Mereka pindah ke gudang kosong di pinggir kota, bekas pabrik tahu yang ambruk separuh. Tempat itu sepi, jauh dari kamera, dan punya halaman belakang berdebu yang cukup luas untuk dijadikan tempat latihan. Sekar menyebutnya "lapangan". Damar menyebutnya "tempat kita bakal babak belur".
Masalahnya sederhana: mereka bertiga kuat sendiri-sendiri, tapi mereka tidak pernah bertarung sebagai satu. Di Sarang dulu semuanya panik, refleks, lari. Melawan Gelombang nyaris membuktikan kelemahan itu — Damar menyerap getaran, tapi nyaris hancur oleh resonansi karena tidak ada yang menahan musuh saat ia mengisi diri. Mereka butuh taktik. Bukan tiga orang yang kebetulan berdiri di tempat yang sama.
"Kekuatan kita beda fungsi," kata Sekar, menggambar tiga lingkaran di tanah dengan ranting. "Aku — kontrol suara. Lintang — kontrol ruang. Damar — energi. Sendiri-sendiri, kita lawan satu musuh, capek, kalah jumlah. Tapi kalau ditumpuk..."
"Ditumpuk gimana?" tanya Lintang.
Sekar menyeringai. "Kita coba."
Latihan pertama gagal total. Damar melepas ledakan kecil ke arah tumpukan drum bekas; Lintang seharusnya menekuk ruang untuk mengarahkan ledakan itu, tapi ia salah waktu, dan ledakan biru itu memantul liar, nyaris memanggang Sekar. Mereka semua terjengkang. Debu di mana-mana. Lintang batuk-batuk.
"Oke," kata Damar, terbatuk juga. "Jangan gitu."
Mereka coba lagi. Dan lagi. Seharian.
Pelan-pelan, polanya muncul. Lintang belajar membaca kapan Damar akan melepas — ada jeda setengah detik saat garis biru di lengan Damar memuncak terang, dan di jeda itu Lintang menekuk udara jadi corong, mengarahkan ledakan ke satu titik alih-alih membiarkannya menyebar. Energi yang tadinya boros jadi presisi. Satu drum, gepeng, bukan sepuluh drum porak-poranda.
"Bagus," kata Sekar. "Sekarang giliranku."
Trik Sekar lebih halus. Ia tidak menyerang. Ia membuat lubang. Saat ia menjatuhkan kesunyian total ke satu area, musuh kehilangan suara langkah mereka sendiri, kehilangan komando, kehilangan getaran — dan itulah yang penting. "Gelombang andalin getaran buat 'liat'," jelas Sekar. "Dia gak butuh mata, dia rasain lantai, dinding, udara. Kalau aku padamkan semua suara di satu kantong, dia... buta. Sesaat."
Lintang mengangkat tangan seperti murid. "Terus aku tutup kantong itu pakai ruang, biar dia gak bisa kabur."
"Dan aku masuk," sambung Damar pelan, "ngambil getarannya pas dia gak bisa lawan balik."
Mereka saling pandang. Untuk pertama kalinya, rencana itu terasa nyata, bukan harapan.
Mereka melatihnya berulang sampai gelap. Sekar berperan sebagai musuh, melempar batu untuk meniru serangan; Lintang menutup ruang; Damar menyerap "energi" dari batu yang dilempar Sekar — sebenarnya cuma menangkapnya, tapi prinsipnya sama: timing, posisi, kepercayaan.
Yang terberat bukan kekuatannya. Yang terberat percaya. Damar harus membuka diri sepenuhnya untuk menyerap, dan di detik itu ia rapuh — siapa pun bisa menjatuhkannya. Selama ini ia tak pernah membiarkan dirinya serapuh itu di dekat orang lain. Sekarang ia harus percaya bahwa Sekar akan menahan suara, dan Lintang akan menahan ruang, dan tidak ada yang membiarkannya jatuh.
"Kamu tahan napas tiap kali mau nyerap," kata Sekar, duduk di sampingnya saat istirahat, keduanya berkeringat di bawah lampu darurat. "Kayak nunggu dipukul."
"Karena dulu emang gitu." Damar menatap telapak tangannya. "Tiap kali aku buka diri, ada yang nyerang. Baja nyekik aku pas aku lagi ngumpulin tenaga. Refleks aja."
"Sekarang ada kita." Sekar menyentuh bahunya. "Kamu gak perlu nahan napas lagi."
Lintang sudah tertidur di atas tumpukan karung, lelah. Kecil lagi. Anak lagi. Damar menarik jaket menyelimutinya.
"Besok kita ulang," kata Damar. "Sampai gak mikir lagi. Sampai jadi refleks."
Karena ia tahu — Gelombang akan datang lagi. Sanggar tidak pernah mengembalikan apa yang sudah jadi miliknya, kata Ningrum dulu. Dan mereka belum melepaskan tim ini. Belum.
Tiga kekuatan. Satu tim. Itu yang akan menjaga mereka hidup.