalan biar Gelombang gak bisa lewat. Kamu udah liat aku bisa." Ia menahan napas. "Aku gak minta kamu janji aku bakal selamat. Aku minta kamu izinin aku bantu."
Ruangan jadi sunyi. Bukan sunyi Sekar — sunyi sungguhan, yang lahir karena tidak ada yang tahu harus berkata apa.
Damar teringat dirinya sendiri, dua puluh tiga tahun, bangun di kontrakan 3x3 dengan tangan yang panas dan tak diminta. Tak seorang pun bertanya apakah ia siap. Dunia memaksa kekuatan ke tangannya, lalu memburunya. Selama ini ia berkata pada diri sendiri bahwa ia melindungi Lintang dari hal itu. Tapi mungkin ia hanya melindungi dirinya sendiri dari rasa bersalah kalau anak itu terluka.
"Aku gak bisa lindungin kamu dari segalanya," kata Damar pelan, lebih ke diri sendiri.
"Gak ada yang bisa." Lintang hampir tersenyum. "Itu bukan tugas kamu. Tugas kamu nuntun aku, biar aku gak jadi kayak mereka yang di Sarang."
Sekar akhirnya bicara, suaranya hati-hati. "Dia bener, Damar. Anak ini udah bukan beban. Dia aset. Dan kalau kita perlakukan dia kayak barang rapuh, dia bakal nekat sendiri tanpa kita — itu yang bahaya."
Damar memejamkan mata sebentar. Lalu mengangguk. "Oke."
Lintang membeku, seakan tidak menyangka semudah itu.
"Tapi ada aturan," lanjut Damar. "Kamu ikut perintah. Kamu gak nyari musuh. Dan kamu gak — " ia menelan, " — kamu gak ngambil nyawa siapa pun. Sama kayak aku. Itu garis kita. Ngerti?"
"Ngerti." Lintang mengangguk cepat, sungguh-sungguh.
"Sekali lagi: ini bukan karena aku yakin kamu aman. Ini karena aku percaya sama kamu." Damar mengulurkan tangan, garis-garis biru samar berpendar di pergelangannya. "Selamat datang di tim."
Lintang menjabat tangan itu. Tangan kecil di tangan kasar. Dan untuk pertama kalinya sejak Klaten, sejak Sarang, sejak helikopter yang mengunci lampu sorot, Damar merasa timnya — tiga orang buronan di lantai dua toko bekas — sedikit lebih utuh.
Di luar, sirene melintas. Lalu menjauh. Mereka belum ketahuan.
"Sekarang," kata Sekar, mengetuk peta, "kita bahas fasilitas kedua. Karena kalau Lintang ikut, kita perlu rencana yang lebih dari sekadar harapan."
Damar mengingat kalimat itu. Itu bukan rencana, itu harapan. Ia tersenyum tipis. "Iya. Kali ini, rencana."